Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Peranan Ekonomi Syariah Dalam Pembangunan Daerah

Peranan Ekonomi Syariah Dalam Pembangunan Daerah

Ratings: (0)|Views: 37 |Likes:
Published by Kanaya Keisha

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Kanaya Keisha on Oct 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/11/2013

pdf

text

original

 
Peranan Ekonomi Syariah dalam Pembangunan Daerah
Abstraksi
Otonomi Daerah merupakan keputusan politis yang menjadikan penyelenggaraan pemerintahanyang sentralistik-birokratis ke arah desentralistik-partisipatoris. Undang-undang Nomor 22 tahun1999 tentang Pemerintah Daerah telah melahirkan paradigma baru dalam pelaksanaan Otda, yangmeletakkan otonomi penuh, luas, dan bertanggung jawab pada daerah kabupaten dan kota. Di sisilain, ekonomi Islam Indonesia yang dimotori oleh entitas perbankan syariah seperti menemukanmomentumnya pasca terjadi krisis ekonomi 1998. Industri keuangan syariah mengalami percepatan pertumbuhan. Bahkan lembaga-lembaga keuangan syariah juga berkembang hingga ke daerah-daerah.Tulisan ini hendak mencoba menjelaskan bagaimana peranan ekonomi syariah dalam pembangunan daerah khususnya dalam bidang ekonomi-sosial. Tulisan ini juga mencobamenguraikan perkembangan ekonomi syariah Indonesia baik dari sisi keuangan dan non-keuangan,faktor pendorong, hingga implikasinya terhadap perkembangan ekonomi Nasional secara makro.
 Kata Kunci
: Ekonomi Islam, Bank Syariah, Otonomi Daerah
 
A.
 
Pendahuluan
Krisis moneter yang mengguncang Indonesia sepuluh tahun yang lalu semakinmenyardarkan banyak pihak tentang pentingnya fundamental ekonomi yang kuat dan pemberdayaan ekonomi rakyat. Sector moneter yang tidak ditopang oleh sektor riil yang kuatditengarai menyimpan bom waktu yang menunggu momen untuk meruntuhkan capaian-capaian pembangunan ekonomi nasional. Krisis moneter itu juga menyadarkan kita tentang pentingnya pemberdayaan ekonomi rakyat. Sebuah paradigm pembangunan yang tidak menyerahkansepenuhnya pertumbuhan ekonomi pada peran pengusaha-pengusaha besar, melainkan padasemua pihak terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).Salah satu pesan reformasi adalah mengurangi hegemoni pusat terhadap daerah lewatsentralisasi kebijakan di berbagai bidang. Reformasi mengamanatkan perlunya desentralisasi pembangungan dengan memberikan kepercayaan yang lebih besar kepada daerah. Oleh karenaitu lah, sejak tanggal 1 Januari 2001 dimulai pemberlakuan Otonomi Daerah (OTDA).Otonomi Daerah merupakan keputusan politis yang menjadikan penyelenggaraan pemerintahan yang sentralistik birokratis ke hara desntralistik partisipatoris. Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah telah melahirkan paradigma baru dalam pelaksanaan Otda, yang meletakkan otonomi penuh, luas, dan bertanggung jawab pada daerahkabupaten dan kota. Perubahan itu dimaksudkan untuk meningkatkan efektivitas pelayananmasyarakat, menumbuhkan semangat demokratisasi dan pelaksanaan pembangunan daerahsecara berkelanjutan, dan lebih jauh diharapkan akan menjamin tercapainya keseimbangankewenangan dan tanggung jawab antara pusat dan daerah.Di sini lain, setelah krisis moneter 1997-1998 gerakan ekonomi syariah sepertimendapat
blessing in disguise
. Ekonomi syariah di Indonesia meskipun telah dimulai sejak awal 1990-an, namun berjalan lambat hingga menjelang terjadinya krisis tersebut. Ekonomisyariah nasional seperti menemukan momentum sejak tahun 1999 hingga sekarang.Pengetahuan masyarakat tentang ekonomi syariah juga semakin berkembang termasuk didaerah. Seiring dengan itu industri keuangan syariah mengalami percepatan pertumbuhan.Lembaga-lembaga keuangan syariah juga berkembang ke daerah-daerah.Pertanyaannya adalah, bagaimana peranan ekonomi syariah dalam pembangunandaerah? Apakah kontribusinya sudah signifikan seperti yang diharapkan? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, berikut adalah sejenak perkembangannya di tanah air.
 
B.
 
Perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia
Secara sederhana, perkembangan itu dikelompokkan menjadi perkembangan industrikeuangan syariah dan perkembangan ekonomi syariah non keuangan. Industri keuangan syariahrelatif dapat dilihat dan diukur perkembangannya melalui data-data keuangan yang ada,sedangkan yang non keuangan perlu penelitian yang lebih dalam untuk mengetahuinya.
B.1. Sisi Keuangan
Di sektor perbankan, hingga bulan Mei 2007 sudah ada tiga Bank Umum Syariah(BUS), 23 unit usaha syariah bank konvensional, 532 kantor cabang (termasuk Kantor CabangPembantu (KCP), Unit Pelayanan Syariah (UPS), dan Kantor Kas (KK)), dan 106 BanPengkreditan Rakyat Syariah (BPRS). Aset perbankan syariah per Mei 2007 lebih dari Rp. 29triliun dengan jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai 22,5 Triliun. Meskipun asset perbankan syariah baru mencapai 1,63 persen dan dana pihak ketiga yang dihimpun barumencapai 1,69% dari total asset perbankan nasional (per April 2007), namun pertumbuhannyacukup pesat dan menjanjikan. Diproyeksikan, pada tahun 2008,
 share
industri perbankansyariah diharapkan mencapai 5 persen dari total industri perbankan nasional.Di sektor pasar modal, produk keuangan syariah seperti reksa dana dan obligasi syariah juga terus meningkat. Sekarang ini terdapat lebih dari 20 reksa dana syariah dengan jumlahdana kelola mencapai 638,8 miliar rupiah. Jumlah obligasi syariah sekarang ini mencapai 17 buah dengan nilai emisi mencapai 2,209 triliun rupiah.Di sektor saham, pada tanggal 3 Juli 2000 BEJ meluncurkan
 Jakarta Islamic Index(JII)
. JII yang merupakan indeks
 
harga saham yang berbasis syariah terdiri dari 30 sahamemiten yang dianggap telah memenuhi prinsip-prinsip
 
syariah. Data pada akhir Juni 2005tercatat nilai
 
kapitalisasi pasar sebesar Rp325,90 triliun atau 43% dari
 
total nilai kapitalisasi pasar di BEJ. Sementara itu, volume
 
 perdagangan saham JII sebesar 348,9 juta lembar sahamatau 39% dari total volume perdagangan saham dan nilai
 
 perdagangan saham JII sebesar Rp322,3 miliar atau 42%
 
dari total nilai perdagangan saham. Peranan pemerintah yang sangatditunggu-tunggu oleh pelaku keuangan syariah di Indonesia adalah penerbitan Undang-undangPerbankan Syariah dan Undang-undang Surat Berharga Negara Syariah (SBSN).Di sektor asuransi, hingga Agustus 2006 ini sudah lebih 30 perusahaan yangmenawarkan produk asuransi dan reasuransi syariah. Namun,
market share
asuransi syariah belum baru sekitar 1% dari pasar asuransi nasional. Di bidang
multifinance
pun semakin

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->