Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword or section
Like this
2Activity

Table Of Contents

0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Hukum Menyanyi dan Musik dalam Fiqih Islam « Konsultasi Islam

Hukum Menyanyi dan Musik dalam Fiqih Islam « Konsultasi Islam

Ratings: (0)|Views: 152 |Likes:
Published by Rizky M Faisal

More info:

Published by: Rizky M Faisal on Aug 31, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/13/2014

pdf

text

original

 
1/54konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 
Konsultasi Islam
Mengatasi Masalah dengan SyariahHukum Menyanyi dan Musik dalam Fiqih Islam
Posted by Farid Ma'ruf pada 18 Januari 2007
Soal:
 
Ustadz yang terhormat, saya mau nanya bagaimana hukumnya menanyi dan musik dalam pandangan Islam? Karena ada sebagian ulama yang mengharamkan, tapi ada sebagian ulama yangmembolehkan. Mohon penjelasannya
.
Jawab: 1. Pendahuluan
Keprihatinan yang dalam akan kita rasakan, kalau kita melihat ulah generasi muda Islam saat iniyang cenderung liar dalam bermain musik atau bernyanyi. Mungkin mereka berkiblat kepadapenyanyi atau kelompok musik terkenal yang umumnya memang bermental bejat dan bobrokserta tidak berpegang dengan nilai-nilai Islam. Atau mungkin juga, mereka cukup sulit atau jarangmendapatkan teladan permainan musik dan nyanyian yang Islami di tengah suasana hedonistikyang mendominasi kehidupan saat ini. Walhasil, generasi muda Islam akhirnya cenderungmembebek kepada para pemusik atau penyanyi sekuler yang sering mereka saksikan atau dengardi TV, radio, kaset, VCD, dan berbagai media lainnya.Tak dapat diingkari, kondisi memprihatinkan tersebut tercipta karena sistem kehidupan kita telahmenganut paham sekularisme yang sangat bertentangan dengan Islam.
Muhammad Quthb
mengatakan sekularisme adalah
iqamatul hayati ‘ala ghayri asasin minad dîn
 , artinya, mengaturkehidupan dengan tidak berasaskan agama (Islam). Atau dalam bahasa yang lebih tajam,sekularisme menurut
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani
adalah memisahkan agama dari segalaurusan kehidupan (
 fashl ad-din ‘an al-hayah
) (
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani
 ,
Nizhâm Al-Islâm
 ,hal. 25). Dengan demikian, sekularisme sebenarnya tidak sekedar terwujud dalam pemisahanagama dari dunia politik, tetapi juga nampak dalam pemisahan agama dari urusan seni budaya,termasuk seni musik dan seni vokal (nyanyian).Kondisi ini harus segera diakhiri dengan jalan mendobrak dan merobohkan sistem kehidupansekuler yang ada, lalu di atas reruntuhannya kita bangun sistem kehidupan Islam, yaitu sebuahsistem kehidupan yang berasaskan semata pada Aqidah Islamiyah sebagaimana dicontohkan
 
2/54konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 
Rasulullah Saw dan para shahabatnya. Inilah solusi fundamental dan radikal terhadap kondisikehidupan yang sangat rusak dan buruk sekarang ini, sebagai akibat penerapan pahamsekulerisme yang kufur. Namun demikian, di tengah perjuangan kita mewujudkan kembalimasyarakat Islami tersebut, bukan berarti kita saat ini tidak berbuat apa-apa dan hanya berpangkutangan menunggu perubahan. Tidak demikian. Kita tetap wajib melakukan Islamisasi pada hal-halyang dapat kita jangkau dan dapat kita lakukan, seperti halnya bermain musik dan bernyanyisesuai ketentuan Islam dalam ruang lingkup kampus kita atau lingkungan kita.Tulisan ini bertujuan menjelaskan secara ringkas hukum musik dan menyanyi dalam pandanganfiqih Islam. Diharapkan, norma-norma Islami yang disampaikan dalam makalah ini tidak hanyamenjadi bahan perdebatan akademis atau menjadi wacana semata, tetapi juga menjadi acuan dasaruntuk merumuskan bagaimana bermusik dan bernyanyi dalam perspektif Islam. Selain itu, tentusaja perumusan tersebut diharapkan akan bermuara pada pengamalan konkret di lapangan, berupa perilaku Islami yang nyata dalam aktivitas bermain musik atau melantunkan lagu. Minimaldi kampus atau lingkungan kita.
2. Definisi Seni
Karena bernyanyi dan bermain musik adalah bagian dari seni, maka kita akan meninjau lebihdahulu definisi seni, sebagai proses pendahuluan untuk memahami fakta (
 fahmul waqi’
) yangmenjadi objek penerapan hukum. Dalam
Ensiklopedi Indonesia
disebutkan bahwa
seni
adalahpenjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, yang dilahirkan dengan perantaraanalat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar (seni suara), inderapendengar (seni lukis), atau dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari, drama) (
Dr.Abdurrahman al-Baghdadi
 ,
Seni Dalam Pandangan Islam
 , hal. 13).Adapun seni musik (
instrumental art
) adalah seni yang berhubungan dengan alat-alat musik danirama yang keluar dari alat-alat musik tersebut. Seni musik membahas antara lain cara memainkaninstrumen musik, cara membuat not, dan studi bermacam-macam aliran musik. Seni musik ini bentuknya dapat berdiri sendiri sebagai seni instrumentalia (tanpa vokal) dan dapat juga disatukandengan seni vokal. Seni instrumentalia, seperti telah dijelaskan di muka, adalah seni yangdiperdengarkan melalui media alat-alat musik. Sedang seni vokal, adalah seni yang diungkapkandengan cara melagukan syair melalui perantaraan oral (suara saja) tanpa iringan instrumen musik.Seni vokal tersebut dapat digabungkan dengan alat-alat musik tunggal (gitar, biola, piano, dan lain-lain) atau dengan alat-alat musik majemuk seperti band, orkes simfoni, karawitan, dan sebagainya(
Dr. Abdurrahman al-Baghdadi
 ,
Seni Dalam Pandangan Islam
 , hal. 13-14). Inilah sekilaspenjelasan fakta seni musik dan seni vokal yang menjadi topik pembahasan.
3. Tinjauan Fiqih Islam
Dalam pembahasan hukum musik dan menyanyi ini, penulis melakukan pemilahan hukum berdasarkan variasi dan kompleksitas fakta yang ada dalam aktivitas bermusik dan menyanyi.Menurut penulis, terlalu sederhana jika hukumnya hanya digolongkan menjadi dua, yaitu hukummemainkan musik dan hukum menyanyi. Sebab fakta yang ada, lebih beranekaragam dari duaaktivitas tersebut. Maka dari itu, paling tidak, ada 4 (empat) hukum fiqih yang berkaitan denganaktivitas bermain musik dan menyanyi, yaitu:
 
3/54konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menyanyi-dan-musik-dalam-fiqih-islam/ 
Pertama
 , hukum melantunkan nyanyian (
 ghina’
).
Kedua
 , hukum mendengarkan nyanyian.
Ketiga
 , hukum memainkan alat musik.
Keempat 
 , hukum mendengarkan musik.Di samping pembahasan ini, akan disajikan juga tinjauan fiqih Islam berupa kaidah-kaidah ataupatokan-patokan umum, agar aktivitas bermain musik dan bernyanyi tidak tercampur dengankemaksiatan atau keharaman.Ada baiknya penulis sampaikan, bahwa hukum menyanyi dan bermain musik bukan hukum yangdisepakati oleh para fuqaha, melainkan hukum yang termasuk dalam masalah
khilafiyah
. Jadi paraulama mempunyai pendapat berbeda-beda dalam masalah ini (
Syaikh Abdurrahman al-Jaziri
 ,
Kitab al-Fiqh ‘Ala al-Madzahib al-Arba’ah
 , hal. 41-42;
Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki
 ,
 Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas
 , hal. 96;
Dr. Abdurrahman al-Baghdadi
 ,
Seni Dalam PandanganIslam
 , hal. 21-25;
Toha Yahya Omar
 ,
 Hukum Seni Musik, Seni Suara, Dan Seni Tari DalamIslam
 , hal. 3). Karena itu, boleh jadi pendirian penulis dalam tulisan ini akan berbeda denganpendapat sebagian fuqaha atau ulama lainnya. Pendapat-pendapat Islami seputar musik danmenyanyi yang berbeda dengan pendapat penulis, tetap penulis hormati.
3.1. Hukum Melantunkan Nyanyian (
al-Ghina’ 
at-Taghanni
)
Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum menyanyi (
al-ghina’
/
at-taghanni
). Sebagianmengharamkan nyanyian dan sebagian lainnya menghalalkan. Masing-masing mempunyaidalilnya sendiri-sendiri. Berikut sebagian dalil masing-masing, seperti diuraikan oleh
al-UstadzMuhammad al-Marzuq Bin Abdul Mu’min al-Fallaty
mengemukakan dalam kitabnya
SaifulQathi’i lin-Niza’ 
bab
Fi Bayani Tahrimi al-Ghina’ wa Tahrim Istima’ Lahu
(Musik.http://www.ashifnet.tripod.com),/ juga oleh
Dr. Abdurrahman al-Baghdadi
dalam bukunya
Senidalam Pandangan Islam
(hal. 27-38), dan
Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki
dalam
 Al-Khalashwa Ikhtilaf an-Nas
(hal. 97-101):
A. Dalil-Dalil Yang Mengharamkan Nyanyian:a.
Berdasarkan firman Allah:
Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna (lahwal hadits)untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah ituejekan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.
” (
Qs. Luqmân [31]: 6
)Beberapa ulama menafsirkan maksud
lahwal hadits
ini sebagai nyanyian, musik atau lagu, diantaranya
al-Hasan
 ,
al-Qurthubi
 ,
Ibnu Abbas
dan
Ibnu Mas’ud
.Ayat-ayat lain yang dijadikan dalil pengharaman nyanyian adalah
Qs. an-Najm [53]: 59-61
; dan
Qs. al-Isrâ’ [17]: 64
(
Abi Bakar Jabir al-Jazairi
 ,
 Haramkah Musik Dan Lagu? (al-I’lam bi Annaal-‘Azif wa al-Ghina Haram)
 , hal. 20-22).

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->