• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • 1
    CommentGo Back
 
PROPOSAL PENELITIANA. Judul Penelitian
Khittah Pesantren Perspektif K.H.R. As’ad Syamsul Arifin”B. Latar Belakang Masalah
Pesantren sebagai model lembaga pendidikan Islam pertama yangmendukung kelangsungan sistem pendidikan nasional, selama ini tidak diragukan lagikontribusinya dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus mencetak kader-kader intelektual yang siap untuk mengapresiasikan potensi keilmuannya dimasyarakat (Tolkhah dan Barizi: 2004: 49). Dalam perjalanan misi kependidikannya, pesantren mengalami banyak sekali hambatan yang sering kali membuat laju perjalanan ilmiah pesantren menjadi pasang surut.Hal ini tidak terlepas dari peran dan ketokohan seorang kiai sebagai pemegangotoritas utama dalam pengambilan setiap kebijakan pesantren. Sebagai seorang topleader, kiai diharapkan mampu membawa pesantren untuk mencapai tujuannya dalammentransformasikan nilai-nilai ilmiah (terutama ilmu keagamaan) terhadap umat(baca: santri) sehingga nilai-nilai tersebut dapat mengilhami setiap kiprah santridalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.Dalam sejarahnya pesantren telah mampu mencetak kader-kader handal yangtidak hanya dikenal potensial, akan tetapi mereka telah mampu mereproduksi potensiyang dimiliki menjadi sebuah kehlian yang layak jual. Seperti halnya di era pertamamunculnya pesantren, yaitu pada masa kepemimpinan wali songo pesantren telahmampu melahirkan kader-kader seperti Sunan Kudus (Fuqoha’), Sunan Bonang(Seniman), Sunan Gunung Jati (Ahli Strategi Perang), Sunan Drajat (Ekonom), RadenFatah (Politikus dan Negarawan), dan wali-wali yang lain(.A’la, 2006: 17). Merekatelah mampu menundukkan dominasi peradaban majapahit yang telah berkuasaselama berabad-abad, yang dikenal sebagai suatu kerajaan dengan struktur  pemerintahan dan pertahanan negara yang cukup disegani dikawasan Asia tenggara.Menurut K.H.R. As’ad Syamsul Arifin, saat ini ternyata pesantren seolah sudahmulai kehilangan daya kekebalannya untuk membendung arus modernisasi danwesternisasi yang sudah mulai menggejala sejak pertengahan abad ke XX. Banyak sekali pesantren-pesantren salaf yang mulai merubah orientasi pendidikannya menjadi pola pendidikan kebarat-baratan. Menurut beliau bukannya pesantren tidak bolehmodern, akan tetapi semangat untuk mengakomodir tuntutan zaman (baca:Modernisasi) haruslah disertai dengan konsistensi terhadap nilai-nilai yang dianut,yakni nilai-nilai
 salafiyah
. ( 2000; 45) Nilai-nilai
 salafiyah
harus tetap menjadi prinsip sebagai benteng utama dalammenetralisir aspek-aspek negatif yang ditimbulkan dari dampak modernisasi yangsaat ini mulai mempopulerkan diri dalam ranah pendidikan di Indonesia termasuk 
 
lembaga pendidikan pesantren. Sehingga pesantren tidak dikatakan latah dancenderung menjadi bulan-bulanan peradaban modern yang kandungan nilai-nilainyatidak kesemuanya sesuai dengan prinsip-prinsip salaf.Adapun orientasi khittah pesantren sendiri diharapkan mampu untuk memenyegarkan kembali pemahaman konsep
 salafiyah
 pesantren yang mulaikehilangan identitasnya dalam belantara pendidikan pesantren di Indonesia. Dalam pandangan kiai As’ad, saat ini pesantren seolah lebih serius membangun paradigma pendidikan ala modern tanpa diiringi konsistensi terhadap sistem pendidikan salaf yang pada awalnya menjadi platform dari perjuangan pendidikan pesantren.Akibatnya pembacaan terhadap produk pesantren akan mengalami ambiguitas dalamhal kompetensi.Hal ini menjadi sangat logis sekali ketika hampir semua lembaga pendidikan di Indonesia termasuk sebagian pesantren yang mulai berlomba-lombamencetak teknokrat dan ilmuan dengan berbagai gelar akademis, sementara disisiyang lain tugas utama pesantren untuk mencetak kader-kader fuqoha’ dan pemukaagama mulai kurang mendapat perhatian. Akankah pesantren harus mendukungrealitas kehampaan spritual yang sedang menggejala di masyarakat modern saat ini?Sementara yang terjadi saat ini pesantren dengan sederetan argumentasiyang banyak dikemukakan para pengelolanya, berdalih bahwa apa yang dilakukanmereka semata-mata dalam rangka menjembatani nilai-nilai tradisionalisme pesantrendengan nilai-nilai modern yang saat ini banyak digandrungi oleh semua kalangan. Halini direalisasikan dengan didirikannya sekolah-sekolah umum, laboratorium, dll.Dengan adanya fasilitas-fasilitas tersebut diharapkan ada penyeimbangan antaramateri pokok di pesantren yang berbasiskan kitab kuning dengan materi-materi pelajaran umum (A’la, 2006: 21).Respon pesantren terhadap gejala-gejala modernisme dapat dilacak dengan berbagai gerakan inovatif yang seringkali mengaburkan idealismenya sebagai pemegang tradisi salaf. Sehingga akar tradisi yang sejak semula menjadi sesuatu yangsakral, saat ini harus tergantikan dengan kultur modern tanpa disertai upaya untuk menetralisir sistem yang cenderung merusak tradisi salafnya. Tanpa adanya upaya ini(penetralisiran sistem), nilai-nilai salafiyah akan menjadi simbol-simbol formalistik yang terabaikan dalam perilaku masyarakat pesantren.Untuk itu, merupakan suatu keharusan untuk mengembalikan pendidikan pesantren pada nilai hakikinya (kembali ke khittah). Hal ini didasarkan pada tugas pesantren yang sejatinya berorientasi pada pemeliharaan dan pembumian (baca:kontekstualisasi) nilai-nilai salaf dalam realitas kehidupan masyarakat. Hal ini sejalandengan semangat Islam, sebagai agama yang mengajarkan umatnya untuk melakukan pembebasan secara keseluruhan dari segala belenggu yang akan mereduksi nilai-nilaikemanusiaan (A’la, 2006: 11).
C. Alasan Pemilihan Judul
 
 
Sebagai upaya melegitimasi kriteria dalam penelitian, peneliti akanmenguraikan beberapa alasan argumentatif mengapa peneliti memilih judul KhittahPesantren Perspektif K.H.R. As’ad Syamsul Arifin, yang kemudian akan disesuaikandengan beberapa faktor yang harus dipenuhi oleh peneliti.Dalam penelitian ilmu pendidikan (Tarbiyah), pemilihan judul inisebenarnya terdapat beberapa alasan mendasar yang menjadi latar belakangkajiannya, sehingga penelitian ini dapat dipertangung jawabkan secara akademis danilmiah. Adapun alasan-alasan tersebut sebagai berikut:
1. Alasan Objektif 
1.Judul ini dipilih karena pesantren merupakan salah satu pendidikan Islam tertua diIndonesia yang masih eksis.2.Pentingnya menelusuri pemikiran K.H.R. As’ad Syamsul Arifin sebagai salah satu pengasuh pondok pesantren terbesar di Indonesia.3.Pentingnya gagasan tentang khittah pesantren untuk menjembatani arustransformasi gerakan pendidikan pesantren di era modern.
2. Alasan Subjektif 
1.Judul diatas sangat menarik dan relevan untuk diteliti serta tidak menyimpangdari spesialisasi keilmuan peneliti pada Jurusan Tarbiyah Program StudiPendidikan Agama Islam.2.Tersedianya literatur-literatur pendukung sebagai referensi untuk dijadikanrujukan penelitian.3.Kesediaan dan kesiapan peneliti dalam mengkaji Khittah Pesantren Perspektif KHR As’ad Syamsul Arifin secara teoritik dan konseptual.4.Adanya kesediaan dosen pembimbing untuk memberikan arahan pemikiran danmotivasi dalam penyusunan skripsi.5.Adanya manfaat bagi peneliti ataupun pihak lain.
D. Perumusan Masalah
Untuk merumuskan permasalahan tersebut, perlu adanya sistematikaanalitik untuk mencapai sasaran yang menjadi objek kajian, sehingga pembahasanakan lebih terarah pada pokok masalah. Hal ini dimaksudkan agar terhindar dari pokok masalah dengan pembahasan yang tidak ada relevansinya. Adapun perumusanmasalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.Fokus Masalah
“Bagaimana Khittah Pesantren Perspektif K.H.R. As’ad Syamsul Arifin
1.Sub Fokus Masalah
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...

Mengapa tidak bisa di download, aku santri kiai as'ad

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...