Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
5Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
2 Studi Komparasi Metode Penilaian Status Gizi Indeks Massa Tubuh Imt Dengan Subjektif Global Assesment Sga Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar

2 Studi Komparasi Metode Penilaian Status Gizi Indeks Massa Tubuh Imt Dengan Subjektif Global Assesment Sga Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar

Ratings: (0)|Views: 431|Likes:
Published by Alif

More info:

Published by: Alif on Oct 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/21/2012

pdf

text

original

 
Media Gizi Pangan, Vol. XI, Edisi 1, Januari – Juni 2011
IMT, SGA
 
7
STUDI KOMPARASI METODE PENILAIAN STATUS GIZI INDEKSMASSA TUBUH (IMT) DENGAN
SUBJEKTIF GLOBAL ASSESMENT (SGA) 
PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT DR WAHIDINSUDIROHUSODO MAKASSAR
Thresia Dewi KB
1)
, Aswita Amir
1)
, Hendrayati
1)
, Sri Dara Ayu
1)
 
1)
Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Makassar
ABSTRACT Background: 
Body mass index (BMI) is one method of nutritional assessment which uses measurements of Weight and Height. At the height measurement there are some obstacles that caused uncorrect reasult. One practical and simple alternative way to assess the nutritional status of patients is the Subjective Global Assessment (SGA) are not just relying on one assessment objective measurements are extremely limited, but also based on clinical measurements.
Objectives: 
To analyze the differences in the determination of anthropometric methods of nutritional status (BMI) with subjective measurements of nutritional status (SGA)
Methods: 
This study was cross sectional study. Research carried out at room inpatient hospital Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar in 3 months by the number of patients 67 people 
Results: 
There was no difference in the results of determining the nutritional status of patients using either the IMT method or SGA method 
Conclusion: 
The method of determining nutritional status were objective (BMI) and subjective (SGA) is an equally good method in determining the nutritional status of inpatients in the hospital.
Suggestions: 
Socialization uses SGA to nutritionists, nurses and doctors need to be implemented as an alternative to determining the nutritional status of an easier, cheaper and simpler.Keywords: body mass index and subjective global assessment 
PENDAHULUAN
Pengkajian data gizi merupakan tahapawal yang sangat menentukan dalampelaksanaan
Nutritional Care Proses 
(NCP) atauPelayanan Asuhan Gizi Terstandar (PAGT)pasien rawat inap. Pengkajian data gizidiperlukan untuk menentukan diagnosa gizipasien di rumah sakit. Pengkajian data gizipasien di rumah sakit sangat penting dilakukansecara rutin mengingat faktor risiko status giziterhadap penyembuhan pasien sangat tinggi.Penelitian multisenter tahun 2003 di RS SardjitoYogjakarta, RS Jamil Padang dan RS SanglahDenpasar menunjukan bahwa pasien yangmengalami penurunan status gizi di rumah sakitmempunyai lama rawat inap lebih panjang, biayarumah sakit yang lebih besar, risiko tidaksembuh tinggi serta risiko meninggal di rumahsakit lebih tinggi. Oleh karena itu penilaian statusgizi di rumah sakit secara rutin penting dilakukanuntuk menentukan status gizi pasien secaraakurat dan hubungannya dengan malnutrisisecara klinis. Status gizi juga diperlukan untuk
 
Media Gizi Pangan, Vol. XI, Edisi 1, Januari – Juni 2011
IMT, SGA
 
8memonitor perubahan-perubahan status giziselama terapi. Pengkajian status gizi pasiensalah satunya dapat dilakukan dengan caraantropometri misalnya pengukuran berat badandan tinggi badan. Pada saat pengukuran tinggibadan terjadi beberapa kendala yangdisebabkan alat yang digunakan atau pasienyang lebih tinggi dari pengukurnya. Salah satucara alternatif praktis dan sederhana untukmenilai status gizi pasien adalah dengan
Subjektif Global Assessment 
(SGA) yang tidakhanya menggantungkan penilaian pada salahsatu pengukuran objektif saja yang sangatterbatas, namun juga berdasarkan pengukuranklinis. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakahhasil penilaian status gizi metode Indeks MassaTubuh (IMT) sebagai salah satu metodepenilaian status gizi secara objektif tidakberbeda dengan (SGA) ? 
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian dalam penelitian iniyaitu
observasional 
dengan pendekatan
cros sectional.
Tempat penelitian di ruang rawat inappenyakit dalam Rumah Sakit Dr WahidinSudirohusodo Makassar yang dilaksanakanselama 3 bulan dimulai dari bulan Juni sampaidengan bulan September 2010.Populasi pada penelitian ini adalahseluruh pasien rawat inap di ruang penyakitdalam rumah sakit Dr Wahidin SudirohusodoMakassar tahun 2010. Subjek ialah pasien rawatinap di ruang penyakit dalam rumah sakit DrWahidin Sudirohusodo Makassar pada bulanJuni sampai bulan September tahun 2010dengan kriteria mampu berkomunikasi dan dapatdiukur berat badan dan tinggi badannya. Subjekpenelitian dipilih secara
simple random sampling 
.Indeks Massa Tubuh (IMT) diperolehdengan cara pengukuran berat badan (BB)dengan menggunakan timbangan digital denganketelitian 0,1 kg, dan tinggi badan (TB) denganmikrotoice. Data IMT diperoleh dengan formulaBB/(TB)
2
. Berat badan dalam satuan kilogramdan tinggi badan dalam satuan meter. Untukmencapai hasil yang baik (validitas tinggi)dilakukan pengukuran sekurang-kurangnya tigakali. SGA diukur dengan menggunakan formSGA yang sudah di gunakan di RSUP DR.Sardjito Jogjakarta.Pengolahan data meliputi pemberiankode (
coding 
), pembuatan struktur file,pemasukan data (
entry data 
), editing data,pembersihan data (
data cleaning 
),penggabungan dan pemisahan file sertamembuat variabel (
generating variables 
).Analisa statistik menggunkan T test
 
untukmembandingkan metode IMT dengan SGA. 
HASIL PENELITIAN
Penelitian mengenai studi komparasimetode penilaian status gizi antara IndeksMassa Tubuh(IMT) dengan
Subjektif Global Asessment 
(SGA) pasien rawat inap telahdilakukankan di Rumah Sakit DR. WahidinSudiro Husodo Makassar mulai bulan Agustussampai Nopember 2010. Subjek penelitian yangdiperoleh dalam penelitian ini sebanyak 67orang. 53,7 % laki laki dan 46,3 % perempuan.Sebaran penyakit pada subjek penelitian terdiridari 76,1 % penyakit non infeksi dan 23,9%penyakit infeksi.Hasil penelitian pengukuran status gizibaik menggunakan metode IMT maupun SGAdapat dilihat pada tabel 1Tabel 1Penilaian Status Gizi IMT dengan SGA
Status GiziIMT SGAn % n %Normal 20 29,9 16 23,9TidakNormal47 70,1 51 76,1Jumlah 67 100 67 100
Uji statistik yang dipergunakan untukmenganalisis perbedaan antara metode IMTdan SGA dalam menentukan status gizi pasienadalah uji Chi Square. Hasil uji menunjukan p =0.560. Hal ini berarti bahwa Ho ditolak atau tidakada perbedaan antara metode IMT dan metodeSGA dalam menentukan status gizi pasien rawatinap di rumah sakit Dr. Wahidin SudirohusodoMakassar
 
Media Gizi Pangan, Vol. XI, Edisi 1, Januari – Juni 2011
IMT, SGA
 
9
PEMBAHASAN
Menurut Andersen (1987) status gizidipengaruhi oleh dua hal utama, yakni makananyang dikonsumsi dan derajat kesehatan. Saat inipendapat Andersen tersebut dikenal denganpenyebab langsung masalah gizi yaitu tingkatasupan zat gizi serta ada tidaknya penyakit padaseseorang. Peningkatan derajat kesehatanmerupakan tujuan pemerintah yang harusmendapat dukungan dari berbagai pihaktermasuk para ahli gizi.Kini di Indosesia sedang berkembangpelayanan terapi gizi dengan menggunakanmodel
Nutrition Care Proses 
(NCP) dimana padamodel NCP pada pasien rawat inap kegiatandimulai dari Asessment data dasar termasukdidalamnya skrining pengukuran status gizi.Status gizi pada pasien rawat inapmerupakan modal dasar yang dapat mendukungproses penyembuhan pasien. Hamam Hadi(2006) melakukan penelitian mengenaikontribusi pelayanan gizi rumah sakit terhadapproses penyembuhan di 4 (empat) rumah sakitbesar di Indonesia menyimpulkan bahwa :Pasien yang mengalami penurunan status gizimempunyai masa rawat lebih panjang; Pasienyang mengalami penurunan status gizimenanggung biaya rumah sakit lebih banyak;Pasien yang mengalami penurunan status gizimempunyai risiko tidak sembuh lebih tinggi danpasien yang mengalami penurunan status gizimempunyai risiko mati lebih tinggi. Dengandemikian penentuan status gizi pada pasienrawat inap mutlak diperlukan.Penelitian ini merupakan penelitian ujikomparasi antara dua metode penentuan statusgizi antara yang bersifat objektif yaituantropometri dalam hal ini penentuan IndeksMassa Tubuh (IMT) dan penentuan status gizisecara subjektif dalam hal ini
Subjektif Global Asessment 
(SGA)Jumlah sampel dalam penelitian inisebanyak 67 orang dengan distribusi 53.7 %laki-laki dan 46.3 perempuan. Penelitian inidilaksanakan di ruang penyakit dalam.Pasien yang dirawat pada bagianpenyakit dalam RS Dr Wahidin Sudirohusododikelompokan menjadi 2 (dua) kelompokpenyakit yaitu infeksi dan non infeksi. Hasilpenelitian menunjukan bahwa kelompokpenyakit non infeksi mencapai 76.1 % dankelompok penyakit infeksi lebih rendah yaitumencapai 23.9 %. Hasil ini setara denganperkembangan arah penyakit dimana penyakitnon infeksi seperti penyakit degenerativeberkembang sangat pesat. Riskesdas 2007melaporkan bahwa di Sulawesi Selatan penyakitdegenerative tidak ada hubungannya dengantingkat social ekonomi dan asal tempat tinggal.Mengacu pada model NCP bahwapelayanan gizi merupakan pemecahan masalahyang bersifat dinamis, memerlukan pemikirankritis para ahli gizi sehingga dihasilkan asuhangizi yang berkualitas, aman dan efektif.Penerapan model NCP sesungguhnyamemerlukan pelayanan yang bersifat individualpada pasien sehingga penentuan status gizimerupakan langkah awal yang harus diperoleholeh seluruh pasien tanpa pengecualian. Padapenelitian ini dilakukan pengukuran IndeksMassa Tubuh (IMT) dengan hasil bahwa statusgizi normal menurut IMT lebih rendah disbandingstatus gizi tidak normal yaitu 29.9 % dan 70.1 %.Hasil pengukuran status gizi denganmenggunakan metode SGA menghasilkan halyang sama seperti pada metode IMT yaitu statusgizi tidak normal lebih banyak dari pada statusgizi normal seperti terlihat pada tabel 1.Penelitian Nabet et al menemukan hal yangsama dimana dari 55% dari 155 orangmengalami malnutrisi dengan metode SGAPenelitian
Nutritional Risk Indeks 
 menunjukan bahwa SGA mampu mendeteksiadanya malnutrisi pada pasien rawat inapsecara sensitive dan akurat. Di beberapaNegara termasuk Indonesia metode ini banyakdikembangkan sebagai metode alternative selainmetode yang bersifat objektif yang selama inidipergunakan di rumah sakit.Uji statistik menunjukan p=0.560 yangmenyimpulkan bahwa tidak ada perbedaanantara metode IMT dan SGA dalam halpenentuan status gizi pasien rawat inap.Berbagai penelitian menunjukkan bahwaterdapat korelasi yang erat antara pengukuranstatus gizi subjektif (SGA) dengan pengukuranstatus gizi objektif (Biokimia, Antropometri)sehingga dapat disimpulkan bahwa SGAmerupakan penilaian status gizi yangmempunyai derajat
reproducibility 
tinggi, reliabledan valid. Dengan demikian SGA dapatdijadikan suatu metode alternative yang dapatdigunakan dalam penentuan status gizi pasienselain metode IMT yang selama ini sudahdigunakan di rumah sakit.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->