Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Bertanam Padi Di Sawah Pasang Surut

Bertanam Padi Di Sawah Pasang Surut

Ratings: (0)|Views: 3,260|Likes:
Published by api-25886356

More info:

Published by: api-25886356 on Jan 15, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See More
See less

08/01/2010

D

Bertemu Warga\u2018Buakesuma \u2019 - Bugis Asli Kelahiran
Sumatera - di Kampung Telang-Karya, Kabupaten Musi
Banyu Asin, Sumatera Selatan

Oleh: A. Hafied A. Gany
Gany@hafied.org
Reporter (kiri) berpose bersama Pak Abdul Rasyid, orang\u201cBuakesuma \u201d di Rumahnya (kanan), di
Kampung Telang Karya, Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Musi Banyu Asin
(Foto: Istimewa, 3 April 2008)
-----
alam rangka memenuhi undangan Ketua Program Pasca Sarjana Universitas
Sriwijaya untuk memberikan kuliah Umum dengan Tema \u201cPermasalahan

Sumber Daya Air di Indonesia, Peluang, Tantangan, dan Peran Internasional Indonesia\u201d di Palembang, tanggal 4 April 2008, Panitia memfasilitasi kami untuk meninjau pengembangan persawahan di Proyek Pasang Surut Telang-Saleh, Kabupaten Musi Banyu Asin, Sumatera Selatan sehari sebelumnya. Dalam kunjungan lapangan tersebut Reporter tanpa rencana bertemu dengan seorang warga

\u201cBuakesuma\u201d alias Bugis Asli Keturunan Sumatera yang menjadi petani pemanfaat

lahan Proyek Rawa Pasang Surut Tersebut. Tulisan ini memaparkan hal ikhwal kehidupan petani sawah pasang surut, termasuk warga\u201cBuakesuma \u201d tersebut untuk disimak bersama (H@Gany, Jan 2009).

-----
Dalam kapasitas sebagai \u201cVice President International Comission on Irrigation
and Drainage\u201d, saya diminta Program Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya
memberikan Kuliah Umum dengan tema: \u201cPermasalahan Sumber Daya Air di
Indonesia, Peluang, Tantangan, dan Peran Internasional Indonesia\u201d di Palembang,
1

tanggal 4 April 2008. Untuk memberikan gambaran umum mengenai kemajuan dan permasalahan umum yang dihadapi di Sumatera Selatan, khususnya menyangkut Rawa Pasang Surut \u2013 sebagai andalan Propinsi Sumatera Selatan, saya meminta diantar meninjau salah satu proyek Pasang Surut yang bisa mewakili kondisi umum di kawasan tersebut, sesuai dengan waktu yang tersedia. Dengan demikian saya berharap bisa menyesuaikan kondisi aktual dengan materi kuliah umum yang akan saya bawakan.

Dengan pertimbangan tersebut, akhirnya panitia menetapkan untuk mengantar saya meninjau salah satu bagian dari Proyek Rawa Pasang Surut Telang Saleh di Desa Telang Karya, Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Musi Banyu Asin, yang harus ditempuh dengan Speed Boat dalam waktu sekitar empat jam dari Kota Palembang.

Memenuhi undangan Ketua Program Pasca Sarjana UNSRI, kami dalam kapasitas sebagaiVi ce
President ICID memberikan Kuliah Umum di Kampus UNSRI Palembang, tanggal 4 April 2008
(Photo: Istimewa, April 2008)
-----

Pagi-pagi sesudah sarapan di Hotel Swarna Dwipa, kami ditemani tiga orang \u2013 dari Sekretariat ICID Indonesia satu orang, dan dari Universitas Sriwijaya dua orang \u2013 dengan mobil dinas milik universitas menuju pelabuhan tempat sandarnya speed boat di Sungai Gasing yang ditempuh kurang lebih satu jam. Kami harus berangkat paling lambat pukul 08 pagi, untuk menghindari surut terendah muka air laut. Namun demikian kami mengalami keterlambatan, karena kebetulan waktu itu bahan bakar sedang mengalami krisis dan sulit didapat di pasaran, sehingga, terpaksa kami di duduk hampir sejam di speed boat menunggu operatornya membeli bahan bakar cadangan yang akan dipakai kembali ke Palembang di sore harinya.

Kami baru berangkat pukul 09 pagi dengan konsekuensi bahwa jalur pelayaran dari Sungai Gasing ke Sungai Telang dan muara Sungai Musi, harus ditempuh dengan super hati-hati agar buritan dan baling-baling speed boat tidak kandas atau nyangkut. Kami semua diminta untuk memasang baju pelampung oranye selama pelayaran untuk berjaga-jaga. Beruntung bahwa operatornya, Pak Adi (35 tahun),

2

sudah berpengalaman melewati jalur tersebut pada berbagai kondisi muka air pasang surut, sehingga cekatan memilih jalur yang aman, meskipun terpaksa kami mengalami sedikit keterlambatan.

Sepanjang perjalanan, kami melihat di kiri kanan sungai tetumbuhan rumput- rumputan liar dan gelagah yang seolah-oleh tidak menampakkan adanya tanda-tanda pengolahan lahan untuk pertanian di sekitarnya. Kami banyak berpapasan dengan kapal-kapal kecil yang membawa karung-karung gabah menuju ke pengggilingan padi. Mereka biasanya minggir memberi jalan kepada speed boat kami untuk menghindari terpaan gelombang air semburan mesin di buritan yang bisa membuat kapal pengangkut muatan berat oleng atau bahkan bisa terbalik.

Memasuki jalur sungai yang lebih besar, pemandangan mulai berbeda, dengan adanya rumah-rumah panggung penduduk lokal tersebar di sepanjang pinggir sungai, dan lalu lintas sungipun semakin ramai. Namun, meskipun kami telah lebih dua jam mengarungi jalur sungai, belum kunjung ada tanda-tanda kegiatan proyek pengembangan rawa pasang surut, apalagi yang namanya hamparan sawah atau kebun. Sepanjang mata memandang, kami hanya melihat rawa-rawa diselang selingi rumpun pepohonan nipah, gelagah, dan kayu gelam, mengesankan bahwa kawasan tersebut belum tersentuh oleh pembangunan infrastruktur playanan umum.

Setelah berlayar hampir tiga jam, barulah mulai terlihat saluran-saluran anjir, yaitu saluran yang dibangun pemerintah sebagai prasarana penyalur air pasang surut. Kondisi anjir-anjir yang terbentang tegak lurus dengan as sungai dengan jarak tertentu, hampir-hampir tidak bisa dibedakan dengan sungai alam, kecuali trasenya yang lurus dan jaraknya satu sama lain yang teratur. Anjir ini malahan dapat juga dilayari pada waktu air sedang pasang. Setelah mendekati sebuah perkampungan yang ramai dengan motor boat, perahu dan angkutan air lainnya, kami diminta operator speed board untuk bersiap-siap turun, karena sebentar lagi akan merapat di lokasi Telang Jaya.

Beberapa saat setelah merapat, kami keluar dari speed boat, meniti tangga yang membentang di atas perahu orang lain baru bisa tiba dan menginjak daratan. Pak Adi, sang pengemudi motor, sambil senyum-senum geli menarik tangan dan menuntun kami satu persatu, menapaki tangga dengan kaki gemetar, sempoyongan seperti manula kehilangan tongkat. Saya baru bisa menarik nafas lega setelah menapakkan kaki di pinggir sungai. Terbayang betapa sulitnya sarana transportasi menuju lokasi permukiman ini, apalagi dalam kondisi bahan bakar yang sedang main

petak umpet.

Meskipun hanya tiga setengah jam duduk di speed boat, rasanya sudah berlayar berjam-jam, sampai punggung seperti mau remuk, akibat olengan dan hempasan speed boat. Sementara itu, tempat duduk sempit dan tidak bisa berdiri apalagi berselonjor untuk melepaskan penat dan mengendorkan ketegangan otot.

Lokasi permukiman di kawasan ini benar-benar sulit dijangkau. Angkutan darat dengan mobil kecil sekalipun tidak mungkin diadakan, karena jalan darat kalau mau dibangun, harus melewati rawa-rawa sepanjang ratusan kilo meter. Sepeda motor saja harus diangkut dengan kapal menuju lokasi. Konon, pada saat pembukaan lahan, alat-alat besar yang dipakai pemerintah mengeruk saluran dan anjir, harus diangkut dengan kapal ponton, itupun hanya bisa dilakukan selama air sedang pasang.

3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->