Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Arti Iman Kepada Allah

Arti Iman Kepada Allah

Ratings: (0)|Views: 21 |Likes:
Published by Despriwandi Mefs

More info:

Published by: Despriwandi Mefs on Oct 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/18/2012

pdf

text

original

 
Arti Iman Kepada Allah
Diterbitkan Oleh eko rosandi pada 22 April 2011 | 23:50
Arti Iman Kepada Allah
 
Iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, danmemperbuat dengan anggota badan (beramal). Dengan demikian iman kepada Allahberarti meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT itu ada, Allah Maha Esa.Keyakinan itu diucapkan dalam kalimat :
 
“Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah”
 
Sebagai perwujudan dari keyakinan dan ucapan itu, harus diikuti dengan perbuatan,yakni menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.
 
Rukun Iman yang pertama adalah iman kepada Allah SWT yang merupakan dasar dari seluruh ajaran Islam. Orang yang akan memeluk agama Islam terlebih dahuluharus mengucapkan kalimat syahadat. Pada hakekatnya kepercayaan kepada AllahSWT sudah dimiliki manusia sejak ia lahir. Bahkan manusia telah menyatakankeimanannya kepada Allah SWT sejak ia berada di alam arwah. Firman Allah SWT :
 
“Dan ingatlah, ketika TuhanMu mengeluarkan keturunan anak 
-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : 
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab : “Betul Engkau Tuhan kam
i, kami 
bersaksi.” (QS. Al 
 A’raf : 172)
 
Jauh sebelum datangnya agama Islam, orang-orang jahiliyah juga sudah mengenal Allah SWT. Mereka mengerti bahwa yang menciptakan alam semesta dan yangharus disembah adalah dzat yang Maha Pencipta, yakni Allah SWT. Sebagaimanadiungkapkan di dalam Al-
Qur’an :
 
 
“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka : “Siapakah yang menciptakanlangit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab : “Semuanya diciptakan oleh
Ya 
ng Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. A
-Zukhruf : 9)
 
Manusia memiliki kecenderungan untuk berlindung kepada sesuatu Yang MahaKuasa. Yang Maha Kuasa itu adalah dzat yang mengatur alam semesta ini. Dzatyang mengatur alam semesta ini sudah pasti berada di atas segalanya. Akal sehattidak akan menerima jika alam semesta yang sangat luas dan teramat rumit ini diatur oleh dzat yang kemampuannya terbatas. Sekalipun manusia sekarang ini sudahdapat menciptakan teknologi yang sangat canggih, namun manusia tidak dapatmengatur alam raya ini. Dengan kecanggihan teknologinya, manusia tidak akandapat menghentikan barang sedetik pun bumi untuk berputar.
 
Dzat Allah adalah sesuatu yang ghaib. Akal manusia tidak mungkin dapatmemikirkan dzat Allah. Oleh sebab itu mengenai adanya Allah SWT, kita harus yakindan puas dengan apa yang telah dijelaskan Allah SWT melalui firman-firman-Nyadan bukti-bukti berupa adanya alam semesta ini.
 
Ketika Rasulullah SAW endapat kabar tentang adanya sekelompok orang yangberusaha memikirkan dan mencari hakekat dari dzat Allah, maka beliau melarangmereka untuk melakukan hal itu. Rasulullah SAW bersabda :
 
) (
“Dar 
i Ibnu Abbas RA, diceritakan bahwa ada suatu kaum yang memikirkan tentang
(hakekat) dzat Allah Azza Wajalla, maka Nabi SAW bersabda : “Pikirkanlah tentangciptaan Allah dan janganlah kamu memikirkan (hakekat) dzat Allah.” (HR. Abu Asy
-Syaikh)
 
Sebagai perwujudan dari keyakinan akan adanya Allah, Tuhan Yang Maha Esaadalah pengabdian kita kepada Nya. Pengabdian kita kepada Allah adalahpengabdian dalam bentuk peribadatan, kepatuhan, dan ketaatan secara mutlak.Tidak menghambakan diri kepada selain Allah, dan tidak pula mempersekutukanNya dengan sesuatu yang lain. Itulah keimanan yang sesungguhnya. Jika sudahdemikian Insya Allah hidup kita akan tentram. Apabila hati dan jiwa sudah tentram,maka seseorang akan berani dan tabah dalam menghadapi liku-liku kehidupan ini.Segala nikmat dan kesenangan selalu disyukurinya. Sebaliknya setiap musibah dankesusahan selalu diterimanya dengan sabar.
Dasar Beriman Kepada Allah
 
a.
 
Kecenderungan dan pengakuan hati
 
b.
 
Wahyu Allah atau Al-
Qur’an
 
c.
 
Petunjuk Rasulullah atau Hadits
 
Setiap manusia secara fitrah, ada kecenderungan hatinya untuk percaya kepadakekuatan ghaib yang bersifat Maha Kuasa. Tetapi dengan rasa kecenderungan hatisecara fitrah itu tidak cukup. Pengakuan hati merupakan dasar iman. Namun dengan
 
pengakuan hati tidak akan ada artinya, tanpa ucapan lisan dan pengalaman anggotatubuh. Sebab antara pengakuan hati, pengucapan lisan, dan pengalaman anggotatubuh merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Untuk mencapaikeimanan yang benar tidak hanya berdasarkan fitrah pengakuan hati nurani saja,tetapi harus dipadukan dengan Al-
Qur’an dan Hadits.
 
Cara Beriman Kepada Allah SWT
 
Iman kepada Allah SWT merupakan pokok dari seluruh iman yang tergabung dalamrukun iman. Karena iman kepada Allah SWT merupakan pokok dari keimanan yanglain, maka keimanan kepada Allah SWT harus tertanam dengan benar kepada diriseseorang. Sebab jika iman kepada Allah SWT tidak tertanam dengan benar, makaketidak-benaran ini akan berlanjut kepada keimanan yang lain, seperti iman kepadamalaikat-malaikat Nya, kitab-kitab Nya, rasul-rasul Nya, hari kiamat, serta qadha danqadar Nya. Dan pada akhirnya akan merusak ibadah seseorang secarakeseluruhan. Di masyarakat tidak jarang kita jumpai cara-cara beribadah seorangyang tidak sesuai dengan ajaran Islam, padahal orang tersebut mengaku beragamaIslam.
 
Ditinjau dari segi yang umum dan yang khusus ada dua cara beriman kepada AllahSWT :
 
a.
 
Bersifat Ijmali
 
Cara beriman kepada Allah SWT yang bersifat ijmali maksudnya adalah, bahwa kitamepercayai Allah SWT secara umum atau secara garis besar. Al-
Qur’an sebagai
suber ajaran pokok Islam telah memberikan pedoman kepada kita dalam mengenal Allah SWT. Diterangkan, bahwa Allah adalah dzat yang Maha Esa, Maha Suci. DiaMaha Pencipta, Maha Mendengar, Maha Kuasa, dan Maha Sempurna.
 
b.
 
Bersifat Tafshili
 
Cara beriman kepada Allah SWT yang bersifat tafsili, maksudnya adalahmempercayai Allah secara rinci. Kita wajib percaya dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT memiliki sifat-sifat yang berbeda dengan sifat-sifat makhluk Nya. Sebagai
bukti adalah adanya “Asmaul Husna” yang kita dianjurkan untuk berdoa dengan
 Asmaul Husna serta menghafal dan juga meresapi dalam hati dengan menghayatimakna yang terkandung di dalamnya.
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->