Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Dinamika Smt 1, 2004

Dinamika Smt 1, 2004

Ratings: (0)|Views: 13 |Likes:

More info:

Published by: Lembaga Informasi Perburuhan Sedane on Oct 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/13/2013

pdf

text

original

 
LIPS, Dinamika Semester I, 2004
hlm1
DINAMIKA adalah analisis enam-bulanan kondisi perburuhan di Indonesia yang didasarkan padakliping koran dan
majalah (Kompas, Bisnis Indonesia, Media Indonesia, Suara Pembaruan,Koran Tempo, Republika, Pikiran Rakyat, Jawa Pos, Bernas, Tempo, Gatra, Tempo Interaktif),
 serta beberapa buletin dan majalah perburuhan. Analisis ini terutama menyoroti dua aspek dalamisu perburuhan, yaitu resistensi buruh dan peluang pembangunan gerakan buruh dalam upayamemahami kondisi perburuhan untuk penguatan gerakan buruh.
DINAMIKA
INDONESIA LABOR UPDATESEMESTER I, 2004
L I P S
Lembaga Informasi Perburuhan Sedane
Tampaknya puluhan juta rakyat Indonesia masih akan tetap menganggur dalam10 tahun ke depan. Ekonomi nasional diperkirakan belum mampu menyerappengangguran dan angkatan kerja baru. Pertumbuhan ekonomi tak sebandingdengan laju pengangguran. Komisi Sosial Ekonomi PBB untuk Asia Pasifik(ESCEP) memperkirakan perekonomian Indonesia membutuhkan waktu 10tahun untuk kembali tumbuh ke tingkat 7 persen per tahun. Padahalpengangguran yang kini berjumlah puluhan juta jiwa diduga baru dapat terserapbila ekonomi nasional melaju dengan kecepatan di atas 7 persen per tahun.Bila masalah pengangguran belum juga segera tertanggulangi, upayapemerintah daerah dan kota menertibkan pinggiran jejalanan kota dari pedagangkaki lima merupakan perbuatan sia-sia, bodoh, bahkan tidak manusiawi. Jalan tol juga akan makin disemarakkan oleh para pedagang asongan. Mereka adalahsebagian kecil dari penduduk Indonesia yang tidak mendapat tempat bekerja disektor formal yang kapasitasnya kian menciut. Angka pengangguran kianmembengkak.Secara global masalah pengangguran memang parah. Laporan OrganisasiPerburuhan Internasional (ILO) bertajuk Global Employment Trend 2004menyebutkan bahwa pengangguran dunia mencapai 185,9 juta atau 6,2 persendari jumlah angkatan kerja keseluruhan. Di Indonesia, Bank Dunia punmenandaskan bahwa pengangguran di negeri ini semakin memburuk karenalambatnya investasi.
 
LIPS, Dinamika Semester I, 2004
hlm2
Angka Pengangguran Terus Meningkat
Meningkatnya angka pengangguran dipastikan menjadi salah satu masalahserius yang dihadapi Indonesia sekarang ini. Ledakan pengangguran sekarangini adalah angka tertingi yang pernah dialami Indonesia. Lembaga llmuPengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan bahwa jumlah pengangguranterbuka pada 2003 lalu mencapai 9,5 juta orang atau sekitar 9,2 persen dari jumlah seluruh angkatan kerja. Sedangkan pengangguran terselubung berjumlah26,8 juta orang atau sekitar 26,1 persen dari jumlah seluruh angkatan kerja.Pada 2004 ini, jumlah pengangguran terbuka dan terselubung diperkirakan akanmeningkat masing-masing menjadi 10,7 juta dan 28,9 juta orang atau sekitar 10,1 persen dan 27,5 persen dari jumlah seluruh angkatan kerja.Data pengangguran di atas bagaimanapun menuntut pemerintah untuk dengancermat menanganinya, karena akan berdampak luas pada kehidupan sosialpenduduk. Akan tetapi sebagian besar teknokrat ekonomi negeri ini terjebakdalam kerangka pikir neoliberalisme, suatu paham yang memastikan merekayang (bermodal) kuatlah yang akan menang. Dalam pandangan neoliberalisme,pengangguran dilihat semata-mata sebagai derivasi dari masalah rendahnyaminat para investor untuk menanamkan modal mereka di Indonesia.Implikasinya, masalah pengangguran tetap dijauhkan dari kemungkinandilakukannya penanggulangan langsung oleh sektor negara. Dengan kata lain,dengan meyakini kerangka neoliberal, pemerintah percaya bahwa pengangguranhanya dapat ditangani dengan menciptakan lingkungan investasi yang kondusif bagi para investor untuk menanamkan modal mereka. Dengan meningkatnyavolume investasi, selain akan memacu pertumbuhan ekonomi, masalahpengangguran diharapkan “akan terpecahkan dengan sendirinya.”Sekilas argumen pemerintah di atas meyakinkan. Namun argumen tersebuttetaplah tampak melingkar dan terjebak pada keyakinan bahwa pengangguranhanyalah akibat rendahnya volume investasi dan untuk menanganinya harusdiciptakan iklim investasi yang kondusif. Implikasinya: negara terus didoronguntuk tetap lebih mengutamakan para investor daripada rakyat banyak yangsedang mengalami pengangguran. Dalam perspektif ekonomi-politik, tidakberlebihan bila kerangka berpikir tersebut ditafsirkan sebagai strategi parainvestor dan para ekonom neoliberal yang menjadi kaki tangannya untukmenjadikan masalah pengangguran sebagai komoditas politik demimeningkatkan posisi tawar mereka dalam berhadapan dengan sektor negara.Masalah pun semakin rumit karena menurut satu tulisan seorang pengamat diharian
Bisnis Indonesia
, 7 Maret 2004, sepertiga anggaran negara saat initerlanjur terkuras untuk membayar angsuran pokok dan bunga utang negarayang kian menggelembung. Ironisnya, pada saat yang sama penyelewenganuang negara terus terjadi dengan volume penyimpangan hampir setara denganvolume Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) setiap tahunnya.
 
LIPS, Dinamika Semester I, 2004
hlm3
 Ada beberapa pendapat yang penting untuk dilihat sebagai solusi, diantaranyamenurut Tim Indonesia Bangkit. Menurut mereka, setidak-tidaknya ada tigaupaya ekstra yang dapat ditempuh pemerintah dalam menanggulangi masalahpengangguran: Pertama, peningkatan pendapatan negara melalui optimalisasipemungutan pajak, penertiban dana non-bujeter, restrukturisasi BUMN,peninjauan kontrak bagi hasil dengan kontraktor asing, dan dengan melakukansekuritisasi aset. Kedua, penajaman belanja negara dengan melakukanpenghematan di berbagai bidang. Dan ketiga, peningkatan alokasi belanjapembangunan untuk menciptakan proyek-proyek padat karya di sektor pertaniandan perdesaan. Artinya, masalah pengangguran juga harus ditangani secaralangsung oleh sektor negara melalui kebijakan industri yang jelas terarah danterencana dengan baik.
Lemahnya Kebijakan Industri
Sayangnya, kebijakan industri pemerintah, menurut banyak pengamat, kurangterarah dan terencana dengan baik. Strategi pembangunan tidak bervisi jauh kedepan dan mempertimbangkan kepentingan strategis nasional dengan mengukur keunggulan komparatif dan daya saing.Dalam kebijakan di sektor pertanian, misalnya, ditinjau dari porsi penyerapantenaga kerja secara total sektor ini merupakan yang terbesar dalam menyeraptenaga kerja, yaitu 40-45 persen. Sektor ini menjadi tulang punggung tenagakerja Indonesia, disusul sektor retail (eceran), perdagangan dan restoran yangmenyerap kurang lebih 20 persen dari total tenaga kerja. Sektor lainnya adalahsektor industri manufaktur. Namun, kebijakan dan arah pembangunan selama initelah turut memperburuk sektor pertanian dengan munculnya keenggananankaum muda untuk terjun dalam sektor tersebut. Akibatnya, sektor ini telahmengalami pengurangan tenaga kerja sedikitnya 50 persen setiap tahun. Tingkatproduksi di sektor pertanian, seperti di perkebunan teh, juga makin terpurukdengan aktivitas perdagangan menurun hingga 50 persen. Kebijakan industriyang kehilangan arah telah membuat sektor ini dianggap kurang menguntungkandan tidak lagi menarik minat kaum muda Indonesia untuk bekerja danmengembangkannya. Banyak kalangan menyerukan perlunya dibuat undang-undang perlindungan petani.Karenanya, dilihat dari strukturnya ekonomi Indonesia tampak bertumbuh secaratimpang. Di satu sisi sektor pertanian yang menyerap tenaga kerja sebanyak 45persen ternyata hanya memiliki kue sebesar 15-20 persen dari total pendapatannasional. Sementara, industri manufaktur dengan hanya menyerap kurang dari15 persen tenaga kerja, memiliki porsi terbesar dalam ekonomi, yaitu sebesar 27persen.Beberapa tahun terahir, data dari Biro Pusat Statistik menunjukkan bahwa porsiburuh yang bekerja di sektor formal terus mengalami penurunan, sementara

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->