Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pemerintahan Dalam Perspektif Fiqh Siyasah (Sebuah Tinjauan Historis)

Pemerintahan Dalam Perspektif Fiqh Siyasah (Sebuah Tinjauan Historis)

Ratings: (0)|Views: 534|Likes:
Published by i2b
ibadkadabrak.wordpress.com
ibadkadabrak.wordpress.com

More info:

Published by: i2b on Aug 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/12/2012

pdf

text

original

 
PEMERINTAHAN DALAM PERSPEKTIF
FIQH SIYASAH 
(Sebuah Tinjauan Historis)
Oleh
Rupi’i Amri
 Pendahuluan
Kepemimpinan
(imamah)
merupakan salah satu masalah penting yangmenjadi fokus perhatian Islam. Imam al-Mawardi menjelaskan dalam karyamonumentalnya
al-Ahkam al-Sultaniyyah,
 bahwa
imamah
merupakan instrumen penting untuk meneruskan misi kenabian
(prophet mission)
guna memeliharaagama
(harasah al-din)
dan mengatur dunia
(siyasah al-dunya).
1
Pemeliharaanagama dan pengaturan dunia merupakan dua jenis yang berbeda, namun berhubungan secara simbiotik.Al-Mawardi menjelaskan bahwa
imamah
merupakan hal yang wajib dalamumat Islam berdasarkan
 Ijma' 
. Sedangkan alasan yang menjadikan wajibnya
imamah
tersebut, menurut al-Mawardi terdapat dua pendapat di kalangan umatIslam, yakni sebagian mengemukakan wajib dengan akal
(rasio)
. Akalmemandang kewajiban
imamah
ini untuk keselamatan manusia dari tindakanzalim pertikaian
(tanazu')
dan permusuhan
(takhasum)
. Segolongan yang lain berpendapat bahwa kewajiban
imamah
dengan alasan
Syar'i
karena seorang imam bertugas untuk menegakkan urusan-urusan syari'ah
(umur al- syari'ah)
.
2
Pemilihan Pemimpin
(imamah)
Menurut Mawardi, untuk seleksi atau pemilihan imam diperlukan dua hal.
 Pertama Ahl al- Ikhtiar 
atau mereka yang berwenang untuk memilih imam bagiumat. Mereka harus memenuhi
tiga
syarat: (1) memiliki sifat adil, (2) memilikiilmu pengetahuan yang memungkinkan mereka mengetahui siapa yang memenuhisyarat untuk diangkat sebagai imam. (3) memiliki wawasan yang luas (
al-ra'y
)dengan kearifan (
al-hikmah
) yang memungkinkan mereka memilih siapa yang paling tepat untuk menjadi imam, dan paling mampu mengelola kepentingan umatdi antara mereka yang memenuhi syarat untuk jabatan itu.
 Kedua, Ahl al-Imamah
(mereka yang layak untuk memimpin). Ia
*
)
Penulis adalah Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang, Wakil Sekretaris MajelisTarjih dan Tarjih (MTT) PW Muhammadiyah Jawa Tengah 2005-2010.1 Ali al-Hasan Ali b. Muhammad b. Habib al-Bashri al-Baghdadi al-Mawardi,
 Kitab al-Ahkamal-Sutaniyyah wa al-Wilayah al-Diniyyah,
Beirut : Dar al-Fikr, Cetakan I, 1380 H/1960 M, hlm. 5.2
 Ibid.
1
 
menyaratkan tujuh hal bagi mereka yaitu (1) sikap adil (
'adalah)
dengan segala persyaratannya; (2) ilmu pengetahuan yang memadai untuk berijtihad, (3) sehat pendengaran, penglihatan dan lesannya; (4) anggota-anggota tubuh nya utuh(
 salamah al-a'da'i
); (5) wawasan yang memadai untuk mengatur kehidupan rakyat(
 siyasah al-ra'iyyah
) dan mengelola kepentingan umum (
tadbir al-masalih
); (6)keberanian, (
al-syaja'ah
) yang memadai untuk melindungi rakyat; (7) keturunanQuraisy.Syari'ah (agama), menurut al-Mawardi mempunyai posisi sentral dalamnegara, terutama sebagai sumber legitimasi terhadap realitas politik. Dalam penilaian Dien Syamsuddin, al-Mawardi mencoba mengompromikan antararealitas politik dengan idealitas politik seperti disyaratkan oleh agama, danmenjadikan agama sebagai alat justifikasi kepatutan politik. Dengan demikian, al-Mawardi sebenarnya mengenalkan pendekatan pragmatik dalam menyelesaikan persoalan politik ketika dihadapkan dengan prinsip-prinsip agama.
Pemerintahan Islam masa Awal
Dalam menyebarkan agama Islam Nabi Muhammad Saw, mengalami dua periode yang dikenal sejarah sebagai periode Mekkah dan Madinah. PeriodeMekkah merupakan masa penanaman aqidah dan akhlak yang berlangsung selama
tiga belas
tahun dan periode Madinah merupakan masa turunnya ayat-ayat yangmenjelaskan tentang semua persoalan yang dihadapi oleh umat manusia, sepertishalat zakat, puasa, haji dan masalah-masalah mu'amalah, seperti masalah-masalah jual-beli, kekeluargaan, kriminalitas dan ketatanegaraan. PeriodeMadinah di kenal sebagai periode revolusi sosial dan politik 
(social and politicrevolution)
yang berlangsung selama
 sepuluh
tahun.
3
Setelah tiba di kota Yasrib (Madinah), Nabi Muhammad Saw. diterima dansekaligus resmi menjadi pemimpin penduduk kota itu. Berbeda dengan periodeMakkah, pada periode Madinah Islam merupakan kekuatan politik. NabiMuhammad mempunyai kedudukan bukan hanya sebagai pemimpin agama, tetapi juga sebagai kepala negara.
4
Peristiwa hijrah Nabi pada tahun 622 M merupakanmomen paling penting penting
(the most important moment)
dalam sejarah
3 Lihat Mun'im A. Sirry,
 Sejarah Fiqh Islam (Sebuah Pengantar),
 
Surabaya: Risalah Gusti, 1995,hlm 22-24.4 Harun Nasution,
 Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya
 ,
Jilid III, Jakarta : UI Press, 1985, Cet.V, hlm, 101.
2
 
 perkembangan Islam. Nabi segera menyatukan seluruh potensi kekuatan yang ada,terutama penyatuan golongan Muhajirin dan Anshor. Sejak saat itulah, terutamasaat dibentuknya persetujuan bersama yang dikenal dengan “konstitusi Madinah”
(Madinah constitution).
Nabi mulai bentuk tatanan baru dalam Islam yang disebutHugh Kennedy sebagai
“a new form of social organization”
(sebuah bentuk baruorganisasi sosial)
.
5
Di kota Madinah (saat itu masih bernama Yasrib) untuk pertama kalinyalahir satu komunitas Islam yang bebas dan merdeka di bawah pimpinan Nabi.Mereka terdiri atas pengikut Nabi yang datang dari Makkah
(Muhajirin)
dan penduduk Madinah yang telah memeluk Islam, serta yang telah mengundang Nabiuntuk Hijrah ke Madinah
(Anshar)
. Umat Islam saat itu bukanlah satu-satunyakomunitas di Madinah. Di antara penduduk Madinah, terdapat juga komunitas-komunitas lain, yaitu orang-orang Yahudi dan sisa-sisa suku Arab yang belummau menerima Islam dan masih tetap memuja berhala. Dengan kata lain umatIslam di Madinah merupakan bagian dari suatu masyarakat majemuk.
6
Tidak lama setelah Nabi menetap di Madinah atau menurut sementara ahlisejarah belum cukup dari dua tahun dari kedatangan Nabi di kota itu, beliaumempermaklumkan suatu piagam yang mengatur kehidupan dan hubungan antarakomunitas-komunitas yang merupakan komponen-komponen masyarakatmajemuk di Madinah, yang dikenal sebagai piagam Madinah.
7
Dari
item-item
yang tercantum dalam piagam Madinah (keseluruhan terdapat empat puluh tujuh(47) item), dapat ditarik kesimpulan bahwa isi piagam Madinah merupakan batu- batu dasar bagi landasan kehidupan bernegara untuk masyarakat majemuk diMadinah, yakni: (1) semua pemeluk Islam, meskipun berasal dari berbagai suku,tetapi merupakan satu komunitas; (2) hubungan antara sesama anggota komunitasIslam dengan anggota komunitas-komunitas lain didasarkan atas prinsip- prinsip:(a) Bertetangga baik: (b) Saling membantu dalam menghadapi musuh bersama: (c)Membela mereka yang teraniaya: (d) Saling menasehati, dan: (e) Menghormati
5 Hugh Kennedy,
The Prophet and the Age of the Caliphates,
London and New York : Longman,1986, hlm. 34.6 Munawir Sjadzali,
 Islam dan Tata Negara,
Jakarta : UI Press, 1990, hlm. 107 Banyak diantara para politik Islam beranggapan bahwa ilmu Madinah adalah konstitusi atauundang-undang dasar bagi negara Islam yang pertama dan yang didirikan oleh Nabi di Madinah. LihatMunawir Sjadzali,
 Ibid 
.
3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->