Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
3Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kebijakan Formulasi Pidana Mati Untuk Koruptor Dalam Peraturan Perundang-Undangan

Kebijakan Formulasi Pidana Mati Untuk Koruptor Dalam Peraturan Perundang-Undangan

Ratings: (0)|Views: 924|Likes:
Published by i2b
ibadkadabrak.wordpress.com
ibadkadabrak.wordpress.com

More info:

Published by: i2b on Aug 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/19/2012

pdf

text

original

 
Kebijakan Formulasi Pidana Mati Untuk Koruptor Dalam Peraturan Perundang-undangan
*)
Oleh :Barda Nawawi Arief 
A.
Kebijakan Pidana Mati Untuk Koruptor 
Peraturan perundang-undangan untuk memberantas korupsi di Indonesia, sudahada sejak zaman Belanda (dalam KUHP). Dalam perkembangannya setelahIndonesia merdeka, keluar Peraturan Penguasa Militer No. PRT/ PM/06/1957,Peraturan Penguasa Perang Pusat Angkatan Darat No. PRT/PEPERPU/013/1958, UU No. 24/Prp/1960, UU No. 3/1971 yang kemudian
 
digantidengan
 
UU No. 31/1999 jo. UU No. 20/2001. Dilihat dari sejarah perkembanganperaturan perundang-undangan untuk memberantas korupsi di Indonesia itu,awalnya tidak ada pidana mati untuk koruptor. Pidana mati untuk koruptor barudimunculkan pada tahun 1999 melalui UU No. 31/1999 untuk menampungaspirasi dan tuntutan masyarakat yang sangat kuat di era reformasi mengingatsemakin maraknya korupsi di Indonesia. Dalam “Penjelasan UmumUU No.31/1999 dinyatakan, bahwa ancaman pidana mati itu diadakan “dalam rangkamencapai tujuan yang lebih efektif untuk mencegah dan memberantas tindakpidana korupsi”.
 
Pidana mati merupakan masalah pro-kontra yang sudah lama diperdebat-kan,baik dalam forum nasional maupun internasional. Dipilihnya pidana mati sebagaisalah satu sarana kebijakan kriminal (kebijakan penanggu-langan kejahatan),khususnya dalam menanggulangi korupsi di Indonesia melalui UU No. 31/1999,merupakan hal yang wajar. Alasan yang dapat dikemukakan antara lain :1.Dilihat dari sudut kebijakan hukum pidana (penal policy) :
Digunakan dan dipilihnya suatu jenis sanksi pidana (termasuk pidana mati)dalam kebijakan hukum pidana (
 penal policy 
), pada dasarnya merupakanbagian dari kebijakan kriminal (
criminal policy 
) dan kebijakan sosial (
social  policy 
) yaitu kebijakan untuk mencapai kesejahteraan dan perlindunganmasyarakat.
Mengingat kondisi dan perkembangan kejahatan berbeda dan bisaberubah untuk setiap masyarakat, maka kebijakan penentuan jenis danlamanya pidana bisa saja berubah. Misalnya :
-
Di Amerika Latin, banyak negara yang telah menghapus pidana mati,namun beberapa negara lainnya (seperti di Brazil) masih membolehkanpidana mati untuk keadaan eksepsional;
-
Di USA, Guatemala, kebanyakan negara-negara Karibean, Asia, dan Afrika masih mempertahankan pidana mati.
-
Di antara negara yang semula menghapuskan pidana mati, ada yangkemudian menghidupkannya kembali dan mencabut kembali. Filipinapada tahun 1987 menghapus pidana mati, tetapi pada tahun 1993
*
)
Makalah pada Seminar Nasional :
HUKUMAN MATI BAGI KORUPTOR, MENGAPA TIDAK?,diselenggarakan oleh Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo, Semarang, 7 Oktober 2010.
Barda, Kebijakan Formulasi Pidana Mati1
 
mengintrodusir kembali pidana mati dan pada tahun 2006 menghapuskembali pidana mati.
1
 
-
Negara-negara bagian di USA kebanyakan menunda pelaksa-naanpidana mati sejak tahun 1972, tetapi karena perubahan keadaankemudian menghidupkannya kembali.
2
-
Untuk mengatasi semakin meningkatnya
“Driving while impaired” 
(mengendarai kendaraan dalam keadaan pengaruh alkohol), di Kanadamenerapkan sistem
pidana minimal
 
wajib
(MMS
mandatory minimum sentence
) untuk delik itu;
3
-
Untuk mengatasi semakin meningkatnya delik pembunuhan, Kanada juga menggunakan sistem MMS berupa “pidana penjara seumur hidup”untuk delik pembunuhan.
4
-
Untuk mengatasi semakin meningkatnya delik perampokan bersenjatayang berakibat mati dan kematian istri akibat KDRT (
Dowry death
 )
,
India juga menerapkan MMS berupa wajib minimal 7 tahun penjara.
5
-
Untuk mengatasi delik kekerasan seksual dan pemerkosaan denganmenggunakan senjata atau alat lain yang menimbulkan kematian bagikorban (
Sexual Coercion and Rape Resulting in Death
, § 178 StGB) danuntuk delik Sexual
 Abuse of Children Resulting in Death
(§§ 176 b),KUHP Jerman memberi ancaman pidana penjara seumur hidup atauminimal 10 tahun (kedua delik itu sebelumnya hanya diancam dgnminimal 5 th.);
6
2.Dilihat dari perbandingan dan konsistensi kebijakan legislatif (hukum positif)di Indonesia, serta dilihat dari sudut hakiki delik dan akibat/ bahayanyakorupsi, juga cukup beralasan.
Kebijakan legislatif saat ini di Indonesia yang menggunakan ancamanpidana mati cukup banyak, antara lain terdapat dalam :1.KUHP : ada 11 tindak pidana, antara lain
pencurian & pemerasan
dgn pemberatan – Ps. 365: 4, Ps. 368:2;2.UU No. 12/Drt/1951 (Senjata Api) – Ps 1 (1) –
delik formal
(membawasenjata api dsb);3.Perpu No. 21/1959 (pemberatan pidana utk TPE) – Ps 2;4.UU No. 31/PNPS/1964 (Tenaga Atom) – Ps. 23;5.UU No. 5/1997 (Psikotropika) - Ps 59 (2) ;
2
Ada sekitar 38 negara bagian yang menghidupkan kembali pidana mati, lihat Barda, Masalah Pidana Mati dalamPerspektif Global dan Perspektif Pembaharuan Hukum Pidana di Indonesia,
 
dalam Jurnal Legislasi Indoneisa Vol. 4 No.4-Desember 2007, yang bersumber dari http://deathpenaltyinfo. msu.edu/ c/states/stats/states.pdf.
3
Lihat Barda, “Tinjauan terhadap Penggunaan Sanksi Pidana Minimal”, bahan Pertemuan Ilmiah SISTEMPEMIDANAAN DI INDONESIA, BPHN – Depkumham, Jakarta, 27 Nopember 2007, dari berbagai sumber internet, http://www.saflii.org/za/other/zalc/ip/11/11-CHAPTER-3.html#Heading749 dan http:// www.ussc.gov/manmin/manmin51.htm, http://www.parl.gc.ca/information/library/PRBpubs/prb0553-e.htm4 Ibid.5 Ibid.6 Tatjana Hörnle,
 Penal Law and Sexuality: Recent Reforms in German Criminal Law
,
http://wings. buffalo.edu/law/bclc/bclrarticles/3(2)/hornle.pdf 
 
6.UU No. 22/1997 (Narkotika) – Ps 60 & 82
à
sudah diganti UU 35/20097.UU No. 31/1999 (TPK) – Ps 2 (2)8.UU No. 26/2000 (Pengadilan HAM) – Ps 36, 37, 41, 42 ayat (3)9.UU No. 15/2003 (Terrorisme) – Ps 6, 8, 9, 10, 14, 15, 16.10. UU No. 9/2008 (Penggunaan Bahan & Senjata Kimia) – Ps. 2711. UU No. 35/2009 (Narkotika) – Ps 113, 114, 116, 118, 119, 121, 132,133, 144.
Dari ketentuan di atas terlihat, bahwa untuk delik yang lebih ringan darikorupsi saja diancam pidana mati (seperti pencurian dengan pemberatan,pemerasan dengan pemberatan, dan membawa senjata api), apalagikorupsi yang kualitas/bobotnya dipandang lebih serius dan lebih membawadampak negatif yang sangat luas dalam kehidupan bermasyarakat.Terlebih fenomena korupsi di Indonesia sudah “menggurita”, dan bahkanada “korupsi berjamaah”. Ancaman bahaya korupsi ditegaskan dalamUNCAC 2003 yang menyatakan, bahwa korupsi :
-
merupakan ancaman bagi keamanan dan kestabilan masyarakat (threatto
the stability and security of societies);
-
merusak nilai-nilai dan lembaga-lembaga demokrasi (
under-mining theinstitutions and values of democracy)
,
-
merusak nilai-nilai moral dan keadilan (
undermining ethical values and  justice
);
-
membahayakan “pembangunan yang berkelanjutan”
 
dan “
rule of law 
(
 jeopardizing sustainable development and the rule of law)
; dan
-
mengancam stabilitas politik (
threaten the political stability 
).
 Adanya ancaman pidana mati dalam UU No. 31/1999 itu menunjukkankeseriusan pemerintah dan DPR pada waktu itu untuk memberantas korupsi.Namun dalam kenyataannya, sudah sebelas tahun sejak keluarnya UU No.31/1999, sampai saat ini belum ada seorang koruptorpun yang dijatuhi pidanamati. Berbeda halnya dengan pelaku tindak pidana narkotika, yang sudah banyak(puluhan) dijatuhi pidana mati.
B.Kebijakan Formulasi Pidana Mati Untuk Koruptor dalam Per-undang-undangan Saat Ini
Dipilihnya atau ditetapkannya pidana mati sebagai salah satu sarana untukmenanggulangi kejahatan pada hakikatnya merupakan suatu pilihan kebijakan.Dalam menetapkan suatu kebijakan, bisa saja orang berpendapat pro atau kontraterhadap pidana mati. Namun setelah kebijakan diambil/diputuskan dankemudian dirumuskan (diformulasikan) dalam suatu undang-undang, maka dilihatdari sudut kebijakan hukum pidana (
 penal policy 
) dan kebijakan kriminal (
criminal  policy 
), kebijakan formulasi pidana mati itu tentunya diharapkan dapat diterapkanpada tahap aplikasi. Masalahnya adalah,
apakah kebijakan formulasi pidanamati dalam UU No. 31/1999 cukup operasional/fungsional untuk diterapkansecara efektif dalam rangka memberantas korupsi di Indonesia? 
 
Kebijakan formulasi pidana mati dalam UU No. 31/1999 hanya tercantum dalam
Barda, Kebijakan Formulasi Pidana Mati3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->