Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Metodologi Penelitian Sosial

Metodologi Penelitian Sosial

Ratings: (0)|Views: 97 |Likes:
Published by Arry Eka Setiawan

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Arry Eka Setiawan on Oct 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/04/2013

pdf

text

original

 
11
BAB IIANALISIS
PARADIGMA DAN PRINSIP-PRINSIP IMPLEMENTASINYADALAM PENELITIAN
 
Berikut ini akan dijelaskan mengenai, Tiga elemen kerja pembentuk pendekatanpenelitian, pendekatan penelitian, berbagai macam paradigma dalam penelitian kualitatif danpenelitian kuantitatif, serta serta prinsip-prinsip implementasinya dalam dua macampenelitian tersebut.
2.1. Tiga Elemen Kerja Pembentuk Pendekatan Penelitian
Berdasarkan paradigma yang dianutnya, seorang peneliti akan menggunakan salahsatu dari tiga pendekatan yang diajukan Creswell, yaitu: kuantitatif, kualitatif, dan metodegabungan. Menurut Emzir perbedaan perbedaan yang terdapat dalam ketiga pendekatan inidapat ditinjau melalui tiga elemen kerangka kerja, yaitu asumsi-asumsi psikologis tentangpembentuk tuntutan pengetahuan (
knowledge claim
), prosedur umum penelitian (
strategies of inquiry
) dan prosedur penjaringan dan analisis data serta pelaporan (
research method 
).Creswell menggambarkan bagaimana ketiga elemen tersebut berpadu membentuk ketigapendekatan penelitian pada gambar berikut.
2.1.1. Tuntutan Pengetahuan (
 Knowledge Claim
)
Tuntutan pengetahuan meliputi asumsi-asumsi filosofis mengenai ontologi (apa itupengetahuan), epistemologi (bagaimana pengetahuan diperoleh), aksiologis (nilai-nilai yangterkandung di dalamnya), retorika (bagaimana pengetahuan dituliskan) dan metodologi(proses pengkajian). Dengan demikian, tuntutan pengetahuan berhubungan dengan asumsi-asumsi peneliti tentang apa yang akan dipelajari dan bagaimana hal itu dipelajari selamapenelitian berlangsung. Creswell menggambarkan tuntutan atau asumsi-asumsi tersebut padatabel berikut.Tabel 1: Asumsi Paradigma Kuantitatif dan Kualitatif 
Asumsi
 
Pertanyaan
 
Kuantitatif 
 
Kualitatif 
 Ontologis Apakah hakikatrealitas itu?Realitas = objektif dantunggal, terpisah daripenelitiRealitas = subjektif danamak, sebagaimana dilihatoleh partisipan dalam studiEpistemologis Apakah hubunganpeneliti denganPeneliti bebas dari yangditelitiPeneliti berinteraksi denganyang diteliti
 
12
yang diteliti?Aksiologis Apakah perannilai-nilai?Bebas nilai dan tidak bias Tidak bebas nilai dan biasRetorik Apakah bahasapeneliti?Formal, berdasarkanserangkaian definisi,impersonal, menggunakankata-kata kuantitatif yangberterimaInformal, keputusanberkembang, personal, kata-kata kualitatif yangberterima.Metodologis Apakah prosespengkajian?Proses deduktif, sebabakibat, desain statis,kategori disiapkan sebelumstudi, bebas konteks,generalisasi mengarahkanprediksi, penjelasan, danpemahaman, akurat danreliabel melalui validitasdan reliabilitasProses induktif, faktor-faktoryang saling membentuk secara simultan, desainberkembang, kategoridiidentifikasi selama prosespenelitian, terikat konteks;teori dan pola dikembangkanuntuk pemahaman, akuratdan reliabel melaluiverifikasi.Berikut ini adalah uraian tentang tuntutan pengetahuan dalam empat (kelompok) aliranpemikiran tentang pengetahuan.
2.1.1.1. Tuntutan Pengetahuan Positivisme dan Postpositivisme
Positivisme yang kadang-
kadang dirujuk sebagai ‗metode ilmiah‘ didasarkan pada
filsafat empirisme yang dipelopori oleh Aristoteles, Francis Bacon, John Locke, AugustComte, dan Emmanuel Kant. Aliran ini mencerminkan filsafat deterministik yangmemandang suatu penyebab mungkin menentukan efek atau hasil. Aliran ini bertujuan untuk menguji sebuah teori atau menjelaskan sebuah pengalaman melalui observasi dan pengukurandalam rangka meramalkan dan mengontrol kekuatan-kekuatan di sekitar manusia.Positivisme berasumsi bahwa fenomena sosial dapat diteliti dengan cara yang sama denganfenomena alam dengan menggunakan pendekatan yang bebas nilai dan penjelasan sebab-akibat sebagaimana halnya dalam penelitian fenomena alam.Setelah Perang Dunia II, positivisme digantikan aliran postpositivisme. Aliran iniberasumsi bahwa setiap penelitian dipengaruhi oleh hukum-hukum atau teori-teori yangmenguasai dunia. Teori-teori ini perlu diverifikasi sehingga pemahaman terhadap duniasemakin lengkap. Oleh karena itu, penganut positivisme dan postpositivisme akan memulaipenelitian dengan suatu teori, mengumpulkan data yang mendukung atau menolak teoritersebut, dan membuat revisi yang diperlukan. Dengan demikian, pengetahuan yang
 
13
dikembangkan melalui lensa postpositivisme didasarkan pada observasi yang cermat danpengukuran realitas yang objektif, sehingga positivisme dan postpositivisme selaludiasosiasikan dengan metode penjaringan dan analisis data kuantitatif.
2.1.1.2. Tuntutan Pengetahuan Konstruktivisme/Interpretivisme
Konstruktivisme/interpretivisme berkembang dari filsafat fenomenologi yang digagasEdmund Husserl and pemahaman intepretatif yang disebut hermeneutiks yang dikemukakanand Wilhelm Dilthey. Bagi penganut konstruktivisme/interpretivisme penelitian merupakanupaya untuk memahami realitas pengalaman manusia, dan realitas itu sendiri dibentuk olehkehidupan sosial. Penelitian berlensa konstruktivisme/interpretivisme cenderung tergantungpada pandangan partisipan tentang situasi yang diteliti. Penelitian konstruktivisme padaumumnya tidak dimulai dengan seperangkat teori (sebagaimana halnya denganpostpositivisme) namun mengembangkan sebuah teori atau sebuah pola makna secarainduktif selama proses berlangsung. Metode penjaringan dan analisis yang digunakanpenganut konstruktivisme biasanya berbentuk kuantitatif. Akan tetapi, data kuantitatif dapatdigunakan untuk mendukung data kualitatif serta memperdalam analisis secara efektif.
2.1.1.3. Tuntutan Pengetahuan Advokasi/Partisipatori/Transformatif 
Aliran advokasi/partisipatori/transformatif muncul pada tahun 1980-an dan 1990-ansebagai akibat dari ketidakpuasan terhadap paradigma penelitian yang ada dan kesadaranbahwa teori-teori sosiologi dan psikologi yang mendasari paradigma-paradigma yang ada
 pada dasarnya dikembangkan melalui pandangan ‘kulit putih‘, didominasi oleh perspektif 
kaum pria, dan didasarkan pada penelitian yang menggunakan pria sebagai subyek. Penelitiadvokasi/partisipatori/transformatif merasa bahwa pendekatan konstruktivisme/ interpretivisme tidak membahas isu-isu keadilan sosial dan kaum yang terpinggirkan secaramemadai. Peneliti advokasi/ partisipatori percaya bahwa penelitian perlu dijalin denganagenda-agenda politik dan politisi agar penelitian tersebut menghasilkan tindakan-tindakanyang mereformasi kehidupan partisipan, lembaga tempat individu hidup, dan kehidupanpeneliti sendiri. Sehubungan dengan itu, penelitian harus mengangkat masalah-masalah sosialyang penting sebagai topik, seperti isu kekuasaan, ketidaksetraan, penganiayaan, penindasan,dan perampasan hak. Peneliti advokasi sering memulai dengan menjadikan salah satu dari isuini sebagai fokus penelitian. Kemudian, dia akan berjalan bersama secara kolaboratif denganpartisipan dengan pengertian partisipan dapat membantu merancang pertanyaan,mengumpulkan data, menganilisis informasi, atau menerima penghargaan untuk partisipasinya dalam penelitian. Sebagaimana halnya dalam penelitian konstruktivisme,peneliti advokasi/partisipatori/transformatif dapat mengkombinasikan metode penjaringan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->