Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
6Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sejarah Kodifikasi Dan Ulumu Al Qura'n

Sejarah Kodifikasi Dan Ulumu Al Qura'n

Ratings: (0)|Views: 34 |Likes:
Published by Mujib Cak

More info:

Published by: Mujib Cak on Sep 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/20/2012

pdf

text

original

 
SEJARAH KODIFIKASI DAN
ULUMU AL QUR’AN
 
1
 
KODIFIKASI AL QUR'ANPENDAHULUANSetelah panitia penulisan mushaf al-
Qur‟an yang ditunjuk dan diawasi langsungoleh Khalifah „Utsman bin „Affan r.a. selesai menunaikan tugasnya, beliau
 kemudian melakukan beberapa langkah penting sebelum kemudianmendistribusikan mushaf-mushaf itu ke beberapa wilayah Islam. Langkah-langkahpenting itu adalah1. Membacakan naskah final tersebut di hadapan para sahabat. Ini dimaksudkansebagai langkah verifikasi, terutama dengan suhuf yang dipegang oleh Hafshah
 binti „Umar r.a.
 2. Membakar seluruh manuskrip al-
Qur‟an lain. Sebab dengan selesainya mushaf 
resmi tersebut, keberadaan pecahan-pecahan tulisan al-
Qur‟an dianggap tidak 
diperlukan lagi. Dan itu sama sekali tidak mengundang keberatan para sahabat. Alibin Abi Thalib r.a. menggambarkan peristiwa itu dengan mengatakan,
“Demi Allah, dia („Utsman) tidak melakukan apa yang ia lakukan terhadap
mushaf-mushaf itu kecuali (ia melakukannya) di hadapan kami semu
a.”
 
Setelah melakukan dua langkah tersebut, „Utsman bin „Affan r.a kemudian mulai
melakukan pengiriman mushaf al-
Qur‟an ke beberapa wilayah Islam. Para ulama
Islam sendiri berbeda pendapat tentang jumlah eksemplar mushaf yang ditulis dandisebarkan pada waktu itu. Al-Zarkasyi misalnya menggambarkan ragam pendapatitu dengan mengatakan,
“Abu „Amr al
-Dany menyatakan dalam kitab al-
Muqni‟: mayoritas ulama berpandangan bahwa ketika „Utsman menuliskan mushaf 
-mushaf itu iamembuatnya dalam 4 (eksemplar), lalu mengirimkan satu eksemplar ke setiapwilayah: Kufah, Bashrah dan Syam, lalu menyisakan satu eksemplar di sisinya.Ada pula yang mengatakan bahwa beliau menuliskan sebanyak 7 eksemplar.(Selain yang telah disebutkan
 – 
pen) ia menambahkan untuk Mekkah, Yaman, danBahrain. (Al-
Dany) mengatakan: „Pendapat pertamalah yang paling tepat, dan itudipegangi para imam.‟”
 
 
SEJARAH KODIFIKASI DAN
ULUMU AL QUR’AN
 
2
 
Sementara al-Suyuthi menyebutkan pendapat lain
 – 
disamping pendapat di atas-yang menurutnya masyhur, bahwa jumlah mushaf itu ada 5 eksemplar.Semua nask 
ah itu ditulis di atas kertas, kecuali naskah yang dikhususkan „Utsman bin „Affan r.a untuk dirinya – 
yang kemudian dikenal juga dengan al-Mushaf al-Imam-. Sebagian ulama mengatakan ditulis di atas lembaran kulit rusa.Mushaf-mushaf tersebut oleh para ahli al-Rasm kemudian diberi nama sesuaidengan kawasannya. Naskah yang diperuntukkan untuk Madinah dan Mekkahkemudian dikenal dengan sebutan Mushaf Hijazy, yang diperuntukkan untuk 
Kufah dan Bashrah disebut sebagai Mushaf „Iraqy, dan yang dikirim ke Syam
dikenal dengan sebutan Mushaf Syamy.Dalam proses pendistribusian ini, ada langkah penting lainnya yang juga tidak lupa
dilakukan oleh „Utsman bin „Affan r.a. Yaitu menyertakan seorang qari‟ dari
kalangan sahabat Nabi saw bersama dengan mushaf-mushaf tersebut. Tujuannyatentu saja untuk menuntun kaum muslimin agar dapat membaca mushaf-mushaf tersebut sebagaimana diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya. Ini tentu sajasangat beralasan, sebab naskah-
naskah mushaf „Utsmani tersebut hanya
mengandung huruf-huruf konsonan, tanpa dibubuhi baris maupun titik. Tanpa
adanya para qari‟ penuntun itu, kesalahan baca sangat mungkin terjadi. Ini
sekaligus menegaskan bahwa pewarisan pembacaan al-
Qur‟an – 
yang juga berartipewarisan al-
Qur‟an itu sendiri
- sepenuhnya didasarkan pada proses talaqqi, bukanpada realitas rasm yang tertuang pada lembaran-lembaran mushaf belaka.Tentu saja, pasca pendistribusian naskah-
naskah mushaf „Utsmani tersebut, kaum
muslimin telah memiliki sebuah mushaf rujukan
 – 
karena itulah ia disebut sebagaial-mushaf al-imam-. Sejak saat itu, mulailah upaya-upaya penulisan ulang naskahAl-
Qur‟an berdasarkan mushaf „Utsmani untuk memenuhi kebutuhan kaum
muslimin akan mushaf al-
Qur‟an. Dalam kurun yang cukup panjang, yaitu pascakodifikasi Khalifah „Utsman r.a.
hingga sekarang terdapat banyak perkembanganbaru dalam perbanyakan naskah tersebut. Meskipun upaya itu sama sekali tidak berarti merubah hakikat al-
Qur‟an sebagai Kalamullah. Perkembangan
-perkembangan itulah yang akan dikaji secara singkat dalam makalah ini. Dansemoga bermanfaat.PEMBAHASAN
 
SEJARAH KODIFIKASI DAN
ULUMU AL QUR’AN
 
3
 
PERKEMBANGAN PENULISAN MUSHAF PASCA UTSMANPemberian Harakat (Nuqath al-
I‟rab)Sebagaimana telah diketahui, bahwa naskah mushaf „Utsmani generasi pertama
adalah naskah yang ditulis tanpa alat bantu baca yang berupa titik pada huruf (nuqath al-
i‟jam) dan harakat (nuqath al
-
i‟rab) – 
yang lazim kita temukan hari inidalam berbagai edisi mushaf al-
Qur‟an
-. Langkah ini sengaja ditempuh oleh
Khalifah „Utsman r.a. dengan tujuan agar rasm (tulisan) tersebut dapat
mengakomodir
ragam qira‟at yang diterima lalu diajarkan oleh Rasulullah saw.
Dan ketika naskah-naskah itu dikirim ke berbagai wilayah, semuanya punmenerima langkah tersebut, lalu kaum muslimin pun melakukan langkah duplikasiterhadap mushaf-mushaf tersebut; terutama untuk keperlu`n pribadi merekamasing-masing. Dan duplikasi itu tetap dilakukan tanpa adanya penambahan titik ataupun harakat terhadap kata-kata dalam mushaf tersebut. Hal ini berlangsungselama kurang lebih 40 tahun lamanya.Dalam masa itu, terjadilah berbagai perluasan dan pembukaan wilayah-wilayahbaru. Konsekwensi dari perluasan wilayah ini adalah banyaknya orang-orang nonArab yang kemudian masuk ke dalam Islam, disamping tentu saja meningkatnyainteraksi muslimin Arab dengan orang-orang non Arab
 – 
muslim ataupun nonmuslim-. Akibatnya, al-
„ujmah (kekeliruan dalam menentukan jenis huruf) dan al
-lahn (kesalahan dalam membaca harakat huruf) menjadi sebuah fenomena yang tak terhindarkan. Tidak hanya di kalangan kaum muslimin non-Arab, namun juga dikalangan muslimin Arab sendiri.Hal ini kemudian menjadi sumber kekhawatiran tersendiri di kalangan penguasamuslim. Terutama karena mengingat mushaf al-
Qur‟an yang umum tersebar saat
itu tidak didukung dengan alat bantu baca berupa titik dan harakat.Dalam beberapa referensi disebutkan bahwa yang pertama kali mendapatkan idepemberian tanda bacaan terhadap mushaf al-
Qur‟an adalah Ziyad bin Abihi, salahseorang gubernur yang diangkat oleh Mu‟awiyah bin Abi Sufyan r.a. untuk 
wilayah Bashrah (45-53 H). Kisah munculny
a ide itu diawali ketika Mu‟awiyahmenulis surat kepadanya agar mengutus putranya, „Ubaidullah, untuk menghadap

Activity (6)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
Abu Nu'man liked this
Abu Nu'man liked this
Abu Nu'man liked this
Abu Nu'man liked this
Imam Faizin liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->