You are on page 1of 18

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM MIKROBIOLOGI

No. Dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Maret 2008 00 1 dari 18

Nilai:
Diterima/diperbaiki

Tanggal Nama NIM Gol/Nomor Asisten

: 8 Mei 2012 : Dharmajati Puspaningtyas : 2010/301405/BI/8465 : Lab. Anhew/ : Isna Fauziah

Topik Praktikum: 5. Identifikasi mikrobia yang belum diketahui Acara Praktikum : A. Morfologi koloni bakteri B. Uji Sifat Biokimia C. Sifat Fisiologi: terhadap cekaman lingkungan Tujuan praktikum : Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari cara mengidentifikasi mikrobia yang belum dietahui, berdasarkan kenampakan morfologi koloni, sifat biokimia, dan sifat fisiologisnya. Hasil Pengamatan: Kultur Bakteri: Escherichia coli (EC), Bacillus subtilis (BS), pada Nutrien Cair (NC), Nutrien Agar (NA) tegak, Nutrien agar miring (NAM), Bakteri Isolat Susu (IS) pada NA plate A.1. Morfologi Koloni Bakteri pada berbagai bentuk media:

b a c Kultur: Bakteri pada NA tegak a: Escherichia coli b: Isolat bakteri c: Bacillus subtilis

b a c Kultur: Bakteri pada Ncair a: Escherichia coli b: Isolat bakteri c: Bacillus subtilis

Kultur: Bakteri pada NAM a: Escherichia coli b: Isolat bakteri c: Bacillus subtilis

Keterangan gambar (Bandingkan dengan gambar standar) (tidak dilakukan dalam praktikum) Bentuk koloni pada medium agar miring;

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM MIKROBIOLOGI

No. Dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Maret 2008 00 2 dari 18

a. Escherichia coli : filiform b. Isolat Susu c. Bacillus subtilis: echinulate Bentuk koloni pada meduin agar tegak: a. Escherichia coli : bead b. Isolat Susu c. Bacillus subtilis : bead Bentuk koloni pada medium cair: a. Escherichia coli : berkumpul di permukaaan medium b. Isolat Susu c. Bacillus subtilis : tersebar merata, fakultatif anaerob, bead Keterangan Lain-lain: A.2 Morfologi koloni bakteri pada kultur plat BS IS EC

Kultur: Escherichia coli Pada NA dalam cawan petri

Kultur: Isolat susu Pada NA dalam cawan petri

Kultur: Bacillus subtilis Pada NA dalam cawan petri

Keterangan Gambar (bandingkan dengan gambar standar): Bentuk koloni Escherichia coli pada medium agar plate: a. Warna koloni: putih d. Bentuk koloni: circular b. Tepi koloni: undulate e. Struktur dalam koloni: halus c. Konsistensi: moderate f. Elevasi: convex Bentuk koloni Bacillus subtilis pada medium agar plate: (irregular) a. Warna koloni: putih e. Struktur dalam koloni: padat b. Tepi koloni: dull (curled) f. Konsistensi: moderate c. Elevasi: raised g. Permukaan: kasar tak berlendir d. Bentuk koloni: wrinkled Bentuk koloni Isolat susu asam pasa medium agar plate: a. Warna koloni: putih kekuningan d. Bentuk koloni: irregular b. Tepi koloni: entire e. Struktur dalam koloni: padat c. Konsistensi: moderate

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM MIKROBIOLOGI

No. Dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Maret 2008 00 3 dari 18

B. Uji sifat Biokimia Bakteri No . 1. Reaksi perubahan Warna B. Tdk diket Kontrol subtilis +
(kuning,ada gas)

Media Assimilasi/Fermentasi Glukosa cair Glukosa agar Fruktosa cair Fruktosa agar

E. coli +
(kuning,ada gas)

Keteranga n

+
(orange, tak ada gas)

(merah)

+
(kuning)

+
(kuning)

+
(kuning)

(hijau)

+
(kuning, ada gas)

(Merah)

+
(kuning, ada gas)

(Merah)

+
(kuning kehijauan)

+
(kuning)

+
(kuning kehijauan)

(hijau)

Laktosa cair

+
(kuning, ada gelembung)

+
(kuning, ada gelembung)

(merah, tak ada gelembung)

(merah, tak ada gelembung)

Laktosa agar 2. Protein BCPM Fermentasi Peptonisasi Reduksi nitrat Nitrat cair 4. Pembentukan Indol

+
(kuning)

+
(kuning)

+
(kuning kehijauan)

(hijau)

+ + + (orange) +

+ + + (merah)

+ + (kuning)

+ + (kuning)

3.

Kasein Hidrolisat/Tripton cair

(Endapan putih, warna medium kuning, ada cincin merah)

(Kuning, taka da cincin merah)

(Kuning, taka da cincin merah)

(kuning, cincin putih)

5. 6.

Katalase Nutrien cair Amilase Pati agar


(tak berubah warna)

(tak berubah warna)

(tak berubah warna)

(tak berubah warna)


Semua respon negatif

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM MIKROBIOLOGI

No. Dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Maret 2008 00 4 dari 18

Keterangan: : tidak ada pertumbuhan + :tumbuh sangat tipis ++ : tumbuh sedang +++ : tumbuh dan membentuk gas C. Sifat Fisiologi: Terhadap cekaman lingkungan No . 1. Pertumbuhan Isolat B. subtilis susu Tidak dilakukan

Perlakuan Penagruh temperatur T= 00C T= 300C T= 370C T= 550C Hasil 0 C setelah diinkunbasi pada suhu kamar Hasil 550C setelah diinkunbasi pada suhu kamar
0

E. coli Tidak dilakukan

Kontrol
Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Keteranga n

Tidak dilakukan

+ -

+++ -

++ -

Gambar terlampir

Tidak dilakukan

Gambar terlampir

2.

Pengaruh sinar UV Lama penyinaran 30detik

Tidak dilakukan

Ada

3.

Pengaruh daya Oligodinamik


Tidak dilakukan pengukuran diameter hambatan karena hampir tidak ada zona hambatan pada semua pertumbuhan

Logam Perunggu

++

+++

Tidak dilakukan

4.

Senyawa kimia (desinfektan) Fenol 5% Alkohol Jod 10% Merkurokrom 3% ++ +++ ++ 3.9cm

+++ ++ +
3.7cm

++
2.6 cm

Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan

+
2.3 cm

++
1.4cm

7.1cm

7.3cm

Keterangan: ++

: tidak ada pertumbuhan + :tumbuh sangat tipis : tumbuh sedang +++ : tumbuh sangat tebal

Perhitungan luas hambatan:

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM MIKROBIOLOGI

No. Dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Maret 2008 00 5 dari 18

Diameter Isolat susu: a. Merkurokrom 3.1+1.7+2.5= 7.3 b. Iodine 1.4 c. Phenol 1.2 + 1.4= 2.6 d. Alkohol 1.1 + 1.2= 2.3 Diameter Bacillus subtilis: a. Merkurokrom 2.3+2.5+2.3 = 7.1 b. Iodine 1.2 + 1.2 + 1.3= 3.7 c. Phenol d. Alkohol Diameter Escherichia coli: a. Merkurokrom1.4+1.2+1.3= 3.9 b. Iodine c. Phenol d. Alkohol Luas Hambatan IS lebih besar daripada BS, BS lebih besar dari pada EC. (IS>BS>EC) Pembahasan: A. Morfologi koloni Bakteri Bentuk koloni bakteri menujukkan morfologi yang khas pada tiap kelompok atau spesies yang membedakan dengan kelompok atau spesies lainnya. Pengamatan morfologi dapat dilakukan pada medium agar tegak, medium agar miring, dan medium kultur plat. Bentuk pertumbuhan pada agar tegak dapat diamati dengan melihat bentuk koloni, antara lain adalah: echinulate, filiform, effuse, beaded, spreading, plumose, dan rhizoid. Sedangkan bentuk pertumbuhan pada bekas tusukan atau goresan di medium agar tegak antara lain : filiform, echinulate, beaded, villous, rhizoid, spreading, arborescent, dan plimose. Apabila dilihat berdasarkan kebutuhan terhadap O2, dapat dibedakan atas aerob, mikroaerofilik, fakultatif anaerob, dan aerob. Pada kultur plat, morfologi bakteri dapat diamati dari segi ukuran, warna, bentuk, elevasi, permukaan, dan tepinya. Ukuran koloni dapat dibedakan atas small, moderate, dan large. Bentuk dapat dibedakan atas circular, irregular, spindle, filamentous, dan rhizoid. Elevasinya dapat berbentuk flat, effuse, raised, umbonate, convex, atau low convex. Kenampakan kilat dari suatu koloni juga akan berbeda yaitu halus mengkilap, kasar, berkerut, dan kering seperti bubuk. Untuk topografinya dapat berbentuk licin, tidak teratur, permukaan bergelombang, contoured, wringkled, dan verrucose. Koloni dapat berwarna merah, kuning, hijau, coklat, dan fuorescent. Ciri-ciri koloni optic dapat berupa opaque, translucent, opalescent, dan iridescent. Pada pengamatan morfologi koloni bakteri, tidak dilakukan pengamatan pada medium agar tegak dan agar miring menggunakan teknik tusukan. Pengamatan dilakukan pada medium kultur plate dengan teknik goresan (streak plate) dan teknik tuang (pour plate). Pada medium NA kultur plate,

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM MIKROBIOLOGI

No. Dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Maret 2008 00 6 dari 18

bakteri E. coli menunjukkan ciri-ciri morfologi sebagai berikut: warna koloni putih, dengan ukuran sedang, bentuk circuler, elevasi convex, struktur permukaan koloni halus mengkilap, dengan tepinya bergelombang (undulate). Pada medium NA, kultur plate, bakteri B. subtilis menunjukkan ciri-ciri morfologi sebagai berikut: warna koloni putih, ukuran sedang, dengan tepi koloni tumpul/lobate, elevasi raised, bentuk koloni irregular, struktur koloni padat dan permukaan kasar tak berlendir. Pada medium NA, kultur plate, isolate susu menunjukkan ciri-ciri morfologi sebagai berikut: koloni berwarna putih kekuninagan, ukuran sedang, dengan tepi entire, bentuk koloni irregular, struktur padat, dan permukaannya halus mengkilap. Baik E. coli, B. subtilis, maupun Isolat susu tumbuh baik pada permukaan medium plate. Hal ini menunjukkan bahwa ke-3 bakteri tersebut toleran terhadap oksigen. Dapat merupakan bakteri aerob maupun fakultatif anaerob. B. Sifat Biokimia Bakteri Sifat fisiologi dan kimia suatu jenis bakteri diperlukan untuk identifikaasi. Pengujian sifat biokimia dari suatu mikrobia meliputi semua aktivitas yang dapat menyebabkan antara lain: perubahan-perubahan karbohidrat, hidrolisis lemak, peruraian protein, reduksi bermacam-macam unsur, pembentukan pigmen, dan pengujian sifat biokimia khusus lainnya. Dalam pengujian sifat biokimia dilakukan uji biokimia dengan fermentasi karbohidrat, Peptonisasi dan fermentasi susu, Reduksi Nitrat, Pembentukan Indol, dan Hidrolisis pati. Pada percobaan fermentasi karbohidrat digunakan tiga jenis karbohidrat yaitu glukosa, laktosa dan fruktosa. Pada masingmasing karbohidrat dikondisikan dalam dua media yaitu padat dan cair. Pada media padat digunakan indikator pH berupa Brom Thymol Blue (BTB), sedangkan pada media cair digunakan indikator pH berupa fenol merah. Terjadinya proses fermentasi akan mengubah warna BTB dari hijau menjadi kuning dan pada fenol merah akan berubah dari merah menjadi kuning. Dari hasil yang diperoleh, diketahui bahwa bakteri E. coli, B. subtilis, dan Isolat susu menunjukkan hasil yang positif pada fermentasi glukosa padat, glukosa cair, fruktosa padat, dan laktosa padat. Hal ini ditandai dengan berubahnya warna medium glukosa dari hijau untuk medium padat dan merah untuk medium cair menjadi kuning. Perubahan warna ini menunjukkan adanya perubahan derajat keasaman medium dari basa menjadi asam. Hal ini sesuai dengan teori, dimana dalam kondisi anaerob, glukosa akan difermentasi oleh bakteri E. coli dan B. subtilis. Dalam hal ini glukosa yang merupakan monosakarida dirombak menjadi glukosa-6-phospat oleh enzim heksokinase yang dihasilkan oleh kedua bakteri uji. Pada medium fruktosa cair, B. subtilis menunjukkan hasil yang negative, sedangkan E. coli dan Isolat susu menunjukkan hasil yang positif. Sedangkan pada medium fruktosa padat, bakteri E. coli, B. subtilis, dan Isolat susu menunjukkan hasil yang positif. E. coli dapat memfermentasikan gula reduksi seperti fruktosa. Sedangkan B. subtilis tidak dapat memfermentasikan

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM MIKROBIOLOGI

No. Dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Maret 2008 00 7 dari 18

fruktosa. Adanya hasil positif pada media fruktosa cair oleh B. subtilis, kemungkinan disebabkan terjadinya kontaminasi bakteri lain yang dapat memfermentasikan fruktosa. Pada medium laktosa cair, Isolat susu menunjukkan hasil yang negative, sedangkan E. coli dan B. subtilis menunjukkan hasil yang positif. Sedangkan pada laktosa padat, bakteri E. coli, B. subtilis, dan Isolat susu menunjukkan hasil yang positif. Fermentasi laktosa dapt terjadi karena adanya enzim -galaktosidase yang dapat memecah laktosa menjadi galaktosa dan glukosa. Menurut teori E. coli dapat menghasilkan enzim tersebut sementara B. subtilis tidak mempunyai kemampuan tersebut (Schlegel, 1994). Hasil tidak sesuai dengan teori dikarenakan B. subtilis menunjukkan hasil positif. Hal ini kemungkinan dikarenakan adanya kontaminan bakteri yang dapat memecah laktosa menjadi galaktosa. Pada isolate susu, menunjukkan hasil negative. Hal ini kemungkinan disebabkan karana bakteri yang tumbuh pada isolate susu tidak mampu memecah laktosa menjadi galaktosa, sehingga tidak terjadi fermentasi. B.subtillis mampu memfermentasikan glukosa dan sukrosa. Sedangkan laktosa tidak dapat difermentasi oleh bakteri ini. E. coli dapat memfermentasi glukosa, sukrosa dan laktosa. Fermentasi oleh bakteri dapat terganggu oleh beberapa faktor penghambat yang menyebabkan enzim penghidrolisa karbohidrat tidak dapat bekerja. Faktor-faktor tersebut tersebut meliputi: 1. Suhu yang tidak sesuai 2. Konsentrasi yang tidak mencukupi 3. Reseptor enzim yang tidak aktif Dalam fermentasi protein, digunakan medium Bromo Cresol Purple Milk (BCPM). Media BCPM digunakan sebagai sumber protein kasein dalam susu serta gula susu untuk pertumbuhan bakteri. Media BCPM merupakan media yang mengandung Brom kresol ungu yang berfungsi sebagai indicator. Brom kresol ungu memiliki rentang pH diantara 5.2-6.8 dengan perubahan warna basa ke asam adalah ungu menjadi kuning. Pada Hasil , menunjukkan bahwa Bakteri E. coli,Isolat susu, dan B. subtilis menunjukkan hasil yang positif. Fermentasi pada E. coli dan B. subtilis ditandai dengan adanya perubahan warna menjadi kuning (asam). Sedangkan pada Isolat susu, dan E. coli mengalami peptonisasi dengan ditandai adanya perubahan warna menjadi ungu. E. coli dapat menghasilkan enzim -galaktosidase yang dapat menghidrolisis laktosa menjadi galaktosa dan glukosa (Schlegel, 1994). Reaksi ini dimulai ketika E. coli memecah laktosa dengan bantuan enzim galaktosidase. Pemecahan laktosa menghasilkan asam organik, alkohol dan

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM MIKROBIOLOGI

No. Dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Maret 2008 00 8 dari 18

gas. Asam tersebut akan menurunkan pH larutan, keadaan ini ditunjukkan dengan berubahnya warna larutan menjadi kuning. Hal tersebut sesuai dengan teori dan sifat BCPM yaitu akan berwarna kuning dalam suasana asam. Dengan menurunnya pH larutan, asam-asam amino pada kasein akan mencapai titik isoelektris sehingga terbentuk endapan. Asam-asam organik akan terus diproduksi hingga asam tersebut mengganggu aktifitas bakteri itu sendiri. Pada hasil akhir, bakteri akan mati oleh kandungan asam yang berlebihan tersebut sehingga peoses fermentasi berhenti. Namun pada tabung ke 2, EC tidak sesuai dengan teori karena terbentuk warna ungu, karena E. coli tidak dapat merombak protein menjadi pepton dan parakasein. B. subtilis merombak protein (kasein) menjadi parakasein dan peptonpepton terlarut. Parakasein bereaksi dengan garam-garam kalsium membentuk endapan kalsium parakaseinat (Muchtadi & Srilaksmi, 1981). Hasil proses ini menyebabkan pH lingkungan menjadi basa, hal tersebut ditandai dengan berubahnya warna BCPM menjadi ungu karena BCPM akan berwarna ungu pada kondisi basa. Terjadinya warna yang semakin keatas semakin jernih disebabkan oleh mengendapnya hasil peptonisasi. Zat yang mempunyai berat jenis paling tinggi akan mengikat warna ungu tersebut lebih banyak dan akan berada pada dasar tabung. Terjadinya peptonisasi dan tidak terjadinya fermentasi oleh B. subtillis. B. subtillis tidak dapat menghasilkan enzim -galaktosidase. Hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan teori karena B. subtilis mengalami fermentasi. Hal ini kemungkinan dikarenakan terjadi kontaminasi bakteri lain, ataupun dikarenakan masa inkubasi yang terlalu lama, sehingga bakteri B. subtilis asli telah mati. Pada percobaan Reduksi nitrat, pada medium NA ditambahkan dengan indicator alpha naphtyl red yang mempunyai range pH 3.7-5.0, dengan perubahan warna merah menjadi kuning. hasil yang diperoleh adalah bakteri E. coli dan B. subtilis menunjukkan hasil yang positif dengan ditandai perubahan warna menjadi orange-merah. Sedangkan Isolat susu dan control menunjukkan hasil negative dengan warna kuning. Hal ini sesuai dengan teori karena bakteri E. coli dan B. subtilis, yang keduannya masuk dalam Enterobacteria memiliki ciri dapat mereduksi nitrat menjadi nitrit. Mekanismenya adalah sebagai berikut: NH4+ NO2- + NO3 NO2- NO3Gambar. Reaksi reduksi nitrat oleh Enterobacteria Mekanisme pembentukan indol dalam percobaan ini adalah sebagai berikut: 1. Bakteri B. subtilis dan E. coli menghidrolisis kasein menjadi asam amino triptofan dan senyawa organik lain. Selanjutnya ditambahkan eter ke dalam tabung reaksi. 2. Reagen eter akan bereaksi dengan triptofan dan membantu

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM MIKROBIOLOGI

No. Dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Maret 2008 00 9 dari 18

melepaskan gugus indol dari asam amino triptofan. Lapisan eter akan membentuk lapisan tidak berwarna di atas lapisan kasein berwarna kuning kental. Selanjutnya tabung digojog sampai merata agar pembentukan indol dapat berjalan lebih cepat. Kemudian dimasukkan reagen Erlich ke dalam tabung reaksi. 3. Reagen erlich akan berikatan dengan indol membentuk cincin warna merah diantara kasein dan eter. Menurut Prescott et.al (1999), cincin merah ini mengindikasikan terdegradasinya asam amino triptofan sehingga terbentuk cincin indol. Dari hasil, didapatkan bahwa bakteri E. coli menunjukkan hasil positif dengan terbentuknya endapan putih, dan adanya cincin merah pada medium yang berwarna kuning menandakan terbentuknya indol. Pada bakteri B. subtilis, isolate susu, dan control tidak menunjukkan adanya cincin merah, sehingga indol tidak terbentuk. Pada teori, diketahui bahwa B. subtilis dan E. coli dapat melakukan pembentukan indol, namun hasil yang didapat B. subtilis tidak membentuk cincin merah yang mengindikasikan terbentuknya indol. Hal ini kemungkinan terjadi karena penggojogan kurang homogen, terjadinya reaksi spontan dengan eter yang menyebabkan rusaknya zat. Amilase merupakan enzim yang penting dalam bidang pangan dan bioteknologi. Amilase merupakan enzim yang mengkatalisis reaksi hidrolisis pati menjadi gulagula sederhana. Amilase mengubah karbohidrat yang merupakan polisakarida menjadi maltosa (alfa dan beta) ataupun glukosa (gluko amilase). Bakteri penghasil enzim amylase, akan menghidrolisis pati menjadi gula-gula sederhana untuk proses metabolismenya. Gula-gula sederhana hasil hidrolisis pati dari bakteri tersebut apabila di uji dengan larutan JKJ akan menimbulkan warna bening. Sedangkan amilum yang belum dihidrolisis oleh bakteri akan membentuk warna biru. Sedangkan glikogen sebagai hasil antara hidrolisis amilum, akan membentuk warna merah kecoklatan. Dari hasil yang dilakukan, diperoleh pada E. coli, B. subtilis, Isolat susu, dan control tidak ditemukan adanya perubahan warna bening, biru, ataupun merah kecoklatan. Dilakukan pengujian pada luar koloni, namun juga tidak terdapat perubahan warna. Kemungkinan hal ini disebabkan karena JKJ yang dipakai telah lama dan kadaluarsa, sehingga tidak dapat bekerja dengan baik. Enzim amilase dapat dihasilkan oleh berbagai mikroba dimana salah satunya adalah bakteri Bacillus subtilis. Sehingga, seharusnya terdapat warna bening pada penetesan JKJ pada bakteri B. subtilis. C. Sifat Fisiologi; Terhadap cekaman lingkungan Mikrobia merupakan makhluk hidup yang rentan terhadap perubahan lingkungan. Mikrobia memerlukan lingkungan yang sesuai untuk dapat hidup dan tumbuh Faktor-faktor lingkungan seperti temperature, sinar UV, desinfektan, dan adanya logam berat sangatlah berpengaruh pada kehidupan

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM MIKROBIOLOGI

No. Dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Maret 2008 00 10 dari 18

mikrobia. Seperti organisme lain, bakteri mempunyai temperatur minimum, maksimim, dan optimum untuk pertumbuhan. suhu optimum adalah suhu dimana mikrobia dapat tumbuh sangat baik sehingga pertumbuhan bakeri atau mikrobia sangat cepat. Suhu minimum adalah suhu terendak mikrobia dapat tumbuh. Suhu maksimum adalah suhu tertinggi mikrobia masih dapt tumbuh. Di atas dan di bawah suhu tersebut mikrobia tidak tumbuh. Berdasarkan kisaran suhu mikrobia untuk dapat bertahan hidup, mikrobia dapat dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu psikrofilik, mesofilik dan termofilik. Bakteri psikrofilik merupakan bakteri yang dapat hidup pada kisaran suhu rendah (0o-30oC), bakteri mesofilik dapat bertahan hidup pada kisaran suhu kamar (20o-50oC) dan bakteri termofilik dapat bertahan hidup pada kisaran suhu tinggi dari 55C. Dalam percobaan ini, dilakukan uji temparatur pada bakteri untuk melihat kemampuan mikrobia bertahan pada cekaman suhu. Mikrobia yang diuji diinkubasikan dalam temperature 00C, 370C, dan 550C. Dari hasil yang diperoleh, Bakteri E. coli; Bakteri B. subtilis; dan Isolat susu tidak dapat tumbuh pada suhu 00C, dan 550C. Pada suhu 370C, Bakteri B. subtilis menunjukkan pertumbuhan paling lebat, Isolat susu tumbuh cukup lebat, dan Bakteri E. coli tumbuh sedikit. Menurut teori, Bakteri B. subtilis, adalah bakteri yang mampu hidup pada rantang suhu 100C-500C. sedangkan suhu optimum untuk dapat tumbuh berkisar antara 250C-350C. Bakteri E. coli dapat tumbuh pada rentang suhu 180C-450C. optimum pada suhu 35-450C, dan dapat bertahan hingga suhu 600C selama 60menit. Pada suhu 00C, emzim-enzim pertumbuhan pada bakteri akan inaktif, sehingga tidak terjadi pertumbuhan. Pada suhu 550C, enzim-enzim metabolism pada bakteri akan terdenaturasi, sehingga tidak terjadi pertumbuhan. Sehingga, hasil yang telah didapatkan sesuai. Bakteri pada isolate susu merupakan bakteri mesofilik, bukan psikrofilik ataupun thermofilik. UV bersifat germisida terhadap bakteri. Sinar UV dapat mengionisasi berbagai senyawa penyusun materi genetik yang dapat berakibat pada mutasi gen. Selain itu sinar UV juga dapat merusak zat yang dihasilkan mikrobia dan media kulturnya. Penggunaan alumunium foil pada percobaan ini bertujan untuk melindungi bakteri dari cekaman sinar UV, sehingga bakteri dapat tumbuh dibawah naungan alumunium foil. Namun, dari hasil yang didapatkan pada isolat B. subtilis, dan E. coli tidak menunjukkan adanya pertumbuhan bakteri dibawah naungan alumunium foil. Pada isolat susu, hanya sedikit sekali yang dapat tumbuh di balik alumunium foil. Pertumbuhan bakteri ditemukan berada dissekeliling alumunium foil, dan menumpuk di pinggir allumunium foil. Anomali ini kemungkinan terjadi karena adanya mutasi genetik pada bakteri yang mengakibatkan bakteri resisten terhadap sinar UV. Selain itu, kemungkinan

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM MIKROBIOLOGI

No. Dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Maret 2008 00 11 dari 18

disebabkan oleh alumunium foil tersebut yang berbalik bersifat toksik dan meracuni bakteri tersebut. Daya oligodinamik adalah daya pengaruh logam terhadap mikrobia, yang dapat merusak sel dan membunuh bakteri. Daya oligodinamik dipengaruhi oleh konsentrasi logam berat yang berinteraksi dengan Mikrobia. Dalam praktikum ini, digunakan uang logam yang terbuat dari alumunium untuk melihat pengaruh alumunium tersebut dalam mempengaruhi pertumbuhan bakteri. Dari hasil, diperoleh bahwa uang logam tersebut tidak menghambat pertumbuhan bakteri, bahkan tidak menimbulkan zona hambat. Pertumbuhan koloni B. subtilis adalah yang paling lebat. Kemudian pertumbuhan E. coli, dan yang kurang lebat adalah pertumbuhan isolat susu. Dari hal ini dapat diketahui apabila B. subtilis paling resisten terhadap alumunium bila dibandingkan dengan E. coli dan Isolat susu. Hal ini dikarenakan konsentrasi alumuniumnya belumcukup tinggi atau terlalu rendah daya oligodinamiknya. Semakin tinggi konsentrasi logam berat yang dibutuhkan untuk merusak mikrobia, semakin rendah daya oligodinamiknya. Senyawa kimia Desinfektan, merupakan senyawa kimia anti mikrobia yang dapat menghambat pertumbuhan mikrobia, ataupun membunuh mikrobia tersebut. Dalam percobaan ini, dilakukan pengujian senyawa kimia menggunakan Fenol 5%, Alkohol 69%, Jod 10%, dan merkurokrom 3%. Dari hasil, didapatkan Isolat susu memiliki zona hambat terluas, kemudian B. subtilis, dan terakhir E. coli. Hal ini menunjukkan bahwa Isolat susu mengandung mikroorganisme yang tidak resisten terhadap senyawa kimia. Sedangkan E. coli lebih resisten terhadap pangaruh senyawa kimia. Senyawa senyawa kimia yang paling menghambat pertumbuhan bakteri adalah Merkurokrom 3%. Merkurokrom memiliki kandungan Hg. Hg2+ bersifat korosif dan akan berikatan dengan enzim sulfihidril. Enzim sulfhidril berperan dalam proses metabolisme mikrobia. Pengikatan gugus sulfhidril oleh Hg2+ akan menyebabkan enzim yang mengandung gugus sulfhidril inaktif dan proses metabolisme menjadi terganggu yang dapat menyebabkan kematian mikrobia. Merkurokrom menghambat pertumbuhan E. coli, B. subtilis, dan Isolat susu secara berturut-turut sebesar 3.9cm; 7.1cm; dan 7.3cm. Iodine 10% adalah senyawa kimia kedua yang menghambat pertumbuhan mikrobia. Didalam air, Iod akan terionisaasi menjadi I . Selanjutnya I akan berikatan dengan ikatan rangkap dari lipid bilayer membran sel yang dapat menyebabkan membran sel tidak elastis/ viskositasnya berkurang. Hal ini berakibat pada pecahnya sel, dan kematian mikrobia. Iodine menghambat pertumbuhan B. subtilis sebesar 3.7cm, dan isolat susu sebesar 1.4cm. Senyawa kimia ketiga yang menghambat pertumbuhan mikrobia adalah Fenol. Fenol memiliki prinsip kerja yaitu mendehidrasi protein penyusun membran sel. Ini akan menyebabkan viskositas membran sel berkurang dan sel pecah. Selain itu, fenol juga dapat mendenaturasi protein. Daya dehidrasi

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM MIKROBIOLOGI

No. Dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Maret 2008 00 12 dari 18

fenol lebih efektif pada saat terdapat air. Fenol menghambat pertumbuhan Isolat susu dengan diameter sebsar 2.6cm. Pada konsentrasi 5%, fenol sulit untuk melarutkan lipopolisakarida pada bakteri gram negative, ataupun asam theichoat pada gram positif. Sehingga pertumbuhan bakteri tidak terhambat.

Alkohol merupakan senyawa kimia ke-empat yang menghambat pertumbuhan mikrobia. Alkohol memecah struktur lipid melalui penembusan ke dalam daerah hidrokarbon. Sebagai tambahan, pengaruhnya pada membran, alkohol dan pelarut organik lain dapat mendenaturasi protein seluler. Oleh karena itu membrane sel akan rusak dan enzim-enzim mengalami inaktivasi. Alkohol menghambat pertumbuhan Isolat susu sebesar 2.3cm. Alkohol seharusnya dapat menghambat pertumbuhan E. coli dan B. subtilis, karena alcohol dapat melarutkan lipopolisakarida pada bakteri gram negative. Namun, karena kadar alcohol yang digunakan kurang tinggi, maka tidak begitu menyebabkan kematian pada bakteri gram negative. Pembahasan keseluruhan Dalam identifikasi mikrobia yang belum diketahui, dapat ditentukan dngan pengamatan Morfologi koloni bakteri, Uji biokimia, dan uji sifat fisiologi terhadap cekaman lingkungan. Identifikasi Morfologi bakteri dalam plat agar ditentukan dengan melihat warna koloni, tepi koloni, konsistensi, bentuk koloni, elevasi, dan permukaan koloni. Pada medium NA kultur plate, bakteri E. coli menunjukkan ciri-ciri morfologi sebagai berikut: warna koloni putih, dengan ukuran sedang, bentuk circuler, elevasi convex, struktur permukaan koloni halus mengkilap, dengan tepinya bergelombang (undulate). Pada medium NA, kultur plate, bakteri B. subtilis menunjukkan ciri-ciri morfologi sebagai berikut: warna koloni putih, ukuran sedang, dengan tepi koloni tumpul/lobate, elevasi raised, bentuk koloni irregular, struktur koloni padat dan permukaan kasar tak berlendir. Pada medium NA, kultur plate, isolate susu menunjukkan ciri-ciri morfologi sebagai berikut: koloni berwarna putih kekuninagan, ukuran sedang, dengan tepi entire, bentuk koloni irregular, struktur padat, dan permukaannya halus mengkilap. Dalam uji biokimia, dapat dilakukan Uji fermentasi karbohidrat, Fermentasi dan peptonisasi protein, Reduksi Nitrat, Pembentukan Indol, dan Hidrolisis pati. Bakteri E. coli dapat melakukan fermentasi glukosa, fruktosa, laktosa, dan protein. Selain itu juga dapat mereduksi nitrat dan membentuk indol. Bakteri B. subtilis mampu memfermentasikan glukosa, peptonisasi protein, mereduksi nitrat, membentuk indol, dan menghidrolis pati. Isolate susu yang digunakan, diketahui mampu memfermentasikan glukosa, fruktosa, dan laktosa, serta mampu mempeptonisai protein. Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi sifat fisiologi bakteri antara lain adalah temperature, sinar UV, Logam berat, dan senyawa kimia Desinfektan. Bakteri E. coli, B. subtilis, dan Isolat susu dapat tumbuh pada suhu 370C. Sinar UV dapat membunuh bakteri dengan merusak sel, namun juga dapat menyebabkan bakteri mengalami mutasi dan menjadi resisten. Logam berat dengan daya oligodinamik tinggi dapat menyebabkan hambatan

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM MIKROBIOLOGI

No. Dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Maret 2008 00 13 dari 18

dalam pertumbuhan mikrobia. Alumunium memiliki daya oligodinamik yang rendah, sehingga tidak menimbulkan daya hambat bakteri. Senyawa kimia yang paling menghambat pertumbuhan bakteri adalah merkurokrom, kemudian JKJ, Fenol, dan alkohol. Isolat susu paling tidak resisten dengan senyawa kimia sedangkan E. coli cukup resisten terhadap senyawa kimia. Kesimpulan: Dalam identifikasi mikrobia yang belum diketahui, dapat ditentukan dngan pengamatan Morfologi koloni bakteri, Uji biokimia, dan uji sifat fisiologi terhadap cekaman lingkungan. Identifikasi Morfologi bakteri dalam plat agar ditentukan dengan melihat warna koloni, tepi koloni, konsistensi, bentuk koloni, elevasi, dan permukaan koloni. Dalam uji biokimia, dapat dilakukan dengan Uji kemampuan bakteri dalam melakukan fermentasi karbohidrat, Fermentasi dan peptonisasi protein, Reduksi Nitrat, Pembentukan Indol, dan Hidrolisis pati. Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi sifat fisiologi bakteri antara lain adalah temperature, sinar UV, Logam berat, dan senyawa kimia Desinfektan.

Telah diperiksa Mei 2012 Asisten

Yogyakarta, 8 Praktikan

Isna Fauziah Puspaningtyas

Dharmajati

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM MIKROBIOLOGI

No. Dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Maret 2008 00 14 dari 18

Lampiran B. Uji sifat biokimia Bakteri No Gambar . 1.

Keterangan No . Fermentasi 2. Glukosa Cair control (merah) E. coli (Kuning)

Gambar

Keterangan Fermentasi Glukosa cair control (merah) B. subtilis (Kuning)

3.

Fermentasi Glukosa cair control (merah) Isolat susu (orange)

4.

Fermentasi Glukosa Padat control (hijau) E. coli (Kuning)

5.

Fermentasi Glukosa Padat control (hijau) B. subtilis (Kuning)

6.

Fermentasi Glukosa Padat control (hijau) Isolat susu (Kuning)

7.

Fermentasi FruktosaCa ir control (merah) E. coli (kuning)

8.

Fermentasi FruktosaCa ir control (merah) B. subtilis (Merah)

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM MIKROBIOLOGI

No. Dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Maret 2008 00 15 dari 18

9.

Fermentasi FruktosaCa ir control (merah) Isolat susu (orange)

10 .

Fermentasi Laktosa Cair control (merah) E. coli (kuning)

11 .

Fermentasi 12 laktosa . Cair control (merah) B. subtilis (kuning)

Fermentasi Laktosa Cair control (merah) Isolat susu (merah)

13 .

Fermentasi Laktosa Padat control (hijau) E. coli (kuning)

14 .

Fermentasi laktosa padat control (hijau) B. subtilis (kuning)

15 .

Fermentasi Laktosa Padat control (hijau) Isolat susu (kuning kehijauan)

16 .

Fermentasi protein B. subtilis (kuning) control (putih)

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM MIKROBIOLOGI

No. Dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Maret 2008 00 16 dari 18

17 .

Fermentasi protein E. coli 1. (kuning) control (putih)

18 .

Peptonisasi protein E. coli 2. (ungu) control (putih)

19 .

Peptonisasi protein Isolat susu (ungu) control (putih)

20 .

Reduksi nitrat E. coli (orange) control (kuning)

21 .

Reduksi nitrat B. subtilis (merah) control (kuning)

22 .

Reduksi nitrat Isolat susu (kuning) control (kuning)

23 .

Pembentuk an indol E. coli (cincin merah) control (tak ada cincin merah)

24 .

Pembentuk an indol B. subtilis (tak ada cincin merah) control (tak ada cincin merah)

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM MIKROBIOLOGI

No. Dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Maret 2008 00 17 dari 18

25 .

Pembentuk an indol Isolat susu (tak ada cincin merah) control (tak ada cincin merah)

26 .

Hidrolisis pati E. coli

27 .

Hidrolisis pati B. subtilis

28 .

Hidrolisis pati Isolat susu

C. Sifat Fisiologi terhadap cekaman lingkungan. No Gambar Keterang No Gambar . an . 1. Hambata 2. n temperat ur 00C

Keterang an Hambata n temperat ur 370C

3.

Hambata n temperat ur 550C

4.

Hambata n sinar UV E. coli

BORANG LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM MIKROBIOLOGI

No. Dokumen Berlaku sejak Revisi Halaman

FO-UGM-BI-07-13 03 Maret 2008 00 18 dari 18

5.

Hambata n sinar UV B. subtilis

6.

Hambata n sinar UV Isolat susu

7.

Hambata n logam berat E. coli

8.

Hambata n logam berat B. subtilis

9.

Hambata n logam berat Isolat susu

10 .

Hambata n desinfekt an E. coli

11 .

Hambata n desinfekt an B. subtilis

12 .

Hambata n desinfekt an Isolat susu

You might also like