Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kemampuan Profesional Guru

Kemampuan Profesional Guru

Ratings: (0)|Views: 31 |Likes:
Published by Aditiya Agung

More info:

Published by: Aditiya Agung on Aug 31, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/03/2013

pdf

text

original

 
I. PendahuluanKomisi Internasional UNESCO untuk pendidikan memasuki abad ke-21 menyatakan bahwaberbeda dengan periode sebelumnya, dalam memasuki abad ke-21 ini guru memiliki perananyang sangat strategis karena diharapkan dapat ikut membentuk karakter dan kecerdasan
generasi muda atau dalam bahasa aslinya ―moulding character and minds of young
gener
ation‖[1]
 Karena itu dalam menyoroti upaya perlindungan terhadap profesi guru, terlebih dahulu akanmenganalisis masalah kemampuan profesional guru, dan upaya peningkatan mutu pendidikannasional.Pada tahun 1982 dalam diskusi kependidikan Konsorsium Ilmu Pendidikan di Malang, saya
menyajikan makalah dengan judul ―Kemampuan Profesional Tenaga Kependidikan(Terutama Guru) dan Implikasinya dalam Penyusunan Kurikulum LPTK‖. Tulisan itu
didasarkan atas pengalaman ketidakberhasilan penulis, sebagai Kepala Pusat PengembanganKurikulum Depdikbud (1974
 – 
1981), dalam menerapkan pendekatan ProgramPengembangan Sistem Instruksional (PPSI) dalam rangka pelaksanaan kurikulum 1975, yangdalam analisis penulis berangkat dari terlalu tingginya harapan terhadap guru untuk melaksanakan tugas yang seharusnya dilakukan oleh tenaga profesional. Kini (dua puluh tigatahun kemudian) kita masih dihadapkan kepada tuntutan agar guru kita dari Pra- Sekolahsampai SLTA memiliki kemampuan profesional agar mampu melaksanakan pendekatan barudalam penyelenggaraan pendidikan, yaitu kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yangselanjutnya diterapkan dalam wujud KTSP. Baik penerapan pendekatan PPSI maupun KBKkeduanya bertujuan agar pendidikan kita tambah relevan dan bermutu sesuai dengan tuntutanperkembangan masyarakat. Karena itu memenuhi harapan panitia, penulis menyajikan
makalah ―Kemampuan Profesional Guru yang sesuai dengan Upaya Meningkatkan Relevansidan Mutu Pendidikan Nasional‖.
 Dalam menyoroti topik tersebut makalah ini secara berturut-turut akan membahas : (1) Gurusebagai Jabatan Profesional dan Mengapa Guru di abad ke-21 ini Harus Bertaraf Profesional?; (2) Program Pengadaan Guru (Pendidik) dan Tenaga Kependidikan ; (3) Peran Guru dalamPeningkatan Mutu Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Dasar; (4) Jaminankesejahteraan dan Perlindungan bagi Guru sebagai Pendidik Profesional.
II. Mengapa Guru di Abad ke-21 Harus Profesional ?
 Kalau kita menjejaki sejarah pendidikan Indonesia, kita akan mendapatkan pengetahuanbahwa kualifikasi guru yang mengajar di SD, SLTP, dan SLTA pada jaman penjajahan, dan jaman Indonesia merdeka sampai dengan tahun terakhir dekade 1950-an dan permulaandekade 1960-an jauh dibawah kualifikasi guru pada saat ini. Pada jaman penjajahan Belandapendidikan guru SD 3 yang lamanya 7 tahun) adalah HIK (6 tahun setelah HIS) dan untuk SMP (MULO) adalah HooftAkte (Kursus seperti PGSLP). Praktek ini berlanjut setelahIndonesia merdeka. Sampai dengan tahun 1957 pendidikan guru SD adalah Sekolah Guru B(SGB
 – 
4 tahun setelah SD), guru SMP adalah SGA (6 tahun setelah SD atau 3 tahun setelahSMP/SGB kelas III), dan guru SLTA adalah B I (2 tahun setelah SMA). Setelah tahun 1957guru SD haruslah lulusan SGA. Pada saat itu Perguruan TinggiPendidikan Guru (PTPG) belum menghasilkan lulusannya.
 
Kini terutama sejak tahun 1989 kualifikasi minimum untuk mengisi jabatan guru ditingkatkanyaitu untuk guru SD adalah Diploma II Kependidikan (2 tahun pasca SLTA), untuk guruSLTP adalah D3 kependidikan (3 tahun pasca SLTA), dan untuk guru SLTA adalah S1kependidikan dan S1 dengan Akta Mengajar (Akta IV). Pertanyaannya mengapa pada masapenjajahan dan permulaan kemerdekaan, guru dengan kualifikasi pendidikan yang jauh lebihrendah dari kualifikasi pendidikan guru pada saat ini dipandang telah berhasil menghasilkan
lulusan yang ―bermutu‖ sedangkan sekarang dengan kualifikasi pendidikan yang lebih tinggi
banyak dipersoalkan mutu dari pendidikan yang dihasilkan.Memang tidak proporsional membandingkan mutu pendidikan pada tahun 1950-an denganmutu pendidikan pada tahun 1989 keatas. Karena jumlah peserta didik pada dua periodetersebut perbedaannya berlipat. Murid SD pada tahun 1955 sebanyak 7.113.456 orang, tahun1989/1990 19.296.714. Siswa SLTP pada tahun 1955 berjumlah 197.189 orang, pada tahun1989/1990 jumlah siswa SLTP 13.672.438; siswa SLTA pada tahun 1955 berjumlah 103.267orang, sedangkan pada tahun 1989/1990 berjumlah 4.338.386 orang. Disamping itu sekolahpada waktu itu pendidikan mengutamakan fungsi memilih dan memilah daripadamengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Karena itu banyak SD yang hanyaberhasil meluluskan murid kelas VI-nya sekitar 10 % demikian juga SLTP dan SMA.Sedangkan pada tahun 1980-an pada saat telah dicanangkan wajib belajar pendidikan dasar 6tahun dan dirancang wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun fungsi sekolah seyogyanya tidak hanya menseleksi melainkan dan terutama adalah mengembangkan kemampuan pesertadidik. Karena itu tidak dapat diterima kalau banyak murid SD dan SMP yang dinyatakantidak lulus, karena sekolah harus menyediakan tempat bagi anak-anak baru yang jumlahnyaberlipat dan harus ditampung. Disinilah letak masalahnya. Peranan guru pada saat melayani jumlah murid yang jumlahnya sedikit dan peranan sekolah yang terutama adalah memilahdan memilih, tidak dapat disamakan dengan peranan guru, pada saat tugasnya adalahmengembangkan potensi peserta didik yang heterogen latar belakangnya, baik kemampuandasar, sosial, ekonomi, dan budaya. Dan kenyataan baru inilah yang menjadikan jabatan gurudituntut menjadi jabatan profesional.Di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat dan Jerman, yang menjadikan sekolahsebagai lembaga untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal danmengarahkannya sesuai dengan kemampuan dasar, bakat dan minatnya telah lamamenjadikan jabatan guru sebagai jabatan profesional yang pendidikannya setara denganpendidikan jabatan profesional lainnya, yaitu dokter dan pengacara.
Mengapa pendidikan yang menjadi massal ―Education for All‖ diabad ke
-21 diperlukan guru
yang ―profesional‖? Untuk menjawab pertanyaan ini berikut akan dianalisis karakteristik 
pendidikan yang bersifat massal di era globalisasi.Diabad ke-21 ini tidak ada negara didunia ini yang tidak menerapkan wajib belajar, hanyasatu negara berbeda dari negara lainnya berbeda dalam penetapan lamanya wajib belajar. Adanegara yang menerapkan wajib belajar 12 tahun; seperti Amerika Serikat, ada negara yangmenerapkan wajib belajar 10 tahun seperti Inggris dan Jerman, dan ada negara yangmenarapkan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun seperti Indonesia, disamping masih adanegara negara di Afrika dan Asia Selatan yang menerapkan wajib belajar pendidikan dasar 6tahun.Penerapan wajib belajar ini yang berarti bahwa semua anak dengan perbedaan latar belakangbaik kemampuan dasar kognitif, latar belakang sosial ekonomi dan minat serta bakat harus
 
memperoleh pendidikan yang bermutu dan dilayani serta dapat berkembang sesuai dengankemampuan, minat dan bakatnya.Dalam pada itu diera globalisasi ini ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan sumberbahan untuk dipelajari berkembang demikian cepat. Dalam kondisi yang demikian tuntutanterhadap kualitas manusia terdidik baik kemampuan intelektual, kemampuan vokasional danrasa tanggung jawab kemasyarakatan, kemanusiaan dan kebangsaan juga meningkat sesuaidengan perkembangan masyarakat yang terus berubah dan meningkat tuntutannya kepadapara warganya.Heterogenitas peserta didik dalam berbagai dimensi (intelektual, kultural, dan ekonomi),terus berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sumber obyek belajar, terusberubahnya masyarakat dengan tuntutannya merupakan faktor yang menjadikan guru harusprofesional. Karena itu peranan guru tidak lagi hanya memberikan pelajaran dengan ceramahatau mendikte tanpa memperhatikan perbedaan kemampuan, bakat dan minat peserta didik.Guru juga tidak dapat lagi menggunakan bahan pelajaran yang sudah ketinggalan jaman.Guru juga tidak dapat lagi hanya membantu peserta didik untuk dapat menjawab pertanyaanyang siftanya hafalan. Guru dalam era globalisasi perlu mampu merancang, memilih bahanpelajaran dan strategi pembelajaran (dalam bahasa KBK dan KTSP Sylabus) yang sesuaidengan anak dengan latar belakang yang berbeda, serta mengelola proses pembelajaransecara taktis dan menyenangkan, mampu memilih media belajar dan merancang programevaluasi yang sesuai dengan tujuan pendidikan yang berorientasi kepada penguasaankompetensi.Untuk itu perlu adanya upaya untuk meningkatkan pendidikan guru yang berderajatprofesional. Dikatakan berderajat karena dalam setiap jabatan profesional dikenal hierarkiprofesional yaitu : profesional, semi profesional, teknisi, juru, dan tukang. Kalau dalam duniakedokteran kita mengenal : tenaga dokter (profesional), para medik, yang lulusan Akademisebagai semi profesional, yang lulusan SLTA sebagai teknisi (perawat) dan juru rawat. DiAmerika Serikat, guru, baik guru SD, guru SMP maupun SMA harus berpendidikan S1ditambah satu sampai dua tahun kuliah dan latihan keguruan untuk mendapat sertifikat guru.
Di Jerman, untuk guru SD, harus berpendidikan ―PAEDAGOGISCHE HOCHSCHULE‖– 
4tahun setelah SMA, untuk guru (Gymnasium) dituntut pendidikan pada Fakultas IlmuPendidikan pada Universitas yang meliputi 6 semester untuk penguasaan ilmu pengetahuansebagai sumber bahan ajar dan 2 semester paedagogik. Kesemuanya baik guru SD, SMPmaupun SMA setelah lulus pendidikan di Perguruan Tinggi/Universitas tidak otomatisberwenang sebagai guru (certified teacher) melainkan harus melalui tahap magang selama 18bulan dan diakhiri dengan ujian kewenangan mengajar sebelum dapat memperoleh tandasebagai guru yang berwenang.Terilhami oleh praktek pendidikan calon guru didua negara tersebut, dan pengalamanmenerapkan berbagai inovasi pendidikan dalam periode 1974
 – 
1981, penulis pada tahun1982 sampai kepada kesimpulan perlunya peningkatan jabatan guru sebagai jabatanprofesional, suatu jabatan yang memerlukan pendidikan lanjut dan latihan khusus, yaitu S1plus sebagai yang saya tulis dalam artikel yang diterbitkan pada tahun 1989.Penerapan KBK hakekatnya sama dengan penerapan kurikulum berorientasi tujuan yangditerapkan melalui kurikulum 1975, yang menuntut guru menyusun Satuan Pelajaran. Dalampelaksanaan KBK guru dituntut menyusun Sylabus. Untuk dapat melakukan tugas tersebutdituntut kemampuan yang didukung oleh penguasaan ilmu pengetahuan sebagai sumber
 belajar dan sebagai ―ways of learning‖, mengenal peserta didik dengan karakteristiknya

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->