Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sistem Pendidikan Nasional

Sistem Pendidikan Nasional

Ratings: (0)|Views: 366|Likes:
Published by sman5tkn

More info:

Published by: sman5tkn on Aug 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/05/2013

pdf

text

original

 
1 May 2004 | topik: urai | oleh Ade Fadli  May01Hari Pendidikan Nasional yang diperingati pada tanggal 2 Mei setiap tahunnya telah menjadimomentum untuk memperingatkan segenap negeri akan pentingnya arti pendidikan bagi anak negeri yang sangat kaya ini. Di tahun 2003, telah dilahirkan pula Undang-Undang tentang SistemPendidikan Nasional melalui UU No. 20 tahun 2003 yang menggantikan UU No. 2 tahun 1989.Tersurat jelas dalam UU tersebut bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjaminpemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemenpendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal,nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana,terarah, dan berkesinambungan.Bila merujuk pada Undang-Undang Dasar 1945, tersebutkan dalam pasal 31 ayat 1 bahwa setiapwarga Negara berhak mendapatkan pendidikan dan pada ayat 2 disebutkan bahwa setiap wargaNegara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Dan dalam UUNo. 20/2003 pasal 5, bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperolehpendidikan yang bermutu, warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental,intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus, warga negara di daerahterpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikanlayanan khusus, warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus serta setiap warga negara berhak mendapat kesempatanmeningkatkan pendidikan sepanjang hayat.Peran masyarakat dalam pendidikan nasional, terutama keterlibatan di dalam perencanaan hinggaevaluasi masih dipandang sebagai sebuah kotak keterlibatan pasif. Inisiatif aktif masyarakatmasih dipandang sebagai hal yang tidak dianggap penting. Padahal secara jelas di dalam pasal 8UU No. 20/2003 disebutkan bahwa masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan,pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan. Peran serta masyarakat saat inihanyalah dalam bentuk Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, dimana proses pembentukankomite sekolahpun belum keseluruhannya dilakukan dengan proses yang terbuka dan partisipatif.Kewajiban pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan dasar pun hingga saat ini masihsangat jauh dari yang diharapkan. Masih terlalu banyak penduduk Indonesia yang belumtersentuh pendidikan. Selain itu, layanan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikanbermutu pun masih hanya di dalam angan. Lebih jauh, anggaran untuk pendidikan (di luar gajipendidik dan biaya pendidikan kedinasan) di dalam APBN maupun APBD hingga saat ini masihdibawah 20% sebagaimana amanat pasal 31 ayat 4 UUD 1945 dan pasal 49 UU No. 20/2003,bahkan hingga saat ini hanya berkisar diantara 2-5%.
 
Bila melihat peristiwa yang belum lama terjadi di Indonesia, misalnya kasus tukar guling SMPNegeri 56 Jakarta serta kasus Kampar adalah sebongkah cerminan dari kondisi pendidikan diIndonesia, dimana kalangan pendidik dan kepentingan pendidikan masihlah sangat jauh darisebuah kepentingan dan kebutuhan bersama, dimana pendidikan masih menjadi korban daripenguasa.Sementara di berbagai daerah, pendidikan pun masih berada dalam kondisi keprihatinan. Mulaidari kekurangan tenaga pengajar, fasilitas pendidikan hingga sukarnya masyarakat untuk mengikuti pendidikan karena permasalahan ekonomi dan kebutuhan hidup. Pada beberapawilayah, anak-anak yang memiliki keinginan untuk bersekolah harus membantu keluarga untuk mencukupi kebutuhan hidup karena semakin sukarnya akses masyarakat terhadap sumberkehidupan mereka.Belum lagi bila berbicara pada kualitas pendidikan Indonesia yang hanya berorientasi padapembunuhan kreatifitas berpikir dan berkarya serta hanya menciptakan pekerja. Kurikulum yangada dalam sistem pendidikan Indonesia saat ini sangat membuat peserta didik menjadi pintarnamun tidak menjadi cerdas. Pembunuhan kreatifitas ini disebabkan pula karena paradigmapemerintah Indonesia yang mengarahkan masyarakatnya pada penciptaan tenaga kerja untuk pemenuhan kebutuhan industri yang sedang gencar-gencarnya ditumbuhsuburkan di Indonesia.Sistem pendidikan nasional yang telah berlangsung hingga saat ini masih cenderungmengeksploitasi pemikiran peserta didik. Indikator yang dipergunakanpun cenderungmenggunakan indikator kepintaran, sehingga secara nilai di dalam rapor maupun ijasah tidak serta merta menunjukkan peserta didik akan mampu bersaing maupun bertahan di tengahgencarnya industrialisasi yang berlangsung saat ini.Pendidikan juga saat ini telah menjadi sebuah industri. Bukan lagi sebagai sebuah upayapembangkitan kesadaran kritis. Hal ini mengakibatkan terjadinya praktek jual-beli gelar, jual-beliijasah hingga jual-beli nilai. Belum lagi diakibatkan kurangnya dukungan pemerintah terhadapkebutuhan tempat belajar, telah menjadikan tumbuhnya bisnis-bisnis pendidikan yang mau tidak mau semakin membuat rakyat yang tidak mampu semakin terpuruk. Pendidikan hanyalah bagimereka yang telah memiliki ekonomi yang kuat, sedangkan bagi kalangan miskin, pendidikanhanyalah sebuah mimpi. Ironinya, ketika ada inisiatif untuk membangun wadah-wadahpendidikan alternatif, sebagian besar dipandang sebagai upaya membangun pemberontakan.Dunia pendidikan sebagai ruang bagi peningkatan kapasitas anak bangsa haruslah dimulaidengan sebuah cara pandang bahwa pendidikan adalah bagian untuk mengembangkan potensi,daya pikir dan daya nalar serta pengembangan kreatifitas yang dimiliki. Sistem pendidikan yangmengebiri ketiga hal tersebut hanyalah akan menciptakan keterpurukan sumberdaya manusiayang dimiliki bangsa ini yang hanya akan menjadikan Indonesia tetap terjajah dan tetap di bawahketiak bangsa asing.Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana sistem pendidikan di Indonesia menciptakananak bangsa yang memiliki sensitifitas terhadap lingkungan hidup dan krisis sumber-sumberkehidupan, serta mendorong terjadinya sebuah kebersamaan dalam keadilan hak. Sistempendidikan harus lebih ditujukan agar terjadi keseimbangan terhadap ketersediaan sumberdaya
 
alam serta kepentingan-kepentingan ekonomi dengan tidak meninggalkan sistem sosial danbudaya yang telah dimiliki oleh bangsa Indonesia.Hari Pendidikan Nasional tahun ini di tengah-tengah pertarungan politik Indonesia sudahselayaknya menjadi sebuah tonggak bagi bangkitnya bangsa Indonesia dari keterpurukan sertalepasnya Indonesia dari ?penjajahan?? bangsa asing. Sudah saatnya Indonesia berdiri di atas kakisendiri dengan sebuah kesejahteraan sejati bagi seluruh masyarakat Indonesia.[
tpu, 040501
]
 Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan sumbernya :
 Ade Fadli
. 2004. SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL: Benarkah untuk Mencerdaskan Bangsa?.http://timpakul.web.id/pendidikan.html (dikutip tanggal 1 August 2012)
Kita sebagai orang tua seringkali mengikutkan anak kita berbagai macam les tambahan di luar sekolah seperti les matematika, les bahasa inggris, les fisika dan lain-lain. Saya yakin hal ini kitadilakukan untuk mendukung anak agar tidak tertinggal atau menjadi yang ungguldi sekolah.  Bahkan, terkadang ide awal mengikuti les tersebut tidak datang dari si anak, namun datang darikita sebagai orang tua.Benar tidak? Memang, saat ini kita menganggap tidak cukup jika anak kita hanyabelajar di sekolah saja, sehingga kita mengikutkan anak kita bermacam-macam les. Kita ingin anak kita pintar berhitung,kita ingin anak kita mahir berbahasa inggris, kita juga ingin anak kita jago fisika dan lainsebagainya. Dengan begitu, anak memiliki kemampuan kognitif yang baik.Ini tiada lain karena,pendidikan yang diterapkandi sekolah-sekolah juga menuntut untuk  memaksimalkan kecakapan dan kemampuan kognisi. Dengan pemahaman seperti itu, sebenarnyaada hal lain dari anak yang tak kalah penting yang tanpa kita sadari telah terabaikan. Apa itu?Yaitu memberikanpendidikan karakter pada anak  didik. Saya mengatakan hal ini bukan berarti pendidikan kognitif tidak penting, bukan seperti itu!Maksud saya,pendidikan karakter penting artinya sebagai penyeimbang kecakapan kognitif. Beberapa kenyataan yang sering kita jumpai bersama, seorang pengusaha kaya raya justru tidak dermawan, seorang politikus malah tidak peduli pada tetangganya yang kelaparan, atau seorangguru  justru tidak prihatin melihat anak-anak jalanan yang tidak mendapatkan kesempatan belajar 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->