Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
4Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Latar belakang

Latar belakang

Ratings: (0)|Views: 678|Likes:
Published by ali_dhikri

More info:

categoriesTypes, Resumes & CVs
Published by: ali_dhikri on Sep 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

03/07/2013

pdf

text

original

 
1
PENDAHULUANI.
 
Latar belakang
Propinsi Papua dan Papua Barat, salah satu bagian wilayah Indonesia yang diketahuimemiliki sumber daa alam sangat kaya. Namun disisilain jumlah penduduknya ternyataterendah dibangdingkan dengan wilyah lain di Idonesia. Kurang lebihh 40 juta hektar atau 4kali lebih luas dari Pulau Jawa kurang lebih 80% dari luas wilayah ini masih merupakankawasan hutan, yang selain mengandung potensi kayu dan hasil hutan non kayu lainnya yangluar biasa.Tanah Papua adalah tanah keemasan, bagaimana tidak?, Papua mempunyai jumalahsumber daya alam yang sangat benyak yaitu yang paling banyak terdengar adalah Emaskemudian seperti gas alam, minyak, perak, tembaga dan hasil laut yang lainnya. Tapi entahkenapa Propinsi Papua di Indonesia sangatlah tertinggal dan kalau di bilang tertinggal.Padahal jika di lihat dari sumber daya alam sangatlah banyak terdapat di Papua. Tapimengapa Papua tidak bisa menjadi Propinsi yang mempunyai penghasilan yang baik. Inilahsangat di sayangkan, kekayaan (sumber daya alam dan secara kebudayaan) diwarnai olehsejarah konflik yang panjang dengan biaya kemanusian yang segnifikan. Kondisi ini lahyang membuat rakyat Papua ingini memisahkan diri dari Indonesia.Kelahiran Otsus (Otonomi khusus) pada tahun 2001 adalah sebuah titik balik dimanakeluhan-keluhan penduduk asli Papua mulai lah dibuka dan diperhatikan. Otsus di buatdengan harapan untuk dapat memberikan tindakan yang pasti untuk melindungi hak-hak penduduk asli Papua dan melibatkan mereka secara aktif baik secara manfaatn dan pelakuperubahan sosial di Papua. meskipun demikian, pelaksanaan Otsusn telah mengahadapiberbagai permasalahan seperti kurangnya kepercayaan yang diperlihatkan oleh pemerintahpusat. Kondisi seperti ini menjadikan banyak nya penyimpanganSeharusnya dalam panambangan di Propinsi Papua haruslah minimbang daribagimana kondisi alam yang ada di Papua, sosial di Papua. Karena dalam penambangan diPapua sendiri kurang mempertimbangkan kihidupan sosial yang ada di masyarakat Papua. ituterbukti dengan kurang nya dan tidak adanya peningkatan taraf hidup masyarakat Papua dari
adanya penambangan PT freeport di Papua. “Seharusnya harus ada ahli fungsi teknologi
dalam merencanakan suatu program, agar dari tenaga ahli pun bisa di miliki oleh masyarakat
 
2
Indonesia sendiri. Terutama masyarakat Papua, sehingga tidak adanya anggapan bahwa
 penganak tirian bagi rakyat Papua” (bu Ema).
 
II.
 
RingkasanPotensi
Papua memiliki sejumlah jenis cadangan bahan tambang antara lain tembaga, emas,perak, besi, nikel, batu bara serta ,minyak bumi dan cadangan gas yang sangat banyak danyang diketahui memmiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Diperkirakan daerah inimempunyai cadangan tembaga terbesar di dunia yaitu sekitar 2,5 milyar ton. Sementara itusalah satu cadangan gas terbesar terdapat di daerah Teluk Bintuni yang diperkirakan sekitar40 toncf. Disamping itu juga kurang lebih 80-90% dari daratan wilyah ini masih tertutupdengan hutan, kurang lebih 43% nya merupakan kawasan hutan produksi yang mengandungberbagai jenis kayu bernilai ekonomis tinggi. Potensi produksi kayu bernilai ekonimismenurut Dinas Kehutanan Propinsi Papua sekitar 50-60 m
3
olahan kayu per tahun. Selain ituhutan tropis di Papua dikenal dengan memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.Kawasan pesisir laut ini, menurut Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Papua tahun2004, meyimpan potensi ekonomi senilai Rp. 2.761.830.000,-/tahun yang dapat diperolehdari berbagai jenis laut seperti ikan pelangis besar, ikan pelangis kecil, ikan demersial, ikankarang konsumsi, udang, lobster dan cumi-cumi. Selain itu unutk produksi rumputdiperkirakan Rp. 3,9 triliyun per tahun.Dari pengamatan selama ini menunjukkan bahwa kegiatan pengelolaan sumber dayaalam di Papua banyak mengahadpi masalah yang serius terutama dalam aspek sosial,lingkungan, dan kemanan yang menimbulkan sulitnya memberikan kemakmuran bagimasyarakat Papua. Aktivitas ekstrasi berbagai sumber daya alam bernilai ekonomis tinggiyang berlangsung selama ini lebih bersifat eksploitatif dan mengutamkan memperolahkeuntungan ekonomi yang sebesar-besarnya dalam waktu yang sangat singk, mungkin bagipara pelaku/pemegang izin usaha yang umumnya terdiri dari para pemilik modal besar dansarat dengan praktek KKN dalam menjalankan aktivitasm bisnis/usahanya. Lebih dari itusemua telah terjadi pula kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas eksploitasiyang telah berlangsung secara terus menerus dalam waktu yang cukup lama, bahkan disejumlah daerah ekploitasi sumber daya alam, terutama eksploitasi hutan dan tambang,mengakibatkan kerusakan lingkungan yang semakin parah sehingga amat kualitas hidupmasyarakat setempat.
 
3
Kebijakan pengelolaan sumber daya alam di Papua sekarang dan kedepan hendaknyamampu mengatasi berbagai permasalahan yang selama ini dan yang hingga saat ini masihdialami di Papua. Dua aspek penting yang perlu dikelola secara baik dalam rangkaoptimalisasi pemanfaatan sumber daya alam di Papua bagi peningkatan kesejahteraan orangasli Papua serta tingkat kesejahteraan masyarakat secara optimal dan berkelanjutan.Kedudukan dan peran masayakat Papua sendiri yaitu kurangnya pengetahuanterhadap hak masyarakat adat juga terjadi karena kurang diakuinya peran mereka dalampengelolaan sumber daya alam. Kedaan ini membuat mereka tidak memiliki akses dalampengambilan keputusan yang dapat memberi pengeruh besar besar bagi peningkatankesejahteraan dan perbaikan kehidupan mereka. Keadaan tersebut juga telah menimbulkanketidak adilan sosial dan ekonomi pengelolaan sumber daya alam, selainmeningkatkanketegangan antara perusahaan/investor dengan masyarakat adat, juga mengakibatkanmeningkatnya ketegangan antara pemerintah dan masyarakat.Otonomi Khusus bagi Propinsi Papua pada dasarnya adalah pemberian wewenangyang lebih luas bagi Propinsi Papua untuk mengurusi diri sendiri didalam kerangka NegaraKesatuan Republik Indonesia. Wewenang yang lebih luas berarti pula tanggung jawab yanglebih besar bagi Propinsi dan rakyat Papua untuk mengatur dan menyelenggarakanpemerintahan dan pembangunan serta pemanfaatan potensi khusunya sumber daya alam yangterdapat didaerah ini (Papua) untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat Papua sebagaibagian dari rakyat Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.Papua sebenarya telah diberi Otonomi Khusus pada tahun 2001 melalui Undang-Undang No. 1, tahun 2001. Malalui ini Papua sesungguhnya diberi kewenangan-kewenagankhusus, termasuk kewenangan dibidang pengelolaan sumber daya alam. Namun terdapatperbedaan dan kemungkinan konflik didalam perturan perundang-undangan yaitu perutaransektoral dan perturan implimentasi undang-undang Otsus Papua dalam penelolaan sumberdaya alam di Papua.Dalam perkembangan undang-undang Otus di Papua peran dari undang-undang Otussendiri untuk masyarakat Papua pada dasarnya adalah pemberian wewenang yang lebih luaspula pada Pemerintah, secara tidak langsung berarti masyarakat Papua di beri wewenangsecara khusus untuk mengelola potensi sumber daya alam yang sangat melimpah di tanahPapua. Maka dalam mewujudkan tujuan diatas, untuk mendukung dalam Otsus maka dibentuk lah Majelis Rakyat Papua (MRP).Majelis Rakyat Papua (MRP) sendiri merupakan representasi cultural orang asli dariPapua, yang memiliki wewenang tertentu dalam rangka perlindungan hak-hak orang asli

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->