Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Panduan Bphtb Menurut Uu No 28-2009

Panduan Bphtb Menurut Uu No 28-2009

Ratings: (0)|Views: 334|Likes:

More info:

Published by: Andreij Tjakraningrat on Aug 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/12/2014

pdf

text

original

 
PANDUAN PELAKSANAAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DANBANGUNAN (BPHTB)Bab 1Latar Belakang
Berlakunya Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) berdasarkanUndang Undang No. 21 Tahun 1997 tanggal 29 Mei 1997 Tentang "Bea Perolehanatas Hak Tanah dan Bangunan, yang diubah lagi dengan UU No. 28 Tahun 2009TENTANG PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH (PDRB).Bagi Negara Republik lndonesia yang sedang meningkatkan pembangunan disegala bidang menuju masyarakat adil dan makmur, pajak merupakan salah satusumber penerimaan negara yang sangat penting bagi penyelenggaraan pemerintahdan pelaksanaan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila danUndang-Undang Dasar 1945. Oleh karena itu, Undang-Undang Dasar 1945menempatkan kewajiban perpajakan sebagai salah satu perwujudan kewajibankenegaraan yang merupakan sarana peran serta dalam pembiayaan negara dan pembangunan nasional guna tercapainya masyarakat adil dan makmur, dansejahtera.Sesuai dengan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945, bumi, air, dankekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dandipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Tanah sebagai bagiandari bumi yang merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa serta memiliki fungsisosial, disamping memenuhi kebutuhan dasar untuk pangan dan lahan usaha, jugamerupakan alat investasi yang sangat menguntungkan. Di samping itu, bangunan juga memberi manfaat ekonomi bagi pemiliknya. Oleh karena itu, bagi mereka yangmemperoleh hak atas tanah dan bangunan, wajar menyerahkan sebagian nilaiekonomi yang diperolehnya kepada negara melalui pembayaran pajak, yang dalamhal ini Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Namum, pengenaan BeaPerolehan Hak atas Tanah dan Bangunan menurut Undang-undang ini telahmemperhatikan aspek keadilan bagi masyarakat terutama masyarakat golonganekonomi lemah dan masyarakat yang berpenghasilan rendah, yaitu denganmengatur nilai perolehan hak atas tanah dan bangunan yang tidak dikenakan pajak.Pada masa lalu ada pungutan pajak dengan nama Bea Balik Nama yang diatur dalam
Ordonansi Bea Balik Nama Staatsblad 1924 Nomor 291
. Bea Balik Nama inidipungut atas setiap perjanjian pemindahan hak atas harta tetap yang ada di wilayahIndonesia, termasuk peralihan harta karena hibah wasiat yang ditinggalkan olehorang-orang yang bertempat tinggal terakhir di Indonesia.Yang dimaksud dengan harta tetap dalam Ordonansi tersebut adalah barang-barang
 
tetap dan hak-hak kebendaan atas tanah, yang pemindahan haknya dilakukaridengan pembuatan akta menurut cara yang diatur dalam undang-undang, yaituOrdonansi Balik Nama Staatsblad 1834 Nomor 27.Dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang PeraturanDasar Pokok-Pokok Agraria, hak-hak kebendaan yang dimaksud di atas tida berlaku lagi, karena semuanya sudah diganti dengan hak-hak baru yang diatur dalam Undang-undang tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Dengandemikian, sejak diundangkannya Undang-undang tentang peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, Bea Balik Nama atas hak harta tetap berupa hak atas tanah tidak dipungut lagi, sedangkan ketentuan mengenai pengenaan pajak atas akta pendaftaran dan pemindahan kapal yang didasarkan pada Ordonansi Bea Balik  Nama Staatsblad 1924 Nomor 291 masih tetap berlaku.Dengan pertimbangan hal tersebut di atas dan sebagai pengganti Bea Balik Namaatas harta tetap berupa hak atas tanah yang tidak dipungut lagi sejadiundangkannya Undangundang tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, perlu diadakan pungutan pajak atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunandengan nama Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.Tarif yang ditetapkan menurut Undang-undang ini adalah sebesar 5% (lima persen)dari Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak. Dengan demikian, semua pungutanatas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan di luar ketentuan Undang-undangini tidak diperkenankan.
Prinsip yang dianut dalam Undang-undang ini adalah:
a.pemenuhan kewajiban Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah berdasarkan
 sistem self assesment 
, yaitu Wajib Pajak menghitung danmembayar sendiri utang pajaknya; b.besarnya tarif ditetapkan sebesar 5% (lima persen) dari Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak;c.agar pelaksanaan Undang-undang ini dapat berlaku secara efektif, maka baik kepada Wajib Pajak maupun kepada pejabat-pejabat umum yang melanggar ketentuan atau tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana ditentukan olehUndang-undang ini, dikenakan sanksi menurut peraturan perundang-undanganyang berlaku;d.hasil penerimaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan merupakan penerimaan negara yang sebagian besar diserahkan kepada Pemerintah Daerah,untuk meningkatkan pendapatan daerah guna membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah dan dalam rangka memantapkan otonomi daerah;e.semua pungutan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan di luar ketentuan Undang-undang ini tidak diperkenankan.Penyusunan Undang-undang tersebut dilatarbelakangi oleh pemikiran untuk meningkatkan penerimaan negara, terutama penerimaan daerah yang dinilai penting bagi penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan nasional.
Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT
2
 
Berdasarkan pemikiran itu pula, subjek pajak yang memperoleh hak atas tanah dan bangunan dianggap wajar apabila diwajibkan untuk menyerahkan sebagian nilaiekonomi yang diperolehnya kepada negara melalui pembayaran pajak yang diberinama Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.Dengan memperhatikan fungsi tanah yang demikian penting bagi penyelenggaraankehidupan masyarakat ataupun bagi pembangunan, penggalian sumber penerimaan pajak tersebut sudah barang tentu akan berarti sekali terutama sebagai sumbe pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. Namun demikian, dengan terjadinya gejolak moneter pada akhir tahun 1997 danawal tahun 1998 yang demikian besar pengaruhnya terhadap kehidupan perekonomian dan pelaksanaan pembangunan, maka penggalian sumber-sumbe penerimaan pajak yang baru menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Gejolak moneter yang terjadi beberapa bulan terakhir, telah memberi pengaruh yang besar dan menimbulkan gangguan terhadap pelaksanaan pembangunan nasional terutamadalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah.Diantara berbagai kemungkinan yang dapat ditempuh untuk mengurangi pengaruhgejolak moneter yang tidak menguntungkan tadi adalah penangguhan rencana pengenaan beban baru terhadap masyarakat. Behan baru seperti itu akan merupakantambahan biaya ekonomi, yang dalam keadaan perekonomian yang sulit akanmengurangi kemantapan penciptaan lapangan kerja dan menurunkan kesempatankerja yang baru, yang besar artinya terhadap kesejahteraan masyarakat.Oleh karena itu dikeluarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1998 Tentang"Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang No. 1 Tahun 1997tentang Penangguhan Mulai berlakunya Undang-Undang No. 21 Tahun 1997Tentang Bea Peralehan Hak Atas Tanah dan Bangunan Menjadi Undang- Undang" .Pada Pasal 2 UU No. 1 Tahun 1998 menyatakan "Undang Undang No. 21 Tahun1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (Lembaran NegaraTahun 1997 Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3688), ditangguhkanmulai berlakunya selama enam bulan dari tanggal 1 Januari 1998 sampai dengantanggal 30 Juni 1998.Pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan harus memperhatikanasas-asas keadilan, kepastian hukum, legalitas, dan kesederhanaan serta didukungoleh sistem administrasi perpajakan yang memudahkan Wajib Pajak dalammemenuhi kewajiban perpajakan.Sehubungan dengan diberlakukan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 yang bersamaan dengan terjadinya perubahan tatanan perekonomian nasional daninternasional, berpengaruh terhadap perubahan perilaku perekonomian masyarakatsehingga perlu diakomodasikan dengan penyempurnaan Undang-undang Nomor 21Tahun 1997.
Arsip/Dokumentasi Notaris Herman AALT
3

Activity (2)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->