Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
4Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
PERANAN PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN PADA ANAK UMUR 6 – 23 BULAN PADA SAAT KRISIS EKONOMI

PERANAN PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN PADA ANAK UMUR 6 – 23 BULAN PADA SAAT KRISIS EKONOMI

Ratings: (0)|Views: 1,462|Likes:
Published by Lutfi Rensiansi

More info:

Published by: Lutfi Rensiansi on Oct 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

10/02/2013

pdf

text

original

 
Gizi Indon 2005,28(1):40-53
Peranan pemberian makanan tambahan Sandjaja,dkk.
40
PERANAN PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN PADAANAK UMUR 6
 –
23 BULAN PADA SAAT KRISIS EKONOMI
Sandjaja
1
; Sri Mulyati
1
; M. Saidin
1
; Suhartato
1
dan Yekti Widodo
1
 
1
Peneliti di Puslitbang Gizi dan Makanan, Bogor 
ABSTRACTTHE IMPACT OF FOOD SUPPLEMENTATION FOR CHILDRENAGED 6-23 MONTHS DURING ECONOMIC CRISIS
Supplementary feeding program (PMT) for children aged 6-23 months of poor families (Gakin) is asub-component of Social Safety Net
 –
Health Sector (SSN-HS) following economic crisis that hitIndonesia the end of 1997. It is intended to provide additional food and prevent deterioratingimpact of nutritional status of the target. The main objective of the study was to determine theimpact of PMT for children on malnutrition and growth as compared with that for children notreceiving PMT. The design of the study is case control. Case was children of poor family who hador ever had received PMT for three months provided by SSN-HS in the last six months. Controlwas children of near poor families but who had never received PMT. Matching criteria for caseand control were age, sex, and residence of the family. The study was conducted in West Java,Central Java, South Kalimantan covering 1014 cases and 1014 controls and their families. Data onchild collected were current weight and height, and retrospective weight in the last 10 months.Other data collected were characteristics of chlidren and therir families including socioeconomicstatus, clinical examination, dietary intake including food suplement. Program implementation of PMT varied among study areas on selection criteria for child beneficiaries in addition to poor families, duration of PMT, method of distribution, type of food. There were similar characteristicsbetween case and control in age, sex, breastfeeding, morbidity except for socioeconomic status of the family, age of father, educational attainment of parents. Foods distributed for 6-11 month oldsamples included supplementary food, foodstuff, cooked (rice/flour porridge+egg). Foods for 12-23 month old samples more varied than food suplement for 6-11 months old children. Nutrientcontent of food distributed was 268 Kcal for energy and 9.2 grams protein, below therecommended nutrient content of PMT 360-430 Kcal and 9-15 grams protein. Dietary intake weresimilar in both groups consisting of energy around 46% RDA and protein 67-73% RDA (excludingbreast milk). This finding shows that part of PMT became substitute rather than supplement.Cases had significantly lower nutritional status in W/A and H/A anthropometric indices than controlexcept for W/H. Growth pattern as analyzed using retrospective data found that there was falteringgrowth pattern in both groups. Period between three months prior to PMT to the baseline showedthat more decreasing Z-score was significantly (repeated measures of ANOVA) greater in casethan in control group. Three months during PMT, there was still further decreasing mean Z-scorein both groups although it was not as great as three months before. This finding showed that PMTwas able to prevent deteriorating nutritional status among child beneficiaries of poor families butwas not able to improve their nutritional status.
Keywords
: food suplementation, economic crisis
PENDAHULUAN
risis ekonomi yang melanda Indonesiasejak akhir tahun 1997 yang diikutidengan ketidak stabilan politik selamamasa transisi mengakibatkan dampak padaberbagai bidang kehidupan masyarakat. Dibidang ekonomi terjadi penurunan penda-patan per kapita yang cukup drastis.Beberapa penyebabnya adalah depresiasi
K
 
Gizi Indon 2005,28(1):40-53
Peranan pemberian makanan tambahan Sandjaja,dkk.
41nilai mata uang rupiah yang menurun drastisdari Rp 2.500,- menjadi Rp.11.000,- per USdollar, kenaikan harga barang kebutuhanpokok, penurunan tingkat pendapatan riilkhususnya pada golongan bawah, kegiatanekonomi yang memburuk baik makromaupun mikro, terhambatnya aliran modaldan jaringan distribusi barang dan jasa,pemutusan hubungan kerja. Gelombangdampak krisis ekonomi tersebut bergulir terus dari tingkat makro yang terus bergerakke sektor-sektor mikro sehingga terjadistagnasi perekonomian rakyat. Angka kemiskinan yang masih tinggipada tahun 1976 yaitu sebesar 40.08% (54.2 juta penduduk) dalam dua dasawarsa dapatditurunkan secara drastis menjadi 11.34%(22.5 juta penduduk) pada tahun 1996 danmenurun lagi menjadi 21.5 juta penduduktahun 1997. Penurunan angka kemiskinanini sejalan dengan perbaikan indikator sosiallainnya seperti pendidikan dan kesehatan.Tetapi pada Desember 1998 angkakemiskinan meningkat lagi menjadi 24.23%(49.5 juta penduduk), atau meningkat 27 jutapenduduk akibat krisis ekonomi
(1,2)
.Kenaikan angka kemiskinan ini sebagaiakibat dari
transient poverty 
yang lebihdisebabkan oleh imbas kenaikan harga danpenurunan pendapatan riil dan daya beliwalaupun kemiskinan struktural masih cukuptinggi. Dampak peningkatan angkakemiskinan tersebut lebih terasa di perkotaandibandingkan di perdesaan. Di sektor lapangan kerja, dampak krisis ekonomi telahmenyebabkan 22 juta tenaga kerjakehilangan pekerjaannya akibat pemutusanhubungan kerja. Akibat tingkat kemiskinan yang melandaIndonesia, tingkat konsumsi masyarakatmenurun atau beralih ke konsumsi yang lebihburuk. Konsumsi beras selama krisis relatif konstan tetapi kualitas yang dikonsumsimengalami penurunan
(2)
.Data Pemantauan Konsumsi Gizi (PKG)menunjukkan bahwa konsumsi energi danprotein tidak mengalami perubahan nyataberkisar antara 2150 Kkal dan 46 gramprotein, tetapi terjadi peningkatan jumlahrumahtangga defisit energi dan protein.Konsumsi makanan hewani sebagai sumber protein seperti daging, telur, dan buah-buahan menurun dan beralih ke konsumsiikan yang diawetkan (asin), protein nabati,sayuran
(3)
. Padahal konsumsi proteinhewani masih di bawah kecukupan yangdianjurkan. Kalau konsumsi daging per kapita per tahun pada 1996 sebanyak 8.41Kg, angka tersebut menurun menjadi 7.95 Kg(1997) dan 7.34 Kg (1998). Konsumsi susumenurun dari 5.72 Kg (1996), menjadi 5.25Kg (1997) dan 5.10 Kg (1998)
(2)
.Penurunan kualitas dan kuantitasmakanan penduduk terutama pada golonganmiskin berakibat pada penurunan tingkatkesehatan dan gizi terutama pada golonganrawan yaitu balita, ibu hamil, dan ibumenyusui. Data Susenas tahun 1989, 1992,1995, 1998 menunjukkan
trend 
penurunanprevalensi Kurang Energi Protein (KEP) padabalita berturut-turut 47,8%, 41,7%, 35,0%dan 32,5%
(4)
. Hal ini berarti terjadipenurunan prevalensi KEP antar tahunsebesar 6,1%, 6,7%, dan 2,5%. Terlihatbahwa penurunan prevalensi pada dari tahun1995-1998 hanya sebesar 2,5%, masih jauhdari harapan. Bahkan prevalensi KEP padaanak umur 6-23 bulan pada tahun 1998/1999lebih tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya
(5)
. Temuan tentang
marasmus
atau
kwashiorkor 
sebagai bentukKEP paling berat banyak dilaporkan dariberbagai wilayah di Indonesia. PrevalensiKEP tingkat berat tahun 1998 sebesar 4,2%
(4)
. Hal ini berarti sekitar satu juta balitamenderita gizi buruk yang berperan dalam
loss of generation
.Malnutrisi dan defisiensi zat gizi mikroberkontribusi terhadap peningkatankematian, morbiditas yang diakibatkan olehberbagai infeksi, berat bayi lahir rendah(BBLR), gangguan pertumbuhan, kognitif,penglihatan dan menurunnya kekebalantubuh terhadap penyakit
(6)
.Keuangan pemerintah dalam masakrisis juga sangat terbatas, sehinggaterpaksa mengurangi dukungannya terhadappelayanan dasar di bidang sosial. Gangguandalam upaya pelayanan di bidang kesehatandan sosial akan dibayar mahal untuk jangka
 
Gizi Indon 2005,28(1):40-53
Peranan pemberian makanan tambahan Sandjaja,dkk.
42waktu lama. Krisis ekonomi pada kelompokpenduduk miskin dan rawan kesehatan akanberdampak lama.Dalam rangka mengantisipasi krisisekonomi dan berbagai konsekuensi yangdiakibatkannya, pemerintah bersamabeberapa lembaga bantuan membentuk
‘Jaring Pengaman Sosial’ (JPS) untuk
masyarakat yang terkena dampak krisispaling berat. Komponen JPS bidangkesehatan (JPS-BK) meliputi pelayanankesehatan dasar, pelayanan kebidanandasar, program pemberian makanantambahan (PMT), dan kegiatan-kegiatanpenunjang lainnya bagi keluarga miskin(Gakin). Pemberian makanan tambahansebagai salah satu sub komponen JPS-BKbaik untuk bayi umur 6-11 bulan maupunanak umur di bawah dua tahun (12-23 bulan)Gakin sangat menentukan dalam upayapencegahan makin memburuknya status gizidan konsekuensi lanjutannya. Namundemikian dampak positif (keuntungan) dariPMT terhadap pertumbuhan anak perluditeliti karena dampaknya tergantung padaberbagai faktor antara lain substansi paketyang diberikan, frekuensi dan waktupemberian, efektifitas dan efisiensipelaksanaannya.Penelitian ini secara umum bertujuanuntuk menilai dampak PMT Pemulihan untukanak baduta umur 6-23 bulan terhadapstatus gizi anak. Tujuan khusus adalahuntuk mengetahui perbedaan status gizi danpola pertumbuhan antara anak baduta yangdiberi PMT pemulihan dibandingkan denganyang tidak mendapatkan PMT.
BAHAN DAN CARA
Desain penelitian adalah
case-control 
.
Case
didefinisikan sebagai anak yangsedang/pernah mendapat PMT Pemulihandari JPS-BK saja dan
kontrol 
adalah anakyang tidak mendapat PMT.
Matching 
antaracase dan control dilakukan pada karakteristikumur, jenis kelamin, dan karakteristikkeluarga. Karena kesulitan
matching 
anakdari Gakin sebagai kontrol, diambil anaksebagai kontrol dari keluarga bukan Gakinyang mirip dengan Gakin dan tidakmendapatkan PMT. Kriteria tambahan untukcase dan kontrol adalah adanya catatanlengkap penimbangan berat badan diPosyandu.Penelitian dilakukan di tiga Propinsiyaitu Jawa Barat, Jawa Tengah danKalimantan Selatan, delapan kabupatenyang dipilih secara
 purposive
berdasarkanbanyaknya Gakin, dan proporsi dana untukPMT. Dari ketujuh kabupaten terpilih 135desa yang merupakan 22 wilayahPuskesmas di 18 kecamatan.Data yang dikumpulkan adalah statusgizi anak dengan pengukuran berat badan,panjang badan saat penelitian dan dataretrospektif berat badan selama 9 bulanterakhir, data kesehatan anak, PMT, recallkonsumsi makanan anak dan sosial ekonomikeluarga. Selain itu data sekunder tentangkeragaan pelaksanaan PMT jugadikumpulkan.Sampel case adalah anak umur 8
 –
30bulan yang sedang atau pernah mendapatPMT Pemulihan dari JPS-BK pada saatmereka berumur 6-23 bulan. Sampel kontroladalah anak dengan umur dan jenis kelaminsama yang tidak mendapat PMT. Sampelpengelola PMT adalah TPG/KepalaPuskesmas, bidan di desa dan kader Posyandu.
HASIL DAN BAHASAN
Hasil penelitian didapatkan dari 2028anak, 1014 penerima PMT dan 1014 kontroldengan rincian umur seperti terlihat dalamTabel 1.Tabel 1Proporsi Anak Dengan PMT dan Non PMT Menurut Kelompok Umur 

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
miftahul_ulum21 liked this
Risdian liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->