Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Untitled

Untitled

Ratings: (0)|Views: 294|Likes:
Published by fadilazitria

More info:

Published by: fadilazitria on Aug 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

08/13/2012

pdf

text

original

 
BAB IPENDAHULUANKista Bartholin dan abses Bartholin merupakan masalah umum pada wanita usia reproduksi. Kelenjar Bartholin terletak bilateral di posterior introitus dan bermuara dalam vestibulum pada posisi arah jam 4 dan 8. Kelenjar ini biasanya berukuransebesar kacang dan tidak teraba kecuali pada keadaan penyakit atau infeksi. Pada masa pubertas, kelenjar ini mulai berfungsi, memberikan kelembaban bagi vestibulum.Di Amerika Serikat, insidennya adalah sekitar 2% dari wanita usia reproduksi akan mengalami pembengkakan pada salah satu atau kedua kelenjar Bartholin. Penyakityang menyerang kelenjar Bartholin biasanya terjadi pada wanita antara usia 20 dan 30 tahun. Pembesaran kelenjar Bartholin pada pasien yang berusia lebih dari 40 tahun jarang ditemukan, dan perlu dikonsultasikan pada gynecologist untuk dilakukan biopsi.Penyebab dari kelainan kelenjar Bartholin adalah tersumbatnya bagian distal dariduktus kelenjar yang menyebabkan retensi dari sekresi, sehingga terjadi pelebaran duktus dan pembentukan kista. Kista tersebut dapat menjadi terinfeksi, dan selanjutnya berkembang menjadi abses. Abses Bartholin selain merupakan akibat darikista terinfeksi, dapat pula disebabkan karena infeksi langsung pada kelenjar Bartholin.Kista bartholin bila berukuran kecil sering tidak menimbulkan gejala. Dan bila bertambah besar maka dapat menimbulkan dispareunia. Pasien dengan abses Bartholinumumnya mengeluhkan nyeri vulva yang akut dan bertambah secara cepat dan progresif.Dalam penanganan kista dan abses bartholin, ada beberapa pengobatan yang dapat dilakukan. Dapat berupa intervensi bedah, dan medikamentosa. Intervensi bedah yang dapat dilakukan antara lain berupa incisi dan drainase, pemasangan Word catheter, marsupialisasi, dan eksisi.BAB IITINJAUAN PUSTAKAA.ANATOMIKelenjar Bartholin (greater vestibular glands) merupakan homolog dari kelenjar Cowper (kelenjar bulbourethral pada laki-laki)1. Pada masa pubertas, kelenjar inimulai berfungsi, memberikan kelembaban bagi vestibulum.Kelenjar Bartholin berkembang dari tunas dalam epitel daerah posterior dari vestibulum. Kelenjar ini terletak bilateral di dasar labia minora dan mengalirkan hasil sekresinya melalui duktus sepanjang 2 – 2.5 cm, yang bermuara ke dalam vestibulum pada arah jam 4 dan jam 8.2,3s Kelenjar ini biasanya berukuran sebesar kacang dan ukurannya jarang melebihi 1cm. Kelenjar ini tidak teraba kecuali pada keadaan penyakit atau infeksi. Gambar 1. Anatomi kelenjar Bartholin.
 
EPIDEMIOLOGIKista Bartholin merupakan pertumbuhan kistik yang paling sering ditemukan pada vulva.4,5 Sekitar dua persen wanita pernah terinfeksi kista Bartholin dan abses selama hidupnya.6 Abses hampir tiga kali lebih sering ditemukan daripada kista. Sebuah case control study membuktikan bahwa wanita berkulit hitam dan putih lebihmudah mengalami kista atau abses Bartholin dibandingkan dengan wanita ras Hispanik; dan studi ini juga mengemukakan bahwa wanita dengan angka paritas yang tinggi berada pada risiko terendah. Involusi bertahap dari kelenjar Bartholin dapatterjadi pada saat seorang wanita mencapai usia 30 tahun. Hal ini mungkin menjelaskan sering terjadinya Kista Bartholin dan abses kelenjar selama usia reproduksi, khususnya antara 20 hingga 29 tahun. 2,8Karena massa vulva pada wanita pascamenopause dapat berupa kanker, biopsi excisional mungkin diperlukan. Beberapa peneliti mengusulkan bahwa eksisi pembedahan tidak diperlukan karena risiko kanker kelenjar Bartholin sangat rendah (0,114 kasus per 100.000 woman-years). Namun, jika diagnosis kanker tertunda, prognosis dapat menjadi buruk. Gambar 2. Pembesaran unilateral pada Abses BartholinB.ETIOPATOLOGITersumbatnya bagian distal dari duktus Bartholin dapat menyebabkan retensi darisekresi, dengan akibat berupa pelebaran duktus dan pembentukan kista. Kista tersebut dapat menjadi terinfeksi, dan abses bisa berkembang dalam kelenjar. Kelenjar Bartholin sangat sering terinfeksi dan dapat membentuk kista atau abses pada wanita usia reproduksi. Kista dan abses bartholin seringkali dibedakan secara klinis. Kista Bartholin terbentuk ketika ostium dari duktus tersumbat, sehingga menyebabkan distensi dari kelenjar dan tuba yang berisi cairan. Sumbatan ini biasanya merupakan akibat sekunder dari peradangan nonspesifik atau trauma. Kista bartholin dengan diameter 1-3 cm seringkali asimptomatik. Sedangkan kista yang berukuran lebih besar, kadang menyebabkan nyeri dan dispareunia.Abses Bartholin merupakan akibat dari infeksi primer dari kelenjar, atau kista yang terinfeksi. Pasien dengan abses Bartholin umumnya mengeluhkan nyeri vulva yang akut dan bertambah secara cepat dan progresif. Abses kelenjar Bartholin disebakan oleh polymicrobial (Tabel 1). 4,11,12 C.MANIFESTASI KLINISPasien dengan kista dapat memberi gejala berupa pembengkakan labial tanpa disetai nyeri. Pasien dengan abses dapat memberikan gejala sebagai berikut:Nyeri yang akut disertai pembengkakan labial unilateral.DispareuniaNyeri pada waktu berjalan dan dudukNyeri yang mendadak mereda, diikuti dengan timbulnya discharge ( sangat mungkinmenandakan adanya ruptur spontan dari abses)Hasil pemeriksaan fisik yang dapat diperoleh dari pemeriksaan terhadap Kista Bartholin adalah sebagai berikut:Pasien mengeluhkan adanya massa yang tidak disertai rasa sakit, unilateral, dantidak disertai dengan tanda – tanda selulitis di sekitarnya.Jika berukuran besar, kista dapat tender.Discharge dari kista yang pecah bersifat nonpurulentSedangkan hasil pemeriksaan fisik yang diperoleh dari pemeriksaan terhadap absesBartholin sebagai berikut:Pada perabaan teraba massa yang tender, fluktuasi dengan daerah sekitar yang eritema dan edema.Dalam beberapa kasus, didapatkan daerah selulitis di sekitar abses.Demam, meskipun tidak khas pada pasien sehat, dapat terjadi.Jika abses telah pecah secara spontan, dapat terdapat discharge yang purulen.Gambar 3. Abses BartholinKista Bartholin harus dibedakan dari abses dan dari massa vulva lainnya. Karakte
 
ristik dari lesi kistik dan solid dari vulva dapat dilihat pada Tabel 2. Karenakelenjar Bartholin mengecil saat usia menopause, suatu pertumbuhan massa pada wanita postmenopause perlu dievaluasi terhadap tanda – tanda keganasan, terutama bila massanya bersifat irreguler, nodular, dan keras.10 Karsinoma kelenjar Bartholin memiliki persentase sekitar 1% dari kanker vulva, dan walaupun kasusnya jarang, merupakan tempat tersering timbulnya adenocarcinoma. Sekitar 50% dari tumor kelenjar Bartholin adalah karsinoma sel skuamosa. Jenislain dari tumor yang timbul di kelenjar Bartholin adalah adenokarsinoma, kistikadenoid (suatu adenokarsinoma dengan histologis spesifik dan karakteristik klinis), adenosquamousa, dan transitional cell carcinoma.Karena mungkin sulit untuk membedakan tumor Bartholin dari kista Bartholin yangjinak hanya dengan pemeriksaan fisik, setiap wanita berusia lebih dari 40 tahunperlu menjalani tindakan biopsi untuk menyingkirkan kecurigaan neoplasma, dimanapenyakit inflamasi jarang ditemui pada usia tersebut. Karena lokasinya yang jauh di dalam, tumor dapat mempengaruhi rektum dan langsung menyebar melalui fossaischiorectalis. Akibatnya, tumor ini dapat masuk ke dalam saluran limfatik yanglangsung menuju ke kelenjar getah bening inguinal profunda serta superficialis.Kesalahan dalam mendiagosis keganasan Bartholin akan memberikan prognosa yang buruk, sehingga ketepatan dan kecepatan dalam mendiagnosa sangat diperlukan.Beberapa kondisi berikut ini dapat merupakan sugestif keganasan kelenjar Bartholin, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan yang lebih lanjut hingga biopsi:Usia yang lebih tua dari 40 tahunMassa yang tidak nyeri, kronis, dan bertambah besar secara progresifMassa yang solid, tidak fluktuasi, dan tidak nyeriTerdapat riwayat keganasan labial sebelumnya.D.PEMERIKSAAN PENUNJANGApabila pasien dalam kondisi sehat, afebris; tes laboratorium darah tidak diperlukan untuk mengevaluasi abses tanpa komplikasi atau kista. Kultur bakteri dapatbermanfaat dalam menentukan kuman dan pengobatan yang tepat bagi abses Bartholin.E.DIAGNOSIS BANDINGBeberapa jenis lesi vulva dan vagina dapat menyerupai kista Bartholin. Beberapadiantaranya adalah:1.Kista sebaceous pada vulva sangat sering ditemukan. Kista sebaseous inimerupakan suatu kista epidermal inklusi dan seringkali asimptomatik. Pada keadaan terinfeksi, diperlukan incisi dan drainase sederhana.2.Dysontogenetic cysts merupakan kista jinak yang berisi mukus dan berlokasi pada introitus atau labia minora. Terdiri dari jaringan yang menyerupai mukosa rektum, dan seringkali asimptomatik.3.Hematoma pada vulva. Dapat dibedakan dengan adanya trauma akibat berolahraga, kekerasan.4.Fibroma merupakan tumor solid jinak vulva yang sering ditemukan. Indikasi untuk eksisi berupa timbulnya rasa nyeri, pertumbuhan yang progresif, dan kosmetik.5.Hidradenoma merupakan tumor jinak yang dapat muncul pada labia majora dan labia minora. Perlu dipertimbangkan untuk dilakukan biopsi apabila timbul perdarahan dan diangkat bila timbul gejala.F.TERAPIPengobatan kista Bartholin bergantung pada gejala pasien. Suatu kista tanpa gejala mungkin tidak memerlukan pengobatan, kista yang menimbulkan gejala dan abseskelenjar memerlukan drainase.2Tindakan OperatifBeberapa prosedur yang dapat digunakan:1.Incisi dan DrainaseMeskipun insisi dan drainase merupakan prosedur yang cepat dan mudah dilakukan serta memberikan pengobatan langsung pada pasien, namun prosedur ini harus diperhatikan karena ada kecenderungan kekambuhan kista atau abses.1,5,16 Ada studi yan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->