Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Ulil Absar-Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam

Ulil Absar-Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam

Ratings: (0)|Views: 89 |Likes:
Published by Rian Julianto

More info:

Published by: Rian Julianto on Oct 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/07/2012

pdf

text

original

 
Menyegarkan Kembali Pemikiran IslamKarena ramainya reaksi atau tanggapan lewat Internet terhadap tulisan Ulil Abshar Abdalla yang berjudul«Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam » (Kompas, 18/11/2002), maka website http://perso.club-internet.fr/kontak/ menjadikan masalah ini sebagai « Fokus »-nya sekarang. Kalau akhir-akhir ini peristiwa BomBali, penahanan Amrozy dan Imam Samudra dll dijadikan « fokus » website, maka untuk sementara, fokuswebsite ini diarahkan kepada masalah yang sekarang juga menarik perhatian banyak orang ini.Fokus tentang tulisan Ulil Abshara Abdalla ini dilengkapi dengan beraneka-ragam tulisan dalam rubrik « Serba-serbi soal Islam ». Penyajian « fokus » tentang tulisan Ulil ini adalah sebagai partisipasi website http://perso.club-internet.fr/kontak/ dalam mensosialisasikan lebih luas tentang pandangan atau pemahaman terhadap Islam yangdianggap perlu untuk diperbarui.Tukar fikiran yang dicerminkan dalam “fokus” ini bisa diharapkan sebagai usaha bersama untuk memerangikepicikan berfikir, dari manapun datangnya, dan meluaskan pandangan kita tentang berbagai persoalan yangberkaitan dengan masalah penting ini. A. Umar SaidP.S. Harap baca juga "Serba-serbi soal Islam"***Duta Masyarakat, 31 Desember 2002Ulil Dinilai Tak BersalahSURABAYA – Cendekiawan muslim Prof Dr Komarudin Hidayat MA menilai Ulil Abshar Abdalla tidak bersalahterkait dengan tulisannya bertajuk “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam” yang dimuat Kompas (18/11) bulanlalu.Selain itu Komarudin juga menyatakan respeknya terhadap pemikiran yang selama ini diusung Ulil, aktivisPengurus Pusat (PP) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (LakpesdamNU).Pernyataan ini disampaikan Komarudin seusai menyampaikan ceramah politik di acara Rapat Koordinasi Wilayah(Rakorwil) Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) di Hotel Elmi Surabaya, Jumat (27/12) akhir pekanlalu. “Secara pribadi saya respek terhadap Ulil. Apa yang ia sampaikan tidak salah,” ujar Komarudin.Sayangnya, ketika ditanya tentang fatwa mati bagi Ulil yang dikeluarkan Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI)belum lama ini, Guru Besar Universitas Paramadina Mulya Jakarta itu enggan berkomentar.“Saya tidak berhak menjawab soal itu (fatwa mati bagi Ulil, red). Maaf saja jika saya tidak menjawab pertanyaanitu. Tapi secara pemikiran, Ulil cukup bagus. Namun sekali lagi saya minta maaf, sebab tidak menjawab soalfatwa mati itu,tandas Komarudin yang memang dikenal cukup dekat dengan kelompok Islam formalis-fundamentalis itu.Pertanyaan yang ditujukan kepada Komarudin ini terkait dengan fatwa mati yang dikeluarkan FUUI untuk Ulil.Fatwa mati ini dikeluarkan FUUI sebab Ulil dinilai telah menghina Islam. Selain dihukumi mati, Ulil juga pernahdilaporkan FUII ke Mabes Polri atas tuduhan yang sama, yaitu menghina Islam.Menurut Imadadun Rahmat, teman Ulil di PP Lakpesdam NU, Rabu (18/12) lalu, untuk menjernihkan persoalan,menantu KHA Mustofa Bisri yang juga Kordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) ini siap melayani gugatan FUUIdengan menyiapkan pengacara untuk menghadapi tuntutan itu.“Ulil mengatakan pada saya, bila ia sedang mempersiapkan penasehat hukum dan siap meladeni gugatan FUUI.Bahkan kemungkinan ia juga akan melakukan gugatan balik,” ujar Imadadun Rahmat dengan mengutip ucapan
 
Ulil. Namun seperti dituturkan Imadadun, Ulil mengakui bahwa artikelnya yang dimuat Kompas cukup provokatif dan berlebihan.Seperti diketahui, Rabu (18/12) lalu sejumlah orang yang mengaku dari FUUI mendatangi Mabes Polri gunamelaporkan Ulil. Dalam pandangan FUUI, Ulil dianggap telah menghina Islam dan menyebarkan rasapermusuhan dengan kelompok Islam yang berbeda pikiran dengan dirinya.“Karena itu harus ada sanksi hukum yang jelas bagi orang yang menghina Islam. Syariat Islam mengancamhukuman mati bagi orang yang menghina Islam,” kata KH Athian Ali ketua FUUI kepada wartawan di Mabes PolriJakarta.Tuntutan kepada Ulil, lanjut Athian, berdasarkan keputusan musyawarah para ulama se Jawa di Bandung tanggal30 November 2002. Athian tidak dapat menjelaskan ulama yang hadir tersebut mewakili organisasi tertentu. “Kitatidak bisa menyebut mereka datang dari mana atau mewakili siapa. Pastinya mereka mewakili umat Islam,”paparnya. (am)* * *Media Indonesia, 29 Desember Hilangkan Cap TerorisDengan Sikap ToleranBudayawan Frans Magnis Suseno atau Romo Magnis menyatakan, tuduhan adanya pelaku teror dalam tubuhumat Islam tak bisa dihindari lagi sebab fenomena seperti itu memang biasa terjadi bahkan hampir terdapatdikalangan penganut semua agama."Hanya saja siapa pun perlu menyadari bahwa sebutan teroris memang tidak terkait dengan ajaran suatu agama,tetapi menyangkut perilaku keras oleh person atau kelompok. Karena itu cap teroris hanya bisa terhapus denganperilaku nyata yang penuh toleran," ujarnya, Sabtu.Saat berbicara dalam seminar tentang "Islam dan Terorisme" di Yogyakarta, dia mengemukakan, secara kolektif umat Islam tak mungkin bisa menolak atau menafikan adanya sesama penganut agama mereka yang bersikapdan berpandangan ekstrim atau keras.Sebab meski ajaran Islam bersifat universal, katanya, tetapi dalam menjalankannya oleh masing-masing personakan difahami secara personal dengan tingkat penghayatan dan visi keagamaan yang sangat bermacam-macam."Adanya keberagaman pemahaman itulah yang mustahil untuk dinafikan termasuk fenomena adanya person ataukelompok muslim yang berpandangan keras. Hal itu sangat alami dan biasa terjadi di kalangan penganut agamaapa pun, karena itu yang lebih penting untuk dilakukan saat ini adalah bagaimana umat Islam Indonesia bisamenampilkan wajah rahmatan-nya itu supaya bisa bersinar dan dilihat oleh masyarakat dunia," ujarnya.Sikap toleran yang penuh kasih sayang dan pengertian terhadap eksistensi umat beragama lain, katanya, secarahistoris harus diakui telah menjadi bagian dari perkembangan Islam di dunia yang berlangsung sangat pesat.Sebagai contoh, keberadaan kaum Yahudi dan Nasrani di masa kejayaan Islam jauh lebih terayomi dibandingsetelah keruntuhannya lebih-lebih setelah Hitler berkuasa di Jerman."Demikian pula dengan sikap simpatik yang diperlihatkan para tokoh NU dalam malam Natal yang lalu. Dengansikap menjaga dan mengayomi saya sebagai penganut Katolik bila melihat anggota Banser tidak lagi memendamprasangka atau merasa asing, tetapi justru merasa aman karena ada yang peduli untuk saling melindungi,"katanya.
 
Romo Magnis juga mencontohkan munculnya sikap tidak simpatik dari sebagian umat Islam telah menorehkankecemasan yang mendalam di kalangan umat Katolik seperti dirinya seperti dalam kasus rencana adanyasweeping terhadap warga asing, atau terhadap umat non-muslim di daerah tertentu."Karena itu ketika ada rencana sweeping terhadap umat Katolik kemudian Pak Syafi'i Ma'arif menyatakan akanberdiri di barisan Katolik untuk menolak sweeping itu, sungguh kami umat Katolik merasa sangat tersentuh danmerasa berhutang budi dengan sikap umat Islam yang demikian," ujarnya.Seminar yang diselenggarakan oleh Universitas Cokroaminoto tersebut juga menghadirkan pengamat politikIndria Samego, Ketua PP Muhammadiyah Syafi'i Ma'arif serta diikuti 200 peserta dari berbagai kalangan. (Ant/Ol-01)** *Media Indonesia, 28 Desember 2002PBNU Mengeluarkan PembelaanTerhadap Ulil AbdallaPBNU akhirnya mengeluarkan pembelaan terhadap pemikir muda NU, Ulil Abshar Abdalla, yang oleh ForumUmat Islam Indonesia (FUII) dicap menghina Islam karena tulisannya di salah satu di harian nasional. "Kami tidakpercaya bahwa lontaran gagasan Ulil secara terbuka maupun terselubung dimotivasi oleh maksud menghinakan Allah, Rasulullah ataupun agama Islam," kata Katib Syuriah PBNU KH Masdar F Mas'udi di Jakarta, Jumat.Bahkan, PBNU menilai tuduhan yang ditudingkan FUII melalui juru bicaranya, KH Athian Ali, serta fatwa hukumanmati bagi Ulil oleh FUII terlalu berlebihan dan tidak mendasar. "Ancaman untuk mencelakakan seseorang secarafisik hanya karena pendapat yang dikemukakannya, secara mendasar harus ditolak," kata Masdar. Alasannya, kata Masdar, selain melawan prinsip kebebasan berpikir untuk mencari kebenaran yang dijamin olehnorma-norma universal, sikap seperti yang ditunjukkan FUII juga mencerminkan absolutisme dan kesewenang-wenangannya yang tidak pernah bisa dibenarkan oleh Islam. Terkait kontroversi tulisan Uli bertajuk MenyegarkanKembali Sikap Islam, Masdar mengakui masalah itu menjadi salah satu bahasan dalam rapat harian SyuriahPBNU (23/12) yang juga menghadirkan Ulil untuk dimintai penjelasan.Namun, untuk memberi manfaat yang lebih besar pada umat sekaligus menghindari kesalahpahaman, PBNUmenganjurkan Ulil melanjutkan proyek gagasannya dengan pengembangan yang lebih utuh, komprehensif, sertadidukung argumen berdasar dalil-dalil agama dan logika. "Ulil kini meninggalkan utang besar pada publik. Karenaitu ia harus menjelaskan gagasannya itu secara utuh dan komprehensif," kata Masdar.Kepada kelompok yang tidak sependapat dengan pemikiran Ulil, PBNU menyatakan menghormati hak mereka,namun hendaknya ketidaksetujuan itu dilontarkan melalui adu argumentasi dan kritik, bukan ancaman."Menyadari bahwa tidak ada pikiran manusia yang mutlak benar, termasuk gagasan Ulil, maka kami punmenghormati hak saudara kami yang tidak sependapat untuk mengkritik atau melawannya, bahkan kalau perlusekeras-kerasnya, asal dengan pendapat juga, bukan ancaman," kata Masdar. Ulil yang merupakan tokohJaringan Islam Liberal, dalam organisasi NU menjabat sebagai Ketua Lembaga Kajian dan PengembanganSumber Daya Manusia (Lakpesdam). (Ant/Ol-01)* * *PERNYATAAN KEKATIBAN SYURIAH PBNU, 27 Desember 2002KONTROVERSI GAGASANSDR ULIL ABSHAR ABDALLA

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->