Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Penelitian Agama

Penelitian Agama

Ratings: (0)|Views: 154 |Likes:

More info:

Published by: Aba Tara As-samarindi on Sep 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/25/2013

pdf

text

original

 
Ragam Jurnal Pengembangan Humaniora, Volume 10 Nomor 1, April 2010
 
39
 
Islam sebagai Objek Studi dan Penelitian
Suparno
Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro
 
Abstract 
: Religion is not a separable part of human life. All people have natural tendency to have religion so none has no religion (whatever their religion is). Indonesia is a country where Moslems are the majority. They not only develop materially but also concern in spiritual development. Religion as an object of study and research in this era is a common matter compared to that in 1970s (considered as a taboo thing). From the scientific point of view,religion research in Indonesia becomes a significant and interesting phenomenon.
Key words: 
Islam, object of study and research 
PENDAHULUAN
Kehadiran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw diyakini dapat menjaminterwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera di dunia dan akherat. Di dalamnyaterdapat berbagai petunjuk tentang bagaimana seharusnya manusia menyikapi hidup dankehidupan ini secara lebih bermakna dalam arti yang seluas-luasnya. Dari segi alat yangdigunakan untuk memahami Islam, misalnya kita sering melihat cara yang bermacam-macam, antara satu dengan lainnya tidak saling berjumpa. Mukti Ali (1996:19), misalnya,mengatakan jika kita mempelajari cara orang mendekati dan memahami Islam, makatampak ada tiga cara yang jelas. Tiga pendekatan itu adalah
naqli 
(tradisional),
aqli 
 (rasional) dan
kasyfiy 
(mistis). Dalam memahami agama seharusnya ketiga pendekatantersebut digunakan secara serempak bukan terpisah-pisah.Membicarakan tentang penelitian sebuah agama pada tahun 1970 di kalangan IAINmasih dianggap sebagai hal yang tabu. Hal ini dikarenakan agama adalah wahyu Allahyang dianggap sudah mapan yang tidak perlu diotak-atik lagi. Kejadian ini tidak hanyaterjadi di kalangan ulama Indonesia tetapi juga di kalangan Barat sekalipun. Di dalambuku
“Seven Theories of Religion” 
dikatakan bahwa dahulu orang Eropa menolakanggapan adanya kemungkinan meneliti sebuah agama karena mereka beranggapanantara ilmu dan agama tidak dapat disinkronkan (Atho Mudzhar, 2001:11). Atho Mudzharmengatakan agama, termasuk di dalamnya Islam, dapat dan boleh diteliti. Pendapat inibukanlah suatu pendapat yang baru karena pada tahun 1970-an Prof. Dr. Mukti Ali jugasudah mengatakan tentang bolehnya agama dijadikan obyek studi dan penelitian.Memang ketika masalah itu dilontarkan, banyak kalangan yang mempertanyakan letakpenting dan manfaatnya dan cenderung banyak yang tidak setuju.Di dalam penelitian agama, juga ada hal-hal yang penting dan harus diketahui olehpeneliti agama tersebut. Tanpa adanya kejelasan dari peneliti tentang konsep penelitianagama maka besar kemungkinannya terjadi salah pengertian yang tidak dapatdihindarkan. Masalah agama adalah masalah yang hadir dalam sejarah umat manusiasepanjang zaman sama dengan masa kehidupan lainnya. Perilaku hidup beragama yangamat luas tersebar di muka bumi menjadi bagian hidup kebudayaan dalam aneka corakyang khas antara satu lingkup sosial budaya dengan sosial budaya lainnya.Di dalam pembahasan Islam Sebagai Obyek Studi dan Penelitian ini akan dibahas hal-halsebagai berikut: Agama sebagai gejala budaya dan sosial, Agama sebagai fenomenapenelitian dan pentingnya penelitian agama.
 
40
 
Islam sebagai Objek Studi dan Penelitian (Suparno)
 
AGAMA SEBAGAI GEJALA BUDAYA DAN SOSIAL
Agama dan budaya adalah dua hal yang berbeda tetapi tidak mungkin dipisahkan.Keberadaan sebuah agama akan sangat dipengaruhi dan mempengaruhi pengamalansebuah agama yang bersangkutan. Sebaliknya sebuah kebudayaan akan sangatdipengaruhi oleh keyakinan dari masyarakat di mana kebudayaan itu berkembang. Olehkarena itu agama bukan saja menjadi masalah individu tetapi agama juga merupakansebuah urusan sosial yang pada akhirnya orang yang beragama tidak hanya sekedarmampu melahirkan keshalehan individual tetapi juga harus mampu melahirkankeshalehan sosial.Semula hanya ada dua ilmu yakn ilmu kealaman dan ilmu budaya. Kedua ilmu ini memilikikarakteristik yang berbeda. Ilmu kealaman berangkat dari tanda-tanda keteraturan yangterjadi di alam raya, suatu penemuan atas gejala alam pada saat yang lain juga akanmenghasilkan hal yang sama (tetap). Sebagai contoh air akan selalu mengalir ke tempatyang lebih rendah, benda yang dilempar ke atas akan jatuh ke bawah dan gejala alamlainnya. Apabila suatu saat dua hal tersebut diteliti lagi maka hasilnya akan cenderungsama karena adanya pengaruh gaya gravitasi bumi.Sedangkan ilmu budaya mempunyai sifat yang unik dan tidak terulang sebagaimana haldi atas. Seperti contoh perayaan sekaten bagi masyarakat Solo dan Yogyakarta, Grebegtanggal 10 Dzulhijah bagi masyarakat Demak, Dugderan menjelang ramadhan bagimasyarakat Semarang, Apeman bagi masyarakat Pekalongan dan lain-lain. Keunikanperingatan tersebut bukan karena pengulangannya. Ilmu sosial posisinya berada di antarailmu kealaman dan ilmu budaya yang berusaha memahami gejala-gejala yang tidakberulang tetapi dengan cara memahami keterulangannya. Oleh karena itulah penelitianilmu sosial mengalami problem dari segi tingkat obyektifitasnya. Benarkah hasil penelitiansosial itu obyektif dan dapat dites kembali keterulangannya? Dalam menjawabpertanyaan ini ada dua pendapat;
pertama,
penelitian sosial lebih dekat dengan penelitianbudaya berarti memiliki sifat yang unik. Sebagai contoh penelitian Antropolgi sosial lebihdekat dengan ilmu budaya karena sifat yang dimiliki oleh Antropologi Sosial yang bersifatunik.
Kedua,
penelitian sosial lebih dekat dengan ilmu kealaman karena fenomena sosialdapat berulang kembali dan dapat dites kembali. Untuk mendukung pendapat inidikatakan bahwa ilmu statistik sosial dapat dipergunakan untuk mengukur gejala-gejalasosial secara lebih cermat dan lebih baku (ibid, 12-13).Masalah yang baru adalah, bisakah agama didekati secara kuantitatif dan kualitatif?Jawabannya tentu dapat. Agama dapat didekati secara kuantitaif maupun secara kualitatifsekaligus atau satu di antaranya. Apabila kita berangkat dari agama sebagai sesuatuyang dapat diukur dan diverifikasi maka agama dapat diteliti dengan cara kuantitatif.Sedangkan apabila kita meneliti agama dari gejala-gejala yang bersifat unik dan tidakterulang kembali maka dapat menggunakan pendekatan kualitatif.
AGAMA SEBAGAI OBYEK PENELITIAN
Penelitian agama menempatkan diri sebagai suatu kajian yang menempatkan agamasebagai sasaran/obyek penelitian. Secara metodologis berarti agama haruslah dijadikansebagai suatu yang riil betapapun mungkin terasa agama itu sesuatu yang abstrak. Darisudut ini mungkin dapat dibedakan ke dalam tiga kategori agama sebagai fenomena yangmenjadi subyek materi penelitian, yaitu agama sebagai doktrin, dinamika dan strukturmasyarakat yang dibentuk oleh agama dan sikap masyarakat pemeluk terhadap doktrin(Taufik Abdullah, 1989:xii)
Pertama,
agama sebagai doktrin. Penelitian agama sebagai suatu doktrin menimbulkanbeberapa pertanyaan. Pertanyaan yang timbul di antaranya: apakah substansi darikeyakinan religius itu, apakah yang diyakini sebagai kebenaran yang hakiki, apa makna
 
Ragam Jurnal Pengembangan Humaniora, Volume 10 Nomor 1, April 2010
 
41
 
ajaran agama itu bagi pemeluknya? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mungkin palingberdekatan dengan usaha pencarian kebenaran agama, sebagaimana yang dilakukanoleh pemikir agama dan
mujtahid 
.Tetapi apabila para
mujtahid 
mengatakan bahwa “inilah ajaran yang sesungguhnya” danpemikir mengatakan “inilah sepanjang penelitian saya yang benar”, maka akan terjadikemandekan satu pemikiran karena pendapat/pemikirannya itu adalah sudah benar dansempurna. Apabila ulama dan pemikir berpendapat demikian maka akan terjadikemandekan pemikiran terhadap agama karena mereka sudah mengambil sebuahkesimpulan demikian. Tradisi ilmiah tidak berakhir dengan kepastian dan mendakwahkandiri sebagai penemu kebanaran. Tradisi ilmiah hanya berusaha menemukan apa yangdianggap benar.Ali Syari’ati (1933-1977), seorang sarjana Iran, menyatakan bahwa faktor utama yangmenyebabkan kemandegan atau stagnasi dalam pemikiran, peradaban dan kebudayaanyang berlangsung hingga seribu tahun di Eropa pada abad pertengahan adalah metodepemikiran analogi Aristoteles. Di kala cara melihat masalah obyek itu berubah, makasains, masyarakat dan dunia juga berubah dan segala akibatnya kehidupan manusia juga berubah (Ali Syari’ati, 1982:39). Dengan demikian kita dapat memahami akanpentingnya metodologi sebagai faktor fundamental dalam renaisans.Karena bertolak dari keinginan untuk mengetahui dan memahami esensi agama, makasalah satu disiplin ilmu yang paling banyak berkecimpung dalam penelitian agamasebagai satu doktrin ini adalah perbandingan agama. Pengetahuan yang mendalamtentang esensi ajaran agama ini akan mampu meningkatkan pengalaman agama bagiseseorang sehingga pada akhirnya seseorang akan mampu menemukan makna agamabagi manusia itu sendiri. Ilmu perbandingan agama di sisi lain akan juga mampumenciptakan satu tatanan masyarakat agamis yang satu agama dengan agama yanglainnya dapat saling menghormati. Sehingga pada akhirnya kerukunan antar umatberagama dapat terwujud dengan sebaik-baiknya. Makna kerukunan tidak lagi sebataspada tataran struktural idiologis yang bersifat eksklusif. Dalam penelitian agama sebagaidoktrin, studi yang banyak dilakukan adalah bercorak sejarah intelektual atau sejarahpemikiran dan biografi tokoh agama. Teks-teks keagamaan baik yang wahyu maupunhasil
ijtihad 
 /renungan, traidisi serta catatan sejarah merupakan bahan-bahan utama yangdigali. Maka di samping filologi dan kritik teks serta ilmu filsafat maka sejarah merupakandisiplin yang memiliki peranan yang sangat penting.Kategori
kedua,
adalah struktur dan dinamika masyarakat agama. Agama kata seorangahli adalah landasan dari terbentuknya suatu “komunitas kognitif” (ibid, xiv). Artinyaagama merupakan awal dari terbentuknya suatu komunitas atau kesatuan hidup yangdiikat oleh keyakinan hidup dan kebenaran hakiki yang sama yang memungkinkanberlakunya suatu patokan pengetahuan yang sama pula. Hanya dalam komunitas kognitifIslam bahwa Tuhan mutlak satu merupakan pengetahuan yang benar. Tri murti hanya riildi kalangan Hindu, sedangkan kesatuan roh kudus, Jesus dan Tuhan bapa adalah benardi masyarakat Kristen dan seterusnya.Meskipun berangkat dari suatu ikatan spiritual para pemeluk agama membentukmasyarakat sendiri yang berbeda dengan kelompok lain. Sebagai satu masyarakatkomunitas inipun memiliki tatanan yang berstruktur dan tidak pula terlepas dari dinamikasejarah. Sebagai contoh penelitian kedua ini adalah terjadinya pengelompokan IslamSantri, Priyayi dan Abangan. Ketiga kelompok komunitas muslim ini memiliki corak dankarakteristik yang berbeda. Corak kajian atau penelitian dalam kategori ke dua ini dihunioleh disiplin-disiplin ilmu sosial – sosiologi, antropologi, sejarah dan lainnya.Kategori
ketiga,
berusaha mengungkap sikap anggota masyarakat terhadap agama yangdianutnya. Jika kategori pertama mempersoalkan substansi ajaran agama yang dianutnya

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->