Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword or section
Like this
2Activity
×

Table Of Contents

0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
oase (eramuslim)

oase (eramuslim)

Ratings: (0)|Views: 27,523|Likes:
Published by Achmad Hidayat

More info:

Published by: Achmad Hidayat on Oct 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

05/01/2013

pdf

text

original

 
Mengapa Takut Tantangan?
Publikasi: 18/03/2005 08:28 WIB
eramuslim
- Dalam sebuah pelatihan kepemimpinan, seorang instruktur mengajukansebuah kasus yang kelihatannya sederhana kepada para peserta. Andaikan Anda seorangnelayan (modern) yang harus berminggu-minggu di tengah laut menangkap ikan, apayang akan Anda lakukan agar sesampainya di darat ikan hasil tangkapan tetap segar?Beberapa peserta nampak tergugah dan terjadilah dialog yang makin lama makin serudengan instruktur pelatihan."Masukkan saja ikan-ikannya dalam freezer,""Itu telah dilakukan. Tapi kesegarannya tetap akan berkurang, karena ketika sampai didarat ikan telah mati cukup lama,""Kalau begitu, supaya tetap hidup, perlu disediakan semacam tangki air untuk menyimpan ikan,""Itu pun telah dilakukan. Tapi karena terlalu lama berada dalam tangki, ikan-ikan itutetap saja mati atau lemas dan tidak segar lagi ketika dijual ke konsumen. Padahalkonsumen menginginkan ikan yang masih segar,"Menit-menit berlalu, tak satu solusi pun tampak sesuai sasaran. Akhirnya instrukturmemberikan suatu jawaban yang cukup mengejutkan, yang tak pernah terpikirkan sedikitpun di benak peserta, mungkin juga Anda."Solusi yang pernah dicoba dan ternyata berhasil adalah memasukkan seekor ikan hiu kedalam tangki ikan,"Peserta nampak keheran-heranan mendengar solusi yang bagi mereka tak masuk akal itu."Bukannya ikan hiu itu justru akan memakan habis ikan-ikan lainnya?""Ya, memang ada ikan yang dimakan ikan hiu itu, tapi jumlahnya sangat sedikit. Ikan-ikan lainnya tetap hidup sampai saatnya tiba di darat dan dijual ke konsumen dalamkeadaan tetap segar,""Mengapa demikian?""Jawabannya adalah karena ikan-ikan itu mendapat tantangan dengan dikejar-kejar ikanhiu. Ternyata dengan adanya tantangan, kemampuan ikan dalam mempertahankankelangsungan hidupnya semakin tinggi. Ikan-ikan tersebut justru mampu bertahan hiduplebih lama dengan adanya ikan hiu di sekitar mereka. Itulah hukum alam."
 
***Ilustrasi di atas dapat dianalogikan pada manusia. Kita akan menjadi manusia yanglemah, malas bekerja keras bahkan segan beribadah, dan cenderung santai jika tidak mendapat tantangan yang besar dalam hidup ini. Tantangan akan meningkatkankecerdasan, kompetensi atau kemampuan diri dalam berusaha menyelesaikan masalah.Bayangkan bila kita tidak merasa ditantang, kita tidak akan pernah terlatih untuk menghadapi masalah, apalagi mau menyelesaikannya. Namun demikian, kadang kalasebuah tantangan bisa menjadi suatu hambatan untuk maju, manakala kita tidak beranimenghadapinya, sehingga menjadikan kita seorang
looser 
. Dalam kasus di atas ibaratnyaikan kecil yang kurang gesit, sehingga dapat dimakan oleh ikan hiu.Sesungguhnya Allah lah yang menciptakan tantangan kepada manusia di dunia ini dansekaligus menyediakan balasannya (
reward and punishment 
), sebagai sarana peningkatankualitas ketaqwaan. Kadar tantangan-Nya sudah ditakar sangat akurat sesuai dengankemampuan kita masing-masing, sebagaimana tercermin dalam QS. Al Baqarah 286:
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Iamendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (darikejahatan/tindakan buruk) yang dikerjakannya" 
.Kemampuan dalam menghadapi masalah sebagian besar tidak kita dapatkan di bangkusekolah. Sekolah hanya mengajarkan alat dan metoda yang bisa kita gunakan untuk menyelesaikan masalah.
 However, a man behind the gun will mostly determine to win awar 
, kemampuan kitalah yang lebih menentukan. Kemampuan akan lebih meningkat jikakita terus mengasahnya di dunia nyata (pekerjaan, rumah tangga, lingkungan sosial).Semakin kita berhasil melewati tantangan akan menumbuhkan semangat baru untuk menyelesaikan tantangan-tantangan berikutnyaSuatu ketika umat Islam mendapat sebuah tantangan. Pada saat itu Rasulullah SAW dankaum muslimin dikepung oleh pasukan kafir yang bersekutu sehingga jumlahnya berlipatganda dalam perang Ahzab. Namun ketika sedang memecahkan batu dan menggali paritperlindungan, tiba-tiba dengan izin-Nya Rasulullah SAW mendapat 'gambaran' mengenaimasa depan Islam. Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah SAW mengatakan:
"Allahu Akbar! Aku telah dikaruniai kunci-kunci istana negeri Persi, dan nampak olehkudengan nyata istana-istana negeri Hirah begitu pun kota-kota maharaja Persi danbahwa umatku akan menguasai semua itu. Allahu Akbar! Aku telah dikaruniai kunci-kunci negeri Romawi, dan tampak olehku dengan nyata istana-istana merahnya, danbahwa umatku akan menguasainya." 
Pada saat itu Persi dan Romawi adalah duaimperium besar yang mengelilingi jazirah Arab dan menjadi simbol kekuatan tak terkalahkan selama berabad-abad.Ini adalah sebuah tantangan Allah yang digulirkan oleh Rasulullah kepada kaumMuslimin. Dengan lecutan tantangan ini, Rasulullah dan para sahabatnya kembalibersemangat dan berhasil memenangkan perang Ahzab (Khandaq) walaupun jumlahpasukannya sangat sedikit. Dan tantangan yang dikatakan Rasulullah dalam hadits
 
tersebut juga menambah semangat syiar Islam dan kelak berhasil diwujudkan pada masaKhulafaur Rasyidin dan Kekhalifahan Utsmaniyah. Begitulah, apa yang pada masa itutampaknya tidak mungkin terjadi, pada kenyataannya bisa terwujud di kemudian hari.Suatu tantangan tidak harus datang dari luar, namun kita bisa menciptakannya dari dirikita sendiri. Tantangan dalam pekerjaan, keluarga, ataupun dakwah dapat diwujudkansebagai suatu target pencapaian yang harus dibuat lebih tinggi dari kondisi sekarang.Jangan pikirkan itu sesuatu yang tidak bisa dicapai. Justru dengan tingginya suatu target,kita menjadi terpacu untuk lebih maju, bekerja lebih keras dan berfikir lebih kreatif.Tentu saja suatu target apakah akan dapat terwujud, tertunda untuk sementara waktu, ataubahkan tidak terwujud itu merupakan hak prerogatif Allah semata.Wallahu 'alam bishshowab.***
M. Asmeldi Firman
 asmeldi.firman@gmail.com Cikarang-Frankfurt am Main, Maret 2005
Pujian
Publikasi: 17/03/2005 08:10 WIB
eramuslim
- Di sebuah ruang
chatting internet 
, ada seorang teman menyampaikankajiannya tentang pujian. Kajiannya ini diawali dengan kisah Imam Ali r.a. ketikamendapat teguran dari orang yang ia mintai pendapatnya mengenai ceramahnya itu.Seperti yang kita ketahui, Imam Ali r. a. sangatlah piawai dalam berpidato, sehinggasetiap kali beliau berpidato selalu memberikan efek yang membuat para pendengarnyamenangis. Mendapat pertanyaan itu, orang yang ditanya langsung menegurnya danmengingatkannya bahwa jika saja ia (Imam Ali) tidak bertanya seperti itu makaamalannya itu tidak akan rusak. Begitulah kira-kira ceritanya.Menurut makalah yang saya terima ketika saya menghadiri sebuah seminar
Public Relation
tahun lalu, senang memuji adalah salah satu dari nilai-nilai plus yangmembentuk 
self-PR
yang kuat. Bisa kita bayangkan bila orang sudah mau memuji oranglain berarti dia secara tidak langsung mengakui kelemahan diri dan mengakui kelebihanorang lain. Suatu tindakan yang menunjukkan kerendahhatian bukan? Dalam hal ini kitapasti sudah bisa membedakan mana pujian yang perlu dan tulus serta pujian yangmenjilat.Dulu saya pernah membaca sebuah kisah orang alim yang selalu dipuji orang karenakealimannya. Dia sungguh merasa tersiksa, karena dia khawatir dengan segala pujian itu

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->