Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Al Masyaqoh

Al Masyaqoh

Ratings: (0)|Views: 19 |Likes:
Published by E Siti Nurhidayah

More info:

Published by: E Siti Nurhidayah on Sep 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/04/2013

pdf

text

original

 
 86060986BAB IPENDAHULUAN
 
Allah SWT sebagai musyarri’ memiliki kekuasaan yang tiada tara, dengan kekuasaan
-Nya ituDia mampu menundukkan ketaatan manusia untuk mengabdi pada-Nya. Agar dalam realisasipenghambaan itu tidak terjadi kekeliruan maka Dia membuat aturan-aturan khusus yangdisebut sebagai syariah demi kemaslahatan manusia sendiri. Tentunya syariah itu disesuaikandengan tingkat kemampuan dan potensi yang dimiliki seorang hamba, karena pada dasarnyasyariah itu bukan untuk kepentingan Tuhan melainkan untuk kepentingan manusia sendiri.[1]  Dalam pada ini, Allah SWT memberikan 3 alternatif bagi perbuatan manusia, yakni positif (wajib), cenderung kepositif (sunnah), cenderung kenegatif (makruh) dan negatif (haram).Untuk realisasi kelima alternatif itu selanjutnya Allah SWT memberikan hukum keharusanyang disebut dengan Azimah yakni keharusan untuk melakukan yang positif dan keharusanuntuk meninggalkan yang negatif. (Wahbah as Zuhaili 1982:40)Namun tidak semua keharusan itu dapat dilakukan manusia, mengingat potensi ataukemampuan yang dimiliki manusia berbeda-beda. Dalam kondisi semacam ini, Allah SWTmemberikan hukum rukhsah yakni keringanan-keringanan tertentu dalam kondisi tertentupula. Sehingga dapat dikatakan bahwa keharusan untuk melakukan azimah seimbang dengandengan kebolehan melakukan rukhsah. [2]  Allah SWT berfirman:
ﯾ 
(
)
“Allah tidak membebani seseorang kecuali dalam batas kesanggupan” (QS. Al Baqarah: 286)
 Bagi Asy-Syahibi, kesulitan itu dihilangkan bagi orang mukallaf karena dua sebab. Pertama,karena khawatir akan terputuskan ibadah, benci terhadap ibadah, serta benci terhadap taklif,dan khawatir akan adanya kerusakan bagi orang mukallaf, baik jasad, akal, harta maupunkedudukannya, karena pada hakikatnya taklif itu untuk kemaslahatan manusia. Kedua, karenatakut terkurangi kegiatan-kegitan sosial yang berhubungan dengan sesama manusia, baik terhadap anak maupun keluarga dan masyarakat sekitar, karena hubungan dengan hak-hak orang lain itu juga termasuk ibadah pula. (Wahbah as Zuhaili, 1982:41-42)Menurut Dr. Wahab Az-Zuhaili, tujuan pokok terciptanya kaidah diatas adalah untuk membuktikan adanya prinsip tasamuh dan keadilan dalam Islam agar Islam itu terkesan tidak menyulitkan. Karena itu setiap kesulitan akan mendatangkan kemudahan, dan kewajibanmelakukan tasamuh jika dalam kondisi menyulitkan. (Wahbah as Zuhaili, 1982:195-196)
BAB III
 
 
PEMBAHASAN
 
A. Pengertian Al Masyaqqah Tajlibut Taysir
 
 ﯾﯿ
“ 
 Kesulitan mendatangkan kemudahan”
 
 Al-Masyaqqah
menurut ahli bahasa (etimologis) adalah
al-
ta‟ab
yaitu kelelahan, kepayahan,kesulitan, dan kesukaran, seperti terdapat dalam QS. An-Nahl ayat 7:
ﯿ ﮕ 
“Dan ia memikul beban
-bebanmu kesuatu negeri yang tidak sampai ketempat tersebut 
kecuali dengan kelelahan diri (kesukaran)”.
 Sedang Al Taysir secara etimologis berarti kemudahan, seperti didalam hadits Nabi yangdiriwayatkan oleh Bukhari disebutkan oleh :
ﯿ ﯿ 
 
ﯿ ﯿ  ﴿ ﴾ 
 
“Agama itu memudahkan, agama yang disenangi Allah adalah agama yang benar danmudah”
(HR. Bukhari dari Abu Hurairah)[4]  Jadi makna kaidah tersebut adalah kesulitan menyebabkan adanya kemudahan. Maksudnyaadalah bahwa hukum-hukum yang dalam penerapannya menimbulkan kesulitan dankesukaran bagi mukkallaf (subjek hukum), sehingga syariah meringankannya sehinggamukkallaf mampu melaksanakannya tanpa kesulitan dan kesukaran.1.
 
B. Klasifikasi Kesulitan
 1.
 
Kesulitan Mu’tadah
 
Kesulitan Mu’tadah adalah kesulitan yang alami, dimana manusia
mampu mencari jalankeluarnya sehingga ia belum masuk pada keterpaksaan. Karena itu Ibnu Abdus Salammengatakan bahwa kesulitan semacam ini tidak mengugurkan ibadah dan ketaatan juga tidak meringankan, karena hal itu diberi keringanan berarti akan mengurangi kemaslahatan syariahitu sendiri. Sedang Ibnu Qayyim menyatakan bahwa bila kesulitan berkaitan dengankepayahan, maka kemaslahatan dunia akhiran dapat mengikuti kadar kepayahan itu (Wahbahaz-Zuhaili, 1982: 196-197).[5] 
 b.Kesulitan Qhairu Mu’tadah
 
Kesulitan Qhairu Mu’tadah adalah kesulitan yang tidak pada kebiasaan, dimana manusia
tidak mampu memikul kesulitan itu, karena jika dia melakukannya niscaya akan merusak diridan memberatkan kehidupannya, dan kesulitan-kesulitan itu dapat diukur oleh kriteria akalsehat, syariat sendiri serta kepentingan yang dicapainya. Kesulitan ini diperbolehkanmenggunakan dispensasi (rukhshah). Seperti wanita yang selalu istihadlah, maka wudhunyacukup untuk shalat wajib serta untuk shalat sunah yang lainnya tidak diwajibkan, dandiperbolehkan shalat khauf bagi mereka yang sedang berperang, dan sebagainya. Wahbah az-Zuhaili, 1982: 199-200).[6] 
 
1.
 
C. Tingkatan Kesulitan Dalam Ibadah
 Para ulama membagi
masyaqqah
ini menjadi tiga bagian :1.
 
al-Masyaqqah al-
„Azhimmah
( kesulitan yang sangat berat), seperti kekhawatiranyang akan hilangnya jiwa dan/atau rusaknya anggota badan. Hilangnya jiwa dan /atauanggota badan mengakibatkan kita tidak bisa melaksanakan ibadah dengan sempurna.Masyaqqah semacam ini membawa keringanan.2.
 
al-Masyaqqah al-mutawasithah
(kesulitan yang pertengahan, tidak sangat berat jugasangat tidak ringan). Masyaqqah semacam ini harus dipertimbangkan, apabila lebihdekat kepada
masyaqqah
yang sangat berat, maka ada kemudahan disitu. Apabilalebih dekat kepada
masyaqqah
yang ringan, maka tidak ada kemudahan disitu. Inilahyang penulis maksud bahwa
mayaqqah
itu bersifat individual.3.
 
al-Masyaqqah al-Khafifah
( kesulitan yang ringan), seperti terasa lapar waktu puasa,terasa capek waktu tawaf dan sai, terasa pening waktu rukuk dan sujud, dan lainsebagainya.
 Masyaqqah
semacam ini dapat ditanggulangi dengan mudah yaitu dengancara sabar dalam melaksanakan ibadah. Alasannya, kemaslahatan dunia dan akhiratyang tercermin dalam ibadah tadi lebih utama daripada
masyaqqah
yang ringan ini.[7] 
D. Sebab-Sebab Adanya Kesulitan
 
Abdurrahman as Suyuti dalam al Asyba’ wan Nadhoirnya menyebutkan 7 macam sebab
-sebab yang menyebabkan kesulitan :1.
 
Karena safar (bepergian)
Misalnya boleh mengqashar shalat, boleh berbuka puasa, meninggalkan salat jum’at.
 1.
 
Keadaan sakitMisalnya boleh tayamum ketika sulit memakai air, shalat fardu sambil duduk, berbuka puasabulan Ramadhan dengan kewajiban qadha setelah sehat, ditundanya pelaksanaan had sampaiterpidana sembuh, wanita yang sedang menstruasi.1.
 
Keadaan terpaksa yang membahayakan kepada kelangsungan hidupnya. Setiap akadyang dilakukan dalam keadaan terpaksa maka akad tersebut tidak sah seperti jual beli,gadai, sewa menyewa, karena bertentangan dengan prinsip ridha (rela), merusak ataumenghancurkan barang orang lain karena dipaksa.2.
 
Lupa (al nisyam)Misalnya seseorang lupa makan dan minum pada waktu puasa, lupa mengerjakan shalat laluteringat dan melakukannya diluar waktunya, lupa berbicara diwaktu shalat padahal belummelakukan salam.Sabda Nabi SAW:
ﯿ ﯿ  ﴿ ﯿ ﴾ 
 (Diangkat pena dari penulis dosa pada ummatku ketika salah, lupa dan terpaksa). (HR.Baihaqic dari Ibnu Umar)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->