Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
18Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Analisis UU Pratek Kedokteran Nomor 29 tahun 2004

Analisis UU Pratek Kedokteran Nomor 29 tahun 2004

Ratings:

4.82

(11)
|Views: 1,849 |Likes:
Published by b3b3q

More info:

Published by: b3b3q on Jan 21, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX or read online from Scribd
See more
See less

04/28/2013

 
ANALISIS UNDANG-UNDANG PRAKTIK KEDOKTERANNOMOR 29 TAHUN 2004DIKAITKAN DENGAN KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN BAGIPENYEDIADAN PENERIMA JASA KESEHATAN
Ratih Citra Sari, dr.MAGISTER HUKUMKONSENTRASI HUKUM KESEHATANUNIKA SOEGIJAPRANATABANDUNG
2008Pasal 37
 
(1)
Surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dikeluarkan oleh
 
 pejabatkesehatan yang berwenang di kabupaten/kota tempat praktik kedokteran atau kedokterangigi dilaksanakan.
(2)
Surat izin praktik dokter atau dokter gigi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanyadiberikan untuk paling banyak 3 (tiga) tempat.
(3)
Satu surat izin praktik hanya berlaku untuk 1 (satu) tempat praktik.Pasal ini memberikan kerugian bagi penerima jasa dalam hal ini adalah masyarakat,karena dalam ayat (2) disebutkan bahwa dokter dan dokter gigi hanya diperbolehkan untuk  praktek paling banyak di tiga tempat. Pembatasan ini tidak dapat digeneralisasi untuk seluruhIndonesia, dikarenakan perbedaan kondisi daerah serta ratio dokter, terutama dokter-dokter ahli, dibandingkan dengan jumlah penduduk. Selain itu pasal ini tidak sesuai dengan lafalsumpah dokter dimana dokter menjalankan tugasnya dengan mengutamakan kepentinganmasyarakat.Pemberi jasa dalam hal ini adalah dokter dan dokter gigi, justru mendapatkan keuntungandari pasal ini, karena pasal ini membantu pemberi jasa dalam mengoptimalkan kualitas pelayanan yang diberikan, dengan pertimbangan keterbatasan waktu dan fisik sebagaimanusia sesuai dengan pasal 8 Kode Etik Kedokteran Indonesia.
Pasal 45
(1)
Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter ataudokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan.
(2)
Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat penjelasan secara lengkap.
(3)
Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya mencakup:a. diagnosis dan tata cara tindakan medis; b. tujuan tindakan medis yang dilakukan;c. alternatif tindakan lain dan risikonya;d. risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan
 
e. prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.
(4)
Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan baik secaratertulis maupun lisan.
(5)
Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang mengandung risiko tinggi harusdiberikan dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan.
(6)
Ketentuan mengenai tata cara persetujuan tindakan kedokteran atau kedokteran gigisebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri.Pasal ini menguntungkan baik bagi penerima jasa pelayanan kesehatan maupun baik  pemberi jasa pelayanan, karena dengan adanya Pasal ini maka artinya pasien memiliki hak untuk mendapatkan penjelasan secara lengkat sebelum dokter dan dokter gigi melakukantindakan medis. Penjelasan rinci ini disebut juga dengan
informed consent.
Sementara dokter dan dokter gigi selaku pemberi pelayanan mendapatkan keuntungan berupa bentuk kepercayaan dari pasien dan keluarga mengenai tindakan yang akan dilakukan, sehingga bilatercapai suatu pengertian yang baik maka laporan/pengaduan ketidakpuasan dikemudian haridapat dihindarkan.
Pasal 46
(1)
Setiap dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran wajib membuatrekam medis.
(2)
Rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus segera dilengkapi setelah pasien selesai menerima pelayanan kesehatan.
(3)
Setiap catatan rekam medis harus dibubuhi nama, waktu, dan tanda tangan petugas yangmemberikan pelayanan atau tindakan.Pasal ini menguntungkan bagi penerima jasa kesehatan dan pemberi jasa kesehatan,karena dengan demikian penerima jasa layanan kesehatan dapat mengetahui catatan medisyang berhubungan dengan kondisi yang bersangkutan. Pencatatan (rekam medis) yang baik merupakan alat bukti yang dapat menghindarkan pemberi pelayanan dari tuntutan hukum.

Activity (18)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
InTan Ramli liked this
aditiaakram4221 liked this
Hesty Trihastuti liked this
usamah irham liked this
arie_yantie22 liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->