Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kedaulatan Pangan Melawan Liberalisasi Pertanian Di Era Neoliberalisme

Kedaulatan Pangan Melawan Liberalisasi Pertanian Di Era Neoliberalisme

Ratings: (0)|Views: 530|Likes:
Published by Eva Novi Karina

More info:

Published by: Eva Novi Karina on Sep 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/11/2012

pdf

text

original

 
Kedaulatan Pangan Melawan Liberalisasi Pertanian di Era Neoliberalisme
Oleh: Eva Novi KarinaSeiring dengan berakhirnya Perang Dingin, kapitalisme dan demokrasi liberalsemakin mengukuhkan dirinya sebagai pemenang atas sistem ekonomi dan politik dunia.Dengan meminjam istilah Hegel, Fukuyama mengatakan bahwa ³sejarah telah berakhir.´Kapitalisme dianggap sebagai satu-satunya sistem ekonomi yang dapat bertahan dan berjalan,sementara demokrasi liberal adalah agen kemajuan. Ideologi konflik yang kental yangsebelumnya menghiasi Perang Dingin telah digantikan oleh nalar demokratik universal dan pemikiran yang berorientasi pada pasar (Held, 2004: 4).Sementara menurut Andrew Gamble, dalam tiga dekade terakhir, neoliberalisme (baik sebagai bentuk ekonomi politik maupun ideologi) dikatakan telah menjadi pemenang dalamlevel global. Di awal abad ke-21 ini, banyak pihak menyebutnya sebagai ideologi hegemonik yang baru, seiring dengan runtuhnya Komunisme di Uni Soviet dan menghilangnya jalur- jalur pembangunan alternatif di Dunia Ketiga. Kapital kembali tampil ke depan dan gagasanliberalisme ekonomi mengenai pengorganisasian ekonomi sekali lagi direpresentasikansebagai
common sense
dan belum tertandingi, baik secara politis maupun intelektual(Gamble, 2001).
1
 Globalisasi yang merupakan kredo inti dari ajaran neoliberalisme telah memunculkanmodel baru bagi mekanisme kebijakan negara hubungannya dan pasar yang dipercayai banyak orang menjanjikan kemudahan, kesejahteraan dan keadilan. Meskipun sebagian piha berpendapat bahwa globalisasi secara inheren bersifat positif atau setidaknya netral, namunkenyataan yang dapat kita saksikan sehari-hari justru menunjukkan hal yang sebaliknya.Globalisasi dalam bentuknya yang dominan saat ini justru telah dan terus menimbulkanketimpangan sosial dan ketidakberlanjutan ekologis berskala global dengan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Anthony McGrew mengatakan bahwa globalisasi yangdominan ini bernama globalisasi neoliberal, ditandai oleh kemunculan sebuah perekonomianglobal yang dimotori oleh logika ekonomi kapitalis dengan satu tujuan tertinggi: profit yanglebih besar bagi para pemilik modal (McGrew dalam Baylis, 2008: 14). Kesenjangan sosialglobal terus meningkat, berdasarkan laporan Bank Dunia mengenai Indikator Pembangunan2008 tercatat pada tahun 2005, 20% orang terkaya di dunia mengkonsumsi 76,6% dari totalkonsumsi pribadi dunia, sementara 20% orang termiskin hanya mengkonsumsi 1,5%
1
Andrew Gamble, ³Neo-Liberalism,´
Capital 
 
a
nd 
Cla
 ss
, Autumn 2001, dalamhttp://findarticles.com/p/articles/mi_qa3780/is_200110/ai_n8958965, diakses 17 Maret 2009.
 
 
sehingga dari seluruh total konsumsi, 10% orang termiskin dunia hanya mengkonsumsisebesar 0,5% sedangkan 10% terkaya mengkonsumsi 59% (Syah, 2009).
2
Dari gambaran ini,terlihat bahwa kemakmuran yang dijanjikan oleh globalisasi kapitalis hanya terjadi dikalangan elit dunia, yaitu elit kapitalis transnasional, sementara sebagian besar populasi duniasemakin terpinggirkan di dalam sistem perekonomian global yang berpihak pada merekayang memiliki akses terhadap kapital, khususnya kapital transnasional.Kaum neoliberal selama ini meyakini bahwa neoliberalisme akan menciptakankemakmuran bagi umat manusia dan mendorong demokrasi (liberal). Hal ini didasarkan pada pandangan August non Hayek, seorang ekonom Austria, bahwa pasar bebas memilikikeuntungan yang sangat besar dibanding kerugian yang ditimbulkannya. Pasar adalah caraterbaik dalam mendistribusikan suatu komoditas karena merupakan pertemuan langsungantara produsen dan konsumennya. Lebih lanjut Milton Friedman menyebutkan bahwakekebasan politik tidak akan ada apabila tidak didahului dengan kebebasan ekonomi (sepertidikutip Rianto dalam Mugasejati dan Martanto , 2006, 63-64). Dalam kebijakanneoliberalisme sendiri diisyaratkan pengurangan peran negara seminimal mungkin karenaditakutkan akan mendistorsi pasar. Liberalisasi, privatisasi, deregulasi dan model fleksibilitas buruh adalah sesuatu yang mutlak dilakukan agar pasar dapat bekerja secara maksimal.Menurut alur pemikiran ini, pasar bebas akan memperbanyak pilihan, menumbuh-kembangkan individualisme, dan memajukan pluralisme sosial (Petras dan Veltmeyer, 2001:194).Sejak tahun 1970an, model pembangunan neoliberal mulai mendapat tempat di ranah politik negara-negara. Dimulai di Chile pada tahun 1973 setelah kudeta berdarah Pinochet terhadapPresiden Allende, kemudian disusul oleh AS di bawah Reagan dan Inggris di bawahMargareth Thatcher. Pasca krisis ekonomi yang banyak terjadi terjadi di berbagai negara pada dasawarsa 1980-1990an (misalnya, krisis utang di Amerika Latin pada 1982 dan krisismoneter di Asia pada pertengahan dekade 1990an) dengan dukungan dari rejim IMF, Bank Dunia dan WTO, neoliberalisme-pun menjadi sebuah kredo universalitas baru untuk menujukemakmuran. Menurut kepercayaan liberal, negara-negara tersebut sudah berada di jalur yang tepat untuk menuju ke arah kemajuan, sebab negara-negara yang saat ini disebutdengan 'negara maju' telah melalui jalur yang sama sebelumnya.
2
 
Anup Syah, ³Poverty Facts and Statistics´
G
ob
al 
Issues,
dalamhttp://www.globalissues.org/article/26/poverty-facts-and-stats, diakses 15 April 2009.
 
 
Dalam kacamata Gramsci, saat ini neoliberalisme yang diboncengi oleh globalisasitelah menjadi sebuah diskursus hegemonik. Pengaruhnya telah menjadi begitu mendalamterhadap cara-cara berpikir kita sehingga menjadi
common sense
dalam menginterpretasikan,menjalani hidup, dan dalam memahami dunia (Harvey, 2009: 5). Hampir semua negaramengadopsi sistem yang sama. Mulai negara-negara bekas reruntuhan Uni Soviet, negara-negara yang telah lama menganut model negara kesejahteraan seperti Swedia dan SelandiaBaru sampai kepada negara-negara yang sebelumnya 'merah' seperti China dan Vietnam berbalik ke arah neoliberalisme. Saat ini hampir tidak ada yang terlepas dari hegemonineoliberalisme.Hal ini berkesesuaian dengan konsep yang dirumuskan Gramsci, bahwa hegemoni bukanlah hubungan dominasi dengan menggunakan kekuasaan, melainkan hubungan persetujuan dengan menggunakan kepemimpinan politik dan ideologis. Hegemoni adalahsuatu organisasi konsensus. Kelompok sosial hegemonik adalah kelompok sosial yangmendapatkan persetujuan dari kelompok-kelompok sosial lain (Simon, 2004: 20). Untuk mempertahankan hegemoni, kelompok sosial yang menghegemon akan terus berusaha untuk mempertahankan hegemoninya. Hal ini menuntut kegigihan untuk mempertahankan danmemperkuat otoritas sosial dari semua kelas yang berkuasa dalam kelompok masyarakat sipildan membuat kompromi-kompromi yang diperlukan untuk menyesuaikan sistem aliansi yangada dengan kondisi yang senantiasa berubah serta aktifitas kekuatan oposisi. Proses ini dapatdilihat dari kekuatan politik yang memerintah sedang terancam dan mengalami perpecahan.Kemungkinan terdapat suatu periode ketidakstabilan dan transisi yang sangat panjangsehingga sistem aliansi yang menjadi dasar hegemoni kelompok yang berkuasa harusmelakukan perubahan-perubahan yang berskala luas dalam suatu proses restrukturisasi jikahegemoni itu hendak dipertahankan (Simon, 2004: 45-46).Proses neoliberalisasi sendiri bukan saja telah menimbulkan bayak ³destruksi kreatif´terhadap kerangka-kerangka pranata dan kekuasaan yang lama, namun juga terhadap pembagian kerja, relasi sosial, pemberian tunjangan kesejahteraan, cara penggunaanteknologi, jalan hidup dan cara berpikir, aktivitas-aktivitas reproduksi, keterikatan terhadaptanah serta cara menghayati kehidupan. Neoliberalisme menjadikan aktivitas transaksi pasar sebagai 'suatu etika yang bernilai dalam dirinya sendiri, yang bisa menjadi pemandu bagiseluruh tindakan manusia, dan mampu menjadi pengganti bagi semua keperyaan etis yangdianut sebelumnya', dan dalam pasar, yang terpenting ialah relasi-relasi kontrak. Neoliberalisme melihat bahwa kebaikan sosial akan bisa dicapai secara maksimal denganmemaksimalkan luasan frekuensi transaksi pasar (Harvey, 2004: 6).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->