Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
PERAN IQ

PERAN IQ

Ratings: (0)|Views: 8 |Likes:
Published by Arista Aprilianto

More info:

Published by: Arista Aprilianto on Oct 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/21/2012

pdf

text

original

 
PERAN IQ,EQ,SQ,ESQ DAN AQ
IQ (Intelectual Quotient)
atau pengalaman, skill, pengetahuan, dan berbagai hal yangberhubungan dengan kecerdasan intelektual dan dapat meningkatkan derajat kita ke tempat yanglebih tinggi dari orang lain. Dengan begitu kesuksesan akan dapat lebih mudah dicapai. Apakah benarbegitu?Selanjutnya
EQ (Emotional Quotient)
. Dengan kecerdasan emosional, kita justru akan lebihmendalami kecerdasan intelektual kita dalam berbuat dan berperilaku. Karena hanya dengan IQ saja,tentu sangat mustahil orang bisa meraih kesuksesan. Tergantung kesuksesannya seperti apa dulu,kalo suksesnya membunuh orang-orang nggak berdosa dengan membantainya satu persatu, dengankemampuan menembak, merakit bom, memilih senjata, berkelahi, membuat virus komputer,melakukan aktifitas hacking dll.Sebuah penelitian di Amerika dan Jepang menyatakan bahwa dari 100% orang sukses, hanya 10-20persen aja yang berpendidikan tinggi, berijazah lengkap, dan tentunya dengan IQ yang di atas rata-rata, selebihnya, 80-90 persen hanya lulusan SMA, SMP, atau bahkan tidak punya latar belakangpendidikan, kebanyakan dari mereka mengawali karir dari berdagang. Hal ini membuktikan bahwa IQbukanlah segala-galanya. Dari beberapa penelitian juga dikatakan bahwa justru orang-oarang yangber IQ tinggi malah memiliki kesulitan dalam bergaul, berinteraksi, mengembangkan diri, dan ber-attitute baik.Ternyata, kecerdasan IQ dan EQ aja belum cukup untuk menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang,masih ada satu hal lagi yang selama ini kita lupakan.Memang, kedua hal tersebut sudah cukup memberikan peranan dalam meraih kesuksesan, tapi,apakah kita akan puas dengan kesuksesan-kesuksesan kita? tentunya nggak. kita akan terus meraih
apa yang kita inginkan. terus dan terus menerus… Tapi pernah
nggak sih kita menyadari bahwasegala hal yang kita raih dalam kesuksesan itu justru malah akan menjerumuskan kita dalam-dalam?Berbagai pengalaman yang pernah gue baca, masalahnya sama, yaitu nggak adanya kepuasan dalamhidup meski kita berada dalam kesuksesan tertinggi.Ambil aja contoh Fulan, Fulan adalah seorang pelajar yang pintar, nilainya bagus terus dan meraihperingkat pertama di sekolahnya, hingga pada akhirnya dia disekolahkan ke luar negeri, setelah lulus,ia mengambil S2 di negeri belahan lain lagi. lalu ia kerja, mendapat posisi yang paling tinggi, danterus begitu hingga pada akhirnya ia sadar kalau selama ini memiliki kesulitan untuk menghadapi
hidup dan menganggap kesuksesan bukanlah segala2nya… masih ada lagi yang mesti ia cari… tapi
apakah itu???Ada yang bilang ketenangan sejati?Terus bagaimana caranya agar kita dapat meraih ketenangan sejati tersebut?sebuah pertanyaan besar,bukan?Beberapa pakar kecerdasan telah menemukan tiga tingkatan alam dalam otak manusia, yaitu alamsadar (IQ), alam pra sadar (EQ), dan sebuah unsur terdalam otak manusia yang disebut GOD SPOT,sebuah titik terang yang berada di alam bawah sadar manusia. Hal itulah yang ternyata dapatmeningkatkan potensi kecerdasan spiritual atau
SQ (Spiritual Quotient)
kita.
 
Landasan EQ dan SQ Dalam KepemimpinanSeorang pemimpin yang hanya berlandaskan pada IQ saja, maka visi dan misi serta orientasi kerjanyasebatas pada hal-hal yang sifatnya materialistis, matematis dan pragmatis, denganmengenyampingkan hal-hal yang berbau spirituallits dan sentuhan hati nurani. Pencapain visi dan misioleh pemimpin yang hanya mengandalkan IQ, dilakukan dengan prinsip just do it, sehingga segalabentuk kegagalan ataupun keberhasilan, disikapi sebagai prinsip just a game. bahkan ultimate goalnya juga masih sebatas mancari kepuasan materiil atau duniawi.Pemimpin yang menerapkan nilai-nilai EQ akan menggunakan hatinya dalam memimpin, tidaksemata-mata logika sebagaimana pendekatan IQ di atas. Penerapan EQ ini ditunjukan dengan sifatsidik (jujur), Tabligh (berani menyampaikan kebenaran), Amanah (terpercaya), dan Fatonah(berpendirian kuat) dalam memimpin. namun pendekatan EQ ini sasaran akhirnya cenderung masihtetap sama dengan pendekatan IQ yakni sebatas mengejar kepuasan materiil atau duniawi. Konon didalam dunia pendidikan negara maju seperti Jepang, Inggris dan Amerika ada materi tambahan yangberkaitan erat dengan life skill dan leadership. Disitu aspekkejujuran, pemahaman akan individu danmasyarakat, ditambah basic technology diberikan sebagai menu sehari-hari. Namun konsep itunampaknya masih terlepas dari nilai-nilai luhur ajaran agama, hanya sebatas pada hubungan antarsesama manusia dengan mengabaikan hubungan dengan Tuhan Pencipta Semesta Alam.Pemimpin yang mendalami dan menerapkan nilai-nilai SQ dipadukan dengan nilai-nilai EQ, ultimategoal nya semata-mata mendapat ridha Allah SWT. Visi dan misinya sangat jauh kedepan karenadihasilkan dari proses memahami masa lalu (sejarah) yang sangat jauh ke belakang. Mulai dari upayamemahami penciptaan alam dan manusia sampai meyakini bahwa tujuan akhirnya tidak lain adalahakhirat. dengan demikian visinya tidak sebatas sampai akhir kehidupan dunia saja, tapi sampai padakehidupan akhirat, dimana semua perilaku kita di dunia akan dipertanggung jawabkan dihadapanAllah SWT dan kita yakin bahwa pengadilan akhirat akan kita hadapi. Oleh karena itu prinsip just do itnya adalah mengerjakan segala sesuatu dengan penuh keikhlasan karena melaksanakan tugas dankewajiban sebagai seorang pemimpin, semata-mata mengharap ridha Allah SWT, sehingga ukuranyang digunakannya bukan lagi ukuran manusia tapi sudah menggunakan ukuran Tuhan Pencipta AlamSemesta.Demikian juga dalam hal pengukuran kinerja karyawannya, tidak seamta-mata hanya berorientasipada hasil seperti yang populer dikembangkan di Barat, tetapi kriteria proses untuk mencapai hasiltersebut juga sangat diperhatikan. Kriteria berdasarkan hasil hanya berfokus pada apa yang telahdicapai atau dihasilkan ketimbang bagaimana sesuatu itu dicapai atau dihasilkan . Salah satu contoh
definisi kinerja yang dikemukakan seorang ahli barat John Whitmore, ” Kinerja diartikan sebagai
kualitas
dan Kuantitas output dari suatu proses manajemen “. Hal ini berarti, kriteria berdasarkan hasil hanya
tepat diberlakukan bagi organisasi yang tidak peduli bagaimana hasil ini dicapai. Justru inilah banyakmenyebabkan timbulnya kemerosotan moral dan etika karena mereka dapat melakukan denganberbagai cara untuk mencapai hasil yang diharapkan. Padahal definisi kinerja yang berlandaskan ESQ
adalah “Hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi,
sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam upaya mencapai tujuanorganisasi secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai deng
an moral dan etika”. dengan mengacu
pada definisi ini, maka kinerja itu dapat berupa produk akhir (barang dan jasa) dan atau berbentuk
 
perilaku, kecakapan, kompetensi, sarana dan keterampilan spesifik yang dapat mendukungpencapaian tujuan organisasi. Kriteria berdasarkan perilaku ini sangat penting karena mampumengindentifikasikan bagaiaman pekerjaan itu dilaksanakan. Kriteri ini sangat penting khusunya bagipekerjaan yang membutuhkan hubungan antar personal, sebagai contoh dalam toko swalayan,apakah kasir-kasirnya dean pelayannya ramah atau menyenangkan pelanggan ? Toko itu harusmembuat daftar perilaku tertentu yang harus diikuti karyawan, perilaku-perilaku itu dapat diukurlangsung oleh pelanggan/pembeli.Konsep Kesimbangan AQ, IQ, EQ dan SQ dalam Kurikulum Pendidikan.Di lingkungan dunia pendidikan, keseluruhan aspek kecerdasan (IQ, EQ, SQ dan AQ) perlu mendapatbobot perhatian yang seimbang. Hal ini penting mengingat IQ saja tidak menjamin keberhasilanhidupseseorang, demikian jugab kalau haya sekedar SQ dan EQ tidak akan mampu mendukungkeberhasilan hidup seseorang secara utuh, material dan spritual.Penerapan keseluruhan aspekkecerdasan ini sangat efektif kalau dilakukan dalam kegiatan bimbingan konseling disetiap lembagapendidikan. Pemahaman EQ dan SQ akan lebih mudah dilakukan melalui kegiatan tatap muka secaralangsung dengan menggugah hati nurani setiap peserta didik untuk berperilaku baik dan mampunegendalikan diri serta berinteraksi dengan orang lain secara baik pula. Kalau bimbingan konseling inisudah dilakukan secara efektif dengan memesukan semua aspek kecerdasan yang diperlukan, makasudah saatnya penilaian keberhasilan siswa/peserta didik tidak sekedar pada tataran output (produk),tapi bagaimana proses untuk mencapai output tersebut . Penilaian keberhasilan peserta didik bukanhanya dilihat dari ketepatapan waktu menyelesaikan seluruh program studi, tapi bagaimana perilakusiswa saat mengikuti evaluasi/ujian, apakh dengan cara -cara yang jujur, tidak mencontek atau tidakmenjiplak makalah orang lain, tidak berupaya mencari bocoran soal dari lain-lain.Kalau kriteria tidak secara cermat dipantau dan diperhitungkan, maka hasilnya akan nampak takalalulusan ini mengabdikan ilmunya ditempat kerja, ia akan terbiasa berperilaku tidak jujur, korupsi,kolusi, dan perilaku amoral lainnya ia akan selalu mencari jalan pintas yang mudah ia lakukan untukmencapai tujuannya walaupun harus menyikut orang lain, menginjak kepala orang, melanggar normadan autran yang ada, dan lain-lain. Padahal kalau seseorang memiliki kecerdasan adversitas (Adversity Intelligence) akan mampu menghadapi rintangan atau halangan yang menghadang dalammencapai tujuan. Menurut Stoltz(2000) indikator-indikatornya dapat dikelompokkan menjadi empatdimensi, yakni dimensi kendali, dimensi asal usul dan pengakuan, dimensi jangkauan serta dimensidaya tahan . Dimensi kendali terkait dengan EQ yakni sejauh mana seseorang mampu mengelolakesulitan yang akan datang. Dimensi kedua tentang tentang asal usul sangat terkait erat dengan SQ,yakni sejauhmana seseorang mempersalahkan dirinya ketika ia mendapati bahwa kesalahan tersebutberasal dari dirinya, atau sejauhmana seseorang mempersalahkan orang lain atau lingkungan yangmenjadi sumber kesulitan dan kegagalannya. Dan yang lebih penting lagi adalah, sejauh manakesediaan untuk bertanggung jawab atas kesalahan atau kegagalan tersebut.Makin tinggi kesediaan seseorang untuk bertanggung jawab atas kegagalan atau kesulitan yangmenghadang, makin tinggi usaha yang dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut. Dimensi jangkauan yang menyatakan sejauhmana kesulitan ini akan merambah kehidupan seseorangmenunjukkan, bagaimana suatu masalah mengganggu aktivitas lainnya, sekalipun tidak berhubungandengan masalah yang sedang dihadapi. Dalam teori kecerdasan emosional, menurut Goleman kata

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->