Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Perbandingan System Pemerintahan

Perbandingan System Pemerintahan

Ratings: (0)|Views: 49 |Likes:
Published by Achmad Hidayat

More info:

Published by: Achmad Hidayat on Oct 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/10/2013

pdf

text

original

 
PERBANDINGANSISTEM PEMERINTAHAN:SUATU PENGANTAR 
 
Islam Abdillah
 
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu…”
(
QS. An Nahl:89)
 Allah SWT menurunkan Islam sebagai risalah yg universal, yg mengatur seluruh manusia di setiapwaktu & tempat, di samping itu juga Islam merupakan risalah yg memuat aturan lengkap
 ,
yg mampumenyelesaikan seluruh problem interaksi di dlm negara dan masyarakat, baik dlm pemerintahan, ekonomi,sosial, pendidikan maupun politik, di dlm dan luar negeri; baik yg menyangkut interaksi yg umum, antaranegara dan masyarakatnya, atau antara negara dgn umat serta bangsa lain; ketika perang dan damai. Termasuk  juga yg menyangkut interaksi secara khusus antara anggota masyarakat satu dgn anggota masyarakat yg lain.Dengan demikian, Islam adalah sistem yg paripurna & menyeluruh (
comprehensive
) bagi seluruhkehidupan manusia. Karena itulah, kaum muslimin diwajibkan untuk memberlakukannya secara total dlmsebuah tatanan pemerintahan (negara) yg memiliki bentuk tertentu sesuai dgn fikrah dan
thoriqoh
Islam ygkhas, yg tergambarkan dlm sistem kekhilafahan sebagaimana contoh Rasulullah saw serta Khulafaur Rasyidin.Sistem pemerintahan Islam adalah sebuah sistem yang berbeda sama sekali dengan sistem-sistem pemerintahan yang ada di dunia. Baik dari aspek asas yang menjadi landasan berdirinya, pemikiran, konsep,standar serta hukum-hukum yang dipergunakan untuk melayani kepentingan umat, maupun dari aspek undang-undang dasar serta undang-undang yang diberlakukannya, juga aspek bentuk yang menggambarkan wujudnegara, maupun hal-hal yg menjadikannya beda sama sekali dari seluruh bentuk pemerintahan yg ada di dunia. Namun, di kalangan kaum muslimin sendiri banyak yg meragukan bahwa Islam memiliki tatanan pemerintahan yg khas. Mereka merasa perlu untuk mengadopsi tatanan pemerintahan dari luar pemikiran Islam.Oleh karenanya, marilah kita cermati sejauh mana kemungkinan pengadopsian itu dilakukan? Apakah sesuaidengan aqidah dan syariat Islam.
Perbedaan Dengan Theokrasi
Theokrasi berasal dari bahasa Yunani Theos (Tuhan) dan kratos (kekuasaan). Istilah theokrasi biasadigunakan untuk menyebut sistem politik yang didasarkan atas kekuasaan Tuhan yang diwakili oleh kekuasaanspiritual sekaligus menguasai kekuasaan politik (Dr. Jamil Shaliba, Al Mu'jam al Falsafi, hal 369).Dlm Ensiklopedi Indonesia (Hassan Sadily, dkk.) theokrasi digunakan oleh kerajaan-kerajaan kuno ygmengaku mendapatkan legitimasi kekuasaan dr dewa atau Tuhan, misalnya kekaisaran Jepang. Disamping
 
legitimasi kekuasaan dr Tuhan yg tak bisa diganggu-gugat, dlm negara theokrasi pemimpin negara dianggapmendapatkan wewenang utk membuat hkm & sekaligus menariknya kembali kapan saja tanpa koreksi.Menurut Ustadz Syibly Al Isamy, negara theokrasi adalah negara di tangan para pemimpin gereja ygmenganggap segala perilaku mereka terjaga dr kesalahan dan suci. Apa yg mereka halalkan di bumi, tentu halal pula di langit. Apa yg mereka batasi di dunia, tentu dibatasi pula di langit. Tak seorang pun manusia boleh berkata kepada para pemimpin gereja itu,
"Engkau telah berbuat buruk, engkau telah berbuat salah".
Sebab dgn perkataannya itu berarti telah menentang Tuhan yang telah mewakilkan kepadanya (Al-Qardhawy, 1999:81).Bahkan kesucian pemimpin alias penguasa (Imam) itu menurut Imam Khomeini, berada pada martabatyang sangat tinggi, yang tak bisa dijangkau oleh para nabi maupun malaikat muqarrabin (lihat Al Imam AlKhomeini, Al Hukumah Al Islamiyah, hal 52).Dgn demikian, bahwa dlm theokrasi, kekuasaan dimiliki seseorang/sekelompok orang yg mendapatkanlegitimasi dr Tuhan bukan dr rakyat. Oleh krn itu rakyat tdk berwenang utk mencabutnya dr kekuasaan.Disamping itu, tatkala penguasa membuat hkm, dia berkedudukan sebagai wakil Tuhan yg berwenang mengatur kehidupan di muka bumi. Dgn demikian berarti kedaulatan (
as siyadah/sovereignty
) dan kekuasaan (
as sulthon/autority
) berada di tangan seorang/beberapa orang penguasa theokrasi itu sendiri.Setidaknya ada empat perbedaan antara sistem khilafah dgn sistem theokrasi;
 Pertama
, legitimasikekuasaan para penguasa dlm sistem theokrasi berasal dari Allah atau Tuhan atau Dewa. Mereka mengakuwakil Tuhan & rakyat cukup hanya menerima pengakuan mereka Dlm sistem khilafah, legitimasi kekuasaandiperoleh oleh seorang khalifah dr umat krn khalifah dipilih oleh umat rakyat secara keseluruhan ataumayoritasnya, baik secara langsung atau melalui perwakilan mereka (
majelis umat/syuro
). Khalifah bukanlahwakil Allah, melainkan wakil umat. Kesimpulannya, sumber kekuasaan dlm khilafah adalah umat (
 As Sulthanlil Ummah
). Lalu umat menyerahkan pelaksanaan pemerintahan itu kpd seseorang yg mereka bai'at menjadikhalifah utk mewakili mereka. Rasulullah Saw. dan khulafaur Rasyidin mendapatkan baiat dr kaum musliminutk menjalankan kekuasaan guna menerapkan hkm Islam dlm keidupan bernegara. (An Nabhani, 1997:40)
 Kedua
, hukum yg diterapkan dlm sistem theokrasi adalah hukum yang dibuat sendiri oleh para penguasayang mengklaim telah mendapatkan legitimasi dan wewenang dari Allah untuk membuat hukum sesukamereka. Sedangkan dalam sistem khilafah, khalifah yang telah dibai'at oleh umat Islam hanyalah bertugas untuk melaksanakan hukum Allah yang terdapat dalam
al Qur'an
dan
Sunnah
. Sedangkan, dalam negara theokrasi, para pemimpin/penguasa membuat hukum sendiri dengan segala kelemahan pengetahuannya sebagai manusia.
 Ketiga
, dlm negara theokrasi, penguasa sebagai wakil Tuhan di muka bumi diklaim tdk bisa berbuatsalah. Penguasa
ma'shum
, dijaga oleh oleh Tuhan dari kesalahan dan dosa. Dlm sistem khilafah, penguasa justrutidak 
ma'shum
.
 Keempat 
, karena kemaksuman dlm poin ketiga, maka penguasa dalam sistem theokrasi tidak bisadikritik dan dikoreksi. Sedangkan dlm sistem khilafah, kritik dan koreksi (
muhasabah
) adalah hak kaummuslimin sekaligus kewajiban mereka sebagai rakyat yg mewakilkan kekuasaan melaksanakan hukum AllahSWT kepada khalifah. Sebab, khalifah sebagaimana umat adalah manusia yang di dlm melaksanakan hukumAllah SWT mungkin melakukan kekeliruan. Dan pelanggaran hukum Allah SWT atau kemungkaran, apabiladilakukan penguasa, bisa menjadi sebuah bencana yg besar.Karena itu, negara khilafah merupakan negara manusiawi —yang dipimpin manusia serta memerintahmanusia biasa— bukan negara
ilahiyah
(theokrasi) —dimana penguasanya adalah wakil tuhan yang tidak  pernah salah. (An Nabhani, 1997:157)
 
Perbedaan Dengan Kerajaan (Monarki)
 
Sistem monarki adalah bentuk pemerintahan yang dikepalai oleh seorang raja. Sistem ini kadangkalamengalami perubahan dari sisi pembuat hukum dan pola pengangkatan raja sehingga ada di antara para pakar  politik, antara lain Leon Duguit, yang membagi sistem ini ke dalam tiga bentuk, yaitu:1.
 
Monarki dengan sistem pemerintahan yang absolut2.
 
Monarki terbatas3.
 
Monarki konstitusionilTanpa perlu memandang perbedaan bentuk monarki itu sendiri, secara substansial ada beberapa hal yangharus dicermati dalam sistem pemerintahan monarki ini, yaitu:Sistem pemerintahannya menerapkan sistem waris, di mana singgasana kerajaan akan diwarisi olehseorang putra mahkota dari orang tuanya; seperti saat mereka mewariskan harta warisan. Sedangkan sistem pemerintahan Islam tidak mengenal sistem waris. Sistem Islam telah menjadikan kekuasaan adalah milik umat, bukan milik khalifah. Pemerintahan akan dipegang oleh orang yang dibaiat oleh umat dengan penuh ridha dankebebasan memilih. Umar bin Khatab r.a. pernah berkata:
“Siapa saja yang menyerahkan kepemimpinankepada seseorang karena pertimbangan sanak-kerabat atau sahabatnya, padahal ia tahu bahwa di antarakaum muslimin ada yang lebih baik ketimbang dia, maka Allah dan Rasul-Nya benar-benar telah menjadikan seluruh kaum muslimin terhina”.
(Abdul Qadim Zallum, Nizhamul Hukmi Fiil Islam: 91)Sistem pemerintahan Islam tidak berbentuk monarchi. Bahkan, Islam tidak mengakui sistem monarchi,maupun yang sejenis dengan sistem monarchi. Dalam Islam, pemerintahan akan dipegang oleh orang yangdibai’at oleh umat dengan penuh ridla dan kebebasan memilih. (An Nabhani, 1997:31)Disamping itu, dalam pemerintahan Islam tidak mengenal
wilayatul ahdi
(putra mahkota). Justru Islammenolak adanya putra mahkota, bahkan Islam juga menolak memperoleh pemerintahan dengan cara waris.Dimana Islam telah menentukan cara memperoleh pemerintahan, dengan bai’at dari umat kepada Khalifah atauimam, dengan penuh ridla dan kebebasan memilih. (An Nabhani, 1997:32)Dlm praktiknya, sistem pewarisan kekuasaan yang ternyata menjadi salahsatu faktor yang mempercepatruntuhnya Khilafah Utsmaniyyah. Juga pada masa Umayyah, sistem putra mahkota yang dipelopori olehKhalifah Muawiyyah karena telah merampas hak-hak politik rakyat yang sudah ditetapkan dlm Islam.Selain itu pola pewarisan jabatan menyebabkan Khilafah diperintah oleh orang-orang yang kurangmatang dan tidak berpengalaman. Sepuluh orang Khalifah pertama pada masa Utsmaniyyah (sampai era
Sulaiman The Magnificent 
, 1520-1566) adalah orang-orang yang matang. Tetapi para Khalifah sesudahnya(kecuali Murad IV, Mustafa III, dan Abdul Hamid II) adalah orang-orang yang kurang matang bahkan ada yang berada di bawah pengaruh ibunya (Sultan Osman II, 1618-1622). Selain itu nepotisme yang merebak di beberapa wilayah telah menyebabkan upaya-upaya pemisahan diri yang menguras konsentrasi Khalifahsehingga menghambat upaya konsolidasi internal.Adanya hak tertentu serta hak-hak istimewa khusus untuk raja saja, yang tidak akan bisa dimiliki olehyang lain. Sistem ini juga telah menjadikan raja di atas undang-undang, secara pribadi raja memiliki kekebalanhukum. Raja, kadang kala hanya merupakan simbol bagi umat, dan tidak memiliki kekuasaan apa-apa, sepertiraja-raja di Eropa. Atau kadang kala menjadi raja dan sekaligus berkuasa penuh, bahkan menjadi sumber hukum. Dimana raja bebas mengendalikan negeri dan rakyatnya dengan sesuka hatinya, seperti raja di Saudi,Maroko, dan Yordania. (An Nabhani, 1997:31)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->