Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan Indonesia.docxediiit

Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan Indonesia.docxediiit

Ratings: (0)|Views: 202 |Likes:
Published by Amille Rossalina

More info:

Published by: Amille Rossalina on Oct 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/11/2013

pdf

text

original

 
MAJELIS DISIPLIN TENAGA KESEHATAN INDONESIADAN MAJELIS TENAGA KESEHATAN PROPINSIA.
 
Latar Belakang
Dunia kedokteran yang dahulu seakan tak terjangkau oleh hukum, denganberkembangnya kesadaran masyarakat akan kebutuhannya tentang perlindunganhukum menjadikan dunia pengobatan bukan saja sebagai hubungan keperdataan,bahkan sering berkembang menjadi persoalan pidana. Banyak persoalan-persoalanmalpraktek yang kita jumpai, atas kesadaran hukum pasien maka diangkat menjadimasalah pidana. Berdasarkan hal tersebut diperlukan suatu pemikiran dan langkah-langkah yang bijaksana sehingga masing-masing pihak baik dokter maupun pasienmemperoleh perlindungan hukum yang seadil adilnya. Membiarkan persoalan iniberlarut-larut akan berdampak negatif terhadap pelayanan medis yang padaakhirnya akan dapat merugikan masyarakat secara keseluruhan. Memang disadarioleh semua pihak, bahwa dokter hanyalah manusia yang suatu saat bisa salah danlalai sehingga pelanggaran kode etik bisa terjadi, bahkan mungkin sampaipelanggaran norma-norma hukum. Soerjono Soekanto dan Kartono Muhammadberpendapat bahwa belum ada parameter yang tegas tentang batas pelanggarankode etik dan pelanggaran hukum.Belum adanya parameter yang tegas antara pelanggaran kode etik danpelanggaran didalam perbuatan dokter terhadap pasien tersebut, menunjukanadanya kebutuhan akan hukum yang betul-betul diterapkan dalam pemecahanmasalah-masalah medik, yang hanya bisa diperoleh dengan berusaha memahamifenomena yang ada didalam profesi kedokteran.Sistem hukum di Indonesia yang salah satu komponennya adalah hukumsubstantive, diantaranya hukum pidana, hukum perdata dan hukum administrasi
tidak mengenal bangunan hukum “malpraktek”.
 Keterkaitan antara berbagai kaidah yang mengatur perilaku dokter, merupakandibidang hukum baru dalam ilmu hukum yang sampai saat ini belum diatur secarakhusus. Padahal hukum pidana atau hukum perdata yang merupakan hukum positif yang berlaku di Indonesia saat ini tidak seluruhnya tepat bila diterapkan padadokter yang melakukan pelanggaran. Bidang hukum baru inilah yang berkembang
 
di Indonesia dengan sebutan Hukum Kedokteran, bahkan dalam arti yang lebih luasdikenal dengan istilah Hukum Kesehatan.Istilah hukum kedokteran mula-mula diunakan sebagai terjemahan dari HealthLaw yang digunakan oleh
World Health Organization.
Kemudian Health Lawditerjemahkan dengan hukum kesehatan, sedangkan istilah hukum kedokterankemudian digunakan sebagai bagian dari hukum kesehatan yang semula disebuthukum medik sebagai terjemahan dari medic law.Sejak World Congress ke VI pada bulan agustus 1982, hukum kesehatanberkembang pesat di Indonesia. Atas prakarsa sejumlah dokter dan sarjana hukumpada tanggal 1 Nopember 1982 dibentuk Kelompok Studi Hukum Kedokteran diIndonesia dengan tujuan mempelajari kemungkinan dikembangkannya MedicalLaw di Indonesia. Namun sampai saat ini, Medical Law masih belum munculdalam bentuk modifikasi tersendiri. Setiap ada persoalan yang menyangkut medicallaw penanganannya masih mengacu kepada Hukum Kesehatan Indonesia yangberupa Undang-Undang No. 23 Tahun 1992, KUHP dan Kitab Undang-UndangHukum Perdata. Kalau ditinjau dari budaya hukum Indonesia, malpraktek merupakan sesuatu yang asing karena batasan pengertian malpraktek yangdiketahui dan dikenal oleh kalangan medis (kedokteran) dan hukum berasal darialam pemikiran barat. Untuk itu masih perlu ada pengkajian secara khusus gunamemperoleh suatu rumusan pengertian dan batasan istilah malpraktek medik yangkhas Indonesia (bila memang diperlukan sejauh itu) yakni sebagai hasil oleh pikerbangsa Indonesia dengan berlandaskan budaya bangsa yang kemudian dapatditerima sebagai budaya hukum (
legal culture
) yang sesuai dengan systemkesehatan nasional.Dari penjelasan ini maka kita bisa menyimpulkan bahwa permasalahanmalpraktek di Indonesia dapat ditempuh melalui 2 jalur, yaitu jalur litigasi(peradilan) dan jalur non litigasi (diluar peradilan).Untuk penanganan bukti-bukti hukum tentang kesalahan atau kealpaan ataukelalaian dokter dalam melaksanakan profesinya dan cara penyelesaiannya banyak kendala yuridis yang dijumpai dalam pembuktian kesalahan atau kelalaian tersebut.Masalah ini berkait dengan masalah kelalaian atau kesalahan yang dilakukan olehorang pada umumnya sebagai anggota masyarakat, sebagai penanggung jawab hak dan kewajiban menurut ketentuan yang berlaku bagi profesi. Oleh karena
 
menyangkut 2 (dua) disiplin ilmu yang berbeda maka metode pendekatan yangdigunakan dalam mencari jalan keluar bagi masalah ini adalah dengan carapendekatan terhadap masalah medik melalui hukum. Untuk itu berdasarkan SuratEdaran Mahkamah Agung Repiblik Indonesia (SEMA RI) tahun 1982, dianjurkanagar kasus-kasus yang menyangkut dokter atau tenaga kesehatan lainnyaseyogyanya tidak langsung diproses melalui jalur hukum, tetapi dimintakanpendapat terlebih dahulu kepada Majelis Kehormatan Etika Kedokteran (MKEK).Majelis Kehormatan Etika Kedokteran merupakan sebuah badan di dalamstruktur organisasi profesi Ikatan Dokter Indonesia (IDI). MKEK ini akanmenentukan kasus yang terjadi merpuakan pelanggaran etika ataukah pelanggaranhukum. Hal ini juga diperkuat dengan UU No. 23/1992 tentang kesehatan yangmenyebutkan bahwa penentuan ada atau tidaknya kesalahan atau kelalaianditentukan oleh Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan (pasal 54 ayat 2) yang dibentuk secara resmi melalui Keputusan Presiden (pasal 54 ayat 3).Pada tanggal 10 Agustus 1995 telah ditetapkan Keputusan Presiden No.56/1995 tentang Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan (MDTK) yang bertugasmenentukan ada atau tidaknya kesalahan atau kelalaian dokter dalam menjalankantanggung jawab profesinya. Lembaga ini bersifat otonom, mandiri dan nonstructural yang keanggotaannya terdiri dari unsur Sarjana Hukum, Ahli Kesehatanyang mewakili organisasi profesi dibidang kesehatan, Ahli Agama, Ahli Psikologi,Ahli Sosiologi. Bila dibandingkan dengan MKEK, ketentuan yang dilakukan olehMDTK dapat diharapkan lebih obyektif, karena anggota dari MKEK hanya terdiridari para dokter yang terikat kepada sumpah jabatannya sehingga cenderung untuk bertindak sepihak dan membela teman sejawatnya yang seprofesi. Akibatnya pasientidak akan merasa puas karena MKEK dianggap melindungi kepentingan doktersaja dan kurang memikirkan kepentingan pasien.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->