Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
8Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Migas Non_konvensional Dan Geopolitik Energi Di Masa Depan

Migas Non_konvensional Dan Geopolitik Energi Di Masa Depan

Ratings: (0)|Views: 339|Likes:
Published by blubiantara

More info:

Published by: blubiantara on Aug 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/03/2013

pdf

text

original

 
1
Migas non-konvensional dangeopolitik energi di masa depan
Benny Lubiantara
12 Juli 2012
Di industri migas, adanya migas non-konvensional, seperti:
shale oil
,
oil sand 
,
shale gas
,
tight sand 
dan
coal-bed methane
(gas metana batubara), sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru.Potensi migas non-konvensional yang kaya organik di beberapa perusahaan migas selama inisudah teridentifikasi namun relatif diabaikan karena sangat rendahnya permeabilitas yangmencerminkan kesulitan untuk mengalirkan migas tersebut.Sumber daya migas non-konvensional ini sangat besar, berbeda dengan migas konvensional,dimana keberhasilan eksplorasi menjadi salah satu kunci sukses utama. Pada migas non-konvensional karena lokasi sumber daya sudah teridentifikasi, isu utamanya adalah apakahcukup ekonomis memproduksikan akumulasi lapisan tersebut. Aplikasi teknologi perekahan(
 fracturing
) dan pemboran horizontal yang umum digunakan pada sumur migas konvensional,merupakan terobosan dalam rangka memproduksikan akumulasi migas non-konvensional.Di Amerika Serikat (AS), sejak tahun 2006 produksi
shale gas
meningkat luar biasa. Hal iniberakibat turunnya harga gas secara dramatis disana. Harga gas spot Henry-Hub, tahun 2006mencapai 13 $ per mmbtu, saat ini “hanya” berharga antara 2 - 3 $ per mmbtu.
 
Adanya “revolusi” gas non-konvensional ini sedikit banyak akan mempengaruhi geopolitik energi. Tambahan produksi gas non-konvensional pada masa yang akan datang akanberpengaruh terhadap rute perdagangan LNG global. Majalah
Petroleum Economist 
(edisi April2012) menulis ancaman serius
shale gas
dari AS akan dirasakan oleh LNG Australia yangsedang melakukan investasi besar besaran. Impor LNG dari
shale gas
di AS diperkirakan akanlebih murah karena harganya mengacu kepada Henry- Hub yang merupakan harga patokan gasdi Amerika Serikat. Sementara harga LNG tradisional umumnya mengacu kepada harga minyak.Sementara untuk minyak non-konvensional, tambahan pasokan berasal dari
shale/tight oil
di ASdan
oil sand/tar sand 
di Kanada. Akibatnya, sebagaimana diperkirakan oleh pakar migasLeonardo Maugeri, produksi minyak AS dalam satu dekade kedepan akan mendekati 12 jutabarel per hari, nomor dua di dunia setelah Saudi Arabia. Begitu pula dengan Kanada, tambahanproduksi minyak akibat kegiatan migas non-konvensional akan meningkat signifikan, merekaakan menjadi salah satu dari 5 besar produsen minyak dunia. Sementara Brazil pada dekadekedepan, melalui produksi dari wilayah Laut Dalam, produksi minyak (konvensional) merekaakan sedikit diatas 4 juta barel per hari, meningkat 100% dari produksi saat ini.Tambahan produksi minyak dunia kedepan akan di dominasi oleh empat negara, tiga dariwilayah Amerika (AS, Kanada dan Brazil), ditambah Irak yang mewakili wilayah klasik TimurTengah melalui tambahan produksi dari sumur sumur minyak yang di rehabilitasi akibat
 
2
kerusakan pada masa perang. Meningkatnya aktivitas minyak non-konvensional di AS ini akansecara dramatis mengurangi kebutuhan impor minyak negara tersebut.Dari beberapa seminar internasional yang dihadiri penulis satu tahun terakhir, tidak sedikitpengamat minyak internasional terkenal berpendapat bahwa implikasi dari tambahan produksiminyak non-konvensional dapat menekan harga minyak. Namun demikian, keekonomianpengembangan migas non-konvensional secara global, pada saat ini memerlukan harga minyak paling tidak sekitar 70 $ per barel. Dibawah harga ini, sebagian proyek migas non-konvensionalkhususnya diluar AS menjadi kurang menarik.Sumber daya (
resources
) migas non-konvensional di dunia sangat melimpah, pertanyaannya:apakah kesuksesan pengembangannya di AS dan Kanada dapat dengan mudah di “
copy paste
oleh negara lain? Jawabannya: tidak, khususnya dalam jangka pendek. Kesuksesan industrimigas non-konvensional di kedua negara tersebut disamping tersedianya sumber daya migasnon-konvensional yang sangat besar, juga didukung oleh adanya akses terhadap sistem pipanisasilokal, faktor jarak yang relatif dekat antara lokasi proyek dengan konsumen, ditambah lagidengan banyaknya perusahaan penyedia jasa untuk kegiatan hulu migas dan ketersediaaninfrastruktur. Adanya kompetisi sesama perusahaan yang terlibat dalam pengembangan gas non-konvensional mendorong terjadinya penurunan biaya. Disamping itu di AS agak unik, berbedadengan negara lain dimana migas merupakan kekayaan yang dikuasai negara, di AS, migasmerupakan kepemilikan privat (
 private ownerhip of mineral rights
). Tentu saja faktor harga gasdomestik yang tinggi selama periode 2005 - 2008 juga menjadi pendorong sehingga proyek menjadi ekonomis.
Isu lingkungan
Sejauh ini, tantangan yang dihadapi pada saat pengembangan migas non-konvensional adalah isulingkungan. Penggunaan teknologi
 fracturing
yang sangat intensif melalui injeksi air dan zatkimia tambahan ke dasar sumur dengan volume yang besar besaran diyakini beberapa pihak akanmenyebabkan kerusakan dan kontaminasi air tanah serta masalah lingkungan lainnya. Beberapanegara khususnya di daratan Eropa sangat serius menangani isu lingkungan ini. Perancismengeluarkan larangan kegiatan
 fracturing
untuk eksploitasi
shale gas
sampai ada teknologiyang dianggap lebih akrab lingkungan. Eksploitasi minyak non-konvensional, seperti:
oil sand 
  juga menghadapi tantangan serupa, mengingat emisi karbon relatif lebih besar dihasilkan olehminyak non-konvensional. Pada saat ini, isu lingkungan sedang dicarikan solusinya, termasuk kajian seberapa jauh kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh kegiatan
fracturing
.
Pembelajaran
Dalam satu dekade kedepan, diperkirakan peta geopolitik energi akan berubah, salah satu faktorpenyebabnya tak lain adalah revolusi pada industri migas non-konvensional. Pembelajaran apasekiranya dapat kita petik dari negara yang diperkirakan akan memberikan tambahan pasokanminyak secara signifikan pada masa datang, seperti: Brazil dan AS.Dari pengalaman negara tersebut, tampaknya diperlukan suatu pemicu agar suatu kebijakanenergi secara umum dan terobosan peningkatan produksi migas secara khusus akan berhasil pada

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->