Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
15Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kebudayaan Jawa (Sebuah Pengantar)

Kebudayaan Jawa (Sebuah Pengantar)

Ratings: (0)|Views: 519 |Likes:
Published by Miswanto

More info:

Published by: Miswanto on Oct 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/14/2013

pdf

text

original

 
 
Romonadha
_
Pengantar Kebudayaan Jawa
Page 1
BAB IPENDAHULUANA. LATAR BELAKANG
Hindu adalah agama yang universal dan terbuka untuk seluruh umat manusia didunia. Sebagai agama universal, tentunya Hindu akan menerima budaya apa saja yangsesuai dengan falsafah Hindu itu sendiri. Budaya itu akan mengalami akulturasi denganHindu sehingga membentuk suatu corak baru yang khas. Hal ini yang dapat memperkayakhasanah budaya dalam peradaban Hindu.Jawa sebagai pulau yang pernah menjadi pusat peradaban Hindu telah menerima banyak pengaruh dari Hindu. Mulai dari sistem gagasan yang memunculkan falsafah atau pandangan hidup orang Jawa, sistem sosial dalam masyarakat Jawa serta benda-bendasebagai perwujudan budayanya. Kesemuanya itu adalah bagian dari peradaban dankebudayaan Jawa yang memang diilhami oleh pemikiran Hindu. Bahkan surutnya peradaban Hindu dan berkembangnya peradaban Islam di Jawa, tidak menjadikan peradaban Jawa meninggalkan pemikiran-pemikiran Hindu sebelumnya, sebab peradabanini telah mengakar dalam nafas kehidupan Jawa
1
.Eksistensi budaya dan pandangan hidup Jawa yang telah mengkristal dalam setiap peri kehidupan masyarakat Jawa tersebut kemudian melahirkan salah satu bentuk falsafahhidup dalam masyarakat Jawa. Sejalan dengan roda perputaran zaman, falsafah hidup Jawatersebut telah menjatikan dirinya ke dalam sebuah bentuk paham dan pandangan hidup dikalangan masyarakat Jawa. Paham ini, oleh sebagian besar pakar budaya Jawa disebutsebagai
 Këjawén
2
.Sentuhan nafas
 Këjawén
tersebut
 
telah merambah dunia batin orang Jawa sehinggamampu menghasilkan suatu bentuk wawasan teologis hasil akumulasi dari tradisi Hindu,Budha, Islam dan tradisi leluhur. Wawasan teologis itu berkembang menjadi suatu aliran-aliran kepercayaan yang sampai sekarang tetap eksis dalam masyarakat Jawa
3
. Niels Mulder menambahkan,
 Këjawén
sebagaimana disebutkan di atas seringdiistilahkan sebagai "kebatinan orang Jawa"
4
. Dalam dunia batin Jawa, semua lapisanmasyarakat Jawa (ada juga yang Non-Jawa) dari berbagai agama berbaur dalam satu pandangan dan keyakinan hidup. Kenyataan ini menurut Rassers melahirkan suatu perspektif lain terhadap
 Këjawén
dan falsafah Jawa itu sendiri. Pandangan ini menyebut
 Këjawén
sebagai
 sinkretisme Jawa
5
.
Belakangan ini, pandangan
 sinkretik 
atas falsafah Jawa ini banyak ditentang olehtokoh-tokoh Jawa. Seraya mengomentari karya Clifford Geertz "
The Religion of Java
",Harsja W. Bachtiar dengan sangat tegas menolak istilah
 sinkretisme
tersebut. Pasalnya, adasatu pluralitas dari pelbagai agama yang dianggap sama-sama benar baik secara individual
1
Miswanto. 2004.
Simbolisme dalam Budaya Jawa
 – 
Hindu
. "Warta Hindu Dharma"
 
 No.450-455, hal. 25.
2
Sujamto. 1997.
 Reorientasi dan Revitalisasi Pandangan Hidup Jawa.
Yogyakarta:Dahara Prize. hal. 43
3
Endraswara, 2003.
 Falsafah Hidup Jawa.
Tangerang:Cakrawala. hal. 42.
4
Niels Mulder. 1984.
 Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional.
Yogyakarta:Gajah Mada UniversityPress. hal. 30
5
J.H.C Kern dan W.H. Rassers. 1982.
Çiva dan Budhha.
Jakarta:Djambatan. hal. 38-39.
 
 
Romonadha
_
Pengantar Kebudayaan Jawa
Page 2
maupun komunal
6
. Rumusan Geertz yang mengotak-kotakkan masyarakat Jawa ke dalamtiga golongan (sekarang dikenal dengan istilah trikotomi) yakni
Santri, Abangan
dan
 Priyayi
dengan sendirinya telah menghantarkannya pada kesalahpahaman terhadap tafsir  budaya dan masyarakat Jawa. Karena kenyataan yang ada di lapangan menunjukkan bahwa batasan atas penafsiran tentang kaum
Santri, Abangan,
dan
 Priyayi
tersebut justru menjadikabur. Dalam penelitian ini pun tidak digunakan istilah
 sinkretisme
Geertz untuk  pandangan hidup Jawa, kendati secara ilmiah, hasil karya Geertz yang menumbuhkan pemikiran kritis tentang paham Jawa patut diberikan penghargaan.Senada dengan ulasan tersebut serta pandangan dari pakar lain seperti Kern tentang
vermenging 
, Gonda serta Koentjaraningrat, maka Abdullah Ciptoprawiro memberikansolusi melalui konsepsinya tentang
mosaikisme
,
 
yang sedikit berbeda dengan
 sinkretisme
.Dalam konsep
mosaikisme
ini, filsafat Jawa mempunyai pola yang tetap, namun unsur-unsur atau "batu-batunya" akan berubah dengan masuknya budaya baru.Pola dan konsepsi yang ada dalam filsafat Jawa ini memberikan keteguhan tersendiri bagi masyarakat Jawa. Sebagai pandangan hidup ia juga meninggalkan endapan spiritualdalam pengalaman batin orang Jawa. Sehingga manakala falsafah tersebut ditinggalkan,seakan-akan ada hal yang kurang lengkap dalam hidup orang Jawa
8
.Fenomena tersebut dapat ditemukan pada hampir sebagian besar masyarakat Jawayang secara antropologis bertempat tinggal di daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur 
9
.Lebih-lebih pada daerah
 Këjawén
yang menurut Kodiran
10
meliputi wilayah Banyumas,Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Malang dan Kediri atau di wilayah
 Nagari
dan
 Nagaragung 
dalam
Tri Mandala Praja
 pada masa Keraton Mataram II
11
.
 Meskipun demikian, fenomena budaya itu juga dapat ditemukan pada wilayah selainyang disebutkan sebelumnya. Ron Hatley membenarkannya dengan menyatakan bahwaakan selalu ada "Jawa yang lain" di luar keraton (Yogyakarta dan Solo)
12
. Di daerah ini,agama, adat, seni dan karakter yang diturunkan oleh leluhur Jawa masih dipegang teguholeh penduduknya. Daerah-daerah tersebut pada dasarnya adalah peninggalan kerajaanHindu-Budha yang secara sporadis menyebar di pegunungan, pesisir dan sebagainya.Di Jawa Timur daerah-daerah tersebut dapat ditemukan di sekitar pegununganTengger, Raung dan Semeru. Banyuwangi adalah salah satu di antara dari daerah-daerahtersebut mengingat wilayah ini terletak di sekitar kaki Gunung Raung. Masyarakat Jawakhususnya yang beragama Hindu di Kabupaten Banyuwangi ini merupakan masyarakatyang memegang teguh "warisan leluhur" Jawa. Ini pun diakui oleh Andrew Beatty ketikadia mengadakan penelitian di wilayah Banyuwangi
13
.
6
Clifford Geertz. 1976.
The Religion of Java.
Chicago : The University of Chicago Press. hal. 529-530
7
Abdullah Ciptoprawiro. 2000.
 Filsafat Jawa.
Jakarta : Balai Pustaka. hal. 27.
8
Endraswara,
op.cit 
. hal. 46.
9
Budiono Herusatoto, 2001.
Simbolisme dalam Budaya Jawa.
Yogyakarta : Hanindita. hal. 37.
10
Koentjaraningrat. 1976.
 Manusia dan Kebudayaan di Indonesia.
Jakarta : Balai Pustaka. hal. 322-327
11
Sujamto.
op.cit 
. hal. 46-47.
12
Andrew Beatty. 2001.
Variasi Agama di Jawa, Suatu Pendekatan Antropologi,
terj. Achmad FedyaniSaefudin. Jakarta : Raja Grafindo Persada. hal. 14.
13
 
 Loc.Cit.
 
 
Romonadha
_
Pengantar Kebudayaan Jawa
Page 3
Dari pengamatan yang penulis lakukan selama tinggal di wilayah kota Gandrung inidan berusaha untuk menjadi "Jawa", budaya Jawa banyak memberikan andil terhadapkemajuan spiritual bagi masyarakat Hindu - Jawa. Oleh karena, secara turun-temurunmereka masih tetap memegang teguh agama Hindu sampai sekarang karena kesesuaiannyadengan falsafah Jawa. Meski sebagian dari mereka tidak paham betul ajaran agama Hindu,dengan memahami falsafah dan budaya Jawa yang memang sudah terpatri dalam setiapgerak langkahnya, bagi mereka hal itu sudah lebih dari cukup
14
.Banyak tokoh Hindu Jawa yang hingga kini tetap bertahan menjadi orang Hindumeskipun telah melewati berbagai macam "rintangan dan godaan" dalam perjalananhidupnya. Godaan tersebut berupa tawaran untuk masuk agama non-Hindu dengan iming-iming hadiah dan bonus plus-plus seperti: naik pangkat, harta, kedudukan, nama besar dantentunya "jaminan sorga" nantinya. Namun karena keteguhannya sebagai orang Jawa yang"
njawani
" maka godaan itu tidak membutakan mata hatinya.
15
 Di samping itu meskipun secara formal tekstualnya banyak di antara tokoh Hindutersebut yang "kurang memahami (atau bahkan tidak pernah membaca)" Kitab Suci Hindu,mereka tetap yakin bahwa Hindu adalah sebagai agama yang sesuai dengan falsafah hidupJawa yang mereka yakini secara turun temurun. Jika dilihat bagaimana mereka meyakini pandangan hidup mereka sebagai orang Jawa, besar kemungkinan hal tersebut sebagaiakibat keteguhan mereka terhadap warisan budaya leluhur Jawa itu. Memang secaratekstual dan sistematis, mereka tidak bisa menjelaskan pemahamannya mengenai falsafahJawa. Namun secara kontekstual, mereka lebih bisa mengejawantahkan pemahamantersebut dalam setiap aspek kehidupannya.Dalam pandangan falsafah Jawa, hal tersebut tidak menjadi soal. Hafal kitab bukan jaminan seseorang akan melaksanakan isi kitab. Tidak tahu kitab pun bukan jaminanseseorang tidak bisa melaksanakan amanat dari kitab tersebut. Masyarakat Jawa lebihcenderung memusatkan "
 pengajian
" pada kitab "
tëlës
(basah)", yang dimaksudkan daritubuh hidup
16
daripada kitab "
 garing 
" (kering) yang bersifat mati, kaku dan hanyaterpasung pada dikotomi boleh dan tidak boleh, terlarang dan tidak terlarang, wajib dantidak wajib, dan sebagainya. Adi Suripto menjelaskannya melalui sebuah tembang
 Dandanggula
sebagai berikut
17
.
14
Miswanto, 2009.
 Esensi Falsafah Jawa Bagi Peradaban Umat Hindu
. Surabaya: Paramita, hal.
15
Miswanto.
op
.
cit 
. hal. 25
16
Beatty.
Op.cit 
. Hal. 224
17
Adi Suripto. 2008.
 Dharma Kinidung 
. Denpasar: Widya Dharma. hal.8.

Activity (15)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Echo Dunk liked this
frezafitriani liked this
Dian Palindo liked this
0296361141 liked this
Manfaat Alwany liked this
Smile Cool liked this
Smile Cool liked this
Suhadi Jogja liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->