Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Lawanlah Kapitalis Batak Pos__GJA

Lawanlah Kapitalis Batak Pos__GJA

Ratings: (0)|Views: 75 |Likes:
......Melawan kapitalisme harus dengan ‘cara-cara kapitalis’ juga, yakni dengan menyerangnya di tempat-tempat yang paling menyakitkan bagi para kapitalis itu, yakni di kantongnya, pundi-pundinya, pusat-pusat pendapatannya. Misalnya, dengan memboikot produknya. Selain itu, dengan mendesak pemerintah untuk menutup keran-keran kreditnya. Tidak ketinggalan dengan kampanye media yang gencar, untuk menjatuhkan nilai sahamnya di bursa-bursa saham dunia. .....
......Melawan kapitalisme harus dengan ‘cara-cara kapitalis’ juga, yakni dengan menyerangnya di tempat-tempat yang paling menyakitkan bagi para kapitalis itu, yakni di kantongnya, pundi-pundinya, pusat-pusat pendapatannya. Misalnya, dengan memboikot produknya. Selain itu, dengan mendesak pemerintah untuk menutup keran-keran kreditnya. Tidak ketinggalan dengan kampanye media yang gencar, untuk menjatuhkan nilai sahamnya di bursa-bursa saham dunia. .....

More info:

Published by: Feriawan Agung Nugroho on Jan 21, 2009
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2014

 
Batak Pos
 , Sabtu, 6 Oktober 2007, hal. 10:LAWANLAH KAPITALIS DENGAN CARA-CARA KAPITALIS(Tanggapan atas Tanggapan Gurgur Manurungatas Tulisan Suryati Simanjuntak)----------------------------------------------------------------------------------Oleh George Junus AditjondroTANGGAPAN Gurgur Manurung atas tulisan Suryati Simanjuntak, yang dimuat
Batak Pos,
1 Oktober lalu, berhasil mempertajam beberapa aspek yang sudah disinggungoleh Suryati dalam tulisannya di harian yang sama, 29 September lalu. Beberapa aspek ituadalah, pertama, keberfihakan pemerintah – dalam hal ini, Kepala Dinas Pertambangandan Kehutanan Kabupaten Humbahas, Darwin Lumbangaol – di sisi pemodal, dalammemberikan justifikasi bagi pemodal, dhi PT TPL, untuk menggusur keanekaragamanhayati dan menggantinya dengan monokultur ekaliptus.Aspek kedua, yang lebih tersirat, adalah keberfihakan dunia perguruan tinggi, dhi,Institut Pertanian Bogor (IPB), yang konon hasil penelitiannya (menurut Darwin)menegaskan bahwa pada intinya, ekaliptus tidak rakus air dan tidak merusak ekosistem.Betapa kuatnya posisi pemilik modal dalam melakukan ekspansi bisnisnya, kalaupemerintah kabupaten dan perguruan tinggi paling terkemuka di bidang pertanian, beradadi sisinya.GAYA BIROKRAT DAN GAYA AKTIVIS:Untunglah, legitimasi ilmiah, tidak hanya datang dari perguruan tinggi. IPBsekalipun. Bahkan cukup sering studi-studi AMDAL yang dilakukan oleh IPB – bekerjasama dengan PTN-PTN di daerah -- tidak dapat menangkap keragaman hayati berbagai ekosistem di Indonesia, sebagaimana yang saya saksikan di Indonesia Timur.Waktu melakukan AMDAL terhadap proyek PLTA Sentani di Papua Barat, bekerjasamadengan para peneliti dari Fakultas Pertanian Universitas Cenderawasih (sekarang,Universitas Papua), tim IPB-Uncen itu tidak dapat ‘memotret’ keragaman jenis ikan dansagu di dalam dan di sekitar Danau Sentani, yang akan terpengaruh oleh PLTA itu,dibandingkan dengan apa yang berhasil ‘dipotret’ oleh staf saya dari Irja-DISC (
Irian JayaDevelopment Information Service Centre
), suatu lembaga kerjasama antara Uncen dengan
 AsiaFoundation
.Padahal staf peneliti saya, belum ada yang bergelar S2 atau S3 waktu itu. Bahkansebagian besar, S1 pun belum selesai. Namun yang saya rekrut kebanyakan adalah anak-anak Sentani asli, kebanyakan perempuan, yang menguasai bahasa Sentani, danmelakukan penelitian secara mendalam, dengan mengamati teknik pembuatan sagu danpenangkapan ikan masyarakat danau itu.
1
 
Sementara tim Uncen-IPB, hanya pergi meneliti seperti birokrat yang berangkat kekantor. Pagi-pagi, naik
spead boat
ke kampung-kampung di danau. Siang hari, sebelumombak terlalu besar, sudah balik ke darat (kampung-kampung asli masyarakat Sentani berwujud rumah-rumah panggung yang tertancap di atas air, GJA). Soalnya, ketua jurusanAntropologi Uncen waktu itu, seorang antropolog asal Jawa Barat yang tidak bisa berenang, dan sangat takut ombak.Sementara itu, staf lapangan Irja-DISC, yang hampir semua anak Sentani, sepertiDortje Monim dan kawan-kawan, tentu saja bisa berenang, punya hobi menangkap ikan,paling doyan makan
 papeda
 , atau bubur sagu, dan mengerti jenis-jenis pohon sagu. Terus,yang penting, hati mereka ada bersama rakyat Sentani, sebab mereka adalah ikan-ikanyang berenang di air danau itu.Sekian tahun kemudian, tahun 2004, ketika saya bekerja pada Yayasan TanahMerdeka (YTM) di Palu, sekali lagi saya hanya bisa menggeleng-geleng kepala,menyaksikan kecerobohan staf peneliti IPB, dalam “memotret” keragaman hayati – baikikan maupun nelayan – yang akan terkena dampak sebuah proyek pembangunan raksasa.Kali ini, IPB bekerjasama dengan dua PTN lain, yakni Universitas Sam Ratulangie diManado dan Universitas Tadulako di Palu. Sedangkan yang diteliti adalah dampakpembangunan pulau buatan di Teluk Tolo, dengan menghancurkan terumbu karang Tiaka,pusat pemijahan ikan bagi nelayan Bungku Atas di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.Akibat penghancuran terumbu karang itu, 300 orang nelayan di tiga desa BungkuAtas menderita kerugian setiap hari 10 kilogram, yang kalau diuangkan, kerugiannya tiaptahun mencapai Rp 16,4 milyar (lihat tulisan Delima Silalahi dan George Junus Aditjondro,“Medco, dari Ketiak Sulawesi ke Pedalaman Tapanuli”,
Batak Pos,
21-22 September 2007).Dampak negatif berupa kerugian yang bakal diderita oleh nelayan setempat, samasekali tidak disinggung dalam AMDAL Proyek Pertambangan Migas Medco-Pertamina itu.Bahkan keragaman nelayan yang tinggal di Teluk Tolo, tidak didata dengan cermat dalamAMDAL itu, yang dengan mudah dapat dikoreksi oleh seorang staf peneliti YTM, seorangputri asli Morowali, Nerlian Gogali, yang “hanya” seorang Sarjana Theologia, dan samasekali bukan Doktor bidang Ekologi Maritim.GERAKAN SOSIAL JUGA PRODUSEN PENGETAHUANDUA contoh di atas tentu saja tidak mewakili semua hasil penelitian IPB. Namunyang ingin saya tolak adalah asumsi, bahwa hanya perguruan tinggi – negeri maupunswasta – adalah satu-satunya produsen pengetahuan yang
legitimate
. Sebab pengetahuanyang
legitimate
 , atau yang di kemudian hari memperoleh legitimasi dari perguruan tinggi, bisa lahir dari pergumulan gerakan-gerakan kemasyarakatan (
social movements)
dankonstituen mereka, dengan permasalahan-permasalahan riil dalam masyarakat.
2
 
Suryati Simanjuntak telah mengungkapkan pengetahuan jenis itu, dalam tulisannyayang ditanggapi Gurgur Manurung. Ia menyinggung munculnya oposisi terhadapprogram-program penghijauan besar-besaran di India dan Brazil. Gerakan anti-ekaliptusyang telah mewabah di India, memang didukung oleh literatur tentang gerakan-gerakankemasyarakatan di Dunia Ketiga, atau yang kadang-kadang disebut, belahan bumi Selatan.Harsh Sethi, seorang sarjana ilmu sosial India yang tergabung dalam lembaga studidan advokasi
Lokayan,
telah membeberkan kuatnya oposisi petani terhadap penghijauanekaliptus seluas 75 ribu
acre
di negara bagian Karnataka. Para petani yang tergabung dalamgerakan
 Manu Rakshna Koota
(Selamatkan Tanah!) menentang perkebunan ekaliptus itu,yang dimaksudkan untuk menyediakan bahan baku bagi sebuah pabrik rayon, karenamereka menyaksikan turunnya muka air tanah karena penanaman ekaliptus (lihat HarshSethi, “
Survival and Democracy: Ecological Struggles in India
”, dalam buku yang disuntingPonna Wignaraja,
New Social Movements in the South: Empowering the People
 , terbitan ZedBooks di London, tahun 1993).Kalau para ahli-ahli IPB pembela PT TPL masih meragukan kesahihan hasilpengamatan para petani India itu, silakan mereka pergi ke Israel. Atau kalau susah keIsrael, karena Indonesia tidak punya hubungan diplomatik dengan negara perampaskebebasan bangsa Palestina itu, silakan pergi ke negara bagian California, AS. Baik di Israelmaupun di California, penanaman ekaliptus secara besar-besaran telah dipakai untukpengeringan rawa-rawa di sana!ALIANSI ANTI-EKALIPTUSBERBAGAI sifat ekaliptus, yang berasal dari benua Australia, “terpaksa” sayaperdalam, ketika raksasa kertas cebok dari AS, Scott Paper, berkongsi dengan kelompokAstra, ingin membuka satu juta hektar kebun ekaliptus di Tanah Papua bagian Selatan.Padahal suku-suku di daerah itu sudah puluhan tahun berkebun karet, hasil introduksiBelanda di daerah itu. Selain itu, daerah yang diincar oleh Scott Paper juga merupakanladang perburuan dan tempat dusun-dusun sagu penduduk asli dari suku Auyu.Waktu itu saya masih menjabat sebagai konsultan penelitian Irja-DISC yangkemudian berganti nama menjadi YPMD-Irja. Makanya, sambil menulis tesis S2 saya diCornell University, AS, bersama kawan-kawan di Merauke, Jayapura, Jakarta, danmancanegara, kami bangun aliansi anti-Scott Paper sedunia. Ancaman boikot kertas cebokitu, serta iklan sehalaman penuh yang menampilkan CEO Scott Paper sebagai satu diantara delapan perusak hutan terbesar di dunia, bersama-sama dengan Presiden BankDunia, Presiden Brazil, dan Perdana Menteri Malaysia, akhirnya berhasil membatalkanrencana Scott Paper untuk membuka perkebunan ekaliptus itu, sebagai sumber bahan bakukilang bubur kertas yang ingin mereka bangun di tempat pembuangan pejuang-pejuangkemerdekaan Indonesia, Boven Digul.
3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->