Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
The Moon That Embraces the Sun

The Moon That Embraces the Sun

Ratings: (0)|Views: 18|Likes:
Published by amaria111

More info:

Published by: amaria111 on Sep 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/26/2013

pdf

text

original

 
The Moon That Embraces the Sun - Bab 1
 Pada suatu sore di musim gugur, Yi Hwon dan pengawal pribadinya, Woon, menemukanpohon besar sebagai tempat berteduh dari hujan yang sangat lebat. Hwon sedang menyamar,hanya mengenakan busana bangsawan biasa. Sementara penampilan Woon tak dapatdibantah, ia adalah seorang pendekar. Rambut panjangnya terikat rapi dengan kedua pedangpanjang tersampir di punggung dan pinggangnya.Kedua pria itu berada jauh dari desa terdekat, dan hujan sepertinya tak akan berhenti dalamwaktu dekat. Tiba-tiba Hwon melihat sebuah gubuk kecil di kaki gunung dan memutuskankalau mereka akan berteduh di tempat itu sampai hujan usai.Tanpa menunggu jawaban Woon, seperti kena sihir, Hwon berjalan cepat menuju rumah itu.Tak ada pilihan lain bagi Woon selain mengikutinya.Setibanya di depan gerbang, langkah Woon terhenti karena melihat ada sebilah tiang panjangmenancap di pintu gerbang. Woon menyarankan agar Hwon tak memasuki rumah itu, karenarumah itu didiami oleh seorang shaman.Namun tiba-tiba seorang wanita (yang nanti kita kenal dengan nama Seol) muncul danmembuka pintu.
“Tunjukkan siapa dirimu!”
 
“Aku tak tahu harus berkata apa. Dalam situasi seperti apa seorang tuan rumah harus
menunjukkan jati dirinya pada tamunya? Bukankah seharusnya aku yang harus menanyakan
hal itu?”
 
“Untuk apa seorang wanita memiliki sebuah pedang?”
 
“Mengagumkan. Bagaimana kau tahu kalau aku memiliki pedang? Seperti dugaan.. Oh!
Bukan itu maksudku. Ehm.. Tuanku Putri memintaku untuk mengundang kalian untuk 
masuk.”
 
“Aku tanya sekali lagi, mengapa kau harus memiliki pedang?” tanya Woon kembali.
 
“Di tempat terpencil seperti ini, dua orang wanita tinggal sendirian. Bukankah sudah
sewajarnya kami memiliki setidaknya sebuah pedang? Pertanyaan yang bodoh. Jadi, kalian
mau masuk atau tidak?”
 Walaupun Hwon ingin masuk, tapi ia tak dapat memaksakan kehendaknya karena Woon.Tapi sepertinya Seol sudah tahu kalau tamunya ragu-
ragu, maka iapun melanjutkan, “Tuanku
Putri berkata kalau para tamu pasti tak akan mau m
asuk, maka ia bertanya, „Apa bedanya jika
berteduh di bawah atap pintu masuk rumah seorang rendahan dengan berada di sebuah
ruangan yang hangat dan nyaman?”
 
 
Kata-kata itu menjadi alasan yang tepat bagi Hwon untuk memaksakan dirinya masuk kedalam rumah. Seol mengantar tamunya ke sebuah ruang kosong. Ruangan itu beraromawangi bunga anggrek dan di lantai terdapat sebuah meja kecil dengan minuman dan makanandi atasnya. Di samping meja, ada anglo yang menyapa hangat para tamu, seakan-akan merekamemang diharapkan datang. Namun selain itu, ruangan itu tak ada bedanya dengan ruanganbiasa, dan tak memiliki ciri-ciri yang menunjukkan kalau rumah itu dimiliki oleh seorangshaman. Bahkan ruangan itu malah mirip dengan ruangan seorang pria, seorang pelajar,karena di di rak buku terdapat banyak buku literatur (Konfusius) seperti Refleksi dari LimaKitab dan Pertanyaan pada Ajaran Agung.Mendengar wanita, yang dipanggil Tuanku Putri oleh Seol, memasuki ruang sebelah, Hwonkembali duduk di lantai. Ruang sebelah hanya dipisahkan oleh sebuah pembatas ruangansehingga Hwon hanya dapat melihat siluet anggun seorang wanita yang ada di depannya.Rambutnya terkepang dan diikat dengan sebuah daengi (pita), menunjukkan kalau wanita itubelum menikah.Dari ruang sebelah, wanita itu memberi hormat dengan membungkuk sekali padanya, namunia kemudian membungkuk lagi. Dalam tata cara tradisional, dua kali penghormatan berartimemberi hormat pada orang yang sudah meninggal. Hwon dan Won mengerutkan kening, tak suka dengan tindakan wanita itu yang kurang ajar.Tapi kemudian wanita itu membungkuk lagi, membuat bingung kedua pria yang ada dihadapannya (Tiga kali penghormatan berartimemberi hormat pada Budha). Dan betapa terkejutnya Hwon dan Won karena wanita itumembungkuk sekali lagi, penghormatan yang ditujukan pada seorang raja. Setelahpenghormatan yang terakhir, wanita itu menempelkan keningnya ke atas lantai, danmembungkukkan tubuhnya serendah mungkin.
“Angkat wajahmu.”
 Wanita itu perlahan-lahan mengangkat badannya, dan dengan lembut menangkupkan keduatangan di atas lutut kirinya. Hwon masih belum dapat melihat jelas wajah wanita itu. Iabertanya pa
da wanita itu, mengapa ia memberi empat kali penghormatan padanya. “Apakahkau tak dapat menghitung?”
 
“Saya hanya ingin memberi penghormatan yang selayaknya pada matahari.”
 Mendengar suaranya yang indah, Hwon sesaat kehilangan kata-kata.
“Apa yang kau maksud dengan matahari? Bagi seorang wanita, matahari adalah suami.”
 
“Seorang wanita juga rakyat Joseon.”
Hwon tak dapat berucap lagi. Jelas wanita ini mengetahui kalau ia adalah seorang raja.Kemudian, wanita itu meminta Hwon untuk meminum minuman yang telah ia persiapkan.Hwon jadi semakin ingin tahu wajah wanita itu dan memintanya untuk memperlihatkanwajahnya. Tapi ketika wanita itu tak menjawab, malah tetap mempersilakan Hwon untuk minum, Hwon memerintahkan Woon untuk memindahkan pembatas itu. Dengan sekali tebas,pembatas yang memisahkan ruangan mereka terjatuh ke lantai. Dan seakan-akan pedangtajam Woon juga membelah awan hujan di langit, cahaya bulan tertumpah sehinggamemenuhi ruangan.
 
 Sekali lagi Hwon terkesima akan kecantikan wanita itu yang sangat mempesona, tapi ia
menutupinya dengan kemarahan.“Tak peduli seberapa rendah tamu yang datang, adalah
kewajiban tuan rumah untuk memperlihatkan diri dan menyambut saat tamu memasuki
rumah. Mengapa kau tak mematuhi perintahku?”
 
“Walaupun status sosia
l saya adalah terendah dari yang rendah, berdasarkan takdir langit,saya adalah seorang wanita. Saya gagal melaksanakan kewajiban saya sebagai tuan rumahkarena saya melaksanakan kewajiban saya sebagai seorang wanita (yaitu menjaga jarak dengan pria).
“Kau mengikuti aturan itu walau kau bukan wanita bangsawan?”
 
“Saya tak pernah mendengar sebuah undang
-undang yang melarang seorang wanita rendahan
tak boleh mengikuti aturan para wanita bangsawan.”
 Hwon tertawa sembari meraih sebotol arak. Ia tak pernah menemui seorang wanita yang tak takut untuk mengungkapkan perasaannya dengan penuh rasa hormat tapi juga penuh percayadiri pada Raja. Hwon menuangkan minuman untuk Woon, tapi Woon tak melihat gelas itudan tetap menatap lantai, mengisyaratkan kalau ia tak dapat minum saat sedang bertugasmengawal raja.
Melihat hal ini, wanita itu berkata, “Betapa tak bertanggung jawab kau ini. Kau tak tahu siapa
aku dan minuman apa yang aku sajikan, dan kau malah menolak minuman itu? Apa kau
mengawal Raja hanya dengan pedangmu saja?”
 Mendengar kata-kata itu, Woon tak punya pilihan lain kecuali meminumnya. (Sepertikebiasaan minum di Korea) Ia menolehkan kepalanya ke samping, dan matanya bersirobok dengan mata wanita itu.Hwon ingin tahu bagaimana wanita itu bisa mengenalinya sebagai Raja.
“Hamba ingin bertanya pada Paduka. Jika sebuah matahari bersinar di langit malam, apakahitu sebuah matahari, atau sebuah bulan?”
 Hwon tak menjawab dan wanita itu pun melanjut
kan, “Matahari adalah matahari, dimanapunia berada. Begitu juga dengan Paduka.”
 
“Tapi tak seorang pun di desa mengenaliku. Jadi bagaimana kau bisa?”
 
Ketika wanita itu tak menjawab, Hwon bergumam pada dirinya sendiri, “Meja dan anglo ini
sudah dipersiapk 
an sebelumnya. Apakah aku dihantui oleh sebuah roh?”
 Setelah berpikir sejenak, wanita itu menjawab kalau ia mengenalinya dari pedang yangdibawa oleh Woon, karena Seol memiliki cukup banyak pengetahuan tentang pedang.
“Seol memiliki mata yang hebat. Dari kejauhan dan kegelapan, ia mampu melihat pedang
yang dibawa oleh pengawal Raja. Tidak, ia bahkan dapat mengetahui sebelum melihatnya.
Apakah aku sedang digoda oleh hantu?” Hwon tetap memandang wanita itu dan berkata,

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->