mulai kelebihan berat badan, bisa diturunkan dengan melakukan kegiatan berjalan kakitergopoh-gopoh itu secara rutin. Kelebihan gajih di bawah kulit akan dibakar bila rajinmelakukan kegiatan berjalan kaki cukup laju paling kurang satu jam.(5). Mencegah kencing manis. Ya, dengan membiasakan berjalan kaki melaju sekitar 6km per jam, waktu tempuh sekitar 50 menit, ternyata dapat menunda atau mencegah berkembangnya diabetes Tipe 2, khususnya pada mereka yang bertubuh gemuk (NationalInstitute of Diabetes and Gigesive & Kidney Diseases).Sebagaimana kita tahu bahwa kasus diabetes yang bisa diatasi tanpa perlu minum obat, bisa dilakukan dengan memilih gerak badan rutin berkala. Selama gula darah bisaterkontrol hanya dengan cara bergerak badan (brisk walking), obat tidak diperlukan. Itu berarti bahwa berjalan kaki tergopoh-gopoh sama manfaatnya dengan obat antidiabetes.(6). Mencegah osteoporosis. Betul. Dengan gerak badan dan berjalan kaki cepat, bukansaja otot-otot badan yang diperkokoh, melainkan tulang-belulang juga. Untuk metabolisme kalsium, bergerak badan diperlukan juga, selain butuh paparan cahayamatahari pagi. Tak cukup ekstra kalsium dan vitamin D saja untuk mencegah ataumemperlambat proses osteoporosis. Tubuh juga membutuhkan gerak badan danmemerlukan waktu paling kurang 15 menit terpapar matahari pagi agar terbebas dariancaman osteoporosis.Mereka yang melakukan gerak badan sejak muda, dan cukup mengonsumsi kalsium,sampai usia 70 tahun diperkirakan masih bisa terbebas dari ancaman pengeroposantulang.(7). Meredakan encok lutut. Lebih sepertiga orang usia lanjut di Amerika mengalamiencok lutut (osteoarthiris). Dengan membiasakan diri berjalan kaki cepat atau memilih berjalan di dalam kolam renang, keluhan nyeri encok lutut bisa mereda. Untuk merekayang mengidap encok lutut, kegiatan berjalan kaki perlu dilakukan berselang-seling, tidak setiap hari. Tujuannya untuk memberi kesempatan kepada sendi untuk memulihkan diri.Satu hal yang perlu diingat bagi pengidap encok tungkai atau kaki: jangan keliru memilihsepatu olahraga. Kita tahu, dengan semakin bertambahnya usia, ruang sendi semakinsempit, lapisan rawan sendi kian menipis, dan cairan ruang sendi sudah susut. Kondisisendi yang sudah seperti itu perlu dijaga dan dilindungi agar tidak mengalami goncanganyang berat oleh beban bobot tubuh, terlebih pada yang gemuk.Bila bantalan (sol) sepatu olahraganya kurang empuk, sepatu gagal berperan sebagai peredam goncangan (shock absorber). Itu berarti sendi tetap mengalami beban goncangan berat selama berjalan, apalagi bila berlari atau melompat. Hal ini yang memperburuk kondisi sendi, lalu mencetuskan serangan nyeri sendi atau menimbulkan penyakit sendi pada mereka yang berisiko terkena gangguan sendi.Munculnya nyeri sendi sehabis melakukan kegiatan berjalan kaki, bisa jadi lantarankeliru memilih jenis sepatu olahraga. Sepatu bermerek menentukan kualitas bantalannya,
Leave a Comment