Pendekar Super Sakti > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
3
hartanya dan percaya bahwa kalau ia bersikap baik dan suka menyuap ke-pada bangsaMancu, ia akan dapat hidup aman di situ.“Kau membantah? Kalau begitu kau memberontak terhadap kami, ya? Hukum-annyapenggal kepala!” Si Perwira Muka Kuning bangkit dari kursinya, mencabut pedang yangmenancap di atas meja dan mengangkat pedang itu, siap memenggal kepala Sie Bun Anyang masih berlutut. Semua pelayan yang hadir, termasuk penabuh musik dan wanita-wanita sewa-an, menjadi pucat dan mendekap mulut sendiri agar tidak menjerit. Han Handari balik tirai memandang dengan mata melotot.“Tahan....!” Terdengar jerit dari dalam dan muncullah Sie-hujin (Nyonya Sie) berlari daridalam. “Mohon para Tai-jin yang mulia sudi mengampuni suami hamba....! Biarlah hambamelayani Taijin....”Tujuh orang perwira Mancu itu me-noleh dan berserilah wajah mereka. Per-wira mukakuning menyeringai dan me-nyarungkan kembali pedangnya, kemudian sekali tangan kirinyabergerak, ia telah menyambar pinggang Nyonya Sie dan dipeluk, terus dipangkunya sambiltertawa-tawa.“Benar cantik....! Masih cantik, montok dan harum....! Hemmm....!” Perwira muka kuning itutidak segan-segan lalu mencium pipi dan bibir nyonya itu yang saking kaget, takut danmalunya hanya terbelalak pucat. Memang Nyonya Sie adalah seorang wanita cantik. Biarpunusianya sudah tiga puluh lima tahun, akan tetapi tubuhnya yang terawat baik itu masihpadat, wajahnya yang memang jelita tampak lebih matang menggairah-kan. Para perwiralainnya tertawa ber-gelak menyaksikan betapa perwira muka kuning itu mendekap danmencium sesuka hatinya, seolah-olah di situ tidak ada orang lain lagi, sedangkan parapelayan yang melihat betapa nyonya majikan mereka yang terhormat diperlakukan sepertiitu, menggigil dan menundukkan muka tidak berani memandang. Sie Bun An sendiri yangmasih berlutut, memandang dengan muka pucat seperti kertas dan ia tidak dapat bergerak,se-olah-olah telah berubah menjadi arca batu.“Taijin.... ampun....” Nyonya Sie megap-megap karena sukar ia bicara dengan bibir diciumisecara kasar seperti itu. “.... lepaskan.... ohhh, ampun, saya.... adalah wanita baik-baik....”Sebagai jawaban, perwira muka ku-ning itu tertawa dan mencubit dagunya yang halus.“Karena wanita baik-baik, aku suka padamu, manis. Hayo kau mi-num arak ini untukmenyambut aku, ha-ha-ha!” Perwira itu menyambar cawan araknya yang masih penuh, lalumemaksa nyonya itu minum. Nyonya Sie hendak menolak, akan tetapi dipaksa sehinggasebagian arak memasuki mulut, sebagian tumpah mengenai pakaiannya. Arak me-rah itumembuat pakaiannya yang putih seperti terkena darah.Han Han menggigil seluruh tubuhnya, jantungnya berdebar dan ia mengepal tinju denganair mata bercucuran. Ia hendak melompat maju menolong ibunya, akan tetapi pada saat itu,ia tertarik oleh tingkah perwira brewok yang meloncat berdiri. Gerakannya amat gesitsehingga amat janggal bagi tubuhnya yang tinggi besar dan perutnya yang seperti gentonggandum.“Ha-ha-ha, kalau ibunya matang dan denok seperti ini, tentti puterinya ranum dan segar.Cocok untukku! Biar kujemput dia!” Sambil berkata demikian, perwira brewok itu sambiltertawa-tiwa melangkah masuk melalui pintu dalam.“Ha-ha-ha, baik sekali! Jemput dia, jemput dia....!” sorak perwira lain.“Ohhh, uuuhhhhh....!” Nyonya Sie meronta, akan tetapi perwira muka ku-ning mempereratpelukannya dan mem-bungkam mulutnya dengan ciuman kasar.
Leave a Comment
izin ngunduh gan, :)