Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
kardo2

kardo2

Ratings: (0)|Views: 6 |Likes:
Published by Eko Budi Santoso

More info:

Published by: Eko Budi Santoso on Sep 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/21/2013

pdf

text

original

 
Forum Pascasarjana (1993) 16 (1): 11
-
22.
PENDUGAAN NILAI HERITABlLITAS KOMPONEN-KOMPONENBUAH PADA TUJUH POPULASI
I(ELMA
TANPAMENGGUNAKAN UJI
KETURUNXN*)
(The Genetic Estimation of Fruit Component Parameters of SevenCoconut Populations without a Progeny Test)Oleh
Dwi Asmono, ALex Hartana, Ed1 Grhardja
dm
Sudimaa
Y
ahyaz)
Heritability of fruit characters, such as fruit weight, husk weight, husk thickness, sheal weight,endosperm (water) weight, albumen weight, copra weight, oil content, fruit length and ftuit width.have been estimated on seven coconut populations.
The
results showed that most of the fnritcomponents of Malayan Red Dwarf (MRD) and Malayan Yellow Dwarf
(Mm)
ad relatively
high
heritability (>0.80), except fruit weight of
MRD
(0.74) and albumen weight of MYD (0.78).On the other hand, the heritability of those characters in tall populatidns varied between popula-tion.
All
of fruit characters on Polynesian Tall (PYT) and Seruwai Tall (SAT) had relativelyhigh heritability (>0.80). On
West
African Tall
(WAT),
most Ofthe heritability of the fruitcharacters were relatively high (>0.80). except husk weight (0.75). endosperm weight (0.79) and oilcontent (0.41). Heritability of seven characters of Bali Tall
(BLT)
were relatively high, but thoseof three characters were relatively low; i.e. husk weight (0.52). fruit width (0.56) and huskthickness (0.71). Three fruit characters of Rmnell
Tall
(RLT)
shown higher heritability.
those
are
husk thickness (0.87), endosperm weight (0.92) and fruit length (0.90).
PENDAHULUAN
Tuntutan perkebunan industri kelapa yang dicirikan dengan dihasilkannyaproduk-produk spesifik memerlukan dukungan kuat
dari
sektor-sektor
pmpancn,
antara lain ketersediaan bibit unggul. Bibit unggul, dengan ciri-ciri yangdikehendaki, dapat diperoleh jika tersedia Plasma nutfah yang cukup
be6erta
informasi mengenai parameter-parameter genetik yang mencirikan setiap plasmanutfah tersebut. Adanya informasi genetik tersebut akan memudahkan pemulia
1)
Sebagian
dari
tesis S2 penulis
pertama
pa&
Program Paacasarjana,
Institut
PatrniPn
Bogw
Penelitian dibiayai oleh Asosiasi Penelitian
dan
Pengembanpan Perkcbunan Indonesia.
2)
Berturut-turut Staf Peneliti Pusat Penelitian Kehpa Sawit, Marihat Ulu P.O.
BOX
37 PcmotuySiantar dan komisi pembimbing
di
Program Pascasarjana IPB.
 
tanaman dalam melakukan kegiatan seleksi atau perakitan materi genetik menjadibentuk-bentuk spesifik yang bermanfaat.Berdasarkan pe~lelitian ebagian ahli diketahui bahwa Indonesia, sebagaibagian dari Indo-malaya, merupakan pusat
asal
dan pusat keragaman kelapa(Fehr, 1987). Meskipun demikian, plasma nutfah yang telah dikoleksi jauh lebihsedikit dibandingkan dengan potensi yang ada. Sedangkan dari seluruh plasmanutfah yang telah dikoleksi, informasi-informasi genetik yang telah diungkapkanmasih relatif sedikit. Kedua fakta tersebut merupakan titik lemah dalampemuliaan kelapa di Indonesia.Terdapat beberapa pendekatan untuk studi genetik pada tanaman, salah satupendekatan yang umum diterapkan adalah berdasarkan analisis sifat morfologi-agronomi. Dalam konteks morfologi, fenotipe suatu sifat ditentukan oleh faktorgenetik dan faktor lingkungan. Untuk mengetahui seberapa besar faktor genetikmempengaruhi fenotipe individu atau kelompok individu digunakan konsepheritabilitas, yang dalam arti luas didefinisikan sebagai nisbah antara ragamgenetik total (og2) terhadap ragam fenotipe (op2) (Dudley dan Moll, 1969).Berdasarkan nilai heritabilitas tersebut dapat ditentukan metode seleksi yangpaling tepat untuk memperbaiki sifat-sifat tertentu. Salah satu metode pendugaparameter genetik adalah metode Shrikhande (1957) yang dalam pelaksanaan-nya relatif cepat, akurat dan tidak memerlukan uji progeni.Tujuan penelitian ini adalah menduga nilai tengah, kisaran keragamangenetik, lingkungan dan heritabilitas beberapa sifat kuantitatif pada beberapapopulasi kelapa tanpa uji progeni.Hasil penelitian ini berupa informasi dasar mengenai gambaran setiappopulasi yang diuji; sehingga dapat digunakan sebagai
salah
satu landasan dalampemuliaan lebih lanjut populasi-populasi tersebut.METODOLOGITempat PenelitianAnalisis morfologi-agronomi dilakukan di Laboratorium PemuliaanTanaman Pusat Penelitian Perkebunan Marihat-Bandar Kuala, Sumatera Utaradan Rimbo Bujang, Jambi.Bahan PenelitianBahan tanaman yang digunakan terdiri atas buah kelapa dari populasiJangkung Afrika Barat (JAB), Jangkung Rennell (JRL), Jangkung Polynesia(JPY), Jangkung Bali (JBL), Jangkung Seruwai (JSA), Genjah Kuning Malaysia(GKM) dan Genjah Merah Malaysia (GMM), masing-masing 150 butir (50 butirper
2
bulan selama
6
bulan). Deskripsi populasi asal disajikan pada Tabel 1.
 
Tabcl 1. Deskripsi populasi kelapa untuk
analisis
morfologiTable
1.
Description of
coconut
popbl8tion for morpholopieal
andysisPooulasi Deskriosi Po~ulasi Deskrivsi LokasiJAB (WAT)Populasi berupa tanaman perkebunanKebun Bangun Purba merupakan bekasmilik PT. Perkebunan VI di kebunperkebunan karet, berada padaBangun Purba. Sumatera Utara.ketinggian 100 m di atas permukaanTanaman ini merupakan hasil intro-laut, topografi datar, jenis tanah pod-duksi dari Pantai Gading, Afrika tahun sdik merah kuning, tekstur tanah liat1977) dan ditanam ddam jarak tanam berpasir,
C/N
atio, pH, kandungan18.5
x
8.5) m.
Ma
dan P rendah. curah huian rata-
JRL
(RLT) &arara (1980-1990) 2.401 mm (~ahyuni,JPY (PYT) s.d.a1986)JBL (BLT)Populasi berupa tanaman perkebunanmilik PT. Perkebunan VI di kebunBangun Purba, Sumatera Utara.Populati ini merupakan populasi lokaldari propinsi Bali, ditanam dalam jaraktanam (8.5
x
8.5) m.JSA (SAT)Populasi berupa tanaman perkebunanKebun Seruwai merupakan areal per-milik PT. Lanhotma, merupakankebunan
di
tepi pantai, topografi datar.populasi lokal yang cocok untuk daerah tanah asosiasi mineral dan bahan or-pantai, khususnya di Seruwai, Belawan ganik, hidromorfik, tekstur lempungSumatera Utaraberliat (Asmono
dan
Sutarta, 1990).GKM (MY
D)
Populasi berupa tanaman perkebunanKebun
Rimbo
B.
bcrada
70
m.
i
atasmilik PT. Perkebunan VI di kebunpermukaan laut, tanah podsol~kmerahRimbo Bujang, Jambi. Tanaman inikekuningan dengan solum 120 cm,berasal dari kebun Adolina; hasil intro- curah hujan rata-rata (1982-1989)duksi dari Pantai Gading tahun 1977,2,161 mm,iklim B Smith-Fergusonditanam pada jarak (7.5
x
7.5) m.(Sutarta
dan
Salman, 1991)
GMM
MRD) s.d.a
Prosedur Pelaksanaan Penelitian
Penentuan areal dan pemetaan pohon.
Areal penelitian diusahakan mampu mewakili gambaran total dari masing-masing populasi. Untuk itu, dengan mempertimbangkan batasan populasi da-
lam
konteks pemuliaan adalah sekelompok individu yang mempunyai peluangyang sama untuk kawin acak, individu dalam setiap areal percobaan dibatasi
500
-
700
pohon.Untuk menjaga kemurnian, populasi terpilih harus terpisah minimal
50
mdari populasi lain; kecuali untuk tipe genjah
(GMM)
yang jumlahnya terbatas.Meskipun demikian, karena
GMM
menyerbuk sendiri, kemungkinan terjadinyakontaminasi dari serbuk sari lain sangat kecil. Pemetaan pohon didasarkan padapeta dasar dan inventarisasi pohon yang sudah tersedia di setiap kebun.
Penarikan pohon contoh dan pengelompokan.
Penarikan pohon contoh dilakukan dengan metode acak sederhana. Banyak-nya contoh yang ditarik masing-masing
50
pohon untuk setiap populasi.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->