Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
9Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Gramatikalisasi Resep Dalam Bahasa Sunda

Gramatikalisasi Resep Dalam Bahasa Sunda

Ratings: (0)|Views: 460 |Likes:
Published by susi fauziah
Grammaticalization of the word Resep in Sundanese language
Grammaticalization of the word Resep in Sundanese language

More info:

Published by: susi fauziah on Sep 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/04/2013

pdf

text

original

 
Susi Fauziah, Gramatikalisasi Kata Resep dalamBahasa Sunda
2012 
Susi Fauziah Page 1
GRAMATIKALISASI KATA
 RESEP
DALAM BAHASA SUNDAAbstrak
Nama : Susi FauziahJudul : Gramatikalisasi
 Resep
dalam Bahasa Sunda sebagai AdverbiaSTAF Spesialis SEAMEO QITEP in LANGUAGE dan Pengajar UNIVERSITAS INDONESIAPenelitian ini meneliti perkembangan gramatikalisasi kata
resep
dalam bahasa Sunda. Kata
resep
memilikimakna gramatikal ‘sering’ dan makna leksikal ‘suka’. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembanganmorfem gramatikal
resep
‘suka’ menjadi morfem leksikal
resep
‘sering’ terjadi melalui tiga tahapan. Pada tahappertama,
resep
berfungsi sebagai verba transitif ‘suka’ dan memiliki struktur (S) manusia +V+ (O) nomina.Pada tahap ini,
arek 
berkategori sebagai verba penuh transitif dan memiliki objek berupa nomina. Selanjutnya,pada tahap kedua, terjadi analogi atau perluasan objek dari nomina menjadi verba.
 Resep
memiliki struktur baru,yaitu (S) manusia +V+ V (tindakan)+ O. Dengan struktur baru ini, maka
arek 
dapat diinterpretasikan sebagaiverba transitif yang memiliki objek berupa verba intransitif atau sebagai verba intransitif yang diikuti oleh verbalagi. Berdasarkan tahap kedua tersebut, maka pada tahap ketiga,
resep
ditemukan pada kalimat dengan strukturS + adverbia + V + (O). Jadi,
resep
telah berubah menjadi adverbia.
Abstract
Name : Susi FauziahTitle : Grammaticalization of 
 Resep
in Sundanese as an AdverbSpecialist Staff of SEAMEO QITEP in LANGUAGE and Lecturer of UNIVERSITY of INDONESIAThis research analyzes the grammaticalization of the word
resep
in Sundanese.
 Resep
has a grammaticalmeaning ‘often’ and a lexical meaning ‘like’. The result of this research shows that the grammaticalization of 
resep
‘like’ becomes
resep
‘often’ happens in three stages. In the first stage,
resep
functions as a transitive verb‘like’ and has structure (S) person(s) +V+ (O) noun. In this stage,
arek 
is categorized as a full and transitive verband has an object in form of a noun. Next, in the second stage, there is an analogy or extension of object fromnoun becomes verb.
 Resep
has a new structure, which is (S) person(s) +V+ V+ O. With this new structure,
arek 
 can be interpreted as a transitive verb having an object in form of intransitive verb or as an intransitive verbfollowed by another verb. Based on the second stage, thus, in the third stage,
resep
is found in a sentence with astructure S + adverb + V + (O). Henceforth,
resep
has changed become an adverb.
1. Pendahuluan
Linguis Swiss terkenal Ferdinand de Saussure menyatakan: “
Waktu mengubah segalanya: tidak adaalasan mengapa bahasa dapat lepas dari hukum universal ini
(Aitchison, 2000: 4).” PernyataanSaussure tersebut menyimpulkan bahwa semua bahasa yang ada di dunia ini pasti mengalamiperubahan. Bahkan, setiap bahasa secara konstan pasti mengalami perubahan dalam kosakata,pengucapan dan tata bahasa/gramar (Trask, 1994: 3). Jika dibandingkan, antara ketiga perubahantersebut, hal yang paling menarik untuk diteliti adalah tata bahasa. Seperti halnya Chomsky, Saussureberfokus pada sintaksis karena sintaksis adalah sistem bahasa yang benar-benar internal sehinggasistem bahasa memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk keseluruhan sistem linguistik suatu bahasa.Bahasa Sunda sangat menarik karena diasumsikan seperti bahasa-bahasa lainnya yang ada di dunia,bahasa Sunda juga mengalami banyak gejala perubahan bahasa yang bersifat universal. Salah satunyaadalah gramatikalisasi. Dalam bahasa Sunda, ada beberapa kata yang dapat diasumsikan mengalamigramatikalisasi, yaitu mengalami perubahan dari yang asalnya kata leksikal menjadi kata gramatikal.Kata-katanya adalah sebagai berikut:
resep
‘suka’ menjadi
resep
‘sering,’
beuki
‘suka’ menjadi
beuki
 ‘sering,’
hayang, hoyong ‘ingin’ menjadi hayang, hoyong
‘akan,’
arek, erek, rek 
‘akan’ menjadi
arek 
,
erek, rek 
‘mau,’
endek,dek, deuk 
‘akan’ menjadi
endek, dek, deuk 
‘mau’ dan
bade
‘akan’ menjadi
 
Susi Fauziah, Gramatikalisasi Kata Resep dalamBahasa Sunda
2012 
Susi Fauziah Page 2
bade
‘mau.’ Akan tetapi, dalam makalah ini, hanya satu kata yang akan dibahas secara mendetail,yaitu
resep
.
1.1 Tabel Gramatikalisasi
Daftar kata Arti Berubah menjadi Daftar kata Arti1.
resep
 2.
beuki
 3.
hayang
,
hoyong
 4.
arek, erek, rek 
 5.
endek,dek, deuk 
 6.
bade
 ‘suka’‘suka’‘ingin’‘ingin’‘mau’‘mau’1.
resep
 2.
beuki
 3.
hayang
,
hoyong
 4.
arek, erek, rek 
 5.
endek,dek, deuk 
 6.
bade
‘sering’‘sering’‘akan’‘akan’‘akan’‘akan’
2. Masalah Penelitian
Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana proses gramatikalisasi kata
resep
dalambahasa Sunda?
3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti proses gramatikalisasi kata
resep
dalam bahasa Sunda.
4. Data
 Data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kata
resep
dalam bahasa Sunda.
5. Landasan Teori
Gramatikalisasi adalah salah satu gejala perubahan bahasa di mana kata yang memiliki makna leksikalberubah menjadi kata yang memiliki makna gramatikal. Linguis Perancis Antoine Meilletmendefinisikan gramatikalisasi sebagai pemberian atribut ciri-ciri gramatikal kepada kata-kata yangsebelumnya merupakan kata- kata otonom (Aitchison, 2000: 112). Oleh karena itu, John Horne Tookeyang merupakan ‘bapak studi grammatikal’ menyatakan bahwa gramatikalisasi adalah sumber daribanyaknya perubahan gramatikal yang dialami suatu bahasa (Aitchison, 2000: 112).Aitchison (2002: 112) menyebutkan bahwa gramatikalisasi bukanlah sebuah slide yang sederhana darisatu penggunaan ke penggunaan lainnya. Berbagai macam tahapan dapat bertumpang tindih dankadang-kadang berlangsung selama berabad-abad, dalam sebuah skenario yang memiliki kelahiranyang berkali-kali. Hal ini disebut pelapisan (
layering
). Jadi, lapisan yang lama akan berdampingandengan lapisan yang baru.Dalam Aitchison (2000: 114), disebutkan pula bahwa tahapan gramatikalisasi yang tumpang tindihmembentuk mata rantai. Mata rantai merujuk pada kontinuum yang bertahap, yang kadang-kadangdisebut sebuah
cline
.
Cline
berasal dari istilah biologis, yang didefinisikan sebagai ‘sebuah gradasiperbedaan bentuk’. Akan tetapi,
clines
ini tidak terjadi secara acak. Bahkan untuk sebagian besar
 
Susi Fauziah, Gramatikalisasi Kata Resep dalamBahasa Sunda
2012 
Susi Fauziah Page 3
gejala perubahan grammatikalisasi,
cline
memiliki satu arah (
unidirectional
).
Clines
yang miripterjadi dalam semua bahasa yang ada di dunia. Verba penuh berubah menjadi verba bantu, kemudianmenjadi akhiran verba. Selain itu, tipe verba penuh yang mengalami perubahan dapat diprediksikan.Sebagai contoh, verba
volition
yang berarti ‘kemauan’ (
want 
), ‘harapan’ (
hope
), dan ‘keinginan’(
desire
) biasanya berubah menjadi penanda futur (masa yang akan datang) (Aitchison, 2000: 114).Selain itu, Aitchison (2000: 118) menyebutkan bahwa biasanya gramatikalisasi melibatkan perubahanbaik bentuk maupun makna. Akan tetapi, tidak ada keharusan bahwa harus ada hubungan antarabentuk dan makna. Bentuk dan makna saling memotong bukan bersambungan. Jadi, mungkin sekaliterjadi bahwa makna semantik berubah tetapi bentuk sintaktisnya tetap sama. Oleh karena itu,gramatikalisasi dapat terjadi dalam semua bahasa dan meliputi jangkauan yang luas, tidak hanyapenurunan tingkat dari kata menjadi afix.Dalam proses gramatikalisasi, biasanya kata leksikal mengadaptasi fungsi gramatikal, yaitu sebuahproses yang sering menggabungkan perubahan semantik (
semantic bleaching
), perubahan fonetik, danreanalisis bentuk asal (Schendle, 2001: 41). Dalam proses gramatikalisasi, terjadi proses reanalisis dananalogi. Menurut Schendle (2001: 40), dalam reanalisis, konstruksi sintaktik dalam suatu bahasamungkin menjadi ambigu dalam konteks tertentu sehingga penutur bahasa tersebut lebih memilihanalisis baru daripada analisis dulu. Biasanya kedua analisis tersebut akan berdampingan selamabeberapa waktu sampai analisis baru akhirnya menggantikan analisis lama dan bahkan mungkinmelebar pada konstruksi yang mirip.Menurut Crowley (1997: 150 - 151), analogi menciptakan keteraturan berdasarkan pola strukturgrammatikal yang sudah ada sebelumnya. Akan tetapi, pola-pola tersebut cenderung memilikipengecualian-pengecualian karena ada sebagian kecil dari pola tersebut yang hanya digunakan dalamsituasi yang jarang dan tidak dapat diprediksikan. Analogi dapat pula beroperasi menurut arah yangberlawanan. Jadi, bukannya menciptakan keteraturan, analogi bisa menciptakan ketidak teraturankarena bentuk yang sudah teratur berubah menjadi tidak teratur karena disamakan dengan sebagianpola yang sudah ada dalam bahasa tersebut.
6. Analisis6.1 Tabel proses grammatikalisasi
 resep
‘suka’
 
 resep
‘sering’Tahap kata arti kata struktur contoh
I
resep
‘suka’ S + V transitif + O
 Eneng resep kueh
‘Eneng suka kue’(S) (V) (O)II
resep
‘suka’ S + V intransitif + V +(O)
 Eneng resep ngadamel kueh
 (S) (V) (V) (O)‘Eneng suka membuat kue’III
resep
‘sering’ S + adverbia + V + (O)
 Eneng resep ngimpi
(S) (Adv) (V)

Activity (9)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Eki Syukeri liked this
Lisa Khalisa liked this
Fira Yeoja II liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->