Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kedudukan Kejaksaan Dan Posisi Jaksa Agung Dalam Sistem Presidensial Di Bawah Uud 1945

Kedudukan Kejaksaan Dan Posisi Jaksa Agung Dalam Sistem Presidensial Di Bawah Uud 1945

Ratings: (0)|Views: 219|Likes:

More info:

Published by: Syafuan Syaripi Majid SH. MM. MH on Sep 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

08/10/2013

pdf

text

original

 
 KEDUDUKAN KEJAKSAAN DAN POSISI JAKSA AGUNGDALAM SISTEM PRESIDENSIAL DI BAWAH UUD 1945
MATA KULIAHSISTEM PERADILAN PIDANADOSENDR. PETRUS IRWAN PANJAITAN, SH.,MHDISUSUN OLEH :NURUL SYAFUAN, SH.,MMNO POKOK : 11720030
PROGRAM PASCASARJANAPROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUMUNIVERSITAS BOROBUDUR
 
 
 
KEDUDUKAN KEJAKSAAN DAN POSISI JAKSA AGUNGDALAM SISTEM PRESIDENSIAL DI BAWAH UUD 1945
Pendahuluan
Hampir seluruh negara modern di dunia ini mempunyai sebuah institusi yang disebut dengan
istilah ”kejaksaan”, yang mempunyai tugas utama melakukan penuntutan dalam perkara
pidana ke pengadilan.
Istilah ”jaksa” atau ”kejaksaan” sebagai institusi dalam bahasa
Indonesia tidaklah mudah untuk dipersamakan dengan istilah yang sama dalam berbagai
 bahasa. Dalam bahasa Inggris dibedakan antara ”attorney general” dengan ”public prosecutor”. Istilah pertama diartikan sebagai ”jaksa agung” dalam bahasa Indonesia, sedangyang kedua diartikan sebagai ”penuntut umum”. Demikian pula dalam Bahas
a Belanda,
dibedakan antara ”officer van justitie” untuk istilah ”jaksa” dan ”openbaar aanklager” untuk ”penuntut umum”. Sementara dalam Bahasa Melayu Malaysia digunakan istilah ”peguamnegara” untuk jaksa, dan ”pendakwa raya” untuk ”penuntut umum”, yang k 
esemuanya beradadi bawah Jabatan Peguam Negara. Jabatan ini adalah semacam Direktorat Jenderal di bawahKementerian Dalam Negeri.Sebelum membahas lebih lanjut kedudukan kejaksaan dan posisi jaksa agung di bawah sistemPresidensial UUD 1945, di bawah ini akan saya jelaskan latar belakang sejarah kedudukankejaksaan di negara kita.
Latar Belakang Sejarah
Dalam sejarah Indonesia sejak zaman kolonial Hindia Belanda, kita mengenal adanyainstitusi yang dinamakan dengan istilah officer van justitie, yang tugas pokoknya adalah
menuntut seseorang ke pengadilan dalam suatu perkara tindak pidana. Istilah ”jaksa”
umumnya digunakan untuk menerjemahkan istilah officer van justitie itu, karena padakesultanan-kesultanan di Jawa, istilah ini terkait dengan kegiatan menuntut seseorang yangdiduga melakukan kejahatan ke hadapan mahkamah, untuk diadili dan diambil keputusanapakah salah atau tidak, meskipun kegiatan itu dilakukan oleh polisi atau malahan oleh hakimsendiri.
Istilah ”jaksa” baru secara resmi digunakan di m
asa pendudukan Jepang untuk 
menggantikan istilah ”officer van justitie” bagi petugas yang melakukan penuntutan perkara
di pengadilan pemerintah militer Jepang.Di awal kemerdekaan, pada tanggal 19 Agustus 1945, Presiden RI mengumumkanpengangkatan Jaksa Agung RI yang pertama, Mr. Gatot dan mengumumkan pelantikan KetuaMahkamah Agung, Dr. Kusumah Atmadja. Pelantikan ini merupakan pelantikan keduapejabat negara, setelah pelantikan Presiden dan Wakil Presiden sehari sebelumnya, tanggal18 Agustus 1945. Hanya lebih kurang sebulan Mr. Gatot menjalankan jabatan itu, kemudiandigantikan oleh tokoh yang lebih berpengaruh, yakni Mr. Kasman Singodimedjo, yang jugamerangkap sebagai Panglima Barisan Keamanan Rakyat (BKR).Dalam tradisi penyelenggaraan peradilan di zaman Hindia Belanda, jaksa tidaklah semata-mata berurusan dengan penuntutan perkara pidana ke pengadilan. Ketententuan-ketentuandalam Herzeine Indonesich Reglement (HIR) yang diperluas dengan Regerings ReglementStb Tahun 1922 No 522 menyebutkan tug
as jaksa, selain sebagai ”officer van justitie” jugamenjadi ”advokaat” dan ”lands advokat” yang mewakili kepentingan Pemerintah Hindia
 
Belanda dalam perkara-perkara perdata. Dalam menjalankan tugas sebagai penuntut umumatau openbaar anklager jaksa juga tidak sekedar menerima hasil penyidikan perkara pidanayang dilimpahkan oleh polisi, tetapi berwenang untuk melakukan penyidikan lanjutan untuk memperdalam hasil penyidikan yang dilimpahkan itu, guna mempertajam penyusunan suratdakwaan yang akan mereka serahkan ke pengadilan. Ketika Indonesia telah merdeka,ketentuan-ketentuan dalam HIR diperbaharui menjadi Reglement Indonesia yangDiperbaharui (RIB).Meskipun kita telah merdeka dan memiliki UUD yang telah disahkan pada tanggal 18Agustus 1945, dan telah menjadi Jaksa Agung, namun di awal kemerdekaan itu, kitabelumlah mempunyai peraturan perundang-undangan sendiri yang mengatur kedudukan,tugas dan kewenangan kejaksaan. Untuk mengatasi kevakuman hukum inilah, makaPemerintah kita tetap menggunakan peraturan-peraturan lama yang diwariskan olehPemerintah Hindia Belanda. Dasar hukum menggunakan peraturan warisan kolonial itu ialahketentuan
Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 yang mengatakan bahwa ”segala badan
negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang barumenurut Undang-
Undang Dasar ini”.
 Kejaksaan adalah badan negara (staatsorgan) yang sudah ada sebelum kita merdeka,demikian pula aturan-aturannya. Jadi, Kejaksaan Agung RI, pada dasarnya meneruskan apayang telah ada diatur di dalam Indische Staatsregeling, yakni semacam undang-undang dasarnegeri jajahan, Hindia Belanda, yang menempatkan Kejaksaan Agung berdampingan denganMahkamah Agung. Sementara secara administratif, baik kejaksaan maupun pengadilanberada di bawah Kementerian Kehakiman. Itulah sebabnya, dalam rapat PPKI (PanitianPersiapan Kemerdekaan Indonesia) tanggal 19 Agustus, Professor Soepomo melaporkanbahwa ruang lingkup tugas Kementerian Kehakiman yang akan dibentuk ialah menanganihal-hal administrasi pengadilan, kejaksaan, penjara, nikah, talak dan rujuk serta penangananmasalah wakaf dan zakat. Sedangkan landasan hukum bagi Kejaksaan untuk menjalankantugas dan wewenangnya, seperti telah saya katakan, sepenuhnya didasarkan pada HerzeineIndonesich Reglement (HIR) yang diperluas dengan Regering Reglement Stb 1922 No 522.HIR kemudian dirubah menjadi RIB (Reglemen Indonesia Yang Diperbaharui).Ketentuan-ketentuan di dalam Indische Staatsregeling yang mengatur kedudukan Kejaksaan,pada dasarnya adalah sama dengan ketentuan-ketentuan di dalam UUD Negeri Belanda.Negeri Belanda menganut sistem pemerintahan Parlementer. Secara teori, konstitusi Belandamemang memisahkan tugas badan eksekutif dengan badan yudikatif. Namun dalam tradisi diNegeri Belanda, semua hakim dan jaksa, adalah pegawai negeri. Secara struktural organisasi,personil dan keuangan baik jaksa maupun pengadilan berada di bawah Ministrie van Justititie(Kementerian Kehakiman). Namun secara fungsional dalam menjalankan tugas dankewenangannya di bidang yudikatif, jaksa dan hakim adalah independen. Jadi, memangterdapat kerancuan kedudukan kejaksaan dalam sistem Belanda, yakni berada di antara duasisi, antara eksekutif dan yudikatif. Pola yang sama dengan di Belanda ini, kita teruskanbukan saja berdasarkan Indische Staatsregeling, tetapi juga kita teruskan ketika kitamengundangkan UU No 19 Tahun 1948 tentang Susunan dan Kedudukan Badan-BadanKehakiman dan Kejaksaan.Dalam hukum tatanegara Belanda, Jaksa Agung diangkat oleh Perdana Menteri atas usulMenteri Kehakiman. Calon Jaksa Agung diambil dari pejabat karir berdasarkan kecakapan,pengalaman dan kemampuan. Jabatan Jaksa Agung bukanlah jabatan politik. Oleh karenatugas jaksa terkait langsung dengan pengadilan, maka dalam tradisi Belanda, Jaksa Agung
disebut sebagai ”Jaksa Agung (Hoofd Officer van Justitie) pada Mahkamah Agung (HoogeRaad)”. Pola seperti ini, diikuti dengan konsisten di Hindia Belanda, dan terus dipraktikkan
sampai tahun 1958, ketika Perdana Menteri Juanda mulai merintis jalan untuk melepaskanketerkaitan kejaksaan dengan pengadilan, dan mulai menempatkan kejaksaan sebagai institusi

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->