Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tanya Jawab Seputar Muhasabah Al Hukkam

Tanya Jawab Seputar Muhasabah Al Hukkam

Ratings: (0)|Views: 365|Likes:
Published by Rangga Lail
Tanya Jawab Seputar Muhasabah Al Hukkam
- Bolehkah Menasehati Penguasa di Tempat Umum, Baik secara Langsung maupun Melalui Demonstrasi?
- Apakah Mengoreksi Penguasa Harus Empat Mata
- Mengkritik Pemimpin Secara Terbuka, Bolehkah?
- Sikap Pemerintah Terhadap Kritik
Tanya Jawab Seputar Muhasabah Al Hukkam
- Bolehkah Menasehati Penguasa di Tempat Umum, Baik secara Langsung maupun Melalui Demonstrasi?
- Apakah Mengoreksi Penguasa Harus Empat Mata
- Mengkritik Pemimpin Secara Terbuka, Bolehkah?
- Sikap Pemerintah Terhadap Kritik

More info:

Published by: Rangga Lail on Sep 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

09/03/2012

pdf

text

original

 
1
TANYA JAWAB SEPUTAR MUHASABAH AL HUKKAM
DALAM PANDANGAN SYARA’
 Bolehkah Menasehati Penguasa di Tempat Umum, Baiksecara Langsung maupun Melalui Demonstrasi?
Soal:
 
Bolehkah menasihati penguasa di tempat umum, baik secara langsung maupunmelalui demonstrasi? 
 
Jawab:
 Nasihat adalah hak setiap orang, mulai dari rakyat jelata hingga para penguasa.Artinya, mereka mempunyai hak untuk dinasihati. Sebaliknya, nasihat menjadikewajiban bagi setiap mukallaf, tatkala menyaksikan kemungkaran atau kezalimanyang dilakukan oleh orang lain; baik pelakunya penguasa maupun rakyat jelata. Inilahyang dinyatakan dalam hadis Nabi saw.:
«
»
 Agama adalah nasihat; untuk Allah, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslim, danorang-orang awam.
 
(HR al-Bukhari dan Muslim).
 Karena itu, nasihat sebagai upaya mengubah perilaku mungkar atau zalim orang lain,baik penguasa maupun rakyat jelata, sesungguhnya tidak dapat dilepaskan darikonteks dakwah
bi al-lisân
(melalui lisan maupun tulisan), sebagaimana sabda Nabisaw.:
«
»
Siapa saja yang menyaksikan kemungkaran, hendaknya mengubahnya dengantangan-nya. Jika tidak mampu, hendaknya dengan lisannya.
 
(HR Muslim).
 Inilah yang dilakukan oleh para ulama
Salaf ash-Shalih
terdahulu, seperti Abdullahbin Yahya an-Nawawi kepada Sultan Badruddin. Dalam
Tahdzib al-
 Asma’ 
karya AbuYahya Muhyiddin bin Hazzam disebutkan, tatkala Abdullah bin Yahya an-Nawawimengirim surat kepada Sultan Badruddin, dan Baginda menjawab suratnya denganmarah dan nada ancaman, ulama ini pun menulis surat kembali kepadaBaginda,
“Bagiku, ancaman itu tidak akan mengancam diriku sedikitpun. Aku pun
tidak akan mempedulikannya dan upaya tersebut tidak akan menghalangiku untuk menasihati Sultan. Sebab, aku berkeyakinan, bahwa ini adalah kewajibanku danorang lain, selain aku. Adapun apa yang menjadi konsekuensi dari kewajiban ini 
merupakan kebaikan dan tambahan kebajikan.” 
1Jenis kemungkaran yang hendak diubah, dilihat dari aspek bagaimana pelakunyamelakukan kemungkaran tersebut dapat diklasifikasikan menjadidua:
Pertama,
kemungkaran yang dilakukansecara diam-diam, rahasia, dan
 
2
pelakunya berusaha merahasiakannya.
Kedua,
kemungkaran yang dilakukan
 
secaraterbuka, demonstratif, dan pelakunya tidak berusaha untuk merahasia-kannya; justrusebaliknya.Jenis kemungkaran yang pertama tentu berbeda dengan kemungkaran yang kedua.Orang yang tahu perkara tersebut hendaknya menasihatinya secara diam-diam dankemungkaran yang dilakukannya pun tidak boleh dibongkar di depan umum; justruwajib ditutupi oleh orang yang mengetahuinya. Nabi saw. bersabda:
«
»
Siapa saja yang menutupi satu aib, maka (pahalanya) seolah-olah sama denganmenghidupkan bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup dari kuburnya.
(HR IbnHibban).
Berbeda dengan jenis kemungkaran yang kedua, yaitu kemungkaran yangdilakukan secara terbuka dan terang-terangan. Dalam kasus seperti ini, pelakukemungkaran tersebut sama saja dengan menelanjangi dirinya sendiri dengankemungkaran yang dilakukannya. Untuk menyikapi jenis kemungkaran yang keduaini, sikap orang Muslim terhadapnya dapat dipilah menjadi dua:
Pertama
, jikakemaksiatan atau kemungkaran tersebut pengaruhnya terbatas pada individupelakunya, dan tidak mempengaruhi publik, makakemaksiatan atau kemungkaranseperti ini tidak boleh dibahas atau dijadikan perbincangan. Tujuannya agarkemungkaran tersebut tidak merusak pikiran dan perasaan kaum Muslim, dan untukmenjaga lisan mereka dari perkara yang sia-sia; kecuali jika kemaksiatan ataukemungkaran tersebut diungkapkan untuk mengingatkan masyarakat akan bahayaorang fasik yang melakukan kemaksiatan tersebut.
Kedua
, jika kemaksiatan atau kemungkaran tersebut pengaruhnya tidakterbatas pada individu pelakunya, sebaliknya telah mempengaruhi publik, misalnyaseperti kemungkaran yang dilakukan oleh sebuah institusi, baik negara, organisasi,kelompok atau komunitas tertentu. Kemaksiatan atau kemungkaran seperti ini justruwajib dibongkar dan diungkapkan kepada publik agar mereka mengetahui bahayanyauntuk dijauhi dan ditinggalkan supaya mereka terhindar dari bahaya tersebut. Inilahyang biasanya disebut
kasyf al-khuthath wa al-
mu’amarah
(membongkar rancangandan konspirasi jahat) atau
kasyf al-munkarât 
(membongkar kemungkaran).Ini didasarkan pada sebuah hadis penuturan Zaid bin al-Arqam yangmengatakan,
“Ketika aku dalam suatu peperangan, aku mendengar Abdullah binUbay bin Salul berkata, ‘Janganlah kalian membelanjakan (harta kalian) kepada
orang-orang yang berada di sekitar Rasulullah, agar mereka meninggalkannya. Kalaukita nanti sudah kembali ke Madinah, pasti orang yang lebih mulia di antara kita
akan mengusir yang lebih hina.’ Aku pun menceritakannya kepada pamanku atau
Umar, lalu beliau menceritakan-nya kepada Nabi saw. Beliau saw. pun memanggilkudan aku pun menceritakannya ke
 pada beliau.” 
2
 
3
Apa yang dilakukan oleh Abdullah bin Ubay dan diketahui oleh Zaid bin al-Arqam, kemudian disampaikan kepada Rasulullah saw., adalah kemungkaran(kemaksiatan) yang membahayakan kemaslahatan Islam dan kaum Muslim, bukanhanya diri pelakunya. Abdullah bin Ubay sendiri ketika ditanya, dia mengelaktindakannya, yang berarti masuk kategori perbuatan yang ingin dirahasiakan olehpelakunya. Akan tetapi, tindakan Zaid bin al-Arqam yang membongkar ihwal danrahasia Abdullah bin Ubay tersebutternyata dibenarkan oleh Nabi saw. Padahalseharusnya tindakan memata-matai dan membongkar rahasia orang lain hukumasalnya tidak boleh. Perubahan status dari larangan menjadi boleh ini menjadiindikasi, bahwa hukum membeberkan dan membongkar rahasia seperti ini wajib,karena dampak bahayanya bersifat umum.3Karena itu, tindakan mengkritik kebijakan zalim atau mungkar yangdilakukan oleh penguasa, baik secara langsung ketika berada di hadapannya maupuntidak langsung, misalnya melalui tulisan, demonstrasi atau
masîrah
, bukan saja bolehsecara
syar‘ 
i, tetapi wajib.4 Kewajiban ini bahkan pahalanya dinyatakan sebandingdengan pahala penghulu syuhada, yaitu Hamzah bin Abdul Muthallib, seperti dalamhadis Nabi saw.:
«
 
 
»
Penghulu syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan orang yang berkata di hadapan seorang penguasa yang zalim, lalu dia memerintahkannya (padakemakrufan) dan melarangnya (terhadap kemungkaran), kemudian penguasa itumembunuhnya.
(HR al-Hakim).
 Apa yang dilakukan oleh para Sahabat terhadap Umar dalam kasuspembatasan mahar atau pembagian tanah Kharaj hingga kain secara terbuka didepan publik adalah bukti kebolehan tindakan ini. Memang, ada pernyataan Irbadhbin Ghanam yang mengatakan,
“Siapa saja yang hendak menasihati seorang
 penguasa, maka dia tidak boleh mengemukakannya secara terbuka, tetapi hendaknya menarik tangannya dan menyendiri. Jika dia menerimanya maka itukebaikan baginya; j 
ika tidak, pada dasarnya dia telah menunaikannya.” 
5 Akan tetapi,pada dasarnya pernyataan tersebut tidakmenunjukkan adanya larangan mengkritikatau menasihati penguasa di depan publik; ia hanya menjelaskan salah satu cara(
uslûb
) saja.Dengan demikian, bisa disimpulkan, bahwa menasihati penguasa ataumengkritik kebijakan penguasa yang zalim, termasuk membongkar kemungkaranatau konspirasi jahat terhadap Islam dan kaum Muslim hukumnya wajib, hanya sajacara (
uslûb
)-nya bisa beragam; bisa dilakukan langsung, dengan bertemu
 face to face
;atau secara tidak langsung, dengan melalui tulisan, surat, demonstrasi atau
masîrah
.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->