Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Hegemon i

Hegemon i

Ratings: (0)|Views: 182 |Likes:
Published by AhSya Achmad

More info:

Published by: AhSya Achmad on Oct 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/27/2013

pdf

text

original

 
BAHASA DAN HEGEMONI KEKUASAAN(Telaah atas Kekerasan Simbolik di dalam Media)
 Oleh Ainur Rahman Hidayat
(Penulis adalah dosen tetap pada Jurusan Tarbiyah STAIN Pamekasandan lulusan program Magister Filsafat UGM.)
 Abstrak; 
Artikel ini berusaha untuk mendapatkan pemahaman kerangka hubungan antara bahasa dakekerasan simbolik, yang teraktualisasi melalui politisasi media. Hasil kajian dalam artikel ini ditemukan, bahwa bentuk dominasi bahasa melalui media ternyata telah memunculkan kekerasan simbolik. Kekerasan simbolik merupakan upaya dari pihak kelas hegemoniuntuk meraih simpati publik. Hegemoni sebuah sistem kekuasaan dipertahankan dengan menciptakan simbol- simbol, dan pemaknaan yang serba tunggal.
 Kata kunci: 
kekerasan simbolik, politisasi media, hegemon
Pendahuluan
Bahasa menjadi pusat perhatianyang begitu penting terutama memasukiabad ke-20. Pertimbangan yang bisadiajukan untuk menjelaskan fenomenatersebut, adalah bahwa abad ke-20 telahmenyaksikan lahir dan berkembangnyailmu bahasa secara eksplosif. Istilaheksplosif sengaja dipilih untukmenggambarkan meledaknya suatu ilmuyang menggunakan pendekatanlinguistik ini.Ilmu bahasa muncul dari sejumlahproses reduksi dengan pendekatan yangsaling berlawanan dan dibela oleh aliran-aliran yang saling berseberangan. Adakaum strukturalis yang mengikutipemikiran Bloomfield, ada pula parapendukung teori transformasional yangmengikuti Chomsky, dan ada juga kaumformalis.Ketertarikan para pemikir abadke-20 terhadap bahasa difokuskan padapersoalan makna. Perhatian terhadappersoalan makna sebenarnya hendakmenunjuk pada sebagian besar maknayang tidak terartikulasikan dari dirisendiri, namun sangat menyebar luaspada abad ke-20 ini.Bukankah kehidupan manusia ituselalu bersifat intensional, selalu terarahkepada sesuatu yang berada di luardirinya. Mari perhatikan ilustrasi berikut.Ketika seseorang berkomunikasi denganorang lain--posisi orang lain sebagairealitas yang membahasa kepadaseseorang itu--banyak sekali makna yangmembentur seseorang tersebut, dan darisekian banyak makna yang menerpa
 
Bahasa Dan Hegemoni Kekuasaan
Ainur Rahman Hidayat
KARSA,
Vol. IX No. 1 April 2006
 872
dirinya, tentu tidak semuanyaterartikulasikan, entah ter (di)sembunyikan. Untuk mengungkapkanmakna yang di (ter) sembunyikantersebut akan dicoba dirumuskan dalamdua dalil yang saling berkaitan.Pertama, masalah bahasa bersifatstrategis terhadap masalah hakikatmanusia, karena manusia itu sendiriadalah makhluk yang memiliki bahasa.Kedua, bahasa seringkali sangatmembingungkan, dan akan tetapdemikian, jika bahasa dipahami dalammakna yang luas hingga mencakupseluruh tingkatan media yang bermakna.Hal itu bisa dipahami denganmemetakan seluruh potensipembahasaan oleh manusia, mulai daribahasa lisan, bahasa tulis, sampai bahasatubuh (
body language 
). Apalagi jikadikaitkan dengan berbagai media yangmewadahinya, mulai dari media cetak,media elektronik audio-visual, mediamusik, sampai media teater dan masihbanyak yang lain.Bagaimana proses pembahasaantidak membingunkan, jika seluruhpotensi pembahasaan oleh manusiatersebut dipadu dengan keragamanmedia yang mungkin digunakan olehmanusia. Bahkan Gadamer menyatakan,bahwa seluruh aktivitas yang dilakukanmanusia menyesuaikan diri dengancara-cara bahasa”.Lihat saja perilaku seseorang yangberusaha menghindar dari stereotypetradisional!. Dia akan melengkapikehidupannya dengan barang-barangyang punya
image 
modern. Mulai darimodel baju, alat transportasi, makanan,sampai alat komunikasi dan sebagainya,diusahakan untuk dimiliki.Oleh karena itu sangatlah pentinguntuk menelaah secara mendalampersoalan bahasa dalam kaitannyadengan persoalan hakikat manusia.
Bahasa dan Hakikat Manusia
Pertanyaan pertama yang perludiketengahkan sebelum memasukipembahasan lebih lanjut mengenaihubungan antara bahasa, pikiran danrealitas, adalah apa pemikiran (
thought 
)itu ? Pemikiran merupakan kumpulanide-ide, tepatnya kumpulan ide-ide yangterang dan khas, dan sesuai dengan carakomponen-komponen itu dikumpulkan.
 
Hobbes memberi definisi lain denganmengatakan, bahwa pemikiran adalahsebuah diskursus mental. Itu berartipemikiran tidak lagi berfungsimengartikulasikan, dan menjelaskanpersoalan-persoalan yang mengendapdalam memori manusia. Akan tetapi,pemikiran berfungsi seperti sejenispencerai-beraian, dan penataan kembali.
 Apa peran bahasa jika pemikirandipahami, dan dimaknai sebagaidiskursus mental ? Mencermati denganseksama tulisan-tulisan pemikiran abadke-17 dan ke-18 terkadang akan tampak,bahwa peran bahasa itu negatif dan jugapositif.
Kata-kata dianggap bisamenyesatkan, dan mengesampingkanperhatian kepada ide-ide. Bahasadipandang sebagai penggoda besar,membujuk manusia sehingga terpuaskanhanya dengan rekreasi kata-kata.
R.Paryana Suryadipura,
Alam Pikiran 
, (Djakarta-Bandung : Neijenhuis & Co. N.V., 1950), hlm. 54-59
Roger Scruton,
Sejarah Singkat Filsafat Modern dari Descartes sampai Wittgenstein,
(Jakarta: Pantja Simpati,1986), hlm.235-237
Bernard Delfgaauw,
Filsafat Abad 20 
, ( Yogyakarta :Tiara Wacana, 1988 ), hlm.128-131
 
Bahasa Dan Hegemoni Kekuasaan
Ainur Rahman Hidayat
KARSA,
Vol. IX No. 1 April 2006
 873
Bahasa diposisikan tidak lebihsebagai ajang “permainan kata-kata”.Ajang retorika yang hanya mengejarkeunggulan dalam berdebat, seperti yangdilakukan oleh kaum
Sophist 
di AthenaYunani, pada abad Yunani Kuno.Kesadaran manusia dibelokkan begitusaja, sehingga lupa untuk memfokuskandiri pada ide-ide yang ditunjuk oleh kata-kata itu.Para pemikir abad ke-17 dan ke-18masih ada yang beranggapan, bahwamanusia bisa beraktivitas dalam hidupini tanpa bantuan bahasa sama sekali.
 
Pendapat tersebut jelas sulit diterima dandipahami, apalagi untuk diikuti. Setiaprancang bangun konsep yang komplekspasti memerlukan kata-kata. Semuapemikir tidak bisa mengelak daripernyataan ini, bahkan semua manusiaharus menerima tanpa pertimbanganapapun. Hal tersebut sungguh tidakhanya jelas secara intuitif, tetapi jugaimplisit dalam titik berangkatnya yangnominalistik.
 Kata-kata yang dipergunakan,dan disusun oleh manusia dalam batastertentu mampu merepresentasikan ide-ide manusia. Manusia denganmenggunakan kata-kata kemudianmengelompokkan ide-ide ke dalam satuhal, dan tidak ke dalam hal lain. Kata-kata juga memungkinkan manusiamenjelaskan setiap hal secara generalitas,dan bukan satu per satu.Peran bahasa yang begitu penting,dan mulai dilirik sebagai bahan kajianyang sejajar dengan ilmu yang lain, telah
Ibid., hlm.139.
W. Poespoprodjo,
Interpretasi: Beberapa Catatan Pendekatan Filsafatinya 
, (Bandung : Remadja Karya,1987), hlm. 195-198
ditampakkan dalam abad logosentrisme.Kata-kata yang disusun oleh manusiadalam memformulasikan ide-ide, gunamengonstruksi pemahaman tentangrealitas, bukan secara parsial, tetapimenggeneralisasikannya ke dalamkelompok dan kelas.
 Pemahaman di atas itulah yangsejalan dengan doktrin Hobbes, ketika iamenyamakan konsep
reasoning 
dengan
reckoning 
. Doktrin tersebut telahmendapatkan hasil pemahaman secarauniversal, dengan membuang sejumlahhal parsial, dan tidak denganmenghitung satu demi satu.
 
Konseptersebut sesungguhnya inginmenyatakan, bahwa
 
pengenalan denganakal
 
hanya mempunyai fungsi mekanissemata-mata, sebab pengenalan denganakal mewujudkan suatu prosespenjumlahan dan pengurangan.
 
Codillacpun memiliki ide yang pada dasarnyasama ketika ia mengatakan, bahwabahasa memberi manusia “kerajaan”, dankerajaan” tersebut berada di dalamimajinasi manusia.
Proses imajinasimemungkinkan manusia mengetahuihakikat suatu objek, atau setidaknyadapat berpikir tentang hakikat tersebut.Manusia juga dapat memahami hakikatbenda yang diketahui. Oleh sebab ituproses imajinasi membawa manusiamengenal benda dalam bentukindividual-konkrit maupun hakikatnyasekaligus. Pengenalan manusia terhadaprealitas dengan proses imajinasi tentu
Louis Leahy,
Siapakah Manusia ? 
, (YogyakartaKanisius, 2001), hlm. 45
Henry J. Schmandt,
Filsafat Politik Kajian Histories dari Zaman Yunani Kuno sampai Zaman Modern 
, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 307-308
Robert C. Solomon & Kathleen M. Higgins,
Sejarah Filsafat 
, (Yogyakarta : Bentang Budaya, 2002), hlm. 566

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->