Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Perbandingan Mekanisme Pelaksanaan Putusan Peradilan Administrasi

Perbandingan Mekanisme Pelaksanaan Putusan Peradilan Administrasi

Ratings: (0)|Views: 331|Likes:
Published by Arif Maulana
Kondisi hukum di Indonesia yang seringkali tidak mematuhi putusan pengadilan Tata Usaha Negara berbeda dengan kondisi negara lain yang cenderung sudah mapan dalam praktek negara hukumnya.
Dalam studi perbandingan antara pengadilan administrasi di Prancis, Belanda, Belgia dan Luksemburg (Conseil D’Etat), Jerman (Bundesverwaltungsgericht), Yunani (Symvoulion Epikratias), Italia (Consiglio di Stato), Spanyol (Tribunal Supremo), Swiss (Tribunal Federal) dan Mahkamah Uni Eropa (European Union Court of Justice), Frank Esparraga mendapatkan salah satu kesimpulan bahwa pelaksanaan putusan pengadilan administrasi di negara-negara tersebut tidak mengalami kendala yang berarti, disebabkan pada umumnya otoritas publik melaksanakan putusan pengadilan “…however, it can be said that in the countries examined, public authorities generally apply the decisions of the courts”.
Kendati ketaatan pejabat publik terhadap putusan pengadilan terbilang tinggi, jarang putusan pengadilan tidak dipatuhi, namun jika otoritas yang terkait masih enggan melaksanakan putusan pengadilan, kerangka penyelesaian sengketa administrasi disana menawarkan beberapa prosedur agar putusan ditindaklanjuti oleh pihak yang terkait seperti pengenaan denda atau dimungkinkannya gugatan ganti rugi ke peradilan umum seperti di Prancis dan Belgia. Tidak berbeda jauh dengan negara yang mapan secara hukum administrasi tersebut, negara tetangga indonesia, Thailand bisa menjadi contoh yang baik mengenai mekanisme hukum yang diterapkan agar putusan pengadila tata usaha negara dapat dipatuhi oleh pihak terkait (Pemerintah). Di negara Thailand meskipun peradilan administrasi baru saja lahir kurang lebih 10 tahun yang lalu , jauh lebih baik daripada PTUN di Indonesia.
Peradilan TUN di Thailand secara prosedur berperkara, hanya terdiri dari dua tingkat pemeriksaan saja. MA Peradilan TUN di Thailand adalah MA tersendiri, terlepas dari MA peradilan umum, dan peradilan lain-lainnya. Sistem peradilan dua tingkat dan MA tersendiri ini, banyak dianut di berbagai negara, seperti Belanda dan Prancis. Pada umumnya negara-negara yang mengatur sistem tersebut di atas, mengalami kemajuan pesat dalam perkembangan Peradilan Administasi (PTUN) di negara-negara tersebut sangat maju, berwibawa dan disegani”.
Mengingat kelebihan dari peradilan tata usaha negara di negara Thailand penulis tertarik untuk membandingkan mekanisme pelaksanaan putusan peradilan tata usaha Indonesia dengan di Thailand. Harapannya dengan membandingkan mekanisme antara keduanya dapat diperoleh gambaran mengenai kelebihan dan kelemahan dari keduanya, selanjutnya dapat diperoleh manfaat dari perbandingan tersebut. Untuk kemudian dapat memberikan masukan bagi penyempurnaan konsep pengaturan mengenai pelaksanaan putusan tata usaha negara di Indonesia.
Kondisi hukum di Indonesia yang seringkali tidak mematuhi putusan pengadilan Tata Usaha Negara berbeda dengan kondisi negara lain yang cenderung sudah mapan dalam praktek negara hukumnya.
Dalam studi perbandingan antara pengadilan administrasi di Prancis, Belanda, Belgia dan Luksemburg (Conseil D’Etat), Jerman (Bundesverwaltungsgericht), Yunani (Symvoulion Epikratias), Italia (Consiglio di Stato), Spanyol (Tribunal Supremo), Swiss (Tribunal Federal) dan Mahkamah Uni Eropa (European Union Court of Justice), Frank Esparraga mendapatkan salah satu kesimpulan bahwa pelaksanaan putusan pengadilan administrasi di negara-negara tersebut tidak mengalami kendala yang berarti, disebabkan pada umumnya otoritas publik melaksanakan putusan pengadilan “…however, it can be said that in the countries examined, public authorities generally apply the decisions of the courts”.
Kendati ketaatan pejabat publik terhadap putusan pengadilan terbilang tinggi, jarang putusan pengadilan tidak dipatuhi, namun jika otoritas yang terkait masih enggan melaksanakan putusan pengadilan, kerangka penyelesaian sengketa administrasi disana menawarkan beberapa prosedur agar putusan ditindaklanjuti oleh pihak yang terkait seperti pengenaan denda atau dimungkinkannya gugatan ganti rugi ke peradilan umum seperti di Prancis dan Belgia. Tidak berbeda jauh dengan negara yang mapan secara hukum administrasi tersebut, negara tetangga indonesia, Thailand bisa menjadi contoh yang baik mengenai mekanisme hukum yang diterapkan agar putusan pengadila tata usaha negara dapat dipatuhi oleh pihak terkait (Pemerintah). Di negara Thailand meskipun peradilan administrasi baru saja lahir kurang lebih 10 tahun yang lalu , jauh lebih baik daripada PTUN di Indonesia.
Peradilan TUN di Thailand secara prosedur berperkara, hanya terdiri dari dua tingkat pemeriksaan saja. MA Peradilan TUN di Thailand adalah MA tersendiri, terlepas dari MA peradilan umum, dan peradilan lain-lainnya. Sistem peradilan dua tingkat dan MA tersendiri ini, banyak dianut di berbagai negara, seperti Belanda dan Prancis. Pada umumnya negara-negara yang mengatur sistem tersebut di atas, mengalami kemajuan pesat dalam perkembangan Peradilan Administasi (PTUN) di negara-negara tersebut sangat maju, berwibawa dan disegani”.
Mengingat kelebihan dari peradilan tata usaha negara di negara Thailand penulis tertarik untuk membandingkan mekanisme pelaksanaan putusan peradilan tata usaha Indonesia dengan di Thailand. Harapannya dengan membandingkan mekanisme antara keduanya dapat diperoleh gambaran mengenai kelebihan dan kelemahan dari keduanya, selanjutnya dapat diperoleh manfaat dari perbandingan tersebut. Untuk kemudian dapat memberikan masukan bagi penyempurnaan konsep pengaturan mengenai pelaksanaan putusan tata usaha negara di Indonesia.

More info:

Published by: Arif Maulana on Oct 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

10/04/2012

pdf

text

original

 
Perbandingan Mekanisme Pelaksanaan Putusan PeradilanAdministrasidi Indonesia dengan di ThailandOleh : Arif Maulana, SH.(Mahasiswa Magister Hukum UI)
A.
Masalah Pelaksanaan Putusan Peradilan Administrasi diIndonesia
Azas
Prae Sumptio Iustae Causa
(Azas Praduga Keabsahan KeputusanPejabat Tata Usaha Negara) berlaku dalam hukum administrasi negara. Asasini mendalilkan bahwa sebuah keputusan administrasi dianggap sah dan harusdijalankan, sampai ada pembatalan dari pengadilan, dalam hal ini pengadilanadministrasi (PTUN). Berkenaan dengan kasus dalam hukum administrasi,pijakan asas ini menunjukkan urgensi dari sebuah putusan pengadilan untukmengoreksi putusan pejabat tata usaha negara yang keliru. Dengan putusanpengadilan tersebut putusan pejabat tata usaha negara dapat ditunda ataudibatalkan keberlakuannya. Pelaksanaanputusan
 judicial
adalah kunci utama untuk memberikan keadilan bagi parapencari keadilan dalam sengketa di Pengadilan, dalam hal ini khususnyaterkait sengketa hukum administrasi negara antara warga negara denganpemerintah. Karena dengan pelaksanaan putusan tersebut, putusan hakimbenar-benar dapat menjadi koreksi atas tindakan pemerintah danmengambalikan hak warga negara. Sebaliknya jika putusan pengadilan tidakdijalankan tentu akan menghambat akses warga negara terhadap keadilan.Mengingat dalam negara hukum (
Rechtstaats
), peradilan administrasi menjadisalah satu kunci untuk mewujudkan negara hukum yang memberikan jaminankepada setiap warga negara terhadap tindakan pemerintah, dengan tujuanagar jangan sampai terjadi penyalahgunaan wewenang ataupun kesewenang-wenangan oleh pemerintah.
1
Hal ini sebagaimana dikemukakan Anna Erliyanamengutip W.R. Wade & C.F. Forsyth yang menegaskan bahwa tujuan utamadari Hukum Administrasi :
the primary purpose of administrative law,therefore, is to keep the powers of government within their legal bounds, soas to protect the citizen against their abuse
.
2
 
1
 
 Julius Stahl ciri negara hukum yang bertradisi
civil law
(1).Perlindungan Hak Asasi Manusia;(2).Pembagian kekuasaan; (3). Pemerintahan berdasarkan undang-undang, (4). .AdanyaPeradilan Administrasi negara. Lihat dalam Jimmly Asshiddiqie.2009.
Menuju Negara Hukum yang Demokratis
. Jakarta: Penerbit Gramedia, hal. 199.
2
W.R. Wade & C.F. Forsyth dalam Anna Erliyana,
Keputusan Presiden : Analisis Keppres R.I.1987—1998
, Program Pascarsarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2005. hal11.
1
 
Indonesia sendiri mengaku sebagai negara hukum dan memilikiperadilan administrasi untuk mendukung terwujudnya cita-cita
rechtstaats.
UU No. 5 Tahun 1986 menjadi dasar awal munculnya peradilan administrasi diIndonesia yang dikenal dengan UU Peradilan Tata Usaha Negara. UU ini sudahdisempurnakan dua kali yakni dengan UU No. 9 Tahun 2004 dan UU No. 51 Tahun 2009. Terkait dengan pelaksanaan putusan peradilan administrasidalam UU PTUN telah diubah juga selama tiga kali. Pengaturannya sendiridiatur dalam pasal 116. Berikut adalah perbandingan antara pasal 116mengenai pelaksanaan putusan pengadilan.
Tabel. IPerbandingan Tiga Undang-Undang PTUN di Indonesia.
UU No. 5 Tahun 1986UU No.9 Tahun 2004UU No.51 Tahun 2009
(1) Salinan putusanPengadilan yang telahmemperoleh kekuatan hukumtetap, dikirimkan kepada parapihak dengan surat tercatatoleh Panitera Pengadilansetempat atas perintah KetuaPengadilan yangmengadilinya dalam tingkatpertama selambat-lambatnyadalam waktu
empat belashari;
(2) Dalam hal
empat bulan
setelah putusan pengadilanyang telah memperolehkekuatan hukum tetapsebagaimana dimaksuddalam ayat (1)
dikirimkan
tergugat tidak melaksanakankewajibannya sebagaimanadimaksud dalam Pasal 97ayat (9) huruf a, makaKeputusan Tata UsahaNegara yang bersangkutanitu tidak mempunyaikekuatan hukum lagi.(3) Dalam hal tergugatditetapkan harusmelaksanakan kewajibannyasebagaimana dimaksuddalam Pasal 97 ayat (9)huruf b dan c, dan kemudiansetelah
tiga bulan
ternyatakewajibannya tersebut tidakdilaksanakannya, maka(1)Salinan putusanPengadilan yang telahmemperoleh kekuatan hukumtetap, dikirimkan kepada parapihak dengan surat olehpanitera pengadilan setempatatas perintah KetuaPengadilan yangmengadilinya dalam tingkatpertama selambat-lambatnyadalam waktu
14 (empatbelas) hari;
(2) Dalam hal
4 (empat)bulan
setelah PutusanPengadilan yang telahmempunyai kekuatan hukumtetap sebagaimana dimaksudpada ayat (1)
dikirimkan,
tergugat tidak melaksanakankewajibannya sebagaimanadimaksud dalam Pasal 97ayat (9) huruf a, Keputusan Tata Usaha Negara yangdisengketakan itu tidakmempunyai kekuatan hukumlagi;(3) Dalam hal tergugatditetapkan harusmelaksanakan kewajibansebagaimana dimaksuddalam Pasal 97 ayat (9) ayat(9) huruf b dan c, dankemudian setelah
3 (tiga)bulan
ternyata kewajibantersebut tidak(1) Salinan putusanPengadilan yang telahmemperoleh kekuatan hukumtetap, dikirimkan kepada parapihak dengan surat olehpanitera pengadilan setempatatas perintah KetuaPengadilan yangmengadilinya dalam tingkatpertama selambat-lambatnyadalam waktu
14 (empatbelas) hari kerja;
(2) Apabila
setelah 60(enam puluh ) hari kerja
putusan yang telahmemperoleh kekuatan hokumtetap sebagaimana dimaksudpada ayat (1)
diterimatergugat
tidakmelaksanakan kewajibannyasebagaimana dimaksud padaayat dalam pasal 97 ayat (9)huruf a keputusan tata usahaNegara yang disengketakanitu tidak mempunyaikekuatan hukum lagi.(3) Dalam hal tergugatditetapkan harusmelaksanakan kewajibansebagaimana dimaksuddalam Pasal 97 ayat (9) ayat(9) huruf b dan c, dankemudian setelah
90(sembilan puluh) harikerja
ternyata kewajiban
2
 
penggugat mengajukanpermohonan kepada KetuaPengadilan sebagaimanadimaksud dalam ayat (1),agar Pengadilanmemerintahkan tergugatmelaksanakan putusantersebut;
(4) Jika tergugat masihtidak maumelaksanakannya, ketuaPengadilan mengajukanhal ini kepada instansiatasannya menurut jenjang jabatan;(5) Instansi atasansebagaimana dimaksuddalam ayat (4), dalamwaktu dua bulan setelahpemberitahuan dari Ketuapengadilan harus sudahmemerintahkan pejabatsebagaimana dimaksuddalam ayat (3)melaksanakan putusan
dilaksanakannya, penggugatmengajukan permohonankepada Ketua Pengadilansebagaimana dimaksud padaayat (1) Pengadilanmemerintahkan tergugatmelaksanakan putusanpengadilan tersebut;
(4)
 
Dalam hal tergugattidak bersediamelaksanakan putusanPengadilan yang telahmemperoleh kekuatanhukum tetap, terhadappejabat bersangkutandikenakan upaya paksaberupa pembayaransejumlah uang paksa danatau sanksi adminsitratif;
(5) Pejabat yang tidakmelaksanakan putusanpengadilan sebagaimanadimaksud pada ayat (4)tersebut tidak dilaksanakan,maka penggugat mengajukanpermohonan kepada KetuaPengadilan sebagaimanadimaksud pada ayat (1) agarPengadilan memerintahkantergugat melaksanakanputusan pengadilan tersebut;
(4) Dalam hal tergugattidak bersediamelaksanakan putusanPengadilan yang telahmemperoleh kekuatanhukum tetap, terhadappejabat bersangkutandikenakan upaya paksaberupa pembayaransejumlah uang paksa danatau sanksi adminsitratif;
(5)Pejabat yang tidakmelaksanakanputusan pengadilansebagaimanadimaksud pada ayat(4) dimumkan pada
3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->