Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sistem Pendidikan Masa Bani Abbasiyyah

Sistem Pendidikan Masa Bani Abbasiyyah

Ratings: (0)|Views: 373|Likes:
Published by De Ni

More info:

Published by: De Ni on Sep 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

09/01/2012

pdf

text

original

 
Sistem Pendidikan Masa Bani Abbasiyyah
Pada masaal-Mahdiperekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambanganseperti perak, emas, tembaga dan besi. Terkecuali itu dagang transit antara Timur dan Barat juga banyak membawa kekayaan.Bashrahmenjadipelabuhan yang penting.Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifahHarun Ar-Rasyid
 Rahimahullah
(786-809 M) dan puteranyaal-Ma'mun(813-833 M). Kekayaan negara banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial, dan mendirikan rumah sakit, lembaga pendidikan dokter,dan farmasi. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Disamping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun.Kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masainilah negaraIslammenempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi.Al-Ma'mun,pengganti Harun Ar-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu filsafat. Pada masa pemerintahannya, penerjemahanbuku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-bukuYunani,ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golonganKristendan penganut agama lain yang ahli (
wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah
). Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpentingadalah pembangunan Baitul-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masaAl-Ma'muninilahBaghdadmulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Sebagaimana diuraikan di atas, puncak perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi,tidak berarti seluruhnya berawal dari kreativitas penguasa Bani Abbas sendiri. Sebagian di antaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam.Dalam bidang pendidikan, misalnya, di awal Islam, lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Ketika itu, lembaga pendidikan terdiri dari duatingkat:1.
 
Maktab/Kuttab danmasjid,yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan, hitungan dan tulisan; dantempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama, seperti tafsir, hadits, fiqh dan bahasa.2.
 
Tingkat pendalaman, dimana para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya, pergi keluar daerah menuntut ilmu kepada seorang ataubeberapa orang ahli dalam bidangnya masing-masing. Pada umumnya, ilmu yang dituntut adalah ilmu-ilmu agama. Pengajarannyaberlangsung di masjid-masjid atau di rumah-rumah ulama bersangkutan. Bagi anak penguasa pendidikan bisa berlangsung di istana atau dirumah penguasa tersebut dengan memanggil ulama ahli ke sana.
A. Latar Belakang
 Dinasti ini didirikan pada tahun 750 M/132 oleh Abdullah Al-Saffah Ibn Muhammad Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn Al-Abbas, salah seorangketurunan paman Nabi Muhammad, Al-Abbas. Asal usul Dinasti Abbasiyah diawali oleh pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan olehketurunan Abbas, paman nabi, yaitu Muhammad Ibn Ali, kemudian Ibrahim Ibn Muhammad sampai Abu Al-Abbas yang bergelar Al-Saffah,terhadap pemerintahan Dinasti Bani Umayyah. Pemberontakan-pemberontakan tersebut dilakukan secara terus menerus dan terorganisasi sehinggapada akhirnya terjadi revolusi menumbangkan Dinasti Bani Umayyah.[1]
 
Dalam ungkapan yang berbeda, Stephen Humphrey mengatakan bahwa berdirinya Dinasti Abbasiyah merupakan "titik balik paling menentukkandalam sejarah Islam". Bahkan pada masa ini peradaban islam mencapai puncaknya. Dan salah satu wujud dari peradaban tersebut adalah pesatnyaperkembangan ilmu pengetahuan , filsafat, dan ilmu-ilmu lainnya.Madrasah sudah menjadi fenomena yang menonjol sejak awal abad ke-11-12 M (abad 5 H), khususnya ketika wazir Bani Saljuk , Nizam Al-Mulk mendirikan madrasah Nizhamiyah di Baghdad. Walaupun bukan berarti ia orang pertama yang mendirikan madrasah, tetapi ia berjasa dalammempopulerkan pendidikan madrasah bersamaan dengan reputasinya sebagai wazir. Disamping itu lembaga madrasah ini dianggap sebagai
 prototype
 awal pembangunan lembaga pendidikan tinggi setelahnya.Untuk lebih jelas lagi penjelasan tentang dinasti Abbasiyah dan perkembangan ilmu pengetahuan serta sejarah dan sistem pendidikan Nizhamiyahberikut uraiannya.
A. Sistem Pendidikan pada masa Abbasiyah
 Sejak lahirnya agama Islam, lahirlah pendidikan dan pengajaran Islam itu terus tumbuh dan berkembang pada masa khulafaurrasyidin dan masaUmaiyah. Pada permulaan masa Abbasiyah pendidikan dan pengajaran berkembang dengan sangat hebatnya di seluruh negara Islam, sehingga lahirsekolah-sekolah yang tidak terhitung banyaknya, tersebar dari kota-kota sampai ke desa-desa. Anak-anak dan para pemuda berlomba-lombamenuntut ilmu pengetahuan, pergi ke pusat pendidikan, meninggalkan kampung halamannya karena cinta akan ilmu.[2]Pada masa Abbasiyah sekolah-sekolah terdiri dari beberapa tingkat:1.
 
Tingkat sekolah rendah, yang diberi nama Kuttab Pada permulaan masa Abbasiyah dan abad-abad kemudiannya, bertambah banyak bilangan Kuttab dan para guru yang mengajar anak-anak. Kuttab biasanya di adakan di luar masjid, tetapi terkadang di adakan puladidalam masjid, karena kekurangan tempat diluar masjid. Rencana pembelajaran Kuttab umumnya sebagai berikut:
 
Membaca Al-
Qur‟an dan menghafalnya
 
 
Pokok-pokok agama Islam
 
Menulis
 
Kisah (riwayat) orang-orang besar Islam
 
Membaca dan menghafal sya‟ir 
-
sya‟ir 
 
 
Berhitung
 
Pokok-pokok nahwu dan sharaf.Waktu belajar pada Kuttab
mulai pada pagi hari sabtu dan selesai pada ashar hari kamis, hari jum‟at adalah waktu beristirahat. Selain itu juga ada
waktu untuk beristirahat, sehari pada hari raya Idul Fitri dan tiga hari pada hari raya Idul Adha, terkadang bisa sampai lima hari.2. Tingkat sekolah menengah, yaitu sambungan pembelajaran dari KuttabRencana pembelajaran tingkat menengah tidak sama di seluruh negara Islam,karena negara islam pada masa itu telah bercerai antara satu dengan yang lainnya.Umumnya rencana pengajaran itu sebagai berikut:1.
 
Al-
Qur‟an
 2.
 
Bahasa Arab dan kesastraannya3.
 
Fiqih4.
 
Tafsir5.
 
Hadits6.
 
Nahwu, sharaf, dan balaghoh
 
7.
 
Ilmu-ilmu pasti8.
 
Mantiq9.
 
FalakTarikh (sejarah)10.
 
lmu-ilmu alam11.
 
Kedokteran12.
 
Musik 3. Tingkat perguruan tinggi, seperti Baitul Hikmah di Baghdad dan Daarul Ilmu di MesirRencana pembelajaran pada tingkat tinggi tidaklah sama di seluruh negara Islam.Umumnya perguruan tinggi itu terdiri dari dua jurusan:1.
 
Jurusan ilmu-ilmu Agama dan bahasa Arab serta kesastraannya. Ibnu Khaldun menamai ilmu-ilmu tersebut dengan
 Ilmu
 
 Naqliah
. Adapunilmu-ilmu yang diajarkan pada jurusan Ilmu-ilmu Naqliah adalah sebagai berikut:1.
 
Tafsir Al-
Qur‟an
 2.
 
Hadits3.
 
Fiqih dan Ushul Fiqih4.
 
Nahwu atau Sharaf 5.
 
Balagah6.
 
Bahasa Arab dan kesastraannya2. Jurusan ilmu-ilmu hikmah. Ibnu Khaldun menamai ilmu-ilmu tersebut dengan
 Ilmu ‘Aqliah
.Adapun ilmu-
ilmu yang diajarakan pada jurusan „Aqliah adalah sebagai berikut:
 1.
 
Mantiq2.
 
Ilmu-ilmu alam dan Kimia3.
 
Musik 4.
 
Ilmu-ilmu pasti5.
 
Ilmu ukur6.
 
Falak 7.
 
Ilahiyah (ketuhanan)8.
 
Ilmu hewan9.
 
Ilmu tumbuh-tumbuhan10.
 
KedokteranSemua mata pelajaran itu diajarkan pada perguruan tinggi dan belum diadakan takhassus (spesialisasi) dalam satu mata pelajaran saja sepertisekarang. Takhasus hanya lahir kemudian sesudah tamat perguruan tinggi, yaitu menurut bakat dan kecenderungan para ulama itu sendiri, sesudahpraktek mengajar beberapa tahun lamanya.
[3]
PERADAPAN ISLAM DI MASA ABU JA’FAR AL
- MANSUR
Khalifah yang amat berbakti memajukan kebudayaan Islam, ialah khalifah al- Mansur, yakni khalifah yang kedua dari dinasti Abbasiyah, danpembangunkota Baghdad.Beliau ialah seorang yang shaleh, teguh memegang agama, ahli dalam ilmu fiqih dan tidak kurang pula suka kepada ilmu keduniaan terutama ilmubintang dan ilmu kedokteran. Ahli- ahli ilmu pengetahuan dari berbagai bangsa dan agama sama- sama bekerja di istana beliau dengan nafkah yangbukan kecil.Setengah dari mereka ialah Naubacht seorang ahli astronomi berasal dari Persia dan dulunya beragama Majusi, dan masuk agama islam denganpenyaksian baginda khalifah al- Mansur sendiri.Al- Mansur telah meninggalkan buah usahanya dalam ilmu- ilmu asteonomi, ilmu pasti dan ilmu kedokteran.Juga khalifah- khalifah yang lain- lain seperti, Khalifah al- Mahdi, Khalifah Harunar- Rasyid, Khalifah al-
Ma‟mun yang meneruskan pekerjaan
beliau.Gerakan membangun ilmu secara besar-besaran dirintis oleh khalif al Mansur. Ia menarik banyak ulama dan para ahli dari berbagai daerah untuk datang dan tinggal di Bagdad. Ia merangsang pembukuan ilmu agama, seperti fiqh, tafsir, tauhid, hadits dan ilmu lain seperti bahasa dan ilmu sejarah.
Abu Ja‟far al Mansur merupakan khalifah kedua pada Daulat Abbasiyah namun beliau merupakan khalifah yang menetapkan dasar 
-dasarpemerintahan Daulat Bani Abbas.
Masa pemerintahan Abu Ja‟far al Mansur merupakan masa awal perkembangan ilmu pengetahuan yang merupakan cikal bakal perkemban
agn DaulatAbbasiyah pada pemerintahan selanjutnya. Ia melakukan strategi pemerintahannya baik di dalam maupun di luar negeri dengan penuh usaha yangakhirnya dapat memperluas wilayah kekuasaan Daulat Bani Abbas.Reorientasi dari Romawi ke Persia di lakukan sebagai wujud kerjasama yang baik antara Bani Abbas dengan orang Persia yang telah mendukungberdirinya Daulat Abbasiyah. Di samping itu hal ini juga di lakukan agar pemerintahan Daulat Abbasiyah lebih dekat dengan PersiaIa wafat pada usia 63 tahun dan memerintah selama ± 22 tahun lamanya. Jenazahnya di kebumikan di ibu kota Bagdad.Bermacam-macam buku ilmu pengetahuan dari berbagai bangsa diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.Usaha penerjemahan buku-buku dari bahasa Persia, Yunani, dan Hindu ke dalam bahasa Arab telah dirintis sejak masa pemerintahan al-Mansur. Al-Mansur mempunyai perhatian sangat besar kepada pengembangan ilmu kedokteran, astronomi, matematika dan ilmu budaya. Pada zamannya,
lahirlah beberapa pujangga terkenal diantaranya Ibnu Muqaffa‟, penerjemah kitab Kalilah Dawa Dimnah. Usaha pengembangan ilmu
pengetahuanterus dilanjutkan pada masa Khalifah penerusnya, dan mencapai puncaknya pada masa Khalifah Harun al-Rasyid dan al-
Ma‟mun, Khalifah kelima
dan ketujuh pada Daulah Abbasiyah. Meskipun penerjemahan karya-karya Yunani telah dirintis sejak masa Bani Umayyah. Tetapi dampak nyata
ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani dimulai terutama setelah al Ma‟mun membentuk tim penerjemahan dan membangun sebuah pusat
keilmuandengan nama Bait al-Hikmaú (Pusat Kebijaksanaan) pada tahun 830 M. Pusat keilmuan ini dilengkapi dengan observatorium bintang dan bintanguniversitas (Dar al-Ulûm). Al-
Ma‟mun memberikan tugas penerjemahan di Bait al
-Hikmah kepada : Yahya bin al-Batriq (w. 815 M), Muhammad binSalam 777
 – 
839 M), Pemimpin Bait al-Hikmah; Hajjaj bin Yusuf bin Mathar (786
 – 
833 M), dan penerjemah terkemuka Hunain bin Ishak (809-874M). Setelah Hunain bin Ishak, penerjemah penting lainnya adalah anaknya sendiri yaitu Ishak bin Hunain bin Ishak (w. 910 M), segera setelah erapenerjemahan dan pendirian sekolah-sekolah ini, lahirlah ilmu-ilmu dari masyarakat Islam sendiri, yan gmemperkaya dan memperjelas karya-karyaasing yang telah ada dan yang sama sekali baru. Cabang-cabang ilmu pengetahuan yang berkembang sangat utuh, bukan saja ilmu-ilmu pasti dankedokteran, melainkan ju
ga mencakup teologi dan keagamaan. Teologi rasional Mu‟tazilah yang telah muncul sejak akhir pemerintahan Bani
Umayyah, mencapai kematangan konsep-konsepnya, terutama ketika sudah mengalami kontak dengan pemikiran filsafat Yunani, demikian pula
Asy‟ariyah.
Sedangkan dalam pemikiran hukum Islam, muncul imam-imam madzhab yang empat yaitu : Imam Abu Hanifah (700-767 M), ImamMalik (713
 – 
 
795 M), Imam Syafi‟i (767 – 
820 M), dan Imam Ahmad bin Hambal (780
 – 
855 M). Demikianlah dalam masa Daulah Abbasiyah,berkembang empat unsur kebudayaan yang mempengaruhi kehidupan akal, yaitu kebudayaan Persia, kebudayaan Yunani, kebudayaan India dan
 
kebudayaan Arab. Sedangkan perhatian para Khalifah Abbasiyah terhadap seni budaya sangat besar, yaitu mencakup sya‟ir 
-
sya‟ir, sen
i musik,arsitektur, kaligrafi, penjilidan buku, dan lain-
lain. Dalam bidang sya‟ir yang terkenal di antaranya adalah : Ibnu Muqaffa‟, Abu Nawas (wafat sekitar 
803 M) keturunan Persia yang hidup sezaman dengan Khalifah Harun al-Rasyid, kemudian Bashshar bin Bard dan lain-lain. Sednagkan dalam bidangarsitektur, Khalifah Abbasiyah membangun istana-istana, masjid-masjid yang indah, tempat peristirahatan, dan lain sebagainya. Selain dari pada itudalam bidang seni kaligrafi, Abbasiyah mencatat beberapa nama besar diantaranya : Ibnu Muqlah bin Bawwab, dan Yaqut al-
Musta‟shim. Ibnu
Muqlah merumuskan metode penulisan kaligrafi yang dipakai sampai sekarang. Pusat kegiatan ilmu yang terpenting pada zaman ini antara lainadalah : 1. Hijaz, Makkah, dan Madinah, menjadi pusat kegiatan ilmu Hadits dan Fiqh. 2. Iraq, kota-kota Iraq dalam zaman ini terkenal sebagai pusatkegiatan segala macam ilmu, seperti : Tafsir, hadits, fiqh, bahasa, sejarah, ilmu kalam, falsafah, ilmu alam, ilmu pasti, musik dll. 3. Mesir, kota Fistat
di Mesir mempunyai peranan sangat besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan masjid Amr bin „Ash menjadi pusatnya. 4. Syri
a: masjidDamaskus sebagai pusat ilmu, Damaskus, Halab dan Beirut, berkembang bermacam-macam ilmu dengan ciri khas masing-masing, seperti di Beirutdikaji hukum internasional termasuk hukum Romawi. 5. Isfahan, Istana Bani Buwaihi di Isfahan merupakan pusat para ulama, sarjana dan pujangga,di sini ilmu dikembangkan di seluruh negeri. Dan juga kota Bukhari yang menjadi istana bani Buwaihi, juga sebagai pusat ilmu. 6. Thabristan : IstanaAmir Thabristan Qabus bin Wasymakir yang terletak di tepi laut Qazwin juga sebagai pusat ilmu. 7. Ghaznah : Sultan Mahmud Ghaznah adalah rajayang sangat mementingkan ilmu pengetahuan. 8. Hataib Saifud Daulah menjadikan istananya tempat pertemuan para ulama, sarjana dan pujangga. 9.
Istana Ibnu Thulun, zaman ibnu Thulun di Mesir, terkenal dengan sejumlah ulama Muahdditsin, ahli sejarah, pengarang, penya‟ir 
, Masjid Amr bin
„Ash dan Masjid Ibnu Thulun menj
adi pusat ilmu. Sebelum Dinasti Abbasiyah, pusat dunia Islam selalu bermuara pada masjid. Masjid dijadikan
centre of education. Pada dinasti Abbasiyah inilah mulai adanya pengembangan keilmuan dan teknologi diarahkan kepada ma‟had.
Lembaga ini kitakenal ada dua tingkat yaitu: 1. Maktab/kuttab dan masjid, yaitu lembaga pendidikan terrendah, tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan,menghitung dan menulis serta anak remaja melajar dasar-dasar ilmu keagamaan. 2. Tingkat pendalaman, para pelajar yang ingin mendalami ilmupengetahuannya pergi keluar daerah atau ke mesjid-mesjid bahkan ke rumah-rumah gurunya . Pada perkembangan selanjutnya mulailah dibukamadrasah-madrasah yang dipelopori Niamul Muluk yang memerintah pada tahun 456-485 H. lembaga inilah yang kemudian berkembang pada masaDinasti Abbasiyah. Nizamul muluk merupakan pelopor pertama yang mendirikan sekolah dalam bentuk yang ada seperti sekarang ini dengan namamadrasah. Madrasah ini dapat ditemukan di Bagdad, Balkan, Naishabur, Hara, Isfahan, basrah, mausil dan kota-kota lainnya. Madrasah yangdidirikan ini mulai dari tingkat rendah, serta meliputi segala bidang ilmu pengetahuan . Selain itu, ada beberapa kemajuan teknologi (sains),diantaranya . 1. Astronomi, ilmu ini melalui karya India Sindhid kemudian diterjemahkan oleh Muhammad Ibnu Ibrahim al-Farazi (777 M). Ia adalahastronom muslim pertama yang membuat astrolabe, yaitu alat untuk mengukur ketinggian bintang. Di samping itu, masih ada ilmuwan-ilmuwanIslam lainnya, seperti Ali ibnu isa Al-Asturlabi, Al-Farghani, Al-Battani, Umar Al-Khayyam dan Al-Tusi. 2. Kedokteran, pada masa ini dokterpertama yang terkenal adalah Ali ibnu Rabban Al-Tabrani. Pada tahun 850 ia mengarang buku Firdaus al-hikmah. Tokoh lainnya adalah Al-Razi ,Al-Farabi dan Ibnu Sina. 3. Ilmu Kimia. Bapak ilmu kimia Islam adalah Al-Jabir ibnu Hayyan (721-815). Sebenarnya banyak ahli kimia Islamternama lainnya seperti Al-Razi, al-Tuqrai yang hidup pada abad ke 12 M. 4. Sejarah dan geografi. Pada masa Abbasiyah sejarawan ternama abad ke-3 H adalah Ahmad bin Al-yakubi , Abu jafar Muhammad bin Jafar bin Jarir Al-Tabari. Kemudian ahli ilmu bumi yang termasyhur adalah IbnuKhurdazabah (820-913 M). Sementara itu menurut DR. Jaih Mubarok, ada beberapa usaha yang dilakukan oleh khalifah dan ulama dalam rangkamemajukan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu agama . 1. Bait al-hikmaú: Perpusatakaan, penerjamahan dan observatium 2. Berkembangnya beberapa
ilmu agama (Kalam Mu‟tazilah, Hadits dan Fiqih)
 
Masa Kemunduran Pendidikan Islam
 Sepanjang sejarah sejak awal dalam pemikiran terlibat dua pola yang saling berlomba mengembangkan diri dan mempunyai pengaruh besar dalampengembangan pola pendidikan ummat islam. Kedua pola tersebut adalah : Pola pemikiran tradisional dan Pola pemikiran rasional. Pada polapemikiran tradisional ini selalu mendasarkan diri pada wahyu, yang kemudian berkembang menjadi pola pemikiran sufistis dan mengembangkanpola pendidikan sufi yang sangat memperhatikan aspek-aspek batiniyah dan akhlak atau budi pekerti manusia. Sedangkan pada pola pemikiranrasional, mementingkan akal pikiran yang menimbulkan pola pendidikan empiris rasional yang sangat memperhatikan pendidikan intelektual danpenguasan material.Pada masa jayanya pendidikan islam, kedua pola pendidikan tersebut menghiasi dunia islam, sebagai dua pola yang berpadu dan saling melengkapi.Akan tetapi ketika pola pemikiran rasional diambil alih oleh Eropa dan dunaia islam pun meninggalkan pola berfikir tersebut. Sehingga tinggalpemikiran sufistis yang sifatnya memang sangat memperhatikan kehidupan batin yang akhirnya mengabaikan dunia material. Dari aspek inilahdikatakan bahwa pendidikan dan kebudayaan islam mengalami kemunduran.Setelah kita mengetahui asas kebangkitan peradaban islam kini kita perlu mengkaji sebab-sebab kemunduran dan kejatuhannya. Dengan begitu kitadapat mengambil pelajaran dan bahkan menguji letak kelemahan, kemungkinan dan tantangan (SWOT). Kemunduran suatu peradaban tidak bisadikaitkan dengan satu atau dua faktor saja. Karena peradaban adalah sebuah organisme yang sistematik, maka jatuh bangunnya suatu peradaban jugabersifat sistematik. Artinya kelemahan pada salah satu organ atau elemennya akan membawa dampak pada organ lainnya. Setidaknya antara satufaktor dengan faktor lainnya, yang secara umum dibagi menjadi faktor eksternal dan internal berkaitan erat sekali.Untuk menjelaskan faktor penyebab kemunduran ummat islam secara eksternal, faktor-faktor tersebut adalah:[1]1. Faktor ekologi dan alami, yaitu kondisi tanah dimana negara-negara islam berada adalah gersang, atau semi gersang. Kondisi ini juga rentandari sisi pertahanan dari serangan luar. Demikian pula di tahun 1347-1349 terjadi wabah penyakit yang mematikan di Mesir, Syiria danIraq. Karena faktor ini penduduk tidak terkonsentrasi pada suatu kawasan tertentu dan kepada pendidikan.2. Perang salib yang terjadi dari 1096-1270, dan serangan Mongol dari tahun 1220-
1300an. ”Perang Salib” menurut Bernand Lewis,” pada
dasarnya merupakan pengalaman pertama imperialisme barat yang ekspansionis, yang dimotivasi oleh tujuan materi dengan menggunakanagama sebagai medium psikologisnya.3. Hilangnya perdagangan islam internasional dan munculnya kekuatan barat. Pada tahun 1492 Granada jatuh dan secara kebetulan Columbusmulai petualangannya. Dalam mencari rute ke India ia menempuh jalur yang melewati negara-negara islam. Pada saat yang sama Portugis juga mencari jalan ke Timur dan juga melewati negara-negara islam. Disaat itu kekuatan ummat islam baik di laut maupun di Barat dalamsudah memudar. Akhirnya pos-pos perdagangan itu dengan mudah dikuasai mereka.Meskipun barat muncul sebagai kekuatan baru, ummat muslim bukanlah peradaban yang seperti peradaban kuno yang tidak dapat bangkit lagi.Peradaban islam terus dan bahkan berkembang secara perlahan-lahan dan bahkan dianggap sebagai ancaman barat. Akan tetapi kolonialis melihatbahwa kekuatan islam yang selama itu berhasil mempersatukan berbagai kultur, etnik, ras, dan bangsa dapat dilemahkan yaitu dengan cara adudomba dan teknik divide et impera sehingga konflik intern menjadi tak terhindarkan dan akibatnya negara-negara islam terfragmentasi menjadinegeri-negeri kecil.Menurut Ibnu Khaldun faktor-faktor penyebab runtuhnya sebuah peradaban lebih bersifat internal dari pada eksternal. Suatu peradaban dapat runtuhkarena timbulnya materialisme, yaitu kegemaran penguasa dan masyarakat menerapkan gaya hidup malas yang disertai sikap bermewah-mewah.Sikap ini tidak hanya negatif tapi juga mendorong tindak korupsi dan dekadensi moral.[2]

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->