Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
9Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Filsafat Hukum Islam (Landasan Ontologis Epistemologis Dan Aksiologis)

Filsafat Hukum Islam (Landasan Ontologis Epistemologis Dan Aksiologis)

Ratings: (0)|Views: 1,070|Likes:
Published by i2b
ibadkadabrak.wordpress.com
ibadkadabrak.wordpress.com

More info:

Published by: i2b on Aug 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

03/02/2014

pdf

text

original

 
1
FILSAFAT HUKUM ISLAM(LANDASAN ONTOLOGIS, EPISTEMOLOGIS DANAKSIOLOGIS)*Oleh Nur ArisA.PENDAHULUAN
Berbicara tentang filsafat hukum Islam berartimenempatkan hukum Islam sebagai obyek materia dan filsafatmenjadi obyek formanya. Mengkaji hukum Islam dengan obyekforma fisafat bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan.Kajian ini pertama-tama akan mencoba melihat hukum Islamdari aspek filsafat metafisika (
beyond the physic
) tentanghakekat (
the nature/the essence
) dari Hukum Islam untukmemahami konsep dasar, aspek
insight 
dari hakikat hukumIslam. Kajian ini dilakukan dibawah sub judul OntologicalReview.Kemudian kajian filsafat hukum Islam yang keduamencoba untuk mereview aspek epistemologis dari hukumIslam. Pada bagian ke dua ini, kajian difokuskan pada strukturepistemologi di dalam ilmu Ushul Fiqh. Mengapa Ushul Fiqh?Hal ini dikarenakan di dalam ilmu inilah struktur epistemologisdan metodologis (bisa dibaca teoritisasi)
1
hukum Islamdiformulasikan. Kajian ini akan mereview sumber-sumberHukum dalam Islam, metode-metode penggalian dari sumber-sumber tersebut, kemudian postulasi-postulasi logic dalambahasan selanjutnya di bawah sub judul al-Qowa’id: SebuahLogika Hukum dalam Islam dan bahasan terakhir pada bagiandua dari tulisan ini akan melihat varian paradigmaepistemologis dalam Filsafat Hukum Islam. Selanjutnya bagianketiga tulisan ini akan membahas tentang aspek aksiologisdari hukum Islam. Kajian ini akan menjadikan
al-maslahah
(
utility 
) sebagai
value
(nilai) dan
end
(tujuan akhir) darieksistensi hukum Islam. Tulisan ini hanya akan melihat wilayah universalitas darikajian-kajian Hukum Islam yang ada, dan tidak bermaksud
1
Khalid Mas’ud menyebutnya dengan
Islamic Legal Philosophy 
.Sedangkan Hallaq menyebutnya dengan
Islamic Legal Theories
. LihatMuhammad Khalid Mas’ud,
Islamic Legal Philosophy: A Study of Abu Ishaq al-Syatibi’s Life and Thought 
. Islamabad: Islamic Research Institute, 1997. Untuksebutan Hallaq baca Wael B Hallaq,
 A History of Islamic Legal Theories: AnIntroduction to Sunni Usul Fiqh
, Cambrige University Press, 1997.
 
2
memasuki wilayah singularitasnya, hal ini merupakankonsekwensi logis dari dijadikannya filsafat sebagai obyekforma kajian ini.
B.
ONTOLOGICAL
2
REVIEW: KONSEP DASAR HUKUM ISLAM1.ESENSI HUKUM ISLAM
Kajian-kajian ontologis identik dengan kajian-kajianmetafisika, karena ontologi disebut-sebut juga sebagai subbagian dari metafisika
3
. Pertanyaan apa sesungguhnyahukum Islam itu menarik untuk dikemukakan terlebih dahuluuntuk memahami esensi hukum Islam itu sendiri.Pertanyaan seperti ini juga sering diajukan untuk hukumsecara universal, tidak hanya hukum Islam. Sungguh tidakmudah untuk menjawab pertanyaan ini. Ada beberapa jawaban yang dikemukakan oleh bebera filosuf hukumBarat, misalnya OW Holmes yang menyebut hukum sebagai
the prophesies of what the courts will do
”, sementaraAustin menyebutnya dengan “
constitutional law is positivemorality merely 
. Sedangkan menurut Kelsen dalam
GeneralTheory of Law dan State
Law is the primary norm whichstipulates the sanction
” dan menurut JC Gray dalam TheNature and The Sources of The Law menyebutkan bahwa
statutes are sources of Law...not parts of the Law itself 
”.
4 
Melihat beberapa definisi yang diberikan sebenarnya hanyabaru sampai menangkap aspek aksidensi dari hukum, bukanesensinya. Untuk bisa menangkap esensi hukum itu sendiribisa dilakukan dengan analisis struktur logisnya. Yangdimaksud dengan struktur logis adalah unsur yangmembentuk hukum yang unsur itu kalau dihilangkan makahukum tidak lagi menjadi ada (
exist 
/
thing
) tapi menjadihilang atau tidak ada(
nothing
). Ambil contoh dari definisihukum di atas, Holmes memasukkan unsur pengadilan didalam struktur logis hukum. Pertanyaan yang bisa diajukan
2
Di dalam Filsafat,
ontology
(dari bahasa Yunani, Ontis:
being
:
to be
)andlogos:
science
,
study 
,
theory 
) adalah sebuah study tentang “
the nature of being,existence
,
or reality in general
and of its
basic categoriesand their relations”.
Lihat www.wikipedia.com.
3
Lihat Alasdair Macintyre,
Ontology 
, dalam The Encyclopaedia of Philosophy, Kanada: Mac Millan, 1972, hlm. 542-543
4
Hart, HLA, The Concept of Law, 2nd Edition, New York, OxfordUniversity Press, 1997, hlm. 1-2.
 
3
adalah apakah hukum tidak akan eksis tanpa adapengadilan? Atau misalnya Kelsen yang memasukkan unsurpenetapan hukuman (
 punishmen
) dalam struktur logishukum juga dapat diajukan pertanyaan yang sama, apakahkalau tidak penetapan hukuman maka hukum menjadi tidakeksis? Hukum akan tetap eksis meskipun
 punishmen
tidakada, karena hukum tidak selalu berkaitan dengan
 punishmen
. Demikian juga hukum tidak selalu berkaitandengan pengadilan. Kelsen sebenarnya sudah menyebutkan
the primary norm
” sebagai salah satu unsur dalam strukturlogis hukum. Bagaimana dengan norma (
norm
)? ini, bisakahhukum eksis tanpa norma? Tampaknya hukum tidakmungkin eksis tanpa norma. Maka hukum pada hakekatnyaadalah norma. Lalu apakah norma itu? analisis ontologis inikita cukupkan saja pada norma sebagai unsur esensialhukum. Artinya sesuatu yang disebut hukum baik yang adadi pengadilan, yang dikodifikasikan dalam undang-undang,apakah menuntut ketetapan hukuman atau hanyaprosedural itu semua pasti momot yang namanya norma.Perhatikan ilustrasi berikut: UU, Court, dll.NORMA(ESENSI) (AKSIDENSI)Dari gambar tersebut tampak bahwa norma berada ditengah-tengah dan akan selalu ada baik di dalam bentukUndang-Undang, Pengadilan dan lain sebagainya, tetapitidak sebaliknya.Bagaimana dengan Hukum Islam? Pada hakekatnyahukum Islam juga norma, selama dia diposisikan sebagaihukum. Artinya apapun bentuknya, baik itu hukum taklifiataupun hukum wadh’i, baik itu pengadilan, ataupunkodifikasi kitab-kitab fiqh dan fatwa-fatwa pada hakekatnyaadalah norma.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->