Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Menjadi Pribadi Muslim Yang Santun

Menjadi Pribadi Muslim Yang Santun

Ratings: (0)|Views: 17 |Likes:
Published by Muhsin Hariyanto

More info:

Published by: Muhsin Hariyanto on Oct 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/07/2013

pdf

text

original

 
MENJADI MUSLIM YANG SANTUN:“Menemukan (Kembali) Sosok Muhammad s.a.w. pada Pribadi Muslim”
Muhammad – Rasulullah s.a.w. – memang telah wafat, tenamun sunnahnya masih danakan tetap hidup sepanjang waktu. 'Beliau' memang tidak pernah 'bersekolah', tetapitidak pernah berhenti untuk (senantiasa) 'belajar', seperti layaknya para pembelajar yang pernah berputus asa untuk terus belajar, meskipun harus tersekat oleh 'dindingkemiskinan' yang menutupinya untuk bisa 'bersekolah' layaknya anak-anak orang kayayang berkesempatan untuk mengenyam bangku sekolah formal yang terkadang'membelenggu' setiap orang yang ingin belajar. Seperti
M. Izza Ahsin, yang
telahmenulis sebuah buku yang berjudul "Dunia tanpa Sekolah", Muhammad - – Rasulullahs.a.w. – adalah pribadi yang cerdas dan pintar, tanpa harus melalui proses pendidikanyang tersekata oleh dinding-dinding pembatas yang kadang-kadang kurang bersahabat pada 'rakyat miskin' dan orang-orang pinggiran.Sebuah dunia tanpa sekolah? ‘kayak’-nya begitu ‘radikal’ dan ‘ekstrim’ ... Lebih baik diubah menjadi
sebuah dunia tanpa (harus) sekolah (formal)’.
Di dunia seperti itu,tidak akan ada kata "putus sekolah", tidak ada lagi kasta karena yang satu lulusan SD,yang satu sudah S3. Di dunia yang tidak harus sekolah ini tidak ada lagi kata berpendidikan atau tidak berpendidikan. Yang ada hanya satu kata "pembelajar" atau bukan!!!Sekolah memang tidak harus, tetapi belajar harus! Belajar tidak harus di ‘sekolah(ruangan kelas), di manapun bisa, kapanpun bisa. Di dunia yang saya khayalkan itu kata
belajar
sama sekali terputus hubungannya dengan kata
"SEKOLAH"
. Selama inisekolah identik dengan belajar secara khusus, di ruangan yang khusus, diwaktu yangkhusus... bahkan sampai bertahun-tahun, sampai lupa untuk berkarya nyata. Bertahun-tahun orang dikelilingi buku, mengurung diri di dinding yang namanya sekolah, ketikasudah puas, dan dinyatakan berhasil....keluarlah dia dari dinding itu dan menemuikenyataan bahwa di luar sana tidak identik dengan apa yang dipelajarinya. Sedangkantanpa disadarinya waktu terus berlalu dan waktu untuk berkarya nyata sudah hampir habis juga....Apa yang dibutuhkan di sebuah dunia yang tidak harus sekolah ini? Sebuah komitmem bersama untuk mau
BELAJAR 
! Ya... yang harus ditanyakan ketika melamar kerja bukan lagi
"kamu
l
ulusan apa? di mana? nilaimu berapa?"
yang harus ditanyakanadalah
"kamu umur berapa?" "Apa yang sudah kamu pelajari selama ini?""Kamu bisa apa?" "Apa keahlianmu?"
Untuk menjawab pertanyaan yang terakhir tadi seseorang tidak harus menunjukkan sebuah ijazah formal dari sebuah’ sistem’ yangdisebut sekolah!Hal yang saya bayangkan di atas, akan menimbulkan pertanyaan...bagaimana belajar tanpa sebuah sistem? Bukankah tujuan sekolah adalah memungkinkan seseorang belajar secara sistematis? Bertahap... dan tidak ‘ngawur’? Ya ... memang benar ... memangharus ada sistem yang mengatur.....sebuah sistem belajar! ... Bukan sekadar sistemsekolah yang memformalkan sebuah kegiatan belajar!! Sebuah sistem yang sayakhayalkan adalah sebuah sistem yang terdiri dari:1.Belajar di mana saja2.Belajar kapan saja
 
3.Belajar dari siapa saja4.Adanya sebuah lembaga yang mengakreditasi dan sertifikasi hasil suatukegiatan belajar!
 
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”
(QS Th
â
h
â
, 20: 44).Itulah salah satu firman Allah SWT yang memerintahkan Nabi Musa a.s.dan Nabi Harun a.s. untuk memberi peringatan kepada Fir’aun, seorangraja yang sangat kejam dan zhalim. Kalau kepada ‘raja kafir’ saja kitadiperintahkan untuk berbicara lemah lembut penuh kesantunan apalagidengan saudara seiman?Maka tidaklah mengherankan bila kemudian Nabi Muhammad s.a.w.lebih memilih bersikap santun, lemah lembut dalam menjalanikehidupannya. Sebab pada sifat lemah lembut, kesantunan, bahkanakhlak mulia terdapat sebuah kekuatan besar, yaitu adanya peluangkembalinya kesadaran seseorang untuk bisa mengetahui kebenaran dankebatilan lalu mengikuti kebenaran dan meninggalkan kebatilan. Bahkanhampir bisa dipastikan, di zaman nabi hampir tidak ada orang masuk Islam karena perdebatan. Tetapi masuk Islam karena kesantunan dan sifatlemah lembut Rasulullah s.a.w..
Kesantunan: Awal Kesuksesan
 
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itumaafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, danbermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabilakamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada- Nya.”
(QS
Â
li 'Imr 
â
n, 3: 159).Allah SWT telah menegaskan secara gamblang bahwa kesuksesan NabiMuhammad s.a.w. dalam dakwah adalah karena rahmat-Nya berupakesantunan. Dan, siapa pun kita jika ingin sukses, mendapat rahmat Allah
 
maka harus memilih kesantunan sebagai perangai diri. Bukan kebencian,kedengkian, dan permusuhan.Apabila kita telah berusaha menjadi pribadi santun dan ternyata belumada perubahan pada apa yang kita harapkan berubah. Serahkanlah semuakepada Allah, sebab kita hanya berkewajiban untuk menjadi pribadi yangsantun. Kita sama sekali tidak punya kekuatan untuk merubah kondisihati orang lain. Dan, Allah pasti punya maksud yang lebih baik, lebihindah, dari setiap situasi dan kondisi yang kita hadapi.
Lembutkan Hati
Tampilan lahiriyah seseorang menunjukkan kondisi hati sebenarnyaorang tersebut, dan pengungkapan zhahir (lahiriah) seseorang mewakiliisi hatinya (sikap batinnya). Rasulullah s.a.w. menegaskan hal ini dalamsabdanya,
.
”Ingatlah bahwa dalam diri seseorang ada segumpal daging, jika daging itu baik maka seluruh anggota badan akan baik, jika sepotong daging ituburuk maka buruklah seluruh anggota badan. Ingatlah bahwa sepotong daging itu adalah hati.”
(Hadis Riwayat al-Bukhari dari Abu Nu’aim)Disini tampak jelas urgensi (arti pentingnya)
conditioning 
(pengondisian)suasana hati. Suasana hati senantiasa dalam
dzikrullâh
(ingat kepadaAllah),
thâ’ah
(ketaatan) dan
murâqabah
(pengawasan) Allah SWT. Jikasuasana hati tidak diisi dengan hal yang demikian, maka pasti ia akandiganti oleh setan dengan hal-hal yang buruk. Bentuk tipu daya setan bisa berupa mengumbar omongan, mengeraskan pembicaraan dan tidak menghormati orang lain. Padahal Allah SWT memerintahkan kita untuk menjaga lisan dan tidak mengumbarnya apalagi berkata yang tidak baik,sehingga akan menodai kepribadiannya,
 
 Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”
(QS Luqm
â
n,31: 19)Bentuk tipu daya setan yang lain adalah amarah dan dendam kesumat.Amarah dan dendam kesumat akan mengeraskan dan menodai hati.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->