Ayat mulia ini merupakan nash tentang kewajiban shalat berjamaah. Dan dalamsurat An-Nisa' Allah berfirman yang artinya :
"Dan apabila kamu berada ditengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari merekaberdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serokaat), maka hendaklah mereka daribelakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan kedua yang belum shalat, lalu bershalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siagadan menyandang senjata."
(An Nisa' 102)Pada ayat diatas Allah mewajibkan shalat berjamaah bagi kaum muslimin dalamkeadaan perang. Bagaimana bila dalam keadaan damai?!. Telah disebutkan diatas bahwa
"..dan hendaklah datang segolongan kedua yang belum shalat, lalu bershalatlahbersamamu.".
Ini adalah dalil bahwa shalat berjamaah adalah fardhu 'ain, bukan fardukifayah, ataupun sunnah. Jika hukumnya fardhu kifayah, pastilah gugur kewajiban berjamaah bagi kelompok kedua karena penunaian kelompok pertama. Dan jikahukumnya adalah sunnah, pastilah alasan yang paling utama adalah karena takut.Dan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah r.a. berkata:
"Seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Ummu Maktum r.a. (yang buta matanya) datang kepada Nabi saw,
ia berkata:
"Wahai Rasulullah, aku mempunyai seorang penuntun yang kurang patuhkepadaku, sedang sepanjang jalan antara rumahku sampai masjid terdapat banyak pepohonan dan semak berduri. Apakah aku diijinkan shalat di rumahku?”
Maka Nabisaw. ganti bertanya,
“Apakah kamu mendengar adzan, wahai Abdullah?”
Abdullahmenjawab,
“Saya mendengar, ya Rasulullah!” “Kalau begitu sambutlah panggilan Allahuntuk shalat di masjid,”
Jawab Nabi saw
.
Pada suatu hari seusai mengimami shalat Ashar, Umar bin Khatab r.a.,menanyakan kabar sahabat yang tidak hadir berjama’ah. Seorang sahabat melaporkan,
“Kabarnya dia sakit, ya Amirul Mukminin!”.
Maka Umar r.a. menjenguk ke rumahnya.Setibanya di rumah segera mengetuk pintu. Dari dalam terdengar pertanyaan,
“Siapa yang mengetuk pintu?”
Dari luar Umar r.a. menjawab,
“Umar bin Khatab”.
Mengetahuiyang datang Amirul Mukminin maka ia segera membuka pintu. Sejurus ketika keduamata Umar r.a. menatap kedua mata sahabat tersebut maka Umar segera menegur,“
Kenapa engkau tidak shalat berjama’ah bersama kami, padahal Allah Ta’ala telahmemanggilmu dari atas langit ketujuh Hayya ‘alash shalaah akan tetapi kamu tidak menyahutnya! Sedangkan panggilan Umar sempat membuatmu gelisah dan ketakutan!”
Dari beberapa hadits-hadits diatas jelaslah betapa pentingnya shalat berjama’ahterlebih lagi dilakukan di masjid sebagai pemenuhan panggilan Allah swt.
4. Ancaman meninggalkan Shalat Berjamaah tanpa udzur
8
[Pesona Akhlak Rasulullah saw., hal.51]
9
[Pesona Akhlak Rasulullah saw., hal.52]
______________________________________________________________________________________ Date Created:
1/18/20093 of 7
Leave a Comment