Oseanografi, Kehidupan di Laut
8/11/2012
yaitu: (1)
bakteri heterotropik
– yang mendapatkan energi dengan menguraikan material organik dari organisme lain yang mati, (2)
bakteri fotosintetik
(autotrofik) – yang memperoleh energimelalui proses fotosintesis, dan (3)
bakteri kemosintetik
(
chemosyntethic
) – yang mendapatkanenergi dari oksidasi senyawa inorganik, seperti besi, ammonia, dan sulfur.Berdasarkan pada kemampuannya memperoleh energi atau makanannya, bakteri secaragaris besar dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu (1)
bakteri autotropik
– yang dapatmemenuhi kebutuhan makananya secara mandiri melalui
fotosintesis
dengan bantuan sinar matahari, atau melalui kemosistesis (sintesa kimiawi,
chemosynthetic
), dan (2)
bakteriheterotropik
– yang memenuhi kebutuhan makanannya melalui sumber lain di luar dirinya atauorganisme lain.Bakteri
heterotropik
, berdasarkan pada keterlibatan oksigen dalam proses respirasinya,dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (1)
bakteri heterotropik aerobik
– yang melibatkan molekuloksigen dalam respirasinya; bakteri kelompok ini hadir di dalam lingkungan yang mengandungoksigen atau lingkungan oksidasi, dan (2)
bakteri heterotropik anaerobik (fermentasi)
– yangtidak melibatkan molekul oksigen dalam respirasinya; bakteri kelompok ini hadir di dalamlingkungan yang tidak mengandung oksigen atau lingkungan reduksi.Bakteri adalah transformer utama di lingkungan anoxis – lingkungan yang tidak mengandung oksigen. Kondisi anaerobik secara khas ada di dalam lapisan-lapisan sedimen yangdalam, di dalam sistem yang memiliki sirkulasi air yang sangat buruk karena pembatasan fisik, dandi beberapa daerah yang mengalami polusi. Kedalam zona anaerobik di dalam sedimen adalahfungsi dari sifat-sifat fisika-kimia dan proses-proses biologi.Metabolisme mikroba anaerobik menghasilkan sejumlah unsur penting yang dapatdipergunakan oleh organisme aerobik. Ada dua jalur
dekomposisi anaerobik
, yaitu: (1)
fermentasi
;fermentasi oleh bakteri menghasilkan hidrogen, karbon dioksida, ammonia, dan sekelompok senyawa organik seperti alkohol dan asam lemak, dan (2)
dissimilatory sulfate reduction
; bakteri pereduksi sulfat mempergunakan ion sulfat sebagai terminal yang menerima elektron selamadekomposisi material organik, dan menghasilkan hidrogen sulfida (H
2
S) yang memberikan warnahitam di dalam sedimen (Kennish, 1994).
6.4. FITOPLANKTON
Fitoplankton adalah tumbuhan mikroskopis – terdiri dari berbagai spesies yang berbentuk uniselular (sel tunggal,
unicellular
), filamen (lempengan,
filamentous
), atau berbentuk rantai, yangmengapung bebas di air permukaan (zona fotik) samudera dan peraira pesisir. Fitoplankton meliputi berbagai jenis kelompok alga yang sebagian besar merupakan organisme autotropik.Berdasarkan ukurannya, fitoplankton dibedakan menjadi ultraplankton (
φ
< 5 μm),nanoplankton (
φ
5 – 70 μm), mikroplankton (
φ
70 – 100 μm), dan makroplankton (
φ
> 100 μm).Di dalam opeasional, plankton dibedakan menjadi dua fraksi berdasarkan pada jaring plankton yangdipergunakan. Semua fitoplankton tertahan oleh jaring plankton (bukaan
φ
64 μm), dan yang lolosdari jaring plankton disebut nanoplankton.Jenis-jenis plankton yang utama adalah diatom (klas
Bacillariophyceae
), dinoflagellata (klas
Dinophyceae
), coccolithophore (klas
Prymnesiophyceae
), silicoflagellata (klas
Chrysophyceae
), dan blue-green algae (klas C
yanophyceae
).Diatom (Gambar 6.2.A) sering mendominasi komunitas fitoplankton di daerah berlintangtinggi, perairan dekat pantai di daerah temperat, dan di dalam sistem “
upwelling
”. Diatom cenderungtenggelam di dalam perairan yang nonturbulen, walaupun morfologi, fisiologi, dan adaptasi fisik mendukung pengapungannya.Dinoflagellata (Gambar 6.2.B)juga tersebar luas di lingkungan samudera dan estuari, dandominan di banyak daerah subtropis dan tropis, dan melimpah di daerah temperate. Sebagiandinoflagellata berreproduksi secara sexual, dan sebagian besar secara asexual. Laju reproduksi bervariasi, tergantung pada kondisi lingkungan. Sebagian besar dinoflagellata bersifat autotrofik.Sejumlah spesies dinoflagellata menghasilkan racun yang bila dilepaskan ke perairan sering dapatmenyebabkan kematian massal pada ikan, kerang-kerangan, dan organisme lain. Efek dari racun itusangat jelas pada saat terjadi peristiwa “Red Tide”, saat terjadi
blooming
(ledakan populasi) algae.
Materi Pembekalan Peserta1
st
International Earth Science Olympiad – IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan
3