Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword or section
Like this
16Activity
×

Table Of Contents

0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
KTSP SD

KTSP SD

Ratings: (0)|Views: 12,213|Likes:

More info:

categoriesTypes, School Work
Published by: Andike Agustyanto Rigin on Aug 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

06/10/2013

pdf

text

original

 
1
KTSP SDS Bethesda Berbasis Karakter Bangsa
Tahun Palajaran 2012/2013
 
BAB IPENDAHULUAN
A.
 
Latar Belakang1.
 
Pengertian KTSP
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, danbahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraankegiatanpembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dalam pelaksanaan KurikulumTingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Departemen Pendidikan Nasional telah menetapkankerangka dasar Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Kompetensi (SK), dan KompetensiDasar (KD).KTSP merupakan kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan olehmasingmasing satuan pendidikan. Pengembangannya harus berdasarkan satuan pendidikan,potensi daerah, atau karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat dan peserta didik.Pemberlakuan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2004 tentangPemerintah Daerah menuntut pelaksanaan otonomi daerah dan wawasan demokrasi dalampenyelenggaraan pendidikan. Pengelolaan pendidikan yang semula bersifat sentralistik berubahmenjadi desentralistik. Desentralisasi pengelolaan pendidikan dengan diberikannya wewenangkepada satuan pendidikan untuk menyusun kurikulumnya mengacu pada Undang-undang Nomor20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu Pasal 3 tentang fungsi dan tujuanpendidikan nasional dan Pasal 35 mengenai standar nasional pendidikan.Desentralisasi pengelolaan pendidikan yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dankondisi daerah harus segera dilaksanakan. Bentuk nyata desentralisasi pengelolaan pendidikanadalah diberikannya kewenangan kepada satuan pendidikan untuk mengambil keputusanberkenaan dengan pengelolaan pendidikan, seperti dalam pengelolaan kurikulum, baik dalampenyusunan maupun pelaksanaannya di satuan pendidikan. Satuan pendidikan merupakan pusatpengembangan budaya.
2.
 
Pengertian Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa
Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem PendidikanNasional (UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harusdigunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas
 
2
KTSP SDS Bethesda Berbasis Karakter Bangsa
Tahun Palajaran 2012/2013
 
menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan
membentuk watak sertaperadaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuanuntuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwakepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, danmenjadi warga negara yang demokratis serta bertaminggung j
awab”. Tujuan pendidikan nasional
itu merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan olehsetiap satuan pendidikan. Oleh karena itu, rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi dasardalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.
 Berdasarkan uraian tujuan pendidikan Nasional tersebut, maka pendidikan budaya dan karakter bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya,menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warganegara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif .
 3.
 
Perlunya Pendidikan Budaya dan Karakter bangsa
Persoalan budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan tajam masyarakat. Sorotanitu mengenai berbagai aspek kehidupan, tertuang dalam berbagai tulisan di media cetak,wawancara, dialog, dan gelar wicara di media elektronik. Selain di media massa, para pemukamasyarakat, para ahli, dan para pengamat pendidikan, dan pengamat sosial berbicara mengenaipersoalan budaya dan karakter bangsa di berbagai forum seminar, baik pada tingkat lokal,nasional, maupun internasional. Persoalan yang muncul di masyarakat seperti korupsi,kekerasan, kejahatan seksual, perusakan, perkelahian massa, kehidupan ekonomi yangkonsumtif, kehidupn politik yang tidak produktif, dan sebagainya menjadi topik pembahasanhangat di media massa, senar, dan di berbagai kesempatan. Berbagai alternatif penyelesaiandiajukan seperti peraturan, undang-undang, peningkatan upaya pelaksanaan dan penerapanhukum yang lebih kuat.Alternatif lain yang banyak dikemukakan untuk mengatasi, paling tidak mengurangi,masalah budaya dan karakter bangsa yang dibicarakan itu adalah pendidikan. Pendidikandianggap sebagai alternatif yang bersifat preventif karena pendidikan membangun generasi barubangsa yang lebih baik. Sebagai alternatif yang bersifat preventif, pendidikan diharapkan dapatmengembangkan kualitas generasi muda bangsa dalam berbagai aspek yang dapat memperkecildan mengurangi penyebab berbagai masalah budaya dan karakter bangsa. Memang diakui bahwahasil dari pendidikan akan terlihat dampaknya dalam waktu yang tidak segera, tetapi memilikidaya tahan dan dampak yang kuat di masyarakat.Kurikulum adalah jantungnya pendidikan (
curriculum is the heart of education
). Olehkarena itu, sudah seharusnya kurikulum, saat ini, memberikan perhatian yang lebih besar padapendidikan budaya dan karakter bangsa dibandingkan kurikulum masa sebelumnya. Pendapatyang dikemukakan para pemuka masyarakat, ahli pendidikan, para pemerhati pendidikan dananggota masyarakat lainnya di berbagai media massa, seminar, dan sarasehan yang diadakanoleh Kementerian Pendidikan Nasional pada awal tahun 2010 menggambarkan adanyakebutuhan masyarakat yang kuat akan pendidikan budaya dan karakter bangsa. Apalagi jika
 
3
KTSP SDS Bethesda Berbasis Karakter Bangsa
Tahun Palajaran 2012/2013
 dikaji, bahwa kebutuhan itu, secara imperatif, adalah sebagai kualitas manusia Indonesia yangdirumuskan dalam Tujuan Pendidikan Nasional.Kepedulian masyarakat mengenai pendidikan budaya dan karakter bangsa telah pulamenjadi kepedulian pemerintah. Berbagai upaya pengembangan pendidikan budaya dan karakterbangsa telah dilakukan di berbagai direktorat dan bagian di berbagai lembaga pemerintah,terutama di berbagai unit Kementrian Pendidikan Nasional. Upaya pengembangan itu berkenaandengan berbagai jenjang dan jalur pendidikan walaupun sifatnya belum menyeluruh. Keinginanmasyarakat dan kepedulian pemerintah mengenai pendidikan budaya dan karakter bangsa,akhirnya berakumulasi pada kebijakan pemerintah mengenai pendidikan budaya dan karakterbangsa dan menjadi salah satu program uminggulan pemerintah, paling tidak untuk masa 5(lima) tahun mendatang.Di dalam KTSP ini dikembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa sebagai satukesatuan kegiatan pendidikan yang terjadi di sekolah. Nilai-nilai yang dimaksud di antaranya:religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu,semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi,bersahabat/ komunikatif, cinta damai,gemar membaca, peduli sosial dan lingkungan, serta taminggung jawab. Kedelapan belas nilaibudaya dan karakter bangsa inilah yang melingkupi dan terintegrasi dalam seluruh kegiatanpendidikan sebagai budaya sekolah.
 4.
 
Landasan Pedagogis Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa
Pendidikan adalah suatu upaya sadar untuk mengembangkan potensi peserta didik secaraoptimal. Usaha sadar itu tidak boleh dilepaskan dari lingkungan peserta didik berada, terutamadari lingkungan budayanya, karena peserta didik hidup tak terpishkan dalam lingkungannya danbertindak sesuai dengan kaidah-kaidah budayanya. Pendidikan yang tidak dilandasi oleh prinsipitu akan menyebabkan peserta didik tercerabut dari akar budayanya. Ketika hal ini terjadi, makamereka tidak akan
mengenal budayanya dengan baik sehingga ia menjadi orang “asing” dalam
lingkungan budayanya. Selain menjadi orang asing, yang lebih mengkhawatirkan adalah diamenjadi orang yang tidak menyukai budayanya. Budaya, yang menyebabkan peserta didik tumbuh dan berkembang, dimulai dari budaya di lingkungan terdekat (kampung, RT, RW, desa)berkembang ke lingkungan yang lebih luas yaitu budaya nasional bangsa dan budaya universalyang dianut oleh umat manusia. Apabila peserta didik menjadi asing dari budaya terdekat makadia tidak mengenal dengan baik budaya bangsa dan dia tidak mengenal dirinya sebagai anggotabudaya bangsa. Dalam situasi demikian, dia sangat rentan terhadap pengaruh budaya luar danbahkan cenderung untuk menerima budaya luar tanpa proses pertimbangan (
valueing
).Kecenderungan itu terjadi karena dia tidak memiliki norma dan nilai budaya nasionalnya yangdapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan pertimbangan (
valueing
).Semakin kuat seseorang memiliki dasar pertimbangan, semakin kuat pula kecenderunganuntuk tumbuh dan berkembang menjadi warga negara yang baik. Pada titik kulminasinya, normadan nilai budaya secara kolektif pada tingkat makro akan menjadi norma dan nilai budayabangsa. Dengan demikian, peserta didik akan menjadi warga negara Indonesia yang memilikiwawasan, cara berpikir, cara bertindak, dan cara menyelesaikan masalah sesuai dengan normadan nilai ciri ke-Indonesiaannya. Hal ini sesuai dengan fungsi utama pendidikan yangdiamanatkan dalam UU Sisdiknas,
“mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->