Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Unio Keuskupan Agung Semarang dalam Sejarah Th 2011

Unio Keuskupan Agung Semarang dalam Sejarah Th 2011

Ratings: (0)|Views: 117 |Likes:
dari dokumen arsip UNIO Indonesia
informasi selengkapnya lihat: http://www.unio-indonesia.org
dari dokumen arsip UNIO Indonesia
informasi selengkapnya lihat: http://www.unio-indonesia.org

More info:

Published by: Warungpojok Internet on Sep 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/06/2013

pdf

text

original

 
UNIO KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG
DALAM PERJALANAN SEJARAH
- Exodus Unio KAS setelah usia lebih dari 50 tahun -
 Munculnya UNIO KAS 
euskupan Agung Semarang menoreh sejarah berdirinya UNIO Imam Diosesan yang pertama di Indonesia dengan terbentuknya UNIO KAS pada tanggal 15 Juli 1955dengan “TETUA” pertama adalah Rama Stanislaus Danuwidjaja. Istilah Tetua dipakai(bukan ketua) untuk menghindari kesan hirarkis - organisatoris. Terbentuknyakepengurusan UNIO KAS pertama ini merupakan kelanjutan dari keadaan politik yangmemungkinkan diadakannya liburan dan retret bersama sejak sekitar tahun 1952 diantara para Rama. Disusul pula dengan pertemuan dan rekoleksi setiap dua bulan sekali.Kesempatan berkomunikasi diantara para imam praja juga diperkaya dengan terbitnyamajalah ‘BERITA’ atas inisatif Rm. JOH. Padmasepoetra dan Rm. A. Purwadiharja.Akhirnya, tekad membangun wadah persaudaraan untuk membantu Uskup dalam karya danuntuk saling membantu dalam menghayati imamat, baik rohani maupun jasmani (bdk.UNIO Sacerdotum Saecularium: Rm. A. Wahyosudibya, kenangan 40 tahun SeminariTinggi St. Paulus.
Catatan: Rama Wahya menulis bahwa UNIO didirikan tahun 1956 
)muncul dalam sebuah pertemuan (liburan bersama) Rama-Rama di Seminari St. PetrusCanisius Mertoyudan, Jawa Tengah. Dalam forum silaturahmi diantara para Imam itumuncul gagasan mendirikan perkumpulan imam-imam Diosesan. Atas gagasan ini, Mgr.Albertus Sugijopranoto SJ secara bergurau (kebiasaan beliau menanggapi sesuatu yang baru) berkata: “Apakah itu berarti ingin membentuk serikat buruh?” Mgr. Kartosiswojo Pr ketika dimintai keterangan maksud gurauan tersebut mengatakan: “Itulah kebiasaan RamaKanjeng, kalau ada sesuatu yang baru, beliau menanggapi dengan gurauan dan kita tidak tahu maksudnya”.
Kemunculan UNIO KAS ternyata menjadi embrio untuk UNIO INDONESIA yangmengadakan musyawarah Nasional pertama UNIO INDONESIA di Jakarta tahun 1983.Keterlibatan Mgr. V. Kartasiswaja dan Mgr. Blasius Pujaraharja di UNIO KAS dengansuka duka pembentukan dan geliat awalnya, juga menjadi bidan bagi kemunculan UNIOINDONESIA sebagai federasi dari Unio Keuskupan-Keuskupan se Indonesia. Sepantasnyakita bersyukur untuk tangan-tangan kasih yang dikirim Allah untuk mempersatukan persaudaraan imami bagi kita para imam Diosesan di masing-masing Keuskupan dan diIndonesia pada umumnya.Sub judul tulisan ini memakai kata “EXODUS”, untuk memberi gambaran bagaimana kita para Imam Diosesan KAS melalui para pendahulu dan dalam perjalanan berikut melewati masa-masa awal yang tidak mudah untuk memberi makna pada ke-Projo-an. Masa perang itu telah membentuk hakekat dan kiprah para Rama Praja. Sedangkan proses berikut sebetulnya lebih mudah namun tetap khas ketika kita para Imam tamatanSeminari Tinggi Santo Paulus di Kentungan mulai ‘menunjukkan’ kualitasnya. Danselanjutnya kita bisa merasakan perhatian yang sangat besar dari Bapak KardinalDarmajuwana dan Mgr. Ignatius Suharyo serta Mgr Yohanes Pujasumarta yang juga imamdiosesan dan sangat perhatian dengan imam-imam diosesannya.Dinamika para Imam Diosesan KAS sangat jelas memberi warna untuk menghayatikehidupan menggereja di KAS. Sekarang ini ketika jumlah Imam diosesan KAS sudah 196(tahbisan terakhir 29 Juni 2010), kita diundang untuk memberi gambaran bagi Citra Imamdalam dunia global. Kita diundang untuk membawa dan mengalami EXODUS baru dalam
 sense of urgency
”, memiliki kepekaan akan sesuatu yang mendesak dan perlu kita buat di jaman ini, baik bagi keberpihakan Gereja maupun kiprah di tengah masyarakat. Bagi kita, pengalaman Umat Allah Perjanjian Lama yang dituntun oleh Allah memasuki tanahterjanji, juga bisa menjadi pengalaman nyata kita untuk menikmati kebahagiaan sebagai bagian dari gereja lokal KAS. Saat inipun di zaman global ini, kita diundang membuatEXODUS yang baru sebagai imam-imam Diosesan yang sudah berpesta emas. Semoga tuatidak berarti uzur atau renta dan penuh erangan kesakitan, namun justru makin mantabdalam kiprah dan keberpihakan pada korban. Mgr. Suharyo tetap mengirim dan
 
menugaskan imam-imam kita untuk menjadi misionaris domestik dengan melayaniKeuskupan Agung Medan, Puwokerto, Manukwari-Sorong, Tanjungselor, dan Malang.Beberapa imam juga pernah ditugaskan ke luar negeri, bukan untuk studi tetapi jugasebagai misionaris seperti di Suriname dan California – USA dan saat ini satu orangsebagai misionaris di Keuskupan Los Angeles – USA. Beberapa rekan imam masih tetapmelayani dan menjalankan tugas di Keuskupan Agung Jakarta untuk bertuga di KWImaupun di Binrohkat TNI/Polri. Bahkan Mgr. Suharyo sendiri harus taat kepada Bapa Suciuntuk exodus ke Jakarta menjadi uskup Metropolit Jakarta. Demikian juga Mgr. J.Pujasumarta, setelah diangkat menjadi Uskup Bandung di tatar Sunda, akhirnya haruskembali lagi untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam di Keuskupan Agung Semarang.Pengalaman exodus pada jaman global ini.Terbentuknya wadah persaudaraan diantara para Imam Diosesan KAS merupakankebutuhan bagi para Imam Diosesan KAS yang ingin menghayati kehangatan persaudaraandan kebersamaan dalam imamat. Perkembangan Imam Diosesan KAS cukup pesat kalaudirunut dari sejak berdirinya Seminari Agung Santo Paulus di Yogyakarta (1936) oleh Mgr.Petrus Willekens SJ - selaku Vikaris Apostolik Batavia. Seminari Agung ini didirikansebagai Seminari Tinggi yang pertama di Indonesia, untuk pendidikan calon ImamDiosesan di Indonesia. Tanggal 26 Juli 1942, Mgr. Albertus Soegijopranoto SJ, VikarisApostolik Semarang mentahbiskan imam lulusan pertama dari Seminari Agung SantoPaulus Yogyakarta. Mereka yang ditahbiskan adalah: Rm. Purwadihardja (untuSemarang), Rm. H. Voogdt (untuk Padang), Rm. Simon Lengkong dan Rm. WenceslausLengkong (keduanya untuk Manado).Sebutan untuk Imam Diosesan pada awalnya juga mengalami pelbagai perdebatan.Ada yang mengusulkan
 Rama werel 
atau
 Rama kiwipro
, artinya Rama jagadan (kesaksianRama Sandiwan Brata dalam kenangan 40 tahun Seminari Tinggi St. Paulus). Sebutan lainadalah Romo Projo atau Rama Praja, untuk menunjukkan wilayah setempat darikeberadaan Romo itu. Bandingkan dengan istilah “Pamong Praja”. Akhirnya dipakai istilahImam Diosesan untuk menunjukkan bahwa imam tersebut adalah milik keuskupan(“Diosis”) tertentu. Umat pada waktu itu secara spontan segera menyebut
Rama Muda
untuk mereka yang belum ditahbiskan dan
Rama Praja
untuk mereka yang telah menjadiimam.
Perkembangan Imam Diosesan KAS dari tahun ke tahun
 Embrio UNIO KAS adalah kegigihan Imam-imam pribumi sepuluh tahun pertama pada masa kegembalaan Mgr. Alb. Soegijopranoto SJ.
ita bisa mengenang sepuluh tahun pertama untuk Imam Diosesan KAS yang memberiwajah kepada Imamat kita sebagai Citra Imam Diosesan yakni 18 imam yang hebat.Kedelapanbelas imam Diosesan pada 10 tahun pertama Imam Diosesan di KASmenunjukkan keterpikatan mereka dengan KAS dengan segala situasi yang melingkungi.Kegigihan mereka untuk menunjukkan citra imam Diosesan diungkapkan oleh Rama J.Harsasusanta Pr. Beliau menulis dalam majalah Rama-Rama UNIO KAS “BERITA”,ketika usia 40 tahun Rama-Rama Praja KAS (Edisi Khsus, 26 Juli 1982). “Sejak SeminariMenengah masalah ini (Hidup dan Karya Imam Praja -
 Red 
) sudah menjadi perhatian saya.Makin lama masalah ini bagi saya menjadi makin kongkrit. Suatu masalah yang harus kita pecahkan bersama sebagai Romo Projo. Kita sendirilah sebagai Romo-Romo Projo yangdipersalahkan atau dipertanyakan oleh umat atau yang harus memberi jawaban dengan
modus vivendi
dan
modus operandi
yang tepat, sesuai panggilan kita, sesuai perkembanganGereja di wilayah kita ini, sesuai apa yang dikehendaki oleh Tuhan yang memanggil danmenjadikan kita sebagai imam-imam pelaksana karya penebusan-Nya langsung terhadapumat dan masyarakat pada umumnya, tanpa ikatan dan dukungan suatu tarekat. Kitalahyang harus memulai membuat tradisi yang baik, yang harus ditingkatkan oleh Romo-romoProjo di kemudian hari.”
Rama Harsa masih menulis beberapa hal, antara lain: “Keadaan darurat perangyang terjadi antara tahun 1952 hingga 1954 membuat para misionaris Eropa dimasukkandalam interniran. Dalam keadaan perang yang serba semrawut, Misi dicurigai sebagai milik dan usaha musuh oleh Jepang, maka karya Gereja sangat dipersukar. Pentahbisan Mgr.
 
Soegijopranoto sebagai Vikaris Apostolik Semarang (6 November 1940) menjelang pecahnya Perang Dunia II jelas sebagai “
 Divina Providentia
”. Dengan penuh keberanian berdasarkan kepercayaan yang tebal atas tuntunan dan berkat Tuhan, Mgr. Soegijomenugaskan Romo-Romo Projonya untuk mengambil oper pekerjaan Romo-RomoMisionaris yang diinternir, sampai ada yang ditugaskan sebagai Pro-Vikaris di Surabaya(Rm. Dwijasusanta dari tahun 1943 1947), tugas di Lampung (Rama JOH.Padmasepoetra, tahun 1947 1950) bahkan merintis berdirinya SMP dan SeminariMenengah Pringsewu –kemudian menjadi Seminari Palembang. Juga merintis RawatanRohani TNI – AD. Bahkan, Romo Hardjowasito yang baru enam bulan menjadi imam,ditugaskan sebagai Rektor Seminari Tinggi St. Paulus di Jogyakarta (Juli 1943 – September 1948)”. Romo Projo yang masih sangat muda dan ditahbiskan dengan previlegi keadaan perang, dengan 13 Rama Praja yang sudah ada, sudah dapat memberi rasa aman dan bangga bagi ‘wajah’ Imam Diosesan KAS. Rama Harsa bisa ‘mbonceng’ dalam laju perkembangan korps Rama-Rama Praja yang sejak 13 tahun lamanya telah dirintis oleh para pionier, dengan segala nama baik dan reputasi yang telah dicapai oleh para perintisawal. Sejak awal, Mgr. Soegijo sudah memberi kesempatan bagi Imam-Imamnya untuk menjadi
 Misionaris Domestik 
yaitu Misionaris di keuskupan tetangga, kendati KAS sendiritentu masih membutuhkan imam-imam itu. Semangat solidaritas dan membantu tempat lainyang kekurangan Imam menjadi semangat dasar yang sudah terbentuk sejak terbentuknyaVikariat Semarang. Setelah para Romo Misionaris keluar dari interniran dan bekerja lagi,sampai beberapa tahun kemudian para Romo Projo “
kesilep
” lagi dalam pandangan umatyang begitu menghargai dan mengagungkan para romo biarawan, sampai kita kadang-kadang dianggap sebagai Romo-Romo “kelas dua”.Patut kita sebut dan kita banggakan 18 Romo perintis Keprojoan di KAS (bacaBuku Kenangan 50 th KAS, Bernio: 1942-1992 Mengenang 10 th pertama ImamDiosesan):1.Rm. Aloysius Purwadi Purwodihardja2.Rm. Richardus Sandjaja3.Rm. Theodorus Hardjawasito4.Rm. Petrus Canisius Dwidjasusanta5.Rm. Ignatius Maria Harijadi6.Rm. Stanislaus Danuwidjaja7.Rm. J.O.H. Padmasepoetra8.Rm. Fredericus Kiswana9.Rm. Alexander Sandiwan Brata
10.Rm. Justinus Kardinal Darmajuwana
11.Rm. Aloysius Pudjohandojo12.Rm. Theophilus Pusposugondo13.Rm. Yoh. Fr. Regis Dibjadarmadja14.Rm. Christophorus Widjajasuparta15.Rm. Antonius Wignjamartaja16.Rm. Yosephus Sirdja Harsasusanta17.Rm. Nikolaus Tjiptaprawata18.Rm. R. Chang Peng Tu.
 Imam Diosesan KAS semasa Kardinal Yustinus Darmojuwono
inamika kehidupan Imam diosesan pada jamannya Rama Kardinal ditandai dengan berdirinya TOR (Tahun Orientasi Rohani) di Jangli Semarang untuk memberi masatenang, mengarahkan perhatian pada Yesus yang memanggil serta untuk mengikuti jejak- Nya dalam pembentukan pribadi calon imam yang utuh. Tanggal 3 Juli 1981 dibuka secararesmi TOR di Jangli 2, bertepatan pula dengan penerimaan surat pengunduran diri Bapak Kardinal sebagai Uskup di KAS dari Bapa Suci Yohanes Paulus II. Rama Kardinalmemulai dengan sosialisasi dan memimpin sendiri rekoleksi Rama-Rama Diosesan diSangkalputung untuk menjelaskan gagasan dasar beliau mendirikan TOR (ini juga untuk yang pertama di Indonesia). Rama H. Natasusila dipercaya menjadi Rektor bersama Rm.JCT. Tarunasayoga untuk mendampingi para Frater.
Bapak Kardinal pertama Indonesia
ini menyadari bahwa calon imam diosesan perlu dibekali dengan jurus dasar kemampuan
D

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->