kemajuannya Buya. Terima kasih atas bimbingan Buya”. Ibnu diam sejenak.Memang pertama datang ditempat Buya, bacaan Al-Quran nya payah. Makhrajdan tajwidnya amburadul. Ibnu sempat merasa minder dengan
murid murid
Buya yang lain yang umumnya sudah lancar bacaannya.“Buya, saya sudah belajar fiqih dasar. Buya sudah
memperbaiki
wudhuk,shalat dan puasa saya. Saya sudah tahu apa apa yang menjadi
syarat, rukun,wajib dan sunat
dalam thaharah, shalat, dan shaum. Buya juga sudahmengajarkan perihal ibadah hajji dan zakat”. Ibnu berhenti sebentar mengingatingat apa apa yang sudah dipelajarinya dari Buya Nur. ”Saya juga mengikutipelajaran Buya mengenai rukun iman. Selain itu saya banyak mengikuti taklimBuya mengenai muamalah, akhlaq, dan juga sirah nabi”. Ibnu diam sejenak.Kemudian dia melanjutkan: ”Dan Buya juga menerima saya secara privat sekalidalam sepekan. Dalam pertemuan seperti itu banyak hal yang saya pelajari dariBuya. Saya tidak tahu ilmu apa namanya, namun yang jelas setiap kali bertemuBuya, seperti malam ini, dada saya terasa semakin lapang”.Ibnu diam. Buya Nur pun diam. Di luar hujan sudah mulai reda. Hanyatiupan angin yang masih terasa agak kencang, sehingga dahan dahan pohonmendesah desah diayun angin. Dinginnya udara malam mulai terasa menggigit.Buya Nur lalu meneguk sorbat susunya. Agaknya dinginnya angin malam inilahyang membuat Buya sangat menyukai minuman tradisional itu. Memang Buyaseringkali bergadang. Hampir setiap malam Buya menerima tamu, memberikankonsultasi, dan membimbing murid muridnya. Kemudian Buya juga melanjutkandengan
qiyamullail,
sebelum beristirahat. Ibnu tidak tahu berapa jam Buya tidurdalam semalam, karena biasanya sebelum waktu shubuh Buya sudah duduk lagidi mihrab.“Ibnu. Mulai hari ini kamu lanjutkan belajar dengan ustadz-ustadz yanglain. Untuk tahsin Al-Quran kamu temui Ustadz Muhsin. Untuk masalah Aqidahdan Fiqih sebaiknya kamu temui Ustadz Abdul Syukur dan Ustadz Zul. Merekaadalah ustadz yang mengajar di Pondok Nurulhidayah, tidak jauh dari sini.Bahkan kalau kamu mau, di Nurulhidayah mereka juga menerima murid untukbelajar Bahasa Arab”. Setelah meneguk minumannya, Buya melanjutkan:“Sedangkan untuk ilmu-ilmu yang lain, saya kira kamu harus mondok. Kalaukamu mau menjadi
santri benaran
, bukan
santri ngalong
seperti sekarang,temuilah Kiyai Ali pimpinan Nurulhidayah”.
2
Leave a Comment