Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Deklarasi Hasanuddin, Sumpah Oemuda, Sumpah Mahasiswa

Deklarasi Hasanuddin, Sumpah Oemuda, Sumpah Mahasiswa

Ratings: (0)|Views: 196 |Likes:

More info:

Published by: Annisa Ika Nurrahmayanti Syakir on Sep 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/11/2012

pdf

text

original

 
Konferensi Mahasiswa Kedokteran Indonesia
Sebuah perspektif seorang mahasiswa kedokteran biasa-biasa saja..
 Tepat tanggal 17-21 Mei 2008 lalu mahasiswa kedokteran Indonesia berkumpul diMakassar. Bukan perkumpulan biasa saja karena kumpul-kumpul yang sedianyadiprakarsai ISMKI dan Unhas itu adalah napak tilas dari apa yang dilakukan senior kitadi Boedi Oetomo 100 tahun yang lalu. Terlalu sentimentil tampaknya kita menyebut inisebagai latah sejarah, karena titelnya centenary, makanya dirayakan. Semuanya tampak  begitu normatif, karena memang akhir-akhir ini mahasiswa kedokteran seperti mabuk kepayang oleh romantisme masa lalu (yang lalu sekali). Sebuah pertanyaan membatindalam ruang kecil di dada.
“perlukah?”
 Konferensi dibuka pada hari Sabtu tanggal 17 Mei dengan gala dinner di rumah Rektor yang sayangnya gw belum dateng di situ karena harus menemani ayah ibu sebelummereka berangkat ke USA menjemput adik tersayang. Dilanjutkan dengan field study pada hari berikutnya, rangkaian acara hari Minggu dipuncaki dengan perdebatanpertama hingga larut malam tentang draft deklarasi dan pembagian komisi. Hari berikutnya dimulai dengan seminar di pagi hari tentang jati diri mahasiswa kedokterandan pembahasan per komisi. Puncak acara adalah pada tanggal 20 Mei itu sendiri,dimana perdebatan tentang pembahasan komisi dan deklarasi itu sendiri.
Mahasiswa kedokteran: dimana sekarang?
Beberapa waktu yang lalu gw masih inget banget bagaimana seorang senior angkatan
2002 „menyerang‟ gw di depan perwakilan HMD3, kastrat senat, dan BEM UI pada
sebuah pencerdasan tentang Tujuh gugatan Rakyat. Waktu itu gw digencet denganstatement,
“….
Kami tidak butuh pernyataan normatif 
 
dari anda saudara ketua kastrat
. Yang kami butuh adalah sebuah gerakan konkret dimana
mahasiswakedokteran
harus menjadi
penggerak 
dan
darah juang
pergerakannya. FKUIdikenal bukan karena pengmasnya yang sibuk dengan baksos, atau pendpro yang menyedengan seminar-seminarnya, tapi oleh
kastratnya
! hakikat Kita adalah di aspalpanas
membela rakyat yang haknya dirampas
penguasa zalim. Dan ingat ini bungketua kastrat, UI dikenal karena FKUI baik oleh akademisnya maupun pergerakanmahasiswanya karena memang semua hal itu bermula dari kampus ini! Kalau saudaramerasa pantas menjadi ketua kastrat, maka ini adalah
tanggung jawab
saudara! kalautidak sanggup, lebih baik saudara
mundur saja
karena itu lebih baik daripada menodai
nama agung mahasiswa kedokteran!…”
 
 
Sebuah Pernyataan yang kental akan kebanggaan (dan sifat2 koleris lainnya) sekali bukan? Memang, bahwa di 1908 ada sejawat kita Soetomo dkk. 1965 ada Arief RahmanHakim, 1974 ada Hariman Siregar, 1998 juga, merupakan tanggung jawab yang beratsekali yang terkandung dalam nama mahasiswa kedokteran,
Kita inisiatorpergerakan Indonesia
. Sepintas, kalo gw seorang Maba yang baru masuk kampuspertama kali di PSAU, mungkin gw akan terpukau dan bangga sebangga-bangganya diri.Namun sekarang, sebagai seorang mahasiswa tingkat 2, miris rasanya kalo ternyata bahkan gw bertanya
“mana kebanggaan yang dulu digembor
-
gemborkan?”
. kita bahkan tak tahu apa dan siapa kita sekarangTampaknya doktrin maba begitu membius benak semua mahasiswa kedokteran, ketikaditanya kita menjawab dengan bangga, kepala mendongak, hidung mendengus. merasasuperior. Pada realitanya, miris sekali melihatnya. Mahasiswa kedokteran sekaranglebih concern kepada
setelah lulus mau jadi dokter spesialis apa, kuliah pulang-kuliahpulang, bermain-main mencoba internet gratis fasilitas hotspot, bersembunyi di lorongperpustakaan mencari referensi untuk tugas departemen galak macam Faal. Perlahantapi pasti, kita lupa
hakikat mahasiswa kedokteran yang mengabdi
!Pergerakan fisik sekarang dipegang oleh mahasiswa non-kedokteran. Baik darikajiannya, inisiasinya, keterlibatannya. Tidak usah berpikir jauh-jauh dan muluk-muluk  bahwa mahasiswa kedokteran akan memimpin revolusi fisik, bahkan untuk partisipasiorganisasi saja, minim jika tak ingin dikatakan tidak ada sama sekali. Waktu belajar yang terbatas dianggap sebagai justifikasinya. Penghapusan PTT dipandang biasa bahkan dikatakan sebagai kemajuan karena mempercepat masa studi padahal ituadalah sebuah
penghianatan
.
Deklarasi: Filosofi atau pernyataan Normatif saja?
Pada waktu rapat besar pembahasan komisi, gw agak tersentil dengan heroismemasing-masing delegasi yang mengedepankan altruisme dan nilai-nilai luhur lainnya.Namun gw agak terusik karena pembicaraan yang begitu panjangnya dan begituapiknya ternyata tidak diikuti dengan solusi konkret dan inovatif yang pasti selaluditunggu-tunggu. Terlalu terbawa oleh kebiasaan diagnosis yang terlena oleh gejalatampak tanpa menghiraukan etiologi? Atau ego romantisme masa lalu yang belumluntur juga? Kekhawatiran agak memuncak ketika pembahasan komisi ternyata tidak  begitu memuaskan. Konsepnya masih mentah dan kepastian tindak lanjutnya bahkan belum jelas. Begitu pula begitu masuk pada pembahasan deklarasi. Sepintas terlihatmegah, karena kita berhasil merumuskan (baru merumuskan) janji yang sepintas miripdengan sumpah pemuda.Sebegitu sajakah? belum. Yang jadi pertanyaan besar adalah, akankah kita bisakonsisten dengan pernyataan kita? Konsistensi dan liabilitas mahasiswa kedokteran
 
sedang dipertaruhkan di sini dengan Senat Mahasiswa dan Badan Eksekutif Mahasiswasebagai pelindung dan penjaganya. Sediakah kita menjawab amanat sebesar itu?
Revitalisasi Pergerakan: satulah mahasiswa kedokteran Indonesia!
Tanpa perlu menunggu lebih lama lagi, jika dibiarkan mahasiswa kedokteran akan terusmengarah kepada kejatuhan dan hilang eksistensinya di dunia kemahasiswaan. Strukturgeopolitik negara ini sedianya dapat melemahkan konsolidasi ISMKI
wadah bersatunya mahasiswa kedokteran Indonesia, namun hal ini tidak boleh menjadipenghalang bagi kita. Revitalisasi pergerakan, itu yang kita butuhkan, baik revitalisasi jati diri maupun revitalisasi peran mahasiswa kedokteran. Dari sini kita berangkat padasebuah penyadaran massal kepada teman-teman mahasiswa kedokteran lainnya.Tulisan gw ini mungkin masih normatif bgt, cuma, percaya aja. Gw punya sebuahmimpi besar untuk mahasiswa kedokteran dan mimpi itu sekarang lagi gw wujudkan.Jadi, apa teman2 mahasiswa kedokteran siap berada di barisan yang sama dengan gw,atau duduk melihat saja?lihat nanti.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->