• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • 1
    CommentGo Back
 
PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang
Suatu proses produksi budidaya tanaman yang melalui beberapa tahapan mulaidari persiapan lahan sampai penanganan pasca panen akan mengalami beberapa Kendala.Tetapi apabila kita dapat memperhatikan secara benar dan disiplin sesuai dengan petunjuk dan prosedur serta pengalaman yang telah dilakukan dalam pemeliharaan tanaman akanmempunyai suatu proses budidaya tanaman(Anonim, 2005).Pemeliharaan tanaman terdiri dari beberapa kegiatan mulai dari pemupukan, penyiraman sampai ke pengendalian hama dan penyakit yang timbul pada tanaman. Suatu proses produksi budidaya tanaman apabila dilakukan di Green House maupun diluar arealyang bebas akan mempengaruhi dalam pemeliharaan terutama pengendalian hama dan penyakit. Berbudidaya tanaman diluar areal yang bebas atau di lahan yang terbuka tampaadanya penghalang seperti paranet atau tanaman bareir maka kemungkinan tanamantersebut mudah terserang hama maupun penyakit dan didukung kondisi alam atau suhuyang sangat berpengaruh timbulnya penyakit(Anonim, 2005).Penggunaan pestisida kimia pertama kali diketahui sekitar 4.500 tahun yang lalu(2.500 SM) yaitu pemanfaatan asap sulfur untuk mengendalikan tungau di Sumeria.Sedangkan penggunaan bahan kimia beracun seperti arsenic, mercury dan serbuk timahdiketahui mulai digunakan untuk memberantas serangga pada abad ke-15. Kemudian pada abad ke-17 nicotin sulfate yang diekstrak dari tembakau mulai digunakan sebagaiinsektisida. Pada abad ke-19 diintroduksi dua jenis pestisida alami yaitu, pyretrum yangdiekstrak dari chrysanthemum dan rotenon yang diekstrak dari akar tuba Derris eliptica(Miller, 2002). Pada tahun 1874 Othmar Zeidler adalah orang yang pertama kalimensintesis DDT (Dichloro Diphenyl Trichloroethane), tetapi fungsinya sebagaiinsektisida baru ditemukan oleh ahli kimia Swiss, Paul Hermann Muller pada tahun 1939yang dengan penemuannya ini dia dianugrahi hadiah nobel dalam bidang Physiology atauMedicine pada tahun 1948 (NobelPrize.org). Pada tahun 1940an mulai dilakukan produksi pestisida sintetik dalam jumlah besar dan diaplikasikan secara luas (Daly et al.,1998). Beberapa literatur menyebutkan bahwa tahun 1940an dan 1950an sebagai “era pestisida” (Murphy, 2005). Penggunaan pestisida terus meningkat lebih dari 50 kali lipat
 
semenjak tahun 1950, dan sekarang sekitar 2,5 juta ton pestisida ini digunakan setiaptahunnya (Miller, 2002). Dari seluruh pestisida yang diproduksi di seluruh dunia saat ini,75% digunakan di negara-negara berkembang (Miller, 2004).Pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dengan menggunakan pestisida banyak dilakukan secara luas oleh masyarakat, karena pestisida mempunyaikelebihan dibandingkan dengan cara pengendalian yang lain, yaitu antara lain:-dapat diaplikasikan secara mudah;-dapat diaplikasikan hampir di setiap tempat dan waktu;-hasilnya dapat dilihat dalam waktu singkat;-dapat diaplikasikan dalam areal yang luas dalam waktu singkat; dan-mudah diperoleh, dapat dijumpai di kios-kios pedesaan sampai pasar swalayan dikota besar(Ditlin Tanaman Hortikultura, 2008).Reaksi terhadap bahaya penggunaan pestisida kimia terutama DDT mulai nampak setelah Rachel Carson menulis buku paling laris yang berjudul “Silent Spring” tentang pembengkakan biologi (biological magnification) tahun 1962. Sehingga minimal ada 86negara melarang penggunaan DDT, meskipun masih digunakan di beberapa negara berkembang untuk memberantas nyamuk malaria (Willson and Harold, 1996). Beberapadampak negatif dari penggunaan pestisida kimia pada lahan pertanian yang telahdiketahui, diantaranya: mengakibatkan resistensi hama sasaran (Endo et al. 1988; Oka1995), gejala resurjensi hama (Armes et al., 1995), terbunuhnya musuh alami (Tengkanoet al. 1992), meningkatnya residu pada hasil, mencemari lingkungan, gangguan kesehatan bagi pengguna (Oka 1995; Schumutterer, 1995), bahkan beberapa pestisida disinyalir memiliki kontribusi pada fenomena pemanasan global (global warming) dan penipisanlapisan ozon (Reynolds, 1997).Djamin (1985)menyatakan bahwa pemakaian insektisida yang terus menerus akanmengakibatkan dampak negatif terhadap lingkungan, manusia, hewan ternak maupunmusuh alami hama dan serangga yang berguna lainnya. Disamping itu dapat jugamenimbulkan resistensi hama serangga, resurgensi hama, eksplosi hama kedua sehinggakerusakan terhadap tanaman akan semakin meningkat.Pemberantasan hama yang tengah diupayakan oleh pemerintah untuk bisaditerapkan kdi lapangan adalah Hama Berwawasan Lingkungan. Hama Berwawasan
 
Lingkungan adalah tindakan pengendalian hama yang berdasarkan atau berpedomankepada Konsepsi Pengendalian Hama Terpadu. Penerapan Konsepsi PHT tersebutdidorong oleh banyak faktor yang pada dasarnya adalah dalam rangka penerapan program pembangunan nasional berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Faktor-faktor tersebut adalah :1.Kegagalan pemberantasan hama secara konvensional. Pemberantasan hama secarakonvensional dengan pendekatan pada penggunaan pestisida telah terbuktimenimbulkan dampak negatif, antara lain resistensi atau ketahanan hama, srurjensihama, ledakan hama sekunder, matinya organisma bukan sasaran (musuh alami,serangga berguna, binatang ternak, dan lain-lain), residu pada hasil/produk  pertanian, keracunan pada manusia, dan pencemaran lingkungan.2.Kesadaran tentang kualitas lingkungan hidup.Karena dampak negatif pestisidaterhadap organisma non sasaran dan lingkungan, maka disadari bahwa penggunaan pestisida dalam pengendalian hama merupakan teknologi pengendalian hama yang bersifat kurang ramah lingkungan. Dengan adanya kesadaran ini, kemudian munculkesadaran lebih lanjut bahwa untuk pengendalian hama yang ramah lingkungan perlu dicari alternatif teknologi penggunaan pestisida yang ramah lingkungan atauteknologi pengendalian lain selain pestisida yang juga harus ramah lingkungan.Teknologi pengendalian hama yang ramah lingkungan tersebut adalah PHT.3.Dampak globalisasi ekonomi. Era globalisasi saat ini telah memunculkan era perdagangan bebas antar negara, mengakibatkan produk-produk pertanian harusmemenuhi persyaratan ekolabeling. Produk pertanian yang dipasarkan dituntutharus bersifat ramah lingkungan, diantaranya tidak mengandung residu pestisida.Kondisi ini mengakibatkan penerapan teknologi PHT sebagai teknologi pengendalian yang ramah lingkungan menjadi salah satu teknologi alternatif yangdibutuhkan.4.Kebijakan pemerintah. Era globalisasi mengakibatkan tekanan tekanan duniainternasional mengenai kelestarian lingkungan menjadi semakin tinggi. Olehkarena itu, maka pemerintah memberikan dukungan yang sangat besar terhadap penerapan PHT ini. Ini dapat dilihat dengan dikeluarkannya berbagai kebijakanyang mendukung penerapan PHT dalam sistem produksi pertanian (Hidayat, 2001).
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...