• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • 1
    CommentGo Back
 
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
1
 _________________________________________________________________ 
 
Anak laki-laki berusia kurang lebih sepuluh tahun itu mengintai dari kaca jendela denganmuka marah, mata merah dan gigi berkerot saking marah dan sedihnya menyaksikankeadaan di ruangan dalam rumah gedung ayahnya. Ruangan itu luas dan terang-benderang,suara tetabuhan musik terdengar riuh di samping gelak tawa tujuh orang pembesar Mancuyang sedang dijamu oleh ayahnya. Dari luar jendela ia tidak dapat menangkap suarapercakapan yang diselingi tawa itu karena amat bising bercampur suara musik, akan tetapimenyaksikan sikap ayahnya terhadap para tamu pembesar itu, anak ini menjadi marah dansedih. Ayahnya bicara sambil membungkuk-bungkuk, muka ayahnya yang biasanya bengisterhadap para pelayan dan angkuh terhadap orang lain, kini menjadi manis berlebih-lebihan,ter-senyum-senyum dan mengangguk-angguk, bahkan dengan kedua tangan sendirime-layani seorang pembesar yang brewok tinggi besar, menuangkan arak sambilmembungkuk-bungkuk.Ayahnya yang dipanggil ke kanan kiri oleh para pembesar, menjadi gugup dan kakinyatersandung kaki meja, guci arak yang dipegangnya miring, isinya tertumpah dan sedikit arakmenyiram celana dan sepatu seorang pembesar lain yang bermuka kuning. Anak itu dari luar jen-dela melihat betapa pembesar ini melototkan mata, mulutnya membentak-bentak dantangannya menuding-nuding ke arah sepatu dan celananya. Ayahnya cepat berlutut danmenggunakan ujung bajunya menyusuti sepatu dan celana itu sambil mengangguk-anggukdan bersoja seperti seekor ayam makan padi! Tak terasa lagi air mata mengalir keluar darisepasang mata anak laki-laki itu, mem-basahi kedua pipinya dan ia mengepalkan keduatangannya.Ia marah dan sedih, dan terutama sekali, ia malu! Ia malu sekali menyak-sikan sikapayahnya. Mengapa ayahnya sampai begitu merendahkan diri? Bukan-kah ayahnya terkenalsebagai Sie-wangwe (Hartawan Sie) yang amat kaya raya dan disegani semua orang, bukanhanya ka-rena kaya rayanya, melainkan juga ka-rena ia terkenal pula dengan nama Sie-siucai (Orang Terpelajar Sie). Ayahnya hafal akan isi kitab-kitab, bahkan dia sendiri telahdididik oleh ayahnya itu menghafal dan menelaah isi kitab-kitab kebudayaan, dan kitab-kitabfilsafat. Semenjak berusia lima tahun, dia telah belajar membaca, kemudian membaca kitab-kitab kuno dan oleh ayahnya diharuskan mempelajari isi kitab-kitab itu yang menuntun orangmempelajari hidup dan kebudayaan sehingga dapat menjadi seorang manusia yang berguna
 
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
2
dan baik. Akan tetapi, mengapa setelah kini menghadapi pembesar-pembesar Mancu,ayahnya men-jadi seorang penjilat yang begitu ren-dah?Anak itu bernama Han, lengkapnya Sie Han dan panggilannya sehari-hari adalah Han Han.Dia putera bungsu Ke-luarga Sie, karena Sie Bun An yang di-sebut Hartawan Sie atauSastrawan Sie hanya mempunyai dua orang anak. Yang pertama adalah seorang anakperempuan, kini telah berusia tujuh belas tahun, bernama Sie Leng. Han Han adalah anakke dua.Pada saat itu, Han Han yang meng-intai dari balik kaca jendela, melihat ayahnya sudahbangkit kembali, agaknya mendapat ampun dari pembesar muka kuning, dan kinimenghampiri pembesar brewok yang sudah setengah mabuk dan memanggilnya. Pembesarbrewok itu berkata-kata kepada ayahnya dan ia melihat betapa ayahnya menjadi pucatsekali dan menggeleng-gelengkan kepala. Akan tetapi pembesar brewokan itumenggerakkan tangan kiri dan.... ayahnya terpelanting roboh. Han Han hampir menjerit.Ayahnya telah ditampar oleh pem-besar brewok itu! Dan semua pelayan yang membantumelayani tujuh orang pembesar itu berdiri dengan muka pucat dan tubuh menggigil. Tujuhorang pem-besar Mancu kini tertawa-tawa dan riuh-rendahlah mereka bicara, agaknyamemaki-maki ayahnya dan mendesak ayahnya melakukan sesuatu.Si Pembesar Muka Kuning sekarang menggerakkan tangan sambil berdiri dan ia telahmencabut pedangnya. Dengan gerakan penuh ancaman pembesar muka kuning itumenusukkan pedangnya se-hingga ujung pedang menancap di atas meja, berdiri dengangagang bergoyang-goyang mengerikan.Han Han membelalakkan matanya dan ia menyelinap turun dari tempat pengintaiannya, kiniia menjenguk dari pintu belakang, terus masuk dan akhirnya ia berhasil masuk tanpadiketahui, berada di ruangan dalam itu, bersem-bunyi di balik tirai kayu, di mana ia dapatmengintai dan juga dapat men-dengarkan percakapan mereka.“Sie Bun An!” terdengar pembesar brewok membentak sambil menunding-kan telunjuknyakepada sastrawan itu yang sudah berlutut dengan tubuh menggigil dan muka pucat, “Apakahengkau masih berani membantah dan tidak memenuhi perintah kami?” Suaranya ter-dengarlucu karena kaku dan pelo ketika bicara dalam bahasa Han.“Kaukira kami ini orang-orang macam apa? Kami bukan serdadu-serdadu biasa, tahu? Apaartinya penyanyi-penyanyi dan pelacur-pelacur ini?” Si Muka Kuning menunjuk ke arah parawanita sewaan yang memang disediakan di situ untuk melayani dan menghibur mereka.“Kami adalah pembesar-pembesar militer dan sudah baik kalau kami tidak menghancur-kanrumahmu. Hayo keluarkan isteri dan puterimu!”“Ha-ha-ha! Aku mendengar Nyonya Sie dan puterinya amat cantik manis!” berkata seorangpembesar lain yang pe-rutnya gendut tapi kepalanya kecil.“Suruh mereka melayani kami, baru kami percaya bahwa engkau benar-benar tunduk dantaat kepada pemerintah baru, bangsa Manco yang jaya!” kata pula seorang pembesar lainyang kurus kering.“Tapi.... tapi....!” Suara ayahnya sukar terdengar karena menggigil dan perlahan, kepalanyadigeleng-geleng, ke-dua tangannya diangkat ke atas. “Hal itu ti.... tidak mungkin....ampunkan kami, Taijin....” Melihat ayahnya meratap seperti itu, air mata Han Han makinderas keluar membasahi pipinya. Bukan hanya sedih karena kasihan, melainkan terutamasekali karena malu dan kecewa. Ia tahu banyak keluarga di kota itu yang pergi mengungsisebelum kota itu terjatuh ke tangan bangsa Mancu, mengungsi dan meninggalkan rumahserta hartanya. Akan tetapi ayahnya tidak mau meninggalkan kota, rupanya sayang ke-pada
 
Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
3
hartanya dan percaya bahwa kalau ia bersikap baik dan suka menyuap ke-pada bangsaMancu, ia akan dapat hidup aman di situ.“Kau membantah? Kalau begitu kau memberontak terhadap kami, ya? Hukum-annyapenggal kepala!” Si Perwira Muka Kuning bangkit dari kursinya, mencabut pedang yangmenancap di atas meja dan mengangkat pedang itu, siap memenggal kepala Sie Bun Anyang masih berlutut. Semua pelayan yang hadir, termasuk penabuh musik dan wanita-wanita sewa-an, menjadi pucat dan mendekap mulut sendiri agar tidak menjerit. Han Handari balik tirai memandang dengan mata melotot.“Tahan....!” Terdengar jerit dari dalam dan muncullah Sie-hujin (Nyonya Sie) berlari daridalam. “Mohon para Tai-jin yang mulia sudi mengampuni suami hamba....! Biarlah hambamelayani Taijin....”Tujuh orang perwira Mancu itu me-noleh dan berserilah wajah mereka. Per-wira mukakuning menyeringai dan me-nyarungkan kembali pedangnya, kemudian sekali tangan kirinyabergerak, ia telah menyambar pinggang Nyonya Sie dan dipeluk, terus dipangkunya sambiltertawa-tawa.“Benar cantik....! Masih cantik, montok dan harum....! Hemmm....!” Perwira muka kuning itutidak segan-segan lalu mencium pipi dan bibir nyonya itu yang saking kaget, takut danmalunya hanya terbelalak pucat. Memang Nyonya Sie adalah seorang wanita cantik. Biarpunusianya sudah tiga puluh lima tahun, akan tetapi tubuhnya yang terawat baik itu masihpadat, wajahnya yang memang jelita tampak lebih matang menggairah-kan. Para perwiralainnya tertawa ber-gelak menyaksikan betapa perwira muka kuning itu mendekap danmencium sesuka hatinya, seolah-olah di situ tidak ada orang lain lagi, sedangkan parapelayan yang melihat betapa nyonya majikan mereka yang terhormat diperlakukan sepertiitu, menggigil dan menundukkan muka tidak berani memandang. Sie Bun An sendiri yangmasih berlutut, memandang dengan muka pucat seperti kertas dan ia tidak dapat bergerak,se-olah-olah telah berubah menjadi arca batu.“Taijin.... ampun....” Nyonya Sie megap-megap karena sukar ia bicara dengan bibir diciumisecara kasar seperti itu. “.... lepaskan.... ohhh, ampun, saya.... adalah wanita baik-baik....”Sebagai jawaban, perwira muka ku-ning itu tertawa dan mencubit dagunya yang halus.“Karena wanita baik-baik, aku suka padamu, manis. Hayo kau mi-num arak ini untukmenyambut aku, ha-ha-ha!” Perwira itu menyambar cawan araknya yang masih penuh, lalumemaksa nyonya itu minum. Nyonya Sie hendak menolak, akan tetapi dipaksa sehinggasebagian arak memasuki mulut, sebagian tumpah mengenai pakaiannya. Arak me-rah itumembuat pakaiannya yang putih seperti terkena darah.Han Han menggigil seluruh tubuhnya, jantungnya berdebar dan ia mengepal tinju denganair mata bercucuran. Ia hendak melompat maju menolong ibunya, akan tetapi pada saat itu,ia tertarik oleh tingkah perwira brewok yang meloncat berdiri. Gerakannya amat gesitsehingga amat janggal bagi tubuhnya yang tinggi besar dan perutnya yang seperti gentonggandum.“Ha-ha-ha, kalau ibunya matang dan denok seperti ini, tentti puterinya ranum dan segar.Cocok untukku! Biar kujemput dia!” Sambil berkata demikian, perwira brewok itu sambiltertawa-tiwa melangkah masuk melalui pintu dalam.“Ha-ha-ha, baik sekali! Jemput dia, jemput dia....!” sorak perwira lain.“Ohhh, uuuhhhhh....!” Nyonya Sie meronta, akan tetapi perwira muka ku-ning mempereratpelukannya dan mem-bungkam mulutnya dengan ciuman kasar.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...

izin ngunduh gan, :)

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...