Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pengobatan Farmakologis Pada Mitral Stenosis

Pengobatan Farmakologis Pada Mitral Stenosis

Ratings: (0)|Views: 53 |Likes:
Published by Ana Yunitasari

More info:

Published by: Ana Yunitasari on Oct 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/30/2012

pdf

text

original

 
Pengobatan Farmakologis pada Mitral Stenosis
Pengobatan farmakologis pada mitral stenosis hanya diberikan pada kondisidimana pasien mengalami gagal jantung, aritmia, profilaksis terhadap demam rheumaataupun pencegahan endokarditis infektif.1.
 
Pengobatan terhadap gagal jantungPengobatan terhadap gagal jantung terdiri dari beberapa aspek yaitumengurangi beban kerja jantung, memperkuat kontraktilitas miokard, mengurangikelebihan cairan dan garam, dan melakukan tindakan khusus untuk menghilangkan penyebab (misalnya intervensi bedah pada kasus mitral stenosis).Pilihan obat yang digunakan antara lain diuretic golongan tiazid seperti HCT,
loop diuretic
seperti furosemid atau diuretic
 potassium sparring
sepertispironolakton. Spironolakton kurang efektif dibanding diuretik lain, namun bisamemperkuat kerja diuretik lain (potensiasi). Vasodilator yang sering digunakanantara lain nitrat. Efek utama nitrat adalah dilatasi pembuluh darah sehinggamenyebabkan
 preload 
berkurang serta menurunkan tekanan
 pulmonary wedge pressure
dan tekanan pengisian ventrikel kiri. Nitrat juga memiliki efek antiangina. Beta blocker yang terbukti meningkatkan
ejection fraction
padakondisi gagal jantung antara lain bisoprolol, metoprolol, dan carvedilol. Suatustudi metaanalisis menunjukkan bahwa beta blocker menurunkan mortalitas padapasien gagal jantung berkorelasi dengan penurunan laju jantung. Studi lainmenunjukkan bahwa beta blocker meningkatkan kontraktilitas miokard karenamemperbaiki fungsi ryanodine reseptor (reseptor yang mengatur pengeluaran ionkalsium dari reticulum sarkoplasma.Pemakaian digitalis (misal digoxin) pada gagal jantung karena memiliki efek inotropik positif (meningkatkan kontraktilitas) dan kronotropik negative(menurunkan laju jantung). Dengan menurunkan laju jantung obat ini memberikesempatan ventrikel kiri mengadakan relaksasi dan pengisian darah yang efektif untuk kemudian dipompakan keluar.ACE inhibitor juga sering digunakan pada gagal jantung. Mekanisme kerjaACE inhibitor pada gagal jantung adalah bahwa obat golongan ini memiliki efek langsung pada jantung dalam mencegah remodeling miokard dan menghambat
 
perluasan kerusakan miokard. Selain itu obat ini juga memiliki efek lain sepertimenurunkan
after load 
, menurunkan aktivitas saraf simpatis, menurunkan sekresialdosteron (sehingga meningkatkan ekskresi natrium) dan menurunkan sekresivasopressin yang semuanya berguna untuk penderita gagal jantung kongestif.Pemberian ACE inhibitor sebagai monoterapi untuk gagal jantung biasanyakurang efektif, tetapi harus dikombinasikan dengan diuretic (bukan denganpotassium sparing diuretic karena kombinasi kedua obat ini mengakibatkanhiperkalemia).2.
 
Pengobatan terhadap aritmiaAritmia, berupa atrium fibrilasi, sering ditemukan pada penderita mitralstenosis dengan frekuensi 30-40%. Hal ini disebabkan oleh gangguanhemodinamik akibat hilangnya kontribusi atrium terhadap pengisian ventrikel kiriserta frekuensi ventrikel kiri yang cepat. Pada keadaan ini pemakaian digitalismerupakan indikasi, dapat dikombinasikan dengan beta blocker ataupun antagoniskalsium.Antikoagulan warfarin sebaiknya dipakai pada stenosis mitral denganfibrilasi atrium atau irama sinus dengan kecenderungan pembentukan thrombusuntuk mencegah fenomena tromboemboli.3.
 
Pengobatan profilaksis terhadap reaktivasi demam rheumaProfilaksis rheuma pada mitral stenosis harus diberikan sampai usia 25 tahun,walaupun sudah dilakukan intervensi. Bila sesudah umur 25 tahun masih terdapattanda-tanda reaktivasi, maka profilaksis diteruskan lagi sampai 5 tahun.4.
 
Pencegahan/pengobatan terhadap endokarditis infektif Pencegahan terhadap endokarditis infektif diberikan pada setiap tindakanoperatif yang memungkinkan terjadinya bakterimia misal pencabutan gigi.
 American Heart Association
(AHA) merekomendasikan pemberian amoksisilin 3gr secara oral pada 1 jam sebelum prosedur, diikuti 1,5 gr pada 6 jam setelah dosisinisial. Bila pasien alergi terhadap penisilin, dapat diberikan 800 mg klindamisinoral 1 jam sebelum prosedur, diikuti pemberian berikutnya 6 jam setelah dosis

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->